GEOTREK III : Tangkuban Parahu-Ciater, 270210

Oleh : Ridwan Hutagalung
Pada tanggal 27 Februari lalu, Truedee menyelenggarakan sebuah program tour dengan nama Jajal Geotrek III (Tangkuban Parahu-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater). Sebelumnya sudah dua program Jajal Geotrek diselenggarakan, masing-masing Jajal Geotrek I (tak ikut dan tak punya datanya euy, tapi jalurnya di sekitar utara Kota Bandung, antara Gunung Batu sampai Batuloceng) dan Jajal Geotrek II : Gn. Puntang-Malabar (28 November 2009). Bisa dipastikan semua program susur alam tersebut berlangsung dengan meriah dan menyenangkan bagi semua pesertanya, apalagi dua interpreter andal selalu menyertai perjalanan ini, Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar.

Penamaan program Jajal Geotrek tentu saja berhubungan dengan buku Wisata Bumi Cekungan Bandung yang ditulis oleh Budi Brahmantyo & T. Bachtiar dan diterbitkan oleh Truedee Pustaka Sejati (Bandung, 2009). Buku ini memuat 9 jalur perjalanan dengan muatan geowisata di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap jalur dirangkai dengan menarik agar selalu memiliki benang merah dan mampu menyampaikan serpihan informasi dari berbagai disiplin ilmu terutama geologi, geografi, ilmu sejarah, dan pengetahuan lingkungan hidup. Jalur-jalur geotrek dalam buku inilah yang kemudian dibuatkan paket-paket “praktek”nya oleh Truedee dengan nama Jajal Geotrek.

Lalu apa yang menarik dari program Jajal Geotrek? Yang paling utama tentunya kehadiran kedua interpreter yang memang paham betul tentang objek-objek yang dikunjungi. Sejak rombongan menjejakkan kaki di sisi Kawah Ratu, mengalirlah semua penjelasan tentang fenomena alam yang dikunjungi oleh rombongan. Mulai dari sejarah kelahiran Gunung Tangkuban Parahu, gunung-gunung purba yang mendahuluinya dan kaitannya dengan danau purba di cekungan Bandung. Berbagai tipe gunung api dan letusannya serta fenomena alam di sekitarnya juga disampaikan dengan bahasa ringan disertai contoh-contoh dan gurauan yang memudahkan penyerapan informasi oleh para peserta (semoga bener..).

Dengan interpreter yang sangat egaliter, perjalanan yang ditempuh oleh seluruh rombongan menjadi tidak terasa membebani. Hubungan yang terbentuk tidak lagi seperti antara “ahli” dengan “awam” melainkan lebih sebagai sesama teman. Semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban sepanjang penguasaan pengetahuan interpreter (dan akan diakui dengan rendah hati bila ternyata mereka tidak menguasai topik-topik tertentu). Bagi saya pribadi, kerendah-hatian seperti ini telah berhasil memperpendek jarak-jarak pengetahuan, pengalaman, dan senioritas antara interpreter dengan para peserta tour. Saya sendiri selalu percaya egalitarianisme adalah jalan masuk paling efektif untuk masuk ke generasi yang lebih muda. Sayangnya fenomena ini bukanlah fenomena yang cukup umum dalam sebagian besar masyarakat kita.

Demikianlah perjalanan-perjalanan Jajal Geotrek yang diselenggarakan oleh Truedee telah berhasil memberikan banyak bekal bagi para pesertanya, tidak melulu tentang keindahan objek alam yang memang sudah tersedia dengan sendirinya namun juga berbagai fenomena dan cerita lain yang melatarinya.

Jajal Geotrek III mengambil Jalur Geotrek I dari buku Wisata Bumi Cekungan Bandung dengan rute Kawah Ratu-Kawah Upas-Kawah Domas-Hutan Tropis-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater. Semua jalur perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki kecuali perjalanan berangkat dan pulang ke titik awal dan dari titik akhir yang ditempuh dengan menggunakan dua buah bis. Biaya Rp. 120.000/orang ternyata tidak menyurutkan jumlah peserta yang antusias untuk turut dalam perjalanan ini, tercatat ada 56 orang peserta (nyontek catatan Ruri) yang hadir. Biaya tersebut dipergunakan untuk keperluan transportasi, makan siang, tiket masuk kompleks Tangkuban Parahu, dan mencetak leaflet yang sangat bagus dan informatif.

