Catatan Perjalanan: Ngaleut Gunung Hejo

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Beberapa bulan ini Komunitas Aleut jarang melakukan ngaleut dalam kota, diganti dengan momotoran ke beberapa tempat di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Konon ada yang berkomentar dengan nada sinis, keur resep ngadatangan tempat angker jeung jujurigan anyeuna mah. Barangkali benar belaka apa yang pernah dikicaukan seorang kawan, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Minggu, 16 April 2017, melintasi 5 kota dan kabupaten (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang), momotoran hendak menuju Gunung Héjo dan Bukit Patenggéng. Dua tempat ini terlihat jelas dari tol Cipularang, dan kerap mengundang rasa penasaran: yang satu khas hutan hujan tropis, dan satu lagi gersang berbatu.

Sekira 15 motor bersiap dari Kedai Preanger, Jl. Solontongan-Buahbatu, sementara satu motor lagi menunggu di daerah Cimindi. Perjalanan seperti biasa aduhai, kecuali ketika melintas di ruas jalan Gado Bangkong: ada razia kendaraan dari kepolisian. Beberapa kawan berdegup kencang, termasuk saya. Baca lebih lanjut

Mengais Sampah Demi Rupiah

Oleh: Willy Akhdes (@willyakhdes)

Mengais sampah demi rupiah

Awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit Kota Bandung akhirnya tumpah menjadi hujan. Bulir-bulirnya jatuh bergulir dari angkasa, mengencingi segala sesuatu di bawahnya, termasuk hamparan rumput sintetis Alun-Alun Kota Bandung. Seorang pria setengah baya yang dari tadi menggeledah tiap-tiap tong sampah yang ada di pinggir taman itu harus segera menepi ke sebuah bangunan untuk berteduh. Dengan bergegas, ia menyeret sebuah kantong plastik besar yang dari tadi dibawanya.
Heru Santoso, anggaplah namanya begitu, mulai membongkar kantong plastik besar bawaanya sambil menunggu hujan reda. Ia memilah barang-barang hasil pungutannya, memisahkan antara benda-benda plastik dengan kaleng dan kertas. Hasil pungutannya hari ini belum seberapa, tidak lebih dari 4 kilogram. Dengan harga beli barang bekas dan rongsokan plastik, kertas dan kaleng di pengepul sekitar Rp 2.000 – Rp 2.500 per kilogram, maka pendapatannya hari itu tidak lebih Rp 10.000. Jika tong dan bak sampah yang rutin tiap hari dibongkarnya itu sedang berbaik hati, biasanya ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 tiap harinya. Musim liburan dan akhir pekan, disaat produksi sampah meningkat, adalah masa panen baginya. Namun, musim penghujan begini seringkali mempersingkat jam kerja, yang akhirnya ikut menurunkan produktivitasnya.

Baca lebih lanjut

Rasia Bandoeng: Skandal Terlarang 100 Tahun Silam

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Liefde Is Bliend” artinya cinta itu buta, entah sudah berapa banyak film dan buku yang mengambil tema tersebut. Demi cinta, Romeo bahkan berani menenggak racun karena ingin menyusul Juliet yang berpura-pura mati demi dirinya. Tak perlu jauh-jauh datang ke Verona untuk menelusuri kisah cinta buta yang melegenda itu, karena Bandung pun memiliki kisah cinta yang serupa, bahkan pernah hadir secara nyata. Kisah tersebut terangkum dalam novel berjudul “Rasia Bandoeng” yang terkubur 100 tahun lamanya.

Rasia Bandoeng menceritakan kisah seorang Hilda Tan, gadis belia putri kesayangan pengusaha kaya yang tersohor di Kota Bandung yaitu Tan Djia Goan. Pada usianya yang menginjak masa remaja, rupanya ia jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Tan Tjin Hiauw. Percintaannya tak berjalan dengan mulus, karena sang pemuda berasal dari marga yang sama dengan dirinya, sehingga mendapat pertentangan dari sang Ayah. Pertentangan inilah yang menjadikan kisah cinta mereka menarik untuk diikuti. Dan dari kisah mereka inilah terungkap bahwa ternyata di jaman dahulu percintaan antara sesama marga dalam etnis Tionghoa itu tidak diperbolehkan.

