NI Hou Ma, Petjinan Bandung?

Oleh : Naluri Bella Wati

Minggu (4/4) lalu, Komunitas Aleut kembali mengadakan tur jalan kaki (ngaleut) untuk menyingkap sisi lain sejarah Kota Bandung. Tema ngaleut kali ini adalah “Menelusuri Kawasan Pecinan”. Tema yang menarik membuat orang penasaran. Maka tak heran jika peserta yang mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Ada sekitar 30 orang yang menjadi peserta tur, dari mulai mahasiswa, karyawan, guru, wartawan, bahkan sampai murid SMP.

Pukul 07.30 para peserta berkumpul di depan Gedung Merdeka jdi alan Asia Afrika. Sambil menunggu peserta lain datang, mereka pun melakukan sesi perkenalan. Setelah semua peserta berkumpul, Bang Ridwan (selanjutnya disebut BR) memberikan arahan singkat mengenai rute plesiran. Ia juga menjelaskan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Paris van Java.

BR memaparkan bahwa ada dua versi sejarah yang menceritakan kedatangan etnis Tionghoa di Kota Bandung. Pertama, ketika Deandles membuat post weg di Bandung. Deandles mendatangkan etnis Tionghoa dari Cirebon dan memperkerjakan mereka sebagai tukang kayu di sini. Versi kedua menjelaskan bahwa warga Tionghoa yang berada di kota kembang dulunya adalah korban Perang Dipenogoro. Mereka yang merasa terancam keselamatannya sengaja pindah ke Bandung demi mendapatkan hidup yang lebih aman dan nyaman. Saya sendiri tidak tahu versi sejarah mana yang mendekati kebenaran. Namun yang pasti, warga etnis Tionghoa sudah hidup berdampingan dengan warga Bandung asli sejak sekian lama.

BR kemudian menjelaskan bahwa Pecinan yang ada di Kota Bandung memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pecinan di kota lain. Pecinan Bandung merupakan satu-satunya perkampungan China di Indonesia yang tidak dibatasi oleh tembok. Biasanya, perkampungan China di Indonesia selalu dibatasi oleh tembok besar sehingga ada batasan yang jelas antara pemukiman pribumi dan pemukiman etnis Tionghoa. Ini merupakan kebijakan yang dibuat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1826. Kebijakan itu menyatakan bahwa setiap etnik yang ada di satu kota harus disatukan dalam sebuah wilayah. Selain tidak ditembok, warga Tionghoa di Bandung pada zaman itu juga tidak harus memiliki surat izin ketika keluar dari perkampungan.

Setelah diberi uraian singkat mengenai asal mula kedatangan etnis TionghoA di Kota Bandung, para pegiat Aleut kemudian menelusuri jalan Asia Afrika. Mereka sempat berhenti di sebuah tempat di dekat kantor Pos (saya lupa nama jalannya). Di tempat itu terdapat sebuah lapangan dan beberapa garasi tua. BR megatakan bahwa pada saat pembuatan post weg, garasi ini dijadikan pos pergantian transportasi-yang ketika itu menggunakan kuda. Pos garasi ini bukan satu-satunya tempat pergantian transportasi. Pos garasi tersebut menyebar sepanjang rute pos weg. Jarak antara satu pos dengan pos lainnya sekitar 15 KM. Di sekitar pos juga selalu dibangun instal air dan penginapan (pasanggrahan) untuk peristirahatan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah mengamati pos garasi tua, para pegiat pun melanjutkan perjalanan ke arah jalan Alkateri. BR kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah toko tua bernama Dezon NV. Dezon (dalam bahasa Belanda berarti Matahari) merupakan toko milik seorang berkebangsaan Jepang. Bila dilihat dari arsitekturnya yang bergaya art deco geometri, toko ini di bangun sekitar tahun 1925. Toko ini sudah berdiri sebelum Jepang menduduki nusantara. Konon kabarnya, toko Dezon NV berisi mata-mata dari Jepang. Entah benar atau tidak.

Para pegiat kemudian memasuki jalan Alkateri. Jalan ini diambil dari nama tuan tanah berkebangsaan Arab yang hidup di awal abad 20-an. Saya sendiri agak heran mengapa di kawasan pecinan terdapat sebuah jalan yang namanya so Arabic. Seingat saya, BR menjelaskan tentang hal ini. Tapi saya tidak sedang memerhatikan jadi ada beberapa bagian sejarah yang terlewat.

Di jalan Alkateri terdapat sebuah gang kecil bernama Gang Al Jabri. Dulu, gang ini merupakan pusat penjualan Opium di Kota Bandung. Sekarang Gang Al Jabri menjadi kios barang antik. Sayang hari itu tidak ada satu kios pun yang buka.

Pegiat terus menelusuri Jalan Alkateri. Mereka langsung terpana ketika melihat sebuah kedai kopi kecil bernama “Purnama”. Sebagian besar dari mereka sepertinya baru tahu bahwa di Alkateri terdapat sebuah warung kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1929 itu. Warga Tionghoa tempo dulu selalu menyempatkan diri datang ke kedai kopi di waktu-waktu tertentu agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan mereka. Inilah yang coba dihadirkan di warung kopi Purnama. Maka tak heran jika di waktu-waktu tertentu, warung ini ramai oleh pengunjung. Sayang para pegiat tidak sempat memasuki warung ini karena hari semakin siang.