Dengan makna perjalanan yang seperti ini tampaknya saya sudah mencatatkan diri untuk selalu serta dalam program-program Jajal Geotrek berikutnya, bukan demi kesenangan mengikuti tour itu sendiri (yang secara mingguan saya lakukan juga bersama Komunitas Aleut!) melainkan lebih demi kecintaan saya terhadap kota yang menjadi tempat hidup saya sekarang, Bandung.

Terimakasih untuk Truedee (Ummy & Ruri), Budi Brahmantyo, dan T. Bachtiar.

Nb. Aaah gak mau upload fotona…

Catatan Perjalanan “Jajal Geotrek III” bersama Truedee.

Oleh : Asep Nendi R.
Sabtu, 27 Februari 2010, saya beserta enam orang pegiat Aleut! mengikuti acara Jajal Geotrek III yang diselenggarakan oleh penerbit Truedee, dengan interpreter Pak T. Bachtiar dan Pak Budi Brahmantyo.

Adapun jalur yang ditempuh dalam kegiatan tersebut sesuai dengan jalur Geotrek 1, Mengungkap Di Balik Perahu Yang Terbalik Itu, dalam buku “Wisata Bumi Cekungan Bandung”.

Meeting point kegiatan bertempat di Taman Ganesha, sekitar pukul tujuh pagi seluruh peserta sudah berkumpul. Setelah pengantar dari panitia dan perkenalan masing-masing peserta, kegiatan dimulai. Dua bis yang sudah disiapkan, mengangkut seluruh peserta ke Kawasan Wisata Gunung Tangkuban Perahu yang kini sudah resmi dikelola oleh perusahaan PT. GRPP. Di areal parkir kami berganti kendaraan menuju ke areal kawah Ratu.

Gunung Tangkuban Parahu terletak di sebelah utara kota Bandung. Secara administratif gunung ini termasuk kedalam wilayah administratif Kab. Bandung Barat dan kab. Subang. Memiliki ketinggian 2.084 mdpl, merupakan gunung dengan tipe strato (stratovolcano) dengan kawah kembar. Merupakan gunung api yang masih aktif hingga sekarang, ini dapat dilihat dari kegiatan di kawah seperti keluarnya uap belerang dan sumber air panas di Ciater. Gunung Tangkuban Parahu memiliki 9 kawah. Kawasan hutan di gunung ini terbagi menjadi kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane dan hutan gunung. Perjalanan menuju Gunung Tangkuban Parahu dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor (mobil, motor), perintisan jalan menuju puncak telah dimulai sejak tahun 1900-an. Pada tahun 1930 jalan yang ada memungkinkan perjalanan sampai bibir kawah Ratu.

Pendakian pertama kali ke Gunung tangkuban Parahu dilakukan pada tahun 1713 oleh Abraham Van Riebeek. Dia mengemban misi pencarian belerang sebagai bahan campuran pembuatan bubuk mesiu untuk meriam dan bedil. Karena kelelahan yang luar biasa, Abraham Van Riebeek meninggal dunia dalam perjalanan pulang tepatnya tanggal 13 November 1713.

Gunung Tangkuban Parahu sendiri terbentuk setelah melalui beberapa tahapan.

Tahapan 1. Sekitar 560.000-500.000 tahun yang lalu, Gunung Pra-Sunda (yang dinamai oleh Pak T. Bachtiar Gunung Jayagiri) meletus dahsyat hingga bagian tengahnya hancur dan membentuk sebuah kawah yang besar (kaldera). Dari kaldera itu muncul sebuah Gunung Sunda yang tumbuh menjadi gunungapi raksasa dengan ketinggian sekitar 4000 mdpl.

Tahapan 2. Gunung Sunda lahir dari kaldera Gunung Jayagiri, meletus sekitar 210.000-105.000 tahun yang lalu. Letusannya membentuk kaldera Gunung Sunda seluas 6,5×7,5 km2. Letusan Gunung Sunda itulah yang diperkirakan membuat Citarum di utara Padalarang terbendung, yang menjadikan Danau Bandung Purba.