Latar waktu dan tempat yang diceritakan di Rasia Bandoeng adalah nyata terjadi di Kota Bandung pada tahun 1912-1917. Berbagai tempat kejadiannya diceriterakan dengan sangat detail oleh sang penulis, bahkan sebagian foto tempat serta beberapa foto tokohnya dilampirkan di beberapa halaman.  Dari penuturan si penulis ini mengenai latar tempat, kita dapat mencoba menelusuri jejak cerita dalam novel, dan membandingkannya dengan kondisi saat ini.

Awalnya saat membaca sekilas Novel Rasia Bandoeng ini, saya sempat khawatir bahasanya yang menggunakan bahasa melayu klasik akan menyulitkan dalam mencerna isi cerita, namun ternyata penggunaan bahasa melayu jadul itu menjadi aspek menarik dalam buku ini. Dalam percakapan antar tokoh dalam novel terdapat pula celetukan berbahasa Sunda yang bagi saya memperpendek jarak waktu 100 tahun cerita tersebut, karena pada dasarnya bahasa Sunda yang digunakan tak terlalu jauh berbeda dengan yang saya gunakan pada jaman sekarang.

Rasia Bandoeng ini memuat banyak sekali kosa kata lama yang menjadi pengetahuan baru karena sudah tak dipergunakan lagi di jaman sekarang. Baca lebih lanjut

Surat Kereta Untuk Alina

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar?

Ini entah surat yang keberapa. Aku tak menghitungnya. Keberadaanmu yang entah di mana, membuat semua risalah tak menemukan alamatnya. Namun aku tak pernah bosan menulisnya untukmu, Alina. Dan sekali ini, aku ingin berbagi cerita tentang perjalananku ke Semarang dan Ambarawa menggunakan moda transportasi kesayangan kita. Ya, bukankah pada waktu-waktu yang telah lewat kita kerap melakukan perjalanan dengan kereta api? “Dari balik jendela kereta, pemandangannya bagus,” katamu waktu itu.

Tanggal 16 September 2015, aku bersama beberapa kawan dariKomunitas Aleut, ikut bergabung bersama komunitas lain untuk melakukan perjalanan malam menggunakan Kereta Api Wisata Priority. Sore menjelang malam, Bandung diselimuti lembayung tipis. Sembari menunggu kereta berangkat, kami berkumpul di ruang tunggu VIP, sisi Timur Statiun Bandung. Ketika waktunya tiba, di muka gerbong kami disambut oleh para petugas kereta wisata dengan ramah.

Alina, sewaktu aku melihat fasilitas yang ada di kereta wisata priority, seketika wajahmu memenuhi benak. Aku membayangkan, alangkah nyamannya jika kita—aku dan kamu, membelah Pulau Jawa dengan menggunakan kereta ini. Di dalamnya ada mini bar, bagasi yang luas, toilet bersih, dan kita bisa karaoke! Ya, kamu yang suka bernyanyi-nyanyi kecil, bisa memanjakan hobimu di dalam kereta ini. Selain itu, setiap kursi dilengkapi juga dengan audio/video on demand (AVOD) seperti layaknya di pesawat terbang. Bukankah kita bisa menikmati lagu dan film berdua saja, Alina? Baca lebih lanjut

Mencari Pecinan Kota Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Setiap Ngaleut bertema daerah Pecinan dengan Komunitas Aleut, saya selalu mendengar sebuah pertanyaan yang sama berulang kali dari beberapa peserta: Di mana sebetulnya daerah Pecinan di Kota Bandung? Kami memang sering mengidentikan Pecinan di Kota Bandung dengan daerah Pasar Baru dan Cibadak, namun belum pernah sekalipun mengatakan kedua daerah ini adalah Pecinan Kota Bandung. Alasannya mudah, yaitu karena butuh penelitian mendalam untuk menentukannya.

Nah, kebetulan Hari Minggu kemarin saya diundang sebagai perwakilan Komunitas Aleut dalam acara Wisata Kawasan Pecinan yang diadakan Bandung Heritage. Asiknya lagi, Pak Sugiri Kustedja menjadi interpreter perjalanan Wisata Kawasan Pecinan ini. Pak Sugiri adalah pegiat Bandung Heritage yang sangat perhatian dengan kebudayaan Tionghoa di Kota Bandung.

Pak Sugiri Kustedja

Pak Sugiri Kustedja

***

Apa sih sebetulnya Pecinan itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Pecinan sebagai berikut:

pecinan/pe·ci·nan/ n tempat permukiman orang Cina: pusat-pusat perbelanjaan berdampingan dng rumah-rumah model — yg sumpek.

