Palang Merah, Romansa Zaman Perang, dan Perjuangan di Zaman Merdeka

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Aryvc5bPZ8iDx38H5qzqN98Xtn9QwN4MDry3kXR5vCad

Setelah dua puluh empat tahun tinggal di Bandung, baru hari Minggu kemarin (16 Agustus 2015) saya masuk ke Taman Makam Pahlawan Cikutra. Kesempatan ini saya dapatkan bersama-sama dengan Komunitas Aleut saat Ngaleut Taman Makam Pahlawan. Kami berkunjung dalam rangka nyekar menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia dan juga mencari tahu siapa saja tokoh yang dimakamkan di sini. Berdasarkan hasil membaca artikel di dunia maya, ada banyak tokoh nasional yang dimakamkan di sini seperti Abdul Muis dan Eugene F.E. Douwes Dekker.

Dalam penelusurannya, kami memang menemukan kedua nama tersebut. Dua orang kawan bahkan menyempatkan diri untuk menaruh karangan bunga di makam E.F.E. Douwes Dekker, yang belakangan dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Nama Setiabudi diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung.

AriISz8kRpkZt-maNhhb-9jvN3KaLp9i65B1eEVBr4c6

Di blok yang berada tak jauh dari makam Setiabudi, saya menemukan satu makam yang entah mengapa bisa menggetarkarkan hati saya cukup kuat. Di permukaan nisan tertulis “Ny. Emi, P.M.I., Gugur 11-9-1945”.

IMG_5285

Saat melihat kata “P.M.I” dan “gugur”, saya teringat kembaliakan cerita guru SD saya tentang Palang Merah dan perang. Saat sedang memberikan pertolongan, Palang Merah akan mengibarkan benderanya dan selama bendera berkibar, titik itu tidak boleh diserang. Hal ini tercantum di dalam Hukum Perikemanusiaan Internasional. Mungkin saat bertugas, Ny. Emi terkena peluru nyasar yang merenggut nyawanya. Semoga Tuhan YME memuliakan beliau di sisi-Nya.

***

Peperangan, seburuk apapun keadaanya, selalu meninggalkan sebuah cerita menarik antara dua insan. Di antara desingan suara peluru dan ledakan bom, tumbuh roman antara pejuang dan perawat. Mungkin roman ini awalnya hanya sekedar cinta lokasi. Para pejuang yang berada di pos pertahanan atau rumah sakit selalu disambut para perawat yang siap merawat atau membantu logistik para pejuang. Setelah bisa mengenal satu sama lain karena frekuensi bertemu yang tinggi, muncullah benih cinta itu.

Dalam buku A Farewell To Arms karya Ernest Hemingway. Frederic Henry, seorang tentara Amerika yang menjadi tokoh utama di novel ini, jatuh cinta kepada seorang perawat bernama Catherine Barkley. Romansa ini berawal dari rumah sakit, saat Henry terluka terkena pecahan mortir. Selama masa perawatan, Henry dirawat oleh Barkley hingga akhirnya Henry sembuh. Luka sembuh, cinta tumbuh. Keduanya jatuh cinta hingga dikaruniai keturunan.

Romansa Henry-Barkley sendiri diambil dari pengalaman Hemingway sendiri saat ia jatuh cinta kepada Agnes von Kurowsky, seorang perawat yang ia temui di Italia saat Perang Dunia I. Bahkan tulang rusuk Christine Barkley diambil dari sosok von Kurowsky. Sayangnya, saat Hemingway ingin meminang von Kurowsky, ia harus segera kembali ke Amerika. Keadaan tak berpihak pada Hemmingway.