Tahapan 3. Dari kaldera Gunung sunda itulah lahir Gunung Tangkuban Parahu. Gunung Tangkuban Parahu tidak berbentuk kerucut karena, di tengahnya terdapat kawah kembar yang berdampingan, sehingga dilihat dari arah selatan akan seperti perahu yang terbalik. Letusannya terjadi dari 90.000 tahun yang lalu sampai sekarang.

Titik pertama dalam Geotrek 1 adalah Kawah Ratu, merupakan kawah aktif terbesar dari semua kawah yang ada. konon dinamai Kawah Ratu, menurut legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi melompat ke arah kawah tersebut.

Titik kedua adalah Kawah Upas. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 km dari kawah Ratu. Tidak seperti kawah Ratu yang masih aktif sehingga tidak bisa dituruni, kawah Upas dapat dituruni hingga dasarnya.Upas sendiri berarti racun, maka tidak mengherankan kalau banyak sekali plang yang memperingati pengunjung untuk tidak mendekat. Beberapa titik diperkirakan mengeluarkan gas yang beracun. Di dekat kawah ini, dengan berjalan kaki sekitar 500m, terdapat sebuah bungker dan tugu peninggalan Belanda, yang kemungkinan besar sebagai pos pertahanan (atau radio) juga terdapat tempat penampungan air diduga untuk persediaan atau penampungan air. Kini plangnya menunjukkan mata air Cikahuripan, yang dipercaya tempat Dayang Sumbi mandi dan memohon kepada Dewata agar awet muda, dengan harapan dapat dipertemukan kembali dengan anaknya Sangkuriang. Kini, sejarah bungker itu tidak banyak yang mengetahui, lagipula pengunjung lebih tertarik akan khasiat dari Cikahuripan sendiri yang dapat membuat awet muda. Kemungkinan besar perintisan jalan menuju Gunung Tangkuban Parahu, selain untuk memudahkan penelitian juga untuk pembangunan lokasi strategis bagi pemerintahan kolonial Belanda. Beberapa benteng dan tempat pertahanan juga mudah ditemui di sekitar gunung ini, seperti di Gunung Putri dan Pasir Ipis.

Titik ketiga adalah perjalanan menurun dari Kawah Ratu ke Kawah Domas, peserta kembali dibawa melewati kawah Ratu. Sekitar 2 km perjalanan menuruni anak tangga alami, vegetasi Cantigi yang berdahan kemerah-merahan dan Pohon Puspa. Di satu titik, terdapat sebuah warung, pemandangan ke bawah sangat indah. Di bawahnya tepat berada kawah Domas, dan ke timurnya membentang hutan yang hijau.

Titik yang keempat adalah kawah Domas. Kawah ini merupakan kawah solfatara. Di banyak tempat, terdapat beberapa lubang yang mengeluarkan uap gas belerang yang panas, kawah utamanya adalah lubang berdiameter dua meter berisi air yang mendidih. Di kawah ini kristal-kristal belerang berwarna kuning cerah terbentuk di sekitar lubang uap. Kejadian inilah yang dipercaya sebagai asal muasal nama kawah Domas, karena arti kata Domas yaitu emas. Warna kuning yang muncul seperti warna emas, sehingga dinamai Kawah Domas.

Titik yang kelima adalah perjalanan menyusuri hutan. Hutan hujan tropis dengan dominasi tanaman pakis, paku-pakuan, rotan, bambu dan pandan. Sepanjang jalan wangi hutan benar-benar menyegarkan, setelah lama bergelut dengan bau belerang. Setelah itu muncul padang ilalang, menghalangi pandangan. Hingga pada akhirnya memasuki areal perkebunan teh, yang pada kali ini tidak semua hijau, karena sebagian sudah disemai. Namun tetap menyegarkan pandang.