Baca lebih lanjut

Bandung Tak Hanya Di Bagian Utara

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Bandung tentu saja menjadi kota yang paling penting bagi hidup saya. Dari lahir sampai sekarang sudah di pertengahan kepala dua, hampir 90% hidup saya dihabiskan di Kota Kembang. Semua jenjang studi juga saya jalani di kota ini, mulai dari TK hingga sekarang duduk di bangku strata dua. Pahit-manis dan berbagai macam pernik kehidupan saya rasakan di Bandung.

Jika mau bernostalgia, Bandung yang sekarang tentu saja sudah jauh berbeda dengan Bandung yang saya kenal di tahun 90-an. Dulu udara Bandung relatif lebih sejuk dibandingkan sekarang, hal ini bisa dilihat dari kabut yang hampir setiap pagi bisa terlihat. Sekarang ini sih kabut baru terlihat setelah turun hujan di dini hari. Itu baru cuaca, belum tentang pergeseran fungsi beberapa wilayah di Bandung. Baca lebih lanjut

Melihat Kordon Bagian Utara Dari Lensa Kamera

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Saat mendengar kata ‘kordon’, maka hal yang tergambar di kepala saya adalah sebuah daerah yang berada di selatan Bandung, tepatnya di ujung Jl. Margacinta dan pertengahan Jl. Terusan Buah Batu. Saya cukup kenal dengan daerah ini karena hampir setiap hari saya lintasi saat masih kuliah S1 dulu. Sampai sekarang, Kordon masih dikenal dengan kemacetannya terutama di daerah Pasar Kordon. Seberapa parah kemacetannya? Ya cukuplah untuk membuat antrian panjang dari Perempatan Buah Batu – Bypass sampai ke pasar. Selepas pasar, lalu-lintas kembali normal lagi. Luar biasa memang.

Terlepas dari keruwetannya yang kita lihat dan rasakan sehari-hari, ternyata daerah Kordon memiliki beberapa objek menarik yang berhasil saya abadikan melalui kamera Canon 600D yang saya bawa di Ngaleut Kordon hari Minggu kemarin.

Masjid Agung Buah Batu

Masjid Agung Buah Batu

Masjid Agung Buah Batu

Baca lebih lanjut

Menelusuri Taman di Kota Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Hari Minggu tanggal 20 Oktober 2013, Komunitas Aleut berkesempatan untuk menelusuri beberapa taman yang ada di Kota Bandung. Kegiatan ini merupakan kegiatan kedua Komunitas Aleut di pekan ke-3 bulan Oktober. Kegiatan pertama berlangsung pada tanggal 19, yaitu kegiatan Ngaleut Kampung Adat Cirendeu.

Sebagai titik awal penelusuran, kami memilih boulevard yang berada di depan Masjid Istiqamah. Boulevard di Kota Bandung belakangan ini cukup sulit ditemui setelah boulevard yang menjadi ikon Bandung di Jalan Pasteur hilang akibat pembangunan jalan layang Pasupati. Kondisi boulevard di depan Masjid Istiqamah cukup terawat, hanya sedikit sampah yang terlihat di lokasi ini. Sayangnya di lokasi ini saya tidak sempat mengambil gambar, sehingga cukup sulit untuk membuktikan persepsi saya mengenai boulevard di sini.

Masih dari boulevard ini, saya beserta Hani menjelaskan Tjitaroemplein. Di atas lahan Tjitaroemplein pernah berdiri sebuah monumen untuk memperingati percakapan pertama melalui radio telepon antara Hindia Belanda (Indonesia) dengan Belanda pada tanggal 3 Juni 1927, di stasiun pemancar Malabar.

Bentuk monumen berupa bola besar yang mengibaratkan bumi dan dua patung lelaki berhadap-hadapan tanpa busana di kedua sisinya. Ekspresi sebuah patung tampak sedang berteriak dan yang lainnya menempelkan telapak tangan di telinga. Monumen ini melambangkan jarak bumi menjadi tidak berarti lagi melalui komunikasi radio telepon.

(sumber: Tropenmuseum)

Pada tahun 1950-an, monumen ini diruntuhkan karena dianggap melanggar norma kesusilaan. Setelah monumen diruntuhkan, kemudian dibangunlah sebuah masjid di atas lahan Tjitaroemplein. Nama masjid tersebut adalah… Masjid Istiqamah.

