Catatan Perjalanan: Ngaleut Cikapundung Kolot

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

WhatsApp Image 2016-09-04 at 08.14.51

Kami mulai berjalan beriringan menuju Cikapundung Kolot

Saya tak mengenal betul nama-nama sungai di kawasan Bandung, hanya beberapa saja. Sungai Citarum dan Cikapundung salah duanya. Sungai Ci Tarum tentu saja saya kenal ketika guru (entah SD atau SMP) yang menyebutkan sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat. Kedua, Sungai Ci Kapundung, saya kenal ketika saya sering melintasi Jalan Asia Afrika, lalu masuk ke Jalan Ir. Sukarno (dulu bernama Jl. Cikapundung Timur). Selain itu, saya kurang begitu kenal tentang sungai-sungai yang berada di Bandung. Apalagi di daerah lain.

Kegiatan Ngaleut di Minggu pertama bulan September sepertinya akan berjalan biasa saja. Tapi tidak bagi saya, saya yang sebelumnya mengikuti Kamisan ala Aleut, di mana rancangan kegiatan untuk hari Sabtu dan Minggu dilaksanakan di Kamis malam itu membuat saya mengetahui lebih awal informasi yang akan diselenggarakan oleh teman-teman Komunitas Aleut untuk kegiatan weekend ini. Ketika beberapa teman mungkin mengetahui informasi di hari Jum’at atau Sabtu. Saya tahu lebih awal, Kamis malam. Mungkin ini menjadi keuntungan saya mengikuti Kamisan. Sebagai catatan, Kamisan ini terbuka untuk umum juga loh, untuk semua pegiat Aleut.

Ngaleut Cikapundung Kolot. Tema untuk Ngaleut minggu itu. Berbeda dengan Ngaleut-Ngaleut biasanya yang saya ikuti. Walaupun beberapa teman sudah mengetahui tentang keberadaan kampung Cikapundung Kolot, yang mana kampung tersebut menjadi salah satu kampung tertua di Kota Bandung. Ternyata setelah saya dan teman-teman lainnya telusuri, banyak hal-hal yang tak terduga. Pun begitu dengan beberapa teman baru yang baru ikut bergabung. Mereka begitu antusias mengikuti kegiatan Minggu ini. Baca lebih lanjut

Yang Asing di Kampung Cikapundung Kolot

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Mungkin saya terlalu lama jalan-jalan di pusat kota Bandung hingga merasa asing saat berjalan-jalan di Kampung Cikapundung Kolot. Saya asing dengan senyum ramah nan tulus yang diberikan warga kampung. Saya juga merasa asing saat mereka kenal nama dan alamat tetangga mereka.

Tidak hanya terasing saja, saya juga melihat hal-hal yang jarang saya temukan di pusat kota. Warga duduk santai di depan rumah mereka yang saling berimpitan. Tidak hanya duduk saja, mereka juga mengobrol segala hal. Ibu-ibu membicarakan gosip artis terkini. Anak-anak menceritakan sinetron atau kartun yang terkini. Bapak-bapak berbagi cerita pekerjaan dan peliharaan mereka. Baca lebih lanjut