Bangunan Swarha

image

Bangunan ini berada di Jl. Asia-Afrika, beroperasi sebagai hotel sekitar awal 1950-an. Pada saat perhelatan Konferensi Asia-Afrika 1955, gedung ini digunakan sebagai tempat menginap para kuli tinta. Setelah sekitar satu dekade beroperasi, hotel ini kemudian tutup.

Lantai dasar bangunan ini masih digunakan untuk berjualan kain, sedangkan 4 lantai ke atasnya dibiarkan kosong begitu saja. Sempat ada perbaikan di beberapa kamar untuk keperluan syuting film layar lebar.

Bandung Tak Hanya Di Bagian Utara

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Bandung tentu saja menjadi kota yang paling penting bagi hidup saya. Dari lahir sampai sekarang sudah di pertengahan kepala dua, hampir 90% hidup saya dihabiskan di Kota Kembang. Semua jenjang studi juga saya jalani di kota ini, mulai dari TK hingga sekarang duduk di bangku strata dua. Pahit-manis dan berbagai macam pernik kehidupan saya rasakan di Bandung.

Jika mau bernostalgia, Bandung yang sekarang tentu saja sudah jauh berbeda dengan Bandung yang saya kenal di tahun 90-an. Dulu udara Bandung relatif lebih sejuk dibandingkan sekarang, hal ini bisa dilihat dari kabut yang hampir setiap pagi bisa terlihat. Sekarang ini sih kabut baru terlihat setelah turun hujan di dini hari. Itu baru cuaca, belum tentang pergeseran fungsi beberapa wilayah di Bandung. Baca lebih lanjut

Tegallega Menakar Selatan-Utara

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Jayalah Badminton!

Jayalah Badminton!

Barangkali Bre Redana benar, bahwa selain car free day, kita juga sekali-kali mesti mencoba gadget free day. Hal ini saya pahami sebagai sebuah laku pengalaman. Hari Ahad kemarin (3 Mei 2015), waktu ngaleut Tegallega, saya mencoba bertindak sebagai yang meng-update kegiatan ke twitter. Sepanjang perjalanan saya kerap menunduk, ditawan layar smartphone. Hal ini menyebabkan saya abai terhadap pengamatan yang lebih detail, saya hanya memburu beberapa gambar demi kecepatan informasi.  Sehari setelah kegiatan itu, saya hanya bisa termangu di depan layar Ms. Word, kosong—apa yang hendak saya tulis? Sudah satu jam lewat, tapi ingatan sepanjang ngaleut Tegallega tercecer entah di mana, barangkali di smartphone itu. Yakinlah saya sekarang, bahwa gadget tak membawa saya ke mana-mana. Di beberapa potong waktu, dia juga mesti istirahat.

Maka catatan yang lahir kemudian tak lebih dari laku “babalědogan”, sebuah rekontruksi dari ingatan yang tercecer dan prematur. Tapi memang di sinilah letaknya, bahwa kerja koreksi dari pembaca diciptakan bukan untuk menahan lahirnya catatan, namun sebagai instrument untuk membuka ruang komunikasi yang lebih karib.

Dari sini, dari layar yang semula putih, akhirnya ada juga jejalin paragraph yang coba saya susun. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Visser & Co

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Dalam kegiatan latihan peliputan yang diselenggarakan oleh Komunitas Aleut selama bulan April 2015 ini, kami sering sekali berkunjung ke kawasan sekitar Gedung Merdeka. Di halaman depan sebelah barat Gedung Merdeka saat ini terpasang sejumlah bangku dan pot-pot bunga warna-warni berukuran besar. Saat duduk di bangnu-bangku itu, pemandangan tepat di seberang jalan adalah sebuah bangunan yang tua yang tampak masih bagus.

Saat ini di bagian muka bangunan terpampang sebuah plang bertuliskan TOPGROWTH FUTURES. Berkali-kali rekan yang kebetulan berkeliling bersama menanyakan apa nama gedung itu dan dipakai untuk apa dulunya. Saya sendiri tidak banyak tahu tentang masa lalu gedung itu selain pernah menjadi sebuah toko buku dan penerbitan. Di koleksi buku-buku tua kami ada sejumlah buku berbahasa Belanda yang diterbitkan oleh perusahaan ini, Visser & Co.