Kemudian sebagai titik kedua penelusuran, kami mendatangi Taman Lansia. Taman ini dahulu bernama Tjilakiplein. Taman ini memiliki aliran air yang berasal dari Sungai Cikapayang. Aliran ini berada di tengah-tengah taman. Taman Lansia sendiri terbagi menjadi 2 segmen. Segmen pertama membentang dari tepi Jalan Diponegoro hingga persimpangan Jalan Cisangkuy dan Jalan Cimandiri, sedangkan segmen berikutnya membentang hingga simpang Jalan Citarum.

Di segmen pertama, terlihat terjadi banyak aktivitas. Hal ini wajar, mengingat perjalanan kami dilaksanakan pada hari Minggu yang bertepatan dengan pasar kaget mingguan. Sayangnya, pada segmen ini taman digunakan juga untuk berjualan oleh beberapa pedagang pasar kaget, sehingga kurang nyaman bagi para pejalan kaki. Bahkan di foto kedua, terlihat adanya tumpukan sampah di dekat kanal air. Cukup disayangkan.

Di segmen kedua, kondisi taman lebih kondusif dibandingkan segmen pertama. Terlihat beberapa orang bersantai di segmen ini. Selain itu, di segmen ini juga terlihat beberapa orang yang berolahraga jalan santai, mengingat aktivitas di segmen ini tidak seramai segmen pertama.

Dari Taman Lansia, kami bergerak menuju Taman Cibeunying. Taman ini diresmikan pada tanggal 6 September 1986 dengan nama “Taman PKK Cibeunying”, merupakan hasil kerja sama antara Tim Penggerak PKK Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dengan Dharma Wanita Unit Perumtel (sekarang Telkom) Pusat. Sempat beralih fungsi menjadi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina, pada awal tahun 2013 oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman fungsinya dikembalikan lagi menjadi taman.

Taman ini cukup luas. Saat kami mendatangi taman ini, terjadi banyak aktivitas. Saya melihat ada beberapa orang membawa anjing peliharaan mereka, ada yang duduk bersantai di gazebo, ada juga anak-anak yang sedang berlarian. Kondisi taman ini terbilang bersih, walapun di beberapa titik terlihat ada sampah gelas air mineral.

Luas Taman Cibeunying tidak hanya hingga tulisan “Cibeunying Park” pada foto di atas. Di belakang tulisan ini, masih terdapat taman yang juga bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.

Menurut Kabid Taman Dinas Pertanaman dan Pemakaman (Distankam) Kota Bandung, Dadang Darmawan, pihaknya sedang menjajaki kemungkinan pemasangan wi-fi di Taman Cibeunying. Beberapa provider telekomunikasi sudah melakukan pengajuan, namun pihak Distankam masih mempelajari dan menyeleksi terlebih dahulu. Sebagai fakir koneksi wi-fi, saya sangat mengharapkan adanya koneksi internet di taman ini, hehehe.

Dari Taman Cibeunying, kami beranjak menuju Taman Cilaki. Sesuai dengan namanya, taman ini terletak di Jalan Cilaki. Mudah untuk menemui taman ini, karena taman ini terletak dekat dari SD Ciujung dan SD Priangan.

Taman Cilaki

Kondisi taman cukup terawat dan terhitung bersih, karena tidak terlihat adanya sampah yang berserakan. Dari gambar di atas, terlihat jelas bahwa Taman Cilaki digunakan sebagai tempat berolahraga karena di tengah taman terdapat lantai beton dan terdapat tiang yang posisinya berseberangan. Umumnya, tiang seperti ini digunakan sebagai tempat menggantungkan jaring, baik itu untuk bulutangkis ataupun bola voli.

Taman ini juga memiliki sebuah bale di sudut yang dekat dengan Jalan Jamuju.

Bale di Taman Cilaki

Bale ini cukup nyaman untuk berteduh dari sinar matahari, mengingat Taman Cilaki tidak terlalu rindang. Jika tertarik berkegiatan di taman ini, saya menyarankan untuk menggunakan krim tabir surya jika tidak ingin kulit menghitam.

Kemudian kami bergerak menuju Lapangan Supratman, yang terletak hanya beberapa puluh meter saja dari Taman Cilaki. Lapangan ini sudah ada sejak pembangunan ruas Jalan Supratman di jaman penjajahan Belanda.

IMG_8385

Serupa dengan Taman Cilaki, lapanganini juga berfungsi sebagai tempat berolahraga. Namun, jika kita lihat lebih seksama, taman ini lebih difungsikan sebagai lapangan sepakbola karena di kedua ujung lapangan terdapat dua buah gawang.