Dari titik kelima peserta di evakuasi menuju tempat coffebreak, hehe…

Akhir perjalanan diramaikan dengan kuis, dan ramah tamah dari tiap-tiap peserta. Kesan dan pesan yang terlontar jelas mengarah kepada perubahan tingkah laku, untuk menghargai alam dengan tidak merusaknya. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung dan melibatkan banyak peserta muda (komunitas-komunitas).

Bahan Bacaan :
Panduan Lapangan Gunung Tangkuban Parahu, T. Bachtiar.
Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar. 2009. Penerbit Truedee Pustaka Sejati.
http://www.facebook.com/profile.php?id=519229089&ref=search&sid=1575196128.2302217639..1#!/profile.php?v=app_2347471856&ref=search&id=519229089

Jajal Geotrek II : Pangalengan

By : Ridwan Hutagalung

Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) menyelenggarakan Jajal Geotrek II ke Pangalengan dengan jumlah peserta sekitar 60 orang (mungkin dikurangi oleh beberapa orang yang batal ikut). Para penjajal ini berangkat dari halaman kampus ITB sekitar jam 7 pagi dengan
menggunakan dua buah bis. Jajal Geotrek II hanya mengambil sebagian kecil saja rute Geotrek 9 yang terdapat dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yaitu beberapa stop (atau spot) di sekitar Pangalengan. Walaupun hanya sebagian kecil, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalani rute ini ternyata mencapai satu hari penuh.

Saya berada di bis pertama dengan interpreter T. Bachtiar (TB), geograf berenergi tinggi yang selalu terlihat antusias dalam membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih mencintai Kota bandung. Sementara di bis kedua ada geolog Budi Brahmantyo (BB) sebagai interpreter. BB yang lebih kalem ini tak kurang energinya bila sudah bercerita tentang lingkungan dan proses-proses geologi yang terjadi di sekitar kita. Sungguh beruntung seluruh peserta Jajal Geotrek II ini karena didampingi langsung oleh dua interpreter yang andal dalam berbicara mengenai lingkungan Bandung.

Stop pertama di Gunung Puntang. BB menjelaskan beberapa tipe gunung api (dan sungai) yang disambung oleh TB dengan topik toponimi (dan etimologi) Malabar. Di sini seluruh peserta dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa puing-puing bangunan bekas kompleks stasiun pemancar pertama di Hindia Belanda. Kegiatan dilanjutkan dengan susur sungai Cigeureuh ke arah hulu. Perjalanan di tengah arus sungai ini adalah yang paling mengesankan. Di ruang yang lebih terbuka, Masih di atas badan sungai, di ruang yang lebih terbuka, BB bercerita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kompleks Pegungungan Malabar sambil menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Saya yakin kuliah di atas sungai ini akan menjadi kuliah paling menarik bagi kebanyakan peserta.

Stop kedua di Rumah Bosscha. Di stop ini acara utamanya adalah makan siang yang enak. Soto Bandung dengan tempe, perkedel, telor rebus, dan sambal yang aneh karena tidak pedas. Sebelum makan BB sempat bercerita tentang peristiwa gempa bulan September lalu dan berbagai sebab yang menjelaskan kenapa daerah Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah. Usai makan para peserta berkesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam Rumah Bosscha yang tampak porak-poranda. Jamuan terakhir adalah tee dan kopi yang cawerang banget, hehe..

Stop ketiga di dekat kebun teh tua dari Assam, India, untuk menyaksikan dan bercerita tentang bentang alam Gunung Wayang-Windu serta proses-proses geothermal.

Stop keempat di kebun teh tua ternyata hanya berhasil mengusir pasangan yang sedang mojok di kerimbunan pepohonan teh yang tingginya mencapai 5-6 meter. Hujan yang menderas membatalkan kuliah di stop ini.

Stop kelima di tugu dan makam Bosscha diselingi insiden kecil tertabraknya seorang peserta oleh motoris yang tidak bertanggungjawab. Sungguh luar biasa, di bawah guyuran hujan semua peserta tampak terpesona oleh ceramah umum yang disampaikan bintang tamu of the day, Pak Upir, persis di depan makam Bosscha. Ceramah luar biasa ini berakhir antiklimaks saat Pak Upir bertanya, “sebentar, ini pesertanya ada berapa orang?.”

