Rasia Bandoeng dan Ngaleut Tjerita Tjinta jang Benar Terdjadi di Bandoeng Tahon 1900-an

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Katanya jatuh cinta membuatmu jadi orang dungu. Oh baiklah pembaca yang budiman, sebelumnya maaf hanya judulnya yang pakai Bahasa Melayu Pasar, karena saya malas dan tak punya cukup kedunguan untuk menuliskannya dalam bahasa seprimitif itu, apalagi ejaan yang setuwir itu. Entahlah, kalau sekiranya jatuh cinta, mungkin bisa saja, tapi saya tak sedungu Hilda Tan, tokoh dalam novel klasik Rasia Bandoeng: atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir pada Tahon 1917.

Aih, Hilda Tan ini adalah dia yang berani menentang keluarga dan adatnya sendiri hanya karena dia ingin membela sesuatu yang bernama: CINTA! Mungkin Hilda Tan kebanyakan membaca kisah yang berpenutup, “dan mereka bahagia selamanya dalam pernikahan”. Pernikahan sebagai kebahagiaan yang dibayangkan. Belum terjadi, masih berupa gagasan. Dan Hilda Tan ini ingin kawin dengan kekasihnya yang semarga, sesuatu yang tabu dalam kultur Tionghoa. Rupa-rupanya kisah Hilda Tan kemudian berakhir setragis Anna Karenina, novel epik Leo Tolstoy itu. Seperti kata Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dan ya, hanya keluarga tak bahagia yang ‘menarik’ untuk dikisahkan.

| Lihat: Eka Kurniawan – “Marry You”

Secara cerita, novel klasik karya Chabanneau ini memang asyik untuk dibaca (meski saya baru baca bab-bab awal dan resensinya saja), tapi yang paling bikin menarik adalah bahwa lewat roman ini kita bisa melihat rekaman denyut nadi pusat Kota Bandung pada medio 1900-an awal. Maka Komunitas Aleut! bertepatan dengan momen Tahun Baru Imlek 2567 mengadakan keluyuran malam berawal dari titik temu di BRI Tower depan Alun-Alun Bandung, yang saat itu dipenuhi orang yang berfoto riang sana-sini.

Meski hujan sebentar-sebentar menyirami kami, tapi nampaknya semangat untuk terus mengeluyuri jalanan di pusat Kota Bandung tak ikut luntur. Lebih-lebih bagi saya, di daerah sekitar Pasar Baru yang bisa dibilang sebagai “Pecinan”-nya Kota Bandung ini, saya berasa jadi Kai Man Wong, presenter di saluran fotografi DigitalRev TV. Ternyata, pusat Kota Bandung di kala gelap ini mengingatkan saya pada Hongkong; ada bangunan-bangunan tua peninggalan era kolonial, namun kita mendapati pula plang-plang besar merk dagang juga lampu kerlap-kerlip, serta para tunawisma yang terlelap di depan ruko yang sudah tutup, juga kehidupan malamnya Bandung.

Rute: Alun-Alun Bandung – Jalan Banceuy – Jalan Suniaraja – Pasar Baru – Jalan Kebon Jati – Saritem – Jalan Gardu Jati – Jalan Astana Anyar – Jalan Cibadak

Jika kamu ingin berpetualang lewat mesin waktu ke awal abad 20, maka baca Charles Dickens untuk mengeluyuri London, James Joyce untuk Dublin, Knut Hansum untuk Kristiania (Oslo), dan Bandung terwakili dalam karya Chabanneau ini. Latar kejadian dalam cerita roman berkisar di wilayah Pasar Baru, Cibadak, Pecinan, Suniaraja, Banceuy, Kosambi, Groote Postweg, dan paling jauh ke arah selatan, yaitu di Tegallega. Berikut ini contoh deskripsi situasi Pasar Baru pada Kamis, 10 Februari 1916.

Bangsa Tiong Hoa masih merajaken datangja tahon baroe 2467, kerna itoe waktoe poen baroe tanggal 8 Tjia Gwe, betoel toko-toko soedah moelai boeka, tapi dalam oeroesan dagang belom rame sabagimana biasanja, teroetama dari fihak Tiong Hoa totok.