Pada tahun 2010, lapangan ini pernah dijadikan lokasi syuting film Obama Anak Menteng. Menurut Damien Dematra, penulis skenario dan co-sutradara film Obama Anak Menteng, lokasi ini dipilih karena dinilai memiliki kesamaan dengan Jalan Matraman, tempat Obama dulu tinggal.

Walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil, berencana mengubah lapangan ini menjadi sebuah lapangan sekaligus Taman Persib. Kombinasi lapangan dan taman ini akan dibuat nyaman. Taman sebagai tempat nongkrong akan difasilitasi dengan wifi. Sedangkan lapangan, selain untuk bermain bola, suatu saat pun bisa dijadikan tempat untuk menggelar nonton bareng pertandingan. Rumput di Lapangan Supratman yang terkesan tak terurus ini juga sudah direncanakan Ridwan Kamil untuk diperbaiki.

Dari Lapangan Supratman, kami beranjak menuju Taman Anggrek. Taman yang berlokasi di Jalan Anggrek ini dahulu bernama Wilhelminaplein. Taman Anggrek sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

Taman Anggrek

Pada saat kami berkunjung ke taman ini, kondisi taman berbeda dengan apa yang saya lihat 4 bulan yang lalu. Taman terlihat bersih dan bebas dari tuna wisma. Taman dicat warna oranye karena taman ini diperbaiki menggunakan dana CSR dari Bank Danamon. Taman ini merupakan taman bertema fotografi. Kondisi taman terhitung bersih, sampah hanya terdapat di beberapa bagian taman dalam jumlah kecil. Taman ini kini semakin nyaman digunakan anak-anak untuk bermain, seperti yang terabadikan di foto di atas.

Dari Taman Anggrek, kami bergerak menuju Taman Salam. Taman yang terletak di Jalan Salam ini tidak terlalu banyak diketahui warga Kota Bandung. Hal tersebut tercermin dari mayoritas pegiat yang baru kali itu berkunjung ke Taman Salam.

Taman Salam

Kondisi Taman Salam sangat terawat dan sangat rindang. Kondisi taman yang terawat ini menurut saya karena taman ini terletak di wilayah perumahan, sehingga ada anggaran dari setiap penghuni rumah untuk merawat taman. Taman ini juga representatif untuk digunakan sebagai ruang beraktivitas selama tidak membuat kegaduhan. Saran saya jika berkunjung ke taman ini, gunakanlah lotion anti-nyamuk karena serangan nyamuk di taman ini cukup ganas.

Masih di sekitar Jalan Salam, kami menemukan bekas menara listrik di jaman kolonial.

Para Pegiat di Depan Bekas Menara Listrik

Hal yang membuat saya cukup yakin bahwa bangunan ini adalah bekas menara listrik adalah karena saya dan Ayan (@SadnessSystem) menemukan plakat kecil yang bertuliskan GEBEO. GEBEO adalah perusahan listrik di jaman kolonial.

Plakat GEBEO di Dekat Menara Listrik Jalan Salam

Setelah dari menara listrik Jalan Salam, kami bergerak menuju titik terakhir perjalanan, yaitu Taman Cempaka.

Taman Cempaka

Sama seperti Taman Anggrek, taman ini juga diperbaiki menggunakan dana CSR dari Bank Danamon dan merupakan taman dengan tema fotografi. Taman ini sudah ada sejak jaman kolonial, dengan nama Nassauplein.

Kondisi taman dalam keadaan baik, karena baru satu bulan diperbaiki. Namun disayangkan, taman ini tidak bersih karena sampah berserakan dimana-mana, belum lagi jumlah tempat sampah kurang dan tempat sampah yang adapun penuh.

Kondisi Taman Cempaka

Sampah Berserakan di Taman Cempaka

Meskipun demikian, Taman Cempaka sangat representatif untuk digunakan sebahai tempat berkegiatan. Taman ini cukup luas, rindang, dan juga dilengkapi arena bermain anak, sehingga cocok juga untuk dijadikan tempat berekreasi keluarga.

Seperti biasa kami mengakhiri kegiatan dengan berfoto bersama.

Pegiat Komunitas Aleut Berfoto di Taman Cempaka

Ditulis juga di http://aryawasho.wordpress.com/2013/10/20/menelusuri-taman-di-kota-bandung-bagian-1/ dan http://aryawasho.wordpress.com/2013/11/06/menelusuri-taman-di-kota-bandung-bagian-2/