Stop keenam di sisi Situ Cileunca. Gerimis masih berlangsung intensif sehingga tidak banyak peserta yang turun ke tepi danau. Sebagian besar berdiri saja di sisi jalan mengamati bentangan alam yang tersaji di depan. Situ Cileunca sebetulnya merupakan danau kembar buatan di kawasan hutan belantara yang mulai dibuka pada tahun 1917. Kawasan hutan ini dimiliki secara pribadi oleh seorang Belanda bernama Kuhlan. Pembangunan danau seluas 390 hektare dan berkedalaman 17 meter ini berlangsung dari 1919 hingga 1926.

Stop ketujuh atau terakhir di Cukul Tea Estate berlangsung agak muram. Setelah iming-iming dan bayangan tentang keindahan Rumah Jerman (rumah dengan gaya tradisional Eropa), ternyata para peserta harus terhenyak menyadari bahwa rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Yang tersisa di tempatnya hanyalah tumpukan berangkal dan gudang kecil yang sebelumnya merupakan bagian belakang rumah tersebut. Bangunan indah dan langka itu ternyata telah rata tanah akibat gempa. Kesedihan terlebih melanda sebagian peserta yang pernah menikmati keindahan rumah kayu itu dalam perjalanan Tambang Emas Cibaliung bersama Mahanagari pada bulan April lalu. Apa boleh buat …

Stop ketujuh sekaligus juga menutup seluruh rangkaian perjalanan Jajal Geotrek II dari truedee hari ini. Perjalanan dengan rute yang mungkin biasa saja namun saya yakin sudah mampu memberikan efek luar biasa bagi segenap pesertanya, termasuk saya sendiri yang relatif sudah sering aprak-aprakan di wilayah ini. Terimakasih untuk truedee, T. Bachtiar, dan Budi Brahmantyo. Semoga semua upaya ini betul-betul dapat menjadi inspirasi bagi semuanya dalam menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kota Bandung. Kecintaan yang tidak berakhir di mulut, namun dalam perbuatan yang nyata.

Ridwan Hutagalung
30 November 2009

Sedikit catatan tambahan (aspek sejarah populer saja) tentang objek yang disinggahi dalam Jajal Geotrek II.

1) Stasiun Radio Malabar / Gunung Puntang
Kawasan wisata Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, terletak di Desa dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kawasan ini sempat pusat perhatian dunia pada tahun 1923 karena saat itu pemerintah Hindia Belanda berhasil mendirikan stasiun radio pemancar yang pertama dan terbesar di Asia. Untuk memancarkan gelombang radio digunakan bentangan antena sepanjang 2 km antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Kontur lembah di kawasan yang terpencil ini ternyata sangat mendukung efektivitas rambat gelombang yang mengarah langsung ke Nederland. Sebagai pendukung tenaga listriknya, dibangun pula sejumlah pembangkit listrik, di antaranya PLTA Dago dan PLTA Plengan dan Lamadjan (di Pangalengan) serta sebuah PLTU di Dayeuh Kolot.

Pada tahun 1923 dibangun pula sebuah kompleks hunian bagi para karyawan stasiun pemancar ini. Kompleks yang disebut sebagai Radiodorf (Kampung Radio) ini memiliki sejumlah fasilitas seperti rumah karyawan, gedung pemancar, lapangan tenis, kolam renang, dan konon juga sebuah bioskop. Sayang semuanya kini hanya tinggal puing berserakan saja. Di seantero kawasan ini bisa dengan mudah kita temui sisa-sisa bangunan, bekas-bekas fondasi yang sering tertutup semak, serta sisa-sisa antena yang masih tersebar di area pegunungan. Saat ini di reruntuhan bangunan yang tersisa dipasang plakat-plakat nama para pejabat yang pernah tinggal di situ.