Di salah satoe toko tjita di sabelah Kidoel pasar, jang madap ka Wetan, antara employenja kalihatan samoewa sempat sabagimana biasanja toko-toko besar jang tida djoewal ketengan, di sebelah loewar dari toko tjita jang terseboet kalihatan tiga anak moeda lagi pasang omong, jang satoe lagi tjeritaken penglihatan dari karamean Pasar-Malam di Batavia…

Entah mengapa, enggak seperti roman lainnya yang muncul pada tahun 1900-an, Rasia Bandoeng ini relatif jarang dibahas. Karya Chabennaue ini sendiri memakai gaya naturalis, aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok.  Lebih-lebih, karena kabarnya Chabennaue menulis novel ini untuk dijadikan bahan pemerasan. Cerita ini memang kisah nyata yang dialami Hermine Tan yang lahir pada tahun 1898 dan meninggal pada tahun 1957 di Bandung. Chabanneau menulis cerita ini berdasarkan surat-surat berisi curahan hati yang dikirim oleh Hilda, yang diduga nama samaran Hermine tadi.

Rasanya, saya perlu ralat pernyataan bahwa Hilda Tan seorang yang dungu. Sebab menurut sejarawan sekaligus feminis dari Kanada, Tineke Hellwig, keberanian Hilda Tan untuk memperjuangkan cintanya meski harus melawan adat dianggap sebagai perjuangan perempuan menentukan pilihan hidupnya. Sosok Hilda juga sangat tegar ketika ternyata kekasih yang dicintainya itu enggak balik mencintainya secara tulus.

Entahlah, bukan hanya Hilda Tan, sekarang pun orang-orang terpelajar, yang sekolah tinggi, bakal menjadi dungu karena yang namanya ‘cinta’, rela disakiti kekasih yang jelas-jelas hanya mempermainkannya. Mungkin, saya pun bakal begitu jika cinta datang menghampiri, berlaga dungu dan berani untuk mengatakan: “Hey, saya benar-benar mencintaimu, dan saya ingin menikahimu, bagaimana?”

“Baik, kuberi waktu 3 bulan, buatkan aku sebuah novel tentang Bandung,” tantang perempuan itu, lalu menyunggingkan senyum renyah, “Mudah, kan?”

Kemudian, berkat energi kedunguan yang hinggap, jadilah saya yang pemalas ini begitu bersemangat untuk terus menulis tak kenal lelah sampai batas waktu yang ditentukan itu. Seperti Sangkuriang, atau Bandung Bondowoso, meski bedanya saya enggak dibantu semacam jin. Kenapa saya begitu bergairah? Inikah yang namanya cinta? saya membatin. Ah maaf pembaca yang budiman sekalian, saya rasa dicukupkan sekian saja sebelum terlalu ngalor-ngidul.

It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages. – Friedrich Nietzsche

*

Bagi yang ingin membaca secara daring, bisa mengakses: “Rasia Bandoeng : atawa satoe tjerita jang benar terdjadi di kota Bandoeng dan berachir pada tahon 1917 / ditjeritaken oleh Chabanneau”.

Atau bisa baca juga ulasan dari Lina Nursanty di Pikiran Rakyat ini.

ngaleut rasia bandoeng imlek 2016

Tautan asli: http://yeaharip.com/2016/02/09/rasia-bandoeng-dan-ngaleut-tjerita-tjinta-jang-benar-terdjadi-di-bandoeng-tahon-1900-an/

Iklan

Catatan Perjalanan: NgAleut Rasia Bandoeng

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Malam Imlek itu, saya mendengar riuh suara kumpulan anak muda dengan baju coklat bertuliskan “Komunitas Aleut” di depan BRI Tower Asia Afrika. Lalu, saya dekati mereka karena penasaran dengan keributan yang mereka hasilkan.

“Ini lagi pada ngapain?” tanya saya kepada salah satu anak muda yang menyambut saya.

“Oh, ini Komunitas Aleut sedang siap-siap untuk NgAleut Rasia Bandoeng,” jawab anak muda yang bernama Ajay.

“Rasia Bandoeng? Bandung punya rahasia apa? Wah, ikut deh,” seru saya.

***

Sesi perkenalan

Gerimis mulai turun saat kami berkumpul dalam lingkaran. Salah satu penggiat Komunitas Aleut, Irfan TP, membuka NgAleut dengan mempersilahkan peserta memperkenalkan diri. Rupanya mereka dari berbagai institusi.

