MENGENAL BANGUNAN-BANGUNAN CAGAR BUDAYA KOTA BANDUNG BERSAMA  KOMUNITAS ALEUT DAN DISBUDPAR KOTA BANDUNG.

Oleh : Taurina Putri Ayumi

Komunitas Aleut  merupakan komunitas apresiasi wisata dan sejarah di kota Bandung yang berdiri sejak 20 Mei 2006. Tujuan didirikan Komunitas Aleut adalah menyebarkan pengetahuan sejarah dan meningkatkan pariwisata Bandung. Komunitas ini hadir karena saat ini sejarah masih sering dipandang sebagai suatu hal yang membosankan, akibatnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui atau bahkan tidak mengenal beragam peninggalan sejarah di Bandung. Oleh karena itulah, Komunitas Aleut membuat kegiatan unik yang disebut dengan Ngaleut. Ngaleut ini merupakan suatu kegiatan untuk belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan yaitu dengan terjun langsung ke lapangan yang dilakukan bersama-sama. Komunitas Aleut memiliki peran yang sangat penting dengan adanya fungsi sosial. Fungsi Sosial fungsi sosial Komunitas Aleut adalah menjadikan masyarakat Kota Bandung cinta akan kotanya melalui apresiasi sejarah serta melihat fenomena-fenomena yang ada di dalam masyarakat. Hal ini menjadi menarik karena jika sebelumnya kegiatan pariwisata atau jalan-jalan yang masyarakat lakukan hanya sebatas melepas penat bersama dengan rekan kerabat dalam komunitas yang kecil tanpa tujuan terarah, maka dengan tergabung dalam suatu komunitas kegiatan pelesiran itu akan punya konstruksi maknanya tersendiri.

        Seperti kita ketahui bahwa Bandung dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang banyak menyimpan peninggalan sejarah, berbagai warisan dan peninggalan masa Hindia Belanda dapat dengan mudah kita jumpai di berbagai sudut Kota Bandung. Sebagian besar peninggalan tersebut berwujud bangunan dengan beragam gaya arsitektur zaman kolonial. Ada beragam kegiatan lain yang dilakukan oleh Komunitas Aleut selain Ngaleut, semisal bedah buku, menonton film, berdiskusi, kelas literasi baik itu literasi media, literasi buku dan kegiatan terakhir yang saya ikuti dengan antusias adalah pemetaan kondisi cagar budaya di Kota Bandung.

Urgensi adanya pemetaan cagar budaya ini didasari adanya Perda No.7 Tahun 2018 yang menyatakan adanya 1770 bangunan cagar budaya yang tersebar di Kota Bandung. Namun, adanya pembangunan yang masif dikhawatirkan berimplikasi pada eksistensi bangunan cagar budaya yang ada. Setelah empat tahun berlalu sejak penerbitan Perda tersebut, maka perlu ada observasi kembali terkait bagaimana kondisi bangunan tersebut pada tahun ini.

“Mungkin kita tidak tau jika bangunan tetangga kita atau bahkan bangunan yang kita tinggali  adalah bangunan cagar budaya, maka di sinilah perlunya kita melakukan observasi”, ujar Bang Alex yang memberikan pandangan awal melalui kelas literasi sebelum kemudian terjun langsung ke lapangan.

Kegiatan Ngaleut Survey Cagar Budaya. Sumber: Dokumentasi komunitas Aleut

Saya mengikuti ketiga tahapan kegiatan, dimulai dari tahap persiapan, pra pelaksanaan, hingga ketika pelaksanaan kegiatan yang terekam dalam dokumentasi di atas. Kegiatan ini dilakukan full selama 30 hari, dimulai dari tahap persiapan berupa kelas literasi yang merupakan pengenalan kenapa perlu melakukan kegiatan dan pemaparan sekilas terkait bangunan-bangunan cagar budaya yang rupanya punya beberapa cerita menarik, seperti rumah yang ada di Jalan Kencana Nomor 3. Rumah ini dipergunakan sebagai rumah Milea dalam film layar lebar Dilan 1990 dan 1991. Rumah ini juga mendapatkan penghargaan Anugerah Cagar Budaya tahun 2021 karena dirawat dengan baik dari masa ke masa tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Pelaksanaan kegiatan survey didahului dengan simulasi dan survey awal melalui citra Google Earth secara time series, lalu melakukan dokumentasi, dan observasi di lapangan dengan memperhatikan hal-hal: Apakah kondisi bangunan terawat? Apakah ada penambahan-penambahan elemen baru pada bangunan, misalnya perubahan warna cat? Apakah bentuk bangunan masih utuh ataukah ada perubahan bentuk fisik pada bangunan? Apakah ada aktivitas tambahan pada bangunan, seperti misalnya perubahan fungsi, dari yang dulunya hanya dipergunakan sebagai rumah tinggal, kemudian sekarang menjadi kantor atau cafe. Semua itu kami catat dan sedapatnya kami foto untuk dokumentasi.

Seperti disinggung di judul, pemetaan survey cagar budaya ini bekerja sama dengan Disbudpar Kota Bandung dan digunakan juga untuk updating data cagar budaya untuk aplikasi Si Gaya Pinter oleh Disbudpar Kota Bandung. Aplikasi pintar ini berisi informasi lengkap tentang kondisi, sejarah, dan lokasi cagar budaya Kota Bandung.

Pelibatan komunitas dengan jumlah anggota yang banyak dan visi yang sejalan dengan program pemerintah membuat Komunitas Aleut menjadi opsi yang tepat dalam menjalankan tugas tersebut. Sebagai komunitas yang mengikuti perkembangan sejarah kota baik melalui kegiatan literasi dengan buku-buku, kegiatan-kegiatan diskusi, susur kota dengan kunjungan hingga ke pelosok-pelosoknya, membuat kegiatan pemetaan cagar budaya ini memaksimalkan perolehan ilmu melalui pembelajaran langsung di lapangan, Bagi saya pribadi ditambah pula dengan euforia sebab dapat berkontribusi secara langsung dalam kegiatan yang cukup penting untuk Kota Bandung ini.

* * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s