Perintisan dan pembangungan Stasiun Radio Malabar dilakukan oleh seorang ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot sejak 1916. Pembangunan antena di Gunung Puntang sudah dilakukannya sejak 1917. Setelah mengalami kegagalan, de Groot akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1923 (antena Telefunken yang diterima di Batavia pada 1919, baru selesai terpasang pada 1922). Stasiun Radio Malabar kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal de Fock pada tanggal 5 Mei 1923.
Dr. de Groot yang meninggal pada tahun 1927 kemudian hari dikenang melalui sebuah nama jalan di Bandung Utara, Dr. de Grootweg (sekarang menjadi Jalan Siliwangi), sedangkan peristiwa telekomunikasi pertama diperingati melalui pendirian sebuah monumen berbentuk dua orang anak telanjang yang sedang berkomunikasi mengapit sebuah bola dunia di Tjitaroemplein. Sayangnya monumen tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Di bekas lokasinya sekarang didirikan Mesjid Istiqomah.

Stasiun Radio Malabar mengakhiri masa jayanya pada tahun 1946 dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu empat pemuda dari Angkatan Muda PTT yang bertugas menjaga Stasiun Radio Malabar menerima perintah dari Komandan Resimen yang sedang berada di Citere, Pangalengan. Isi perintahnya adalah penghancuran Stasiun Radio Malabar.

Radiodorf dan Stasiun Radio Malabar

Berbagai peralatan pemancar radio di Stasiun Radio Malabar

Reruntuhan Radiodorf

Sisa Kolam Cinta

2) Karl Albert Rudolf Bosscha
Perkebunan Teh Malabar sudah dibuka sejak tahun 1890 oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Namun popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.

Selain perkebunan, sejumlah jejak Bosscha lainnya masih tersebar di kawasan ini. Di antaranya sebuah rumah tinggal yang saat ini sedang direnovasi akibat kerusakan yang cukup parah oleh gempa bumi pada bulan September lalu. Sebelum kerusakan ini, berbagai barang pribadi peninggalan Bosscha masih tersimpan dan tertata rapi di rumah ini. Saat ini barang-barang tersebut diungsikan ke sebuah gudang sampai renovasi selesai dilakukan. Salah satu spot favorit Bosscha di perkebunan ini adalah sebuah hutan kecil yang sekarang menjadi lokasi makam dan tugu Bosscha. Beberapa pohon besar (termasuk yang langka) memberikan keteduhan pada kompleks makam ini.

Tak jauh dari makam, terdapat suatu area dengan pohon-pohon teh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon-pohon teh yang mencapai tinggi hingga 6 meter ini berasal dari biji-biji teh Assam (India) yang ditanam pada tahun 1896. Biji teh dari Assam inilah yang kemudian menjadi bibit bagi perkebunan teh di sekitar Pangalengan. Di belakang pasar Malabar hingga saat ini masih dapat juga ditemui sebuah rumah panggung tempat tinggal para buruh perkebunan di masa Bosscha. Konon rumah panggung yang sekarang dikenal dengan nama Bumi Hideung ini didirikan pada tahun 1896, saat yang sama dengan berdirinya Perkebunan Teh Malabar.

Nama Bosscha sebenarnya tak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Sifatnya yang dermawan telah melibatkannya dalam berbagai perkembangan dan kemajuan Kota Bandung di masa lalu. Beberapa di antaranya : pembangunan Technische Hooge School (THS atau ITB sekarang) beserta fasilitas laboratoriumnya, Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang, PLTA Cilaki di Gunung Sorong, serta berbagai sumbangan untuk Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu Tuli) dan Blinden Instituut (Lembaga Buta) di Jln. Cicendo dan Jln. Pajajaran, Leger des Heils (Bala Keselamatan), dan beberapa rumah sakit di Bandung.

Pohon Teh Assam

Perkebunan ini banyak berperan dalam pembangunan Kota Bandung pada masa Hindia Belanda.

Sumber tulisan :
– Wisata Bumi Cekungan Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati, Bandung, 2009)
– Jendela Bandung (Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, Bandung, 2007)
– Radio Malabar – Herinneringen aan een Boiende Tijd 1914-1945 (Klaas Djikstra, pdf version)
– Buklet Radio Station Malabar en Overige Stations op de Bandoengsche Hoogvlakte (Gouvernements Post-Telegraaf en Telefoondienst in Nederlandsch-Indie, 1928)
– catatanide.multiply.com, ketjesuretje.multiply.com
– Artikel-artikel koran PR dan Kompas.