Nama Toko Buku Visser & Co mungkin tidak terlalu terkenal dibanding bangunan sekitarnya seperti Societeit Concordia yang kemudian menjadi Gedung Merdeka, atau toko De Vries di sebelah timurnya, yang sampai sekarang masih berdiri dan baru saja mengalami perbaikan ke bentuk lamanya. Gaya arsitektur Toko Buku Visser termasuk sederhana, hanya berupa bangunan persegi dengan hiasan artdeco berbentuk kotak-kotak di bagian muka gedung dan ornamen besi berbentuk lingkaran di bagian kiri dan kanan yang sekaligus berfungsi sebagai tiang bendera.

BR1

Foto: Komunitas Aleut

Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Enam Alinea untuk Alina *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar? Dari depan Rathkamp, sore ini aku ingin mengirimmu beberapa alinea. Kata, sebagaimana kau tahu, selalu lebih berhasil menarik minatku. Kini, di sini, di tepi Jalan Asia-Afrika yang tengah ramai oleh pengendara dan pejalan kaki, aku mencoba merekamnya dalam redup dan remang bahasa; untukmu. Aku sengaja tidak mengerat dan memotong beberapa gambar, untuk apa? Orang-orang sudah terlampau banyak mengantongi rupa; di depan Gedung Merdeka, tepi Jalan Cikapundung Timur, pinggir sungai yang keruh itu, sekitar monumen Dasasila Bandung, di depan kantor Harian Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi. Mereka mencoba mengawetkan semesta dirinya dalam dekapan yang mulia kamera. Tidak Alina, aku tidak mau mengirimmu keriuhan yang banal itu lewat gambar. Aku ingin mendekatimu dengan kata.

Selepas hujan sore ini, mentari masih malu-malu menampakan diri. Sementara orang-orang justru girang memenuhi ruas trotoar dan sebagian bahu jalan. Arus lalu-lintas tersendat, sesekali klakson bersahutan. Hotel Savoy Homann, de Vries, Visser, dan Gedung Merdeka mulai tersaput temaram. Beberapa saat lagi adzab maghrib akan berkumandang dari Masjid Agung. Menjelang sore dijemput malam, keramaian semakin riuh. Tua-muda, laki-laki perempuan, semuanya menyesaki trotoar yang sudah dipercantik. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Mereka yang Bekerja Keras di Balik Layar

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

“Sebuah bangunan megah bisa saja roboh akibat tak terpasangnya satu baut kecil”.

Anggap saja perhelatan Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang akan berlangsung di Bandung tanggal 24 April 2015 mendatang adalah sebuah rumah super megah. Jika kontraktor lupa memasang satu baut kecil saat membangun rumah, perhelatan akbar ini bisa hancur berantakan. Bagaimana bisa ini terjadi? Siapakah baut kecil ini?

Di balik segala kemegahan yang nampak di depan mata dalam persiapan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, seringkali kita melupakan mereka yang secara harfiah bekerja keras siang dan malam di balik layar. Mereka kalah pamor dibanding para tokoh masyarakat yang sering wara-wiri di media karena mereka hanyalah bagian dari beberapa baut kecil yang saya singgung di awal. Mereka tak jadi pusat perhatian, tak pernah diburu awak media, perannya tak kasat mata. Namun tanpa mereka, semua persiapan ini akan percuma. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Menanti Kembali Papan Baca PR

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

arif1

Surat kabar atau yang lebih dikenal dengan koran, merupakan salah satu media informasi yang ada di masyarakat. Bukan hanya kalangan pejabat atau pengusaha saja yang membaca surat kabar, tetapi ada tukang becak, para pedagang, supir angkot, tukang parkir, dan lain sebagainya. Dengan membaca surat kabar, kita bisa terus mengikuti perkembangan-perkembangan aktual, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pada intinya kita semua membutuhkan informasi. Informasi sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok, yang tidak boleh dilewatkan.

Sejak beberapa pekan silam, ada yang hilang di halaman depan Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia-Afrika. Destinasi bagi mereka yang ingin mencari informasi secara cuma-cuma. Ya, papan baca PR hilang!

Tapi jangan dulu bersedih, karena tempat yang sering dijadikan meeting point ini akan ditegakan kembali. Seperti yang ditulis di edisi Jumat kemarin (10/04/15) dalam artikel “Papan Baca PR Akan Tetap Ada”. Maklum saja, karena Bandung sekarang lagi berbenah dalam menyambut 60 tahun Konferensi Asia-Afrika, utamanya area sekitar Gedung Merdeka. Dan papan baca PR ini ditiadakan sementara.

Papan baca ini akan hadir kembali, tentunya dengan desain baru yang disesuaikan dengan nuansa kota tua. Bakal seperti apa ya?

 

 

Foto: Arif Abdurahman

#PojokKAA2015: Masih “Permak Wajah” Asia Afrika

Oleh: Yudha Bani Alam (@yudhaskariot)

Jumat pagi kawasan Jalan asia afrika terlihat lengang namun menjelang jam 10.00 WIB, kepadatan kendaraan mulai terlihat bahkan cenderung macet apalagi di Jalan Cikapundung Barat yang sekarang menjadi ramai karena menjadi perputaran jalur untuk menuju ke Jalan Naripan yang awal nya berada di jalan cikapundung timur. Pembangunan memang memliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Mungkin kemacetan yang terjadi adalah salah satu sisi negatif nya yang mudah-mudahan bersifat sementara.

yudha1

Suasana di Jl.Cikapundung Barat

Peringatan Bersejarah Konferensi Asia Afrika tahun 2015 yang menginjak usia 60 tahun yang dihelat tanggal 19 April 2015 sampai 24 April 2015 di Jakarta dan Bandung. Persiapan besar-besaran terjadi di Kota Bandung terutama di kawasan Jalan Asia Afrika. Mulai dari penataan trotoar, panambahan bunga-bunga di titik-titik tertentu, pengadaan bangku-bangku dan lampu-lampu jalan yang bercita rasa masa lalu serta adanya bola-bola batu diatas trotoar. Apabila belum pernah lagi menginjakkan kaki di kawasan ini, jangan kaget jika suasana nya begitu berbeda dari sebelumnya. Pengerjaan infrastruktur yang tadi disebutkan sebelumnya masih ada beberapa yang terus dikerjakan sampai sekarang (Jumat, 10 April 2015). Seperti mengecat lampu jalan raya nya dan trotoar serta memotong-motong batu granit yang menjadi alas untuk pejalan kaki diatas trotoar. Penempatan kursi-kursi nya pun sudah mencapai gedung N.I ESCOMTO MIJ Bank (Gedung Bank Mandiri) dan Gedung Jiwasraya namun belum dipermanenkan. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Sempurna di Hari – H

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

opik1

Semua perempuan ingin tampil sesempurna mungkin di hari pernikahannya, dan berbagai upaya pun dilakukan agar hal tersebut terwujud. Mulai dari perawatan tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki, diet yang ketat, serta banyak upaya lain yang ditempuh, supaya di salah satu hajatan paling  penting dalam hidup-nya tersebut, dia menjadi perempuan paling cantik yang menjadi pusat perhatian para tamu yang datang.

Gambaran di atas mungkin cocok dianalaogikan dengan keadaan Kota Bandung saat ini. Menghadapi hajatan besar berupa peringatan Konferensi Asia – Afrika (KAA) ke 60, yang gelaran-nya tinggal menghitung hari ini, Kota Bandung berupaya tampil sesempurna mungkin di hadapan para tamu agung-nya yang datang dari berbagai negara.  Upaya-upaya untuk mencapai kesempurnaan ketika hari H-nya, mulai dilakukan secara maraton oleh pihak Pemkot Bandung, di mana untuk perbaikan infrastruktur di kawasan yang menjadi pusat perhelatan KAA sudah digeber sejak bulan Februari yang lalu. Baca lebih lanjut