Wong Jawa di Bandung Tempo Dulu

datang poek teu diaku (Datang kemalaman tak dibukakan pintu)

Lagi – lagi bau kopi membangunkan saya dari lamunan siang hari. Saya baru ingat bahwa ada cerita yang harus ditulis. Cerita yang berasal dari satu pertanyaan kawan saya di Komunitas Aleut. Pertanyaan tentang orang Jawa di Bandung.

Babakan Surabaya, kampung wong Jawa

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Saya akan mulai bercerita tentang satu kampung orang Jawa di Bandung. Kampung tersebut bernama Babakan Surabaya.

Cerita di Babakan Surabaya bermula dari pemindahan pabrik mesiu di Ngawi dan pabrik senjata di Surabaya ke Bandung. Lokasi yang dipilih bagi penempatan pabrik senjata terletak di Desa Kiaracondong. Saat itu, Desa Kiaracondong berada 5 km dari batas timur Kota Bandung.

Saat pemindahan pabrik, pekerja pabrik senjata beserta keluarganya ikut dipindahkan ke Bandung. Untuk menampung pekerja pabrik dan keluarganya, dibangun daerah yang disebut Babakan Surabaya. Babakan Surabaya berada di Kiaracondong, dekat dengan pabrik senjata.

Selain di Babakan Surabaya, kita akan menemukan satu kampung yang berisi orang Jawa. Kampung tersebut bernama Kampung Jawa. Kampung Jawa berlokasi dekat dengan Pabrik Gas yang berlokasi di daerah Kiaracondong.

Orang Jawa dan Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Sebetulnya Bandung tempo dulu memiliki banyak pasar. Pasar – pasar tersebut tersebar dari Bandung Barat hingga Bandung Timur. Setiap pasar adalah pusat kegiatan ekonomi penduduk yang dekat pasar tersebut. Salah satu pasar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang Jawa adalah Pasar Kosambi.

Sebelum ada Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong, pasar paling dekat dengan kediaman orang Jawa adalah Pasar Kosambi. Sehingga orang Jawa sangat sering mengunjungi Pasar Kosambi untuk menjual atau membeli kebutuhan mereka. Itulah sebabnya, penduduk Bandung tempo dulu bisa membeli segala macam makanan Jawa di Pasar Kosambi.

Selain makanan, orang Jawa sering mentas seni di Pasar Kosambi. Menurut kuncen makam Mbah Malim, orang Jawa sering mentas ludruk dan wayang kulit di Pasar Kosambi. Menurutnya, salah satu dalang yang bermain di Pasar Kosambi adalah warga Babakan Surabaya.

Sindiran untuk wong Jawa di Bandung

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Para mbakyu dan kangmas yang daerah asalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, umumnya datang ke Bandung dengan Kereta Api Ekspres Surabaya – Bandung. Saat itu, waktu tempuh kereta tersebut adalah satu hari penuh.

Dikarenakan kedatangan mereka yang lewat larut malam, ada sindiran atau ejekan warga kota dalam bentuk sisindiran. Sindiran tersebut berbunyi “jawa koek maling apu, datang poek teu diaku.” Sindiran tersebut berarti orang jawa hendak mencuri kapur, datang kemalaman tak dibukakan pintu. Untungnya, sindiran ini tidak terjadi hingga pasca kemerdekaan.

Karena sampai di Bandung pada malam hari, orang Babakan Surabaya yang baru sampai mendapat kesulitan kendaraan pulang. Saat itu, kendaraan seperti sado dan delman jarang sekali ke Babakan Surabaya pada malam hari. Oleh karena itu, tidak jarang orang Babakan Surabaya menginap atau menunggu di Pasar Baru yang tak pernah tidur.

Wong Jawa di Bandung tempo kini

Menurut saya, sisa – sisa keberadaan orang Jawa di Bandung hanya terlihat dari bahasa dan makanan. Saya masih menemukan pemakaian bahasa Jawa saat orang Jawa berkumpul di Angkringan. Sedangkan untuk makanan, saya masih menjumpai makanan khas Jawa tapi diberi label asli Bandung seperti gudeg dan hasil olahan ayam khas Jawa Tengah.

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau keberadaan orang Jawa sudah berbaur dengan orang Bandung. Saya mendapatkan hal tersebut setelah wawancara dengan kuncen makam Mbah Malim. Menurutnya, kita tidak bisa melihat garis tegas yang memisahkan orang Jawa dengan orang Bandung. Semuanya sudah tercampur seperti es campur.

 

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

Sepurwagen.blogspot.com

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/04/01/babakan-surabaya-babakan-wong-jawa-di-bandung/

Ngaleut ke Wilayah Markas Besar Kang Bahar

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

Jika kawan-kawan sering menonton sitkom Preman Pensiun yang sekarang lagi hits, pasti tahu di mana wilayah yang menjadi markas besar Kang Bahar, namun jika tidak tahu, markas yang hanya berupa lahan terbuka yang dipenuhi ilalang tersebut, berada di wilayah Kiaracondong yang dekat dengan stasiun kereta api.