Hemingway bukanlah satu-satunya penulis yang mengabadikan memori kisah cintanya dalam sebiah buku. Di Indonesia, kisah cinta perawat-pejuang juga diabadikan Jus Rusady dalam memoarnya yang berjudul Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Dalam memoarnya, Jus Rusady beberapa kali menyinggung tentang para pejuang yang seringkali menggoda para perawat di pos pertahanan. Tak sedikit para pejuang yang akhirnya berpacaran dengan perawat, bahkan hingga naik ke pelaminan. Jus Rusady sendiri adalah contohnya. Ia menikahi Marry Z. Abdullah, seorang perawat yang ia temui di saat sedang mengungsi dari Bandung. Salah satu buah hati Jus Rusady dan Marry Abdullah yang paling familiar di mata kita adalah Paramitha Rusady, anak bungsu dari pernikahan mereka.

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur pada bulan Maret 2015

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947 pada bulan Maret 2015 (dokumentasi pribadi)

***

Di era kemerdekaan ini, sebetulnya perjuangan para pahlawan masih bisa kita teruskan melalui Palang Merah Indonesia dengan cara yang cukup mudah: mendonorkan darah. Sering kita temui kabar di media sosial tentang kekurangan stok darah golongan tertentu. Kekurangan ini sebetulnya masih bisa diatasi dengan cara rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali.

Keinginan untuk mendonorkan darah seringkali terbentur dengan ketakutan para calon pendonor akan jarum, apalagi jarum yang digunakan untuk melakukan donor ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari jarum suntik biasa. Merasa ngeri? Tak perlu sebetulnya. Rasa takutakan jarum bisa diatasi dengan cukup mudah. Ingat saja baik-baik dalam hati bahwa dengan melawan rasa takut ini, kita bisa menolong nyawa lain.

Ah, siapa tahu juga dengan rajin donor darah kita bisa mengalami romansa yang diceritakan Hemingway dan Jus Rusady.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/08/28/palang-merah-romansa-zaman-perang-dan-perjuangan-di-zaman-merdeka/

Iklan

Kordon adalah Kita

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN4834

Seorang perempuan muda turun dari angkot jurusan Buahbatu-Kalapa di Jl. Gurame. Saya kira dia masih usia kuliah, dari wajah yang tak boros saya menebaknya. “Ti Kordon,” ucapnya sambil memberikan ongkos ke sopir angkot. Kordon? Ya, semenjak berdomisili di Buahbatu, saya sering mendengar kata itu.

Kata berikutnya yang begitu lekat dengan Kordon adalah Pasar, maka menempellah Pasar Kordon di lereng ingatan, dan apa yang mengendap di benak saya dari sebuah pasar? ; jorok dan bau tentu saja. Pasar Kordon dari jalan raya, selalu terlihat deretan pisang yang menggantung menunggu pinangan calon pembeli, dan lorong agak gelap ke dalam. Kalau saja minat pada sejarah dan kehidupan sosial tidak membibit, barangkali saya tidak akan pernah nyukcruk ke dalam pasar itu. Maka Ahad kemarin (10 mei 2015) minat itu mengejawantah; saya mencoba menyigi Kordon. Baca lebih lanjut

Kenangan Masa Kecil di Pindad

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ngaleut Kiaracondong kemarin sebetulnya lebih seperti nostalgia masa kecil saya. Hampir setiap titik yang didatangi merupakan jalur yang dulu sering dilewati dan mempunyai kenangan tersendiri. Tapi dari semuanya, Pindad adalah yang mempunyai kenangan paling berkesan. Sayangnya, di ngaleut kemarin kita masuk ke dalam komplek Pindad mengingat izin masuk ke dalam belum juga keluar.

Pindad berawal dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW) yang berdiri di tahun 1908. ACW adalah sebuah bengkel peralatan militer yang berkedudukan di Surabaya. Bengkel ini berkembang menjadi sebuah pabrik, yang diikuti perubahan nama dan pengelola menjadi Artillerie Inrichtingen (AI). Lokasi pabrik dipindahkan lokasinya dari Surabaya ke Bandung pada tahun 1923.

