Wisata Sejarah Jalur Kedokteran Bandung

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Instituut Pasteur (Bio Farma)

 

Ditemani udara musim gugur yang mengundang kantuk, belasan anak muda pegiat Komunitas Aleut berkumpul di taman dokter Otten untuk menanti dimulainya perjalanan wisata sejarah yang rutin diadakan setiap minggunya.  Taman itu sengaja dijadikan starting point bagi perjalanan Aleut dengan tema “Kawasan Jalur Kedokteran”. Tema yang sangat menarik, karena mereka akan menelusuri asal-usul nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama dokter terkemuka dalam sejarah Nasional.

 

Tentu saja dengan informasi terbatas yang dimiliki, tidak seluruh keterangan perihal  nama-nama dokter tersebut bisa dijelaskan dalam perjalanan ini, apalagi dengan adanya perubahan nama-nama jalan yang dilakukan pemerintah di tahun 50’an. Saat itu beberapa nama jalan yang diambil dari nama dokter-dokter Belanda diganti dokter Indonesia. Contohnya  :

 

Van der Hoopweg  = Jl. Abdulrachman Saleh

Tirionweg = Jl. Dokter Abdul Rivai

Vosmaerweg = Jl. Dokter Gunawan

Rotgansweg = Jl Dokter  Otten

Rotgansplein = Taman Dr. Otten

Helmersweg = Jl. Dokter Radjiman

Tesselschadeweg =  Jl. Dokter Rubini

Potgieterweg = Jl. Dokter Rum

Lembangweg = Jl. Setiabudhi

Prof. Grijnsweg = Jl. Dokter Sukimin

P.C. Hooftweg = Jl. Dokter Susilo

Dokter Borgerweg = Jalan Dokter Sutomo

Roemer Visscherweg = Jl. Dokter Tjipto

Busken Huetweg = Jl. Dokter Wahidin

 

Louis Pasteur

 

Sedangkan nama jalan yang tidak berubah adalah Jalan Pasteur (Pasteurweg), Jalan Dokter Saleh (Dokter Salehweg), Jl. Westhoff (Westhoffweg), Jl. Eijkman (Eijkmanweg) dan  Jalan  Dokter  Slamet (Dokter Slametweg).

 

Tampak para  pegiat Komunitas Aleut yang sudah belasan hingga puluhan tahun tinggal di Bandung masih merasa asing dengan nama-nama jalan yang diambil dari nama dokter  asli Indonesia, apalagi kalau nama jalan tersebut masih menggunakan nama dokter Belanda.

 

Bisa dipastikan bahwa sebagian besar Dokter Indonesia yang  namanya diabadikan menjadi nama jalan tersebut merupakan tokoh-tokoh Dokter yang berperan dalam perjuangan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, melalui penelusuran biografi mereka, mau tidak mau kita akan bersentuhan dengan sejarah perjuangan bangsa melawan kolonialisme yang diisi oleh para dokter muda lulusan STOVIA (Sekolah kedokteran jaman Hindia Belanda).

 

Pada mulanya, masalah kesehatan merupakan masalah utama yang menjadi momok Belanda dalam menguasai Indonesia. Iklim yang tidak bersahabat, lingkungan yang kotor, gaya hidup masyarakat yang masih “jorok” penyebab tingkat kematian tinggi, membuat aktivitas ekonomi yang menjadi gantungan para Kolonialis terganggu.

 

Nyuci gelas pake air comberan… sangat higienis..

 

Musuh terbesar saat itu adalah penyakit Pest dan Malaria. Selain merugikan dari sisi ekonomi, Tidak terhitung warga pribumi maupun Belanda yang menjadi korban kedua penyakit tersebut. Contohnya, Pada tahun 1905, wabah pest tercatat terjadi di Sumatera Timur, diakibatkan tikus-tikus yang ikut serta dari Rangoon. Pada tahun 1911, penyakit serupa berjangkit di Malang. Pada tahun itu sekitar 2000 orang meninggal akibatnya. Untuk mengatasinya, pemerintah membakar satu setengah juta lumbung dan gubuk-gubuk untuk membasmi tikus. Untuk mendirikan yang baru, pemerintah harus mengeluarkan kocek sebesar 30 juta rupiah. Penduduk mulai disuntik dan sesudah 25 tahun, bahaya wabah baru bisa dihindari.

 

Dr. Sutomo dan Dr. Tjipto Mangunkusumo adalah dua dari tokoh nasional yang ikut memberantas wabah Pest ini. Dr. Tjipto termasuk sebagai orang yang pertama yang menawarkan tenaganya untuk menyembuhkan wabah pest di Malang ketika dokter-dokter Eropa banyak yang menolak untuk dikirim ke daerah tersebut. Menurut Balfas dalam buku biografi dr. Tjipto, dikisahkan bahwa “…Tjipto bekerja dimana pest mengamuk paling hebat, sedikit di luar kota. Dia bekerja tiada kenal