Penentuan markas besar-nya sendiri kenapa di Kiaracondong, sampai saat ini saya juga kurang tahu, karena seingat saya belum ada episode yang menjelaskan mengenai penentuan lokasi dari markas besar tersebut, namun perkiraan saya, karena kemungkinan besar Kang Bahar mulai “merintis karir” menjadi seorang preman di wilayah Kiaracondong. Perkiraan tersebut saya dasarkan pada salah satu episode dimana Kang Bahar bernostalgia di Stasiun Kereta Api Kiaracondong, dimana ia menceritakan kepada Amin yang merupakan supirnya, bagaimana dengan modal nekad dia berangkat dari Garut menuju Bandung menggunakan kereta api, dimana perhentian terakhirnya yaitu di Stasiun Kereta Api Kiaracondong.

Kang Bahar boleh dikatakan profil yang mewakili kebanyakan para pendatang dari luar kota yang turun di Stasiun Kereta Api Kiaracondong yang hendak mengadu nasib di kota kembang ini – berpenampilan sederhana, beberapa di antaranya membawa dagangan, kebanyakan tanpa kemampuan yang mencukupi, dengan berbagai impian indah yang ada di benaknya. Jika ternyata impian tidak sesuai dengan kenyataan, maka salah satu shortcut-nya dapat memulai bisnis “jasa keamanan paksa” a.k.a preman, seperti jalan yang ditempuh Kang Bahar.

Wilayah Kiaracondong sendiri, kalau kata Saep (copet yang jadi teman si Ubed) mah “Cocok” dijadikan tempat untuk melakukan usaha “jasa keamanan paksa” tersebut. Di sana ada pasar, ada PKL yang ngabisin space-nya para pejalan kaki, ada angkot yang seneng banget ngetem di sana yang implikasinya bisa buat “antrian panjang”, kemudian tentu saja ada stasiun kereta api, membuat wilayah yang semrawut tersebut menjadi “target pasar” yang luar biasa besar bagi para pelaku bisnis tersebut.

Wilayah Kiaracondong yang Semrawut

Namun di balik kesemrawutan-nya, di Kiaracondong terdapat sebuah BUMN besar penghasil berbagai senjata yang sebenarnya bisa digunakan untuk “menertibkan” para preman tersebut (ini mungkin terlalu ekstrim :)). Perusahaan yang nama awalnya adalah Artillerie Constructie Winkel (ACW), sebelum kemudian berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM), dan saat ini bernama Pindad, boleh kita acungin jempol. Produk-produk yang dihasilkannya sudah mampu menyuplai kebutuhan senjata untuk para tentara kita, bahkan negara adidaya – Amerika Serikat, pernah memesan amunisi buatan Pindad ini, sesuatu hal yang luar biasa bagi negeri yang kedelai dan beras saja masih banyak impor.

Menurut sejarahnya, awal mulanya perusahaan ini berada di Surabaya sebelum akhirnya dipindahkan ke Bandung pada tahun 1923, di mana tentu saja para pegawai-nya yang udah paham di bidang persenjataan juga ikut hijrah ke Bandung. Banyaknya pegawai dari Surabaya tersebut yang ikut hijrah ke Bandung dengan lokasi tempat tinggal-nya yang saling berdekatan, membuat lokasi yang mereka tempati disebut dengan Babakan Surabaya.

Pada awal pengoperasiannya, pengiriman bahan baku pembuatan senjata dikirim menggunakan kereta api, sebelum akhirnya dengan kemajuan zaman, pengiriman bahan baku dialihkan menggunakan truk kontainer. Bekas jalur kereta api-nya sendiri yang masih dapat dengan jelas kita lihat, dapat ditemui di Jalan Sukapura.

opik1

Di dekat pintu gerbang Pindad sendiri terdapat sebuah besi yang diperkirakan merupakan bekas dari rel kereta api, namun saya sendiri kurang tahu apakah masih terdapat bekas jalur kereta api yang dapat dilihat di dalam pabrik Pindad sendiri, berhubung pas ngaleut kemarin tidak sampai masuk ke dalam pabrik-nya.

Kenampakan “Secuil” Besi yang Diperkirakan Bekas Rel Kereta Api di Depan Pintu Gerbang Pindad

Keberadaan Pindad yang sudah mendunia namun dengan tata ruang yang semrawut di wilayah Kiaracondong, memberikan warna yang kontradiktif di wilayah yang menjadi markas besar Kang Bahar tersebut, serta menjadi oleh-oleh informasi yang didapat dari hasil ngaleut minggu kemarin.

Catatan :
Jika ada kesalahan nama, tempat, dan sejarah, silahkan koreksi pada bagian kolom komentar. Jika datanya lebih valid, akan saya koreksi secepatnya.

Sumber Foto :
Foto Pribadi

Sumber Tulisan :
Catatan Ngaleut : Ngaleut Kiaracondong (Minggu, 29 Maret 2015)

Pindad – Wikipedia Indonesia :
http://id.wikipedia.org/wiki/Pindad

 

Tautan asli: https://mtnugraha.wordpress.com/2015/04/01/ngaleut-ke-wilayah-markas-besar-kang-bahar/