Ketika menelusuri Jalan Alkateri, kita akan melihat sebuah gang kecil di samping kiri dan kanan blok (1 blok terdiri dari lima rumah). Gang kecil ini disebut branhang (dari bahasa Belanda yang berarti gang kabakaran). Ketika itu, kebanyakan rumah warga Tionghoa terbuat dari kayu yang rentan terbakar. Oleh karena itu, mereka membuat sebuah gang kecil yang berfungsi sebagai tempat menyelamatkan diri jika terjadi kebakaran. Sayang saat ini branhang tidak lagi berfungsi. Bahkan orang-orang yang tak bertanggung jawab sengaja melebarkan rumahnya sampai batas branghang tersebut.

Selain warung kopi Purnama, ternyata masih banyak objek kuliner yang terdapat di jalan Alkateri, yakni; lotek pincuk Alkateri, Rondo Jahe, serta Cendol Gentong. Sayang para pegiat tidak bisa menikmati panganan itu karena mereka tutup di hari Minggu.

Mereka terus melakukan perjalanan dan akhirnya melewati Pabrik Kopi paling terkenal di Kota Bandung;Kopi Aroma. Lagi-lagi para pegiat hanya bisa gigit jari karena pabrik dan kedai kopinya tutup. Padahal di hari biasa, pemilik Pabrik selalu memberikan kesempatan bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan kopi legendaris tersebut.

Pegiat melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, mereka bisa melihat Pasar Baru yang menjulang tinggi. Mereka melewati bangunan tersebut, menyebrang di jembatan penyebrangan, lalu kemudian berjalan lagi. BR menghentikan perjalanan dan memperlihatkan foto-foto zaman dulu. Ia kemudian memperlihatkan foto Pasar Baru zaman dulu. Saya takjub sekali melihat bangunan Pasar Baroe tempo dulu. Menurut saya, bangunan Pasar Baroe tempo dulu lebih bagus dan elegan dibandingkan bangunan yang sekarang.

Ada fakta menarik soal Pasar Baru yang sayang untuk dilewatkan. Pasar Baroe didirikan sekitar tahun 1916. Pasar ini merupakan pindahan dari pasar Ciguriang yang terbakar. Pasar Baroe juga pernah menjadi pasar paling teratur dan terbersih di Hindia Belanda. Wah, kalau dibandingkan dengan pasar baru yang sekarang , rasanya jauh berbeda ya?

Setelah diberi penjelasan seputar Pasar Baru, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka melewati kios obat-obatan China “Babah Kuya” dan sempat menikmati Es Goyobod Kuno 49. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun malanjutkan perjalanan. Panas yang menyengat membuat para pegiat kelelahan. Mereka akhirnya beristirahat lagi sambil menikmati Cakue Osin (berdiri sejak tahun 1920).

Di dekat Cakue Osin terdapat sebuah bioskop tua. Sebenarnya bioskop ini menghadap ke Kebon Jati sehingga para pegiat hanya bisa melihat bagian belakang bangunan tersebut. Bioskop ini dulu bernama Preanger, lalu berubah nama menjadi Luxor, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Roxy. Pada tahun 1926, bioskop tersebut menayangkan film berbicara untuk pertama kalinya. Saat ini, bioskop tersebut telah beralihfungsi menjadi sebuah kantor asuransi.

Hari semakin siang dan udara Kota Bandung semakin panas. Para pegiat Aleut kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian menyusuri jalan Kebon Jati. Di sana, mereka melihat Hotel Surabaya (berdiri sejak tahun 1886) yang tengah dibangun bagian belakangnya. Mereka kemudian berjalan ke arah Gardujati dan memasuki kawasan lokalisasi terkenal di Bnadung;Saritem.

Setelah berjalan menelusuri Saritem, mereka pun sampai di jalan Kelenteng. Mereka takjub ketika melihat sebuah kelenteng dengan ornamen dan warna khas etnis Tionghoa berdiri tegak dan kokoh. Kelenteng ini bernama Kelenteng Satya Budhi. Kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1865. Semula kelenteng ini bernama Kelenteng Istana Para Dewa (Hiop). Pada tahun 1885, kelenteng ini berganti nama menjadi Than Ki Ong.

Di sebelah Kelenteng Satya Budi, terdapat sebuah Vihara bernama Budha Gaya. Dulu, sebelum Konghucu diakui, warga Tionghoa menggunakan vihara sebagai “kamuflase” peribadatan mereka. Biasanya warga Konghucu beribadat di dalam vihara supaya aman dan tidak diketahui oleh pemerintah. Setelah Konghucu diperbolehkan, maka vihara itu pun membuat bangunan baru.

Sebagian dari pegiat Aleut memasuki kelenteng Satya Budhi. Kebanyakan dari mereka baru pertama kali masuk ke kelenteng. Di sana mereka memerhatikan etnis Tionghoa yang sedang beribadah, sekaligus mengabadikan momen tersebut dalam sebuah gambar.

Kelenteng Satya Budhi merupakan tempat terakhir dari plesir edisi pecinan. Meskipun lelah terlihat dari wajah mereka, tapi hal itu terbayar oleh pengetahuan serta engalaman mengesankan yang mereka dapatkan melalui ngaleut ini. Sampai jumpa lagi di plesir berikutnya! xie-xie…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s