Perpindahan pabrik dari Surabaya ke Bandung juga diikuti oleh perpindahan para pekerja Artillerie Inrichtingen ke daerah sekitar Stasiun Kiaracondong. Makanya di sekitar Kiaracondong kita kenal sebuah kawasan yang bernama Babakan Surabaya, karena kawasan ini adalah sebuah kampung baru tempat para pekerja asal Surabaya tinggal.

Berdasarkan buku Tiada Berita dari Bandung Timur karya Jus Rusady, di masa mempertahankan kemerdekaan, pabrik ini berhasil direbut para pejuang di Bandung tanpa adanya baku senjata maupun korban jiwa. Kejadian ini tepatnya terjadi pada 5 Oktober 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Pemerintah Belanda, secara resmi pada tahun 1950 kumpeni menyerahkan pabrik tersebut kepada Pemerintah Indonesia. 29 April 1950, pabrik ini berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Munisi (PSM). Nama PSM kini menjadi nama jalan di dekat kawasan Pindad, sedangkan tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Jadi Pindad. Nama Pindad sendiri adalah singkatan dari Perindustrian Angkatan Darat dan baru digunakan pada tahun 1962, setelah kepengelolaannya jatuh kepada Angkatan Darat.

***

Waktu Bapak masih dinas di Pindad, saya sering sekali datang ke sini, baik itu hanya untuk sekedar menjemput bersama Ibu ataupun main sampai ke daerah hutan yang berada di bagian paling belakang komplek.

Kenari

Kenari

 

Setiap jemput Bapak, saya sama Ibu punya satu kebiasaan: berburu kenari. Sebagai anak kota nanggung, sebelum berburu sama Ibu saya cuma tahu kenari dari cerita Chip & Dale aja. Di dekat tempat parkir ini banyak banget pohon kenari. Manjat pohon demi kenari? Tentu tidak. Saya sama Ibu cuma mungutin kenari yang jatuh di bawah pohon. Setelah selesai memungut, kenari dipecahin pakai benda keras. Biasanya sih pakai batu yang ada di sekitar tempat berburu. Kenari yang sudah dipecahin dicuci dulu sebelum dimakan. Rasanya sih mirip sama almond yang di coklat merek ratu sliver itu.

Ga banyak orang yang tahu kalau Pindad punya hutan di dalam lahan 66 hektar ini. Maklum, untuk masuk ke kawasan hutan ini kita harus melewati salah satu pos yang penjagaannya super ketat.

Gerbang Utama Pindad

Gerbang Utama Pindad

 

Detailnya gini: Persis di pintu masuk gerbang dari Jl. Gatot Subroto itu ada pos penjagaan pertama yang lumayan ketat. Selama alasan kita puguh mau ngapain masuk ke dalam komplek, kita bakal diizinin buat masuk ke bagian depan Pindad. Di dalem bagian depan, kita bakal nemuin gedung direksi, gedung humas, parkir motor, bangunan kantor, gedung serba guna yang kesohor dipakai undangan, sama akses jalan menuju RS Pindad.

Nah, hutan ini ada di bagian dalam komplek. Ga semua orang bisa masuk ke dalam, karena cuma karyawan, tamu khusus, atau mereka yang dapet izin aja yang bisa. Maklum, bagian dalam ini adalah daerah produksi. Mengingat barang yang diproduksinya adalah peralatan militer, bagian dalam ini masuk ke zona sensitif. Pada ngerti lah ya.

Saya bisa dibilang cukup beruntung karena pernah masuk ke bagian dalam, walaupun itu juga cuma dua kali. Semasa dinas, Bapak memang punya akses buat masuk dan selama ada Bapak di dalam saya diperbolehkan ikut masuk. Setiap masuk ke dalam, alih-alih dibawa ke ruangan Bapak, saya selalu dibawa ke Gedung 100. Tentu saja gedung ini ga ada kaitannya dengan kuis Family 100. Setiap gedung di Pindad punya nomor gedung, dan gedung ini nomornya 100.