Lalu setelah perkenalan, Irfan TP bercerita tentang apa yang di-NgAleut-kan hari ini yakni Rasia Bandoeng. NgAleut kali ini berasal dari novel berlatar Bandung abad  ke-19 berjudul “Rasia Bandoeng” yang ditulis oleh Chabanneau. Dalam “Rasia Bandoeng”, Chabanneau menceritakan kisah cinta terlarang pasangan Tionghoa bermarga Tan. Nah, NgAleut malam ini menelusuri titik-titik yang dicerita dalam novel itu.

Titik pertama NgAleut malam itu adalah Bank Escomto yang sekarang Bank Mandiri. Di titik itu, penggiat Aleut berjaket merah bernama Alex mulai bercerita adegan di “Rasia Bandoeng” yang mengambil latar di Bank Escomto.

Dari penuturan Alex, saya mendapat cerita bahwa terjadi kejar-kejaran antar tokoh di “Rasia Bandoeng” bernama Tan Kong Wa serta kakak dan ibunya. Adegan yang mirip dengan film Fast and Furious terjadi di persimpangan jalan di depan Bank Escomto. Tapi berbeda dengan Fast and Furious, mereka menggunakan sado yang seperti delman.

“ Lalu, siapa Tan Kong Wa?” tanya saya pada Alex.

“ Tan Kong Wa adalah kawan baik Tan Tjin Hiauw. Nah, Tan Tjin Hiauw adalah tokoh utama dalam novel romantis ini,” jawab Alex sambil menunjuk bekas jalan di belakang Mesjid Agung yang telah tertutup oleh toko.

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Setelah bercerita cukup lama, kami berjalan ke arah perempatan Jl. ABC. Alex nyeletuk bahwa kami akan melihat tempat Tan Tjin Hiauw bekerja sebagai akuntan di perempatan Jl. ABC.

Di titik ini, Alex dan Irfan TP bercerita tentang Hilda yang kerap mendatangi tempat Tan Tjin Hiauw bekerja. Sambil menunjuk menara di perempatan, Alex bercerita bahwa Hilda dan Tan Tjin Hiauw sering berjalan kaki dari perempatan ke Pieterspark (sekarang Taman Dewi Sartika). Mereka sering menggunakan jalan sepi di sekitar Braga untuk ke Pieterspark.

“Waduh, siapa lagi Hilda?” tanya saya kepada Alex

“Hilda teh tokoh perempuan yang jatuh cinta kepada Tan Tjin Hiauw. Hilda berkunjung ke kantor Tan Tjin Hiauw selesai les bahasa” jawab Alex.

Lalu, kami berjalan menuju bekas Sentiong atau makam Cina yang sekarang menjadi bangunan baru. Bukan cerita horror yang kami dengar dari Alex di titik ini, melainkan cerita romantis penuh kode antara Tan Tjin Hiauw dengan Hilda.

Menurut hasil membaca “Rasia Bandoeng”, Alex bercerita tentang teater Cina yang ditonton oleh Tan Tjin Huw dan dipanitiai oleh Hilda. Sepanjang teater ini berlangsung, mereka saling melempar pandangan penuh kode yang maknanya hanya diketahui oleh mereka.

“Kalem, ai teater ini di mana?” tanya saya lagi kepada Alex yang sedang terengah-engah karena lelah berjalan.

“Oh, teater ini berlokasi di Teater Apollo di depan Parapatan Kompa,” jawab Alex yang sudah mendapat nafasnya.

Belakang Pasar

Belakang Pasar

Selesai mendengar cerita pasangan penuh kode, kami melangkahkan kaki ke belokan Belakang Pasar. Di titik ini, kami menyimak cerita tentang Lie Tok Sim yang jatuh cinta ke Hilda.

Dalam “Rasia Bandoeng”, Lie Tok Sim jatuh cinta saat melewati rumah Hilda di Jl. Kebon Jati. Setelah itu, mereka saling mengirim surat dengan kurir bernama Gan Chokwim yang merupakan teman Lie Tok Sim. Sayangnya cinta Lie Tok Sim bertepuk sebelah tangan karena Hilda tidak suka Lim.

“Wait, kenapa kita berhenti di sini?” tanya saya.

“Yaa karena Lie Tok Sim tinggal di Belakang Pasar,” jawab Alex yang mulai kelelahan.

Rumah Keluarga Hilda

Rumah Keluarga Hilda

Obrolan cerita cinta bertepuk sebelah tangan ini berlangsung sepanjang perjalanan ke titik berikutnya di depan Hotel Gino Feruci. Lalu, obrolan kami berhenti setelah sampai di depan hotel. Selain berhenti, Alex menunjuk bangunan tua di depan hotel yang dahulu merupakan rumah keluarga Hilda.

Berdasarkan penuturan Alex, keluarga Hilda mulai menempati rumah itu setelah usaha batik ayahnya sukses. Pada awalnya, keluarga Hilda tinggal di sekitar Pasar Baru dan usaha awal mereka adalah Provisien en Dranken. Lalu, mereka beralih ke usaha batik yang berasal dari Solo karena lebih menguntungkan dibanding usaha sebelumnya.

“Oh iya, di situ, Hilda memandang Lie Tok Sim untuk pertama kalinya,” seru Alex sambil menunjuk bangunan tua itu.

Setelah memotret bangunan tua itu, kami berjalan kaki cukup jauh ke Jalan Sudirman. Gerimis kembali turun perlahan saat kami berjalan. Kami pun mulai berdiskusi tentang kedatangan etnis Tionghoa di Bandung sambil berjalan.

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Lalu, kami berhenti di depan pintu masuk Kafe Jadoel. Di titik itu, Alex menunjuk ke bangunan dua lantai di seberang. Rupanya bangunan itu adalah rumah Kapitein Tionghoa di Bandung bernama Tan Joen Liong. Selain menunjuk rumah Tan Joen Liong, Alex memperlihatkan foto bangunan di belakang kami melalui IPad.

Alex mulai bercerita bahwa bangunan yang dia perlihatkan melalui IPad adalah rumah keluarga Tan Tjin Hiauw. Di rumah itu, ayah Tan Tjin Hiauw bernama Tan Sioe Tji berada di titik kejayaan melalui usaha keluarganya. Sayangnya, pada satu masa, usaha mereka bangkrut sehingga mereka harus pindah ke ujung selatan Gang Kapitein (sekarang Gang Wangsa).

Selain bercerita tentang kejayaan ayah Tan Tjin Hiauw, Alex bercerita tentang dukungan keluarganya atas cinta semarga antara Tan Tjin Hiauw dan Hilda. Menurut Alex, dukungan itu disebabkan kondisi ekonomi yang sedang mendesak keluarga Tan Tjin Hiauw.

“Eh, ai rumah keluarga Tan Tjin Hiauw masih bisa dikunjungi?” tanya saya.

“Bisa dikunjungi karena sekarang rumah itu dipakai sebagai tempat usaha,” jawab Alex sembari memperlihatkan foto rumah keluarga Tan Tjin Hiauw.

Setelah bercerita tentang usaha Tan Sioe Tji, kami berjalan kaki ke titik akhir di PERMABA yang berlokasi di Jalan Klenteng. Sepanjang perjalanan, kami bertanya tentang akhir kisah cinta semarga di “Rasia Bandoeng”.

Ternyata pasangan terlarang itu menikah setelah dua kali kabur dari keluarga Hilda. Usaha kabur pertama hanya sampai Jalan Cibadak. Sedangkan usaha kabur kedua berhasil membawa mereka ke luar dari Bandung.

Obrolan kami berhenti sejenak saat melewati Klenteng. Kami berhenti mengobrol karena bau dupa dan pemandangan penuh warna merah yang mengusik kami. Beberapa orang dari kami mengambil kesempatan ini untuk memotret keadaan sekitar Klenteng.

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Akhirnya kami sampai di halaman PERMABA. Di halaman ini, Irfan TP membuka sesi sharing dengan mempersilahkan peserta untuk berbagi pengalaman sepanjang perjalanan. Setelah sesi sharing, kami berdiri di depan PERMABA untuk foto keluarga Komunitas Aleut. Sungguh perjalanan yang luar biasa menarik!

Sumber foto : @komunitasaleut dan @veccosuryahadi

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/02/08/catatan-perjalanan-ngaleut-rasia-bandoeng/