Gedung 100 dulu fungsinya mirip bengkel. Gedung ini menggarap beberapa prototip mobil, baik itu mobil kecil sampai yang besar. Saya masih ingat saat Bapak bawa saya ke gedung ini pertama kali.

Saat itu hari Sabtu. Saya masih duduk di kelas 5 SD. Gedung 100 lagi menggarap dua prototip fun-kart untuk TNI. Entah apa yang ada di pikiran Bapak dan teman-temannya saat itu sampai saya diberi izin mengendarai fun-kart bertransmisi otomatis. Mungkin Bapak menilai kemampuan menyetir saya di Gran Turismo cukup baik.

33855-mod

Kurang lebih kayak gini bentuk fun-kart prototipnya

Izin ini tentu aja ga saya sia-siakan. Macam kucing yang dikasih ikan asin, hampir selama seharian saya keliling Gedung 100 dan komplek Pindad bagian dalam. Sendirian, tanpa ada orang dewasa di kursi penumpang. Kesenangan tak berhenti di situ. Salah satu teman Bapak, Om Sigit, kemudian mengajak saya bermain ke hutan dengan fun-kartini dan saya diberi kebebasan untuk berkendara off-road di dalam hutan. Sejak itulah saya tahu kalau ternyata Pindad punya hutan yang sangat luas. Mungkin setelah tersadarkan kalau mengizinkan anaknya mengendarai fun-kart seharian adalah sebuah kesalahan fatal, Bapak akhirnya menjemput saya saat maghrib menjelang. Sebagai penggila otomotif sejak usia dini, pengalaman ini adalah sebuah kenangan tersendiri yang ga akan pernah saya lupakan.

Tank - Budaya 06

Bukan tank yang ini loh yah

 

Sedangkan kali kedua main ke bagian dalam itu waktu Gedung 100 lagi dapat proyek perbaikan tank milik TNI. Sebelum pergi ke Pindad, Bapak sudah ngasih spoiler kalau nanti di dalam saya akan naik tank. Entah apa lagi yang terlintas di pikiran Bapak saat itu sampai mau ngajak saya naik tank alih-alih naik delman istimewa keliling kota. Saya duduk berdiri di samping belakang pak kusir Om Sigit yang mengendarai kuda tank supaya baik jalannya. Kesempatan ini mungkin tidak akan pernah saya dapat lagi.

Sekarang, Gedung 100 sudah berubah fungsi sebagai gedung produksi Panser Anoa 6×6. Ga ada lagi space di dalam gedung untuk dipake main fun-kart.

Hari jadi Pindad juga punya kenangan tersendiri untuk saya. Setiap akhir bulan April, Bapak selalu membawa saya dan Ibu ke Pindad untuk nonton pesta kembang api dan juga pasar malam. Pesta kembang apinya selalu meriah, dengan bermacam variasi warna. Suara dentuman kembang api ini bisa terdengar hingga radius 8 km. Ajang hari jadi Pindad juga selalu saya manfaatkan untuk jajan sepuasnya baik itu makanan ataupun mainan. Entah apakah sekarang tradisi ini masih berjalan, karena sudah lebih dari tahun saya ga lagi main ke sana setiap hari jadi Pindad. Udah agak lama juga ga terdengar suara dentuman kembang api yang biasanya terdengar sampai Arcamanik dan Padasuka

***

Dua belas tahun telah berlalu. Bapak sekarang bekerja di luar kota setelah ambil pensiun dini dua belas tahun yang lalu dari Pindad. Saya yang waktu itu masih berseragam putih-merah saat bersenang-senang dengan fun-kart dan merasa bahagia karena berkesempatan naik delman tank istimewa kini akan menghadapi masa galau tesis dalam waktu kurang dari sebulan lagi. Hidup telah berubah setelah dua belas tahun, tapi kenangan itu tentu saja tak akan pernah berubah. Tetap terasa manis seperti kamu. Iya, kamu.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/03/31/kenangan-masa-kecil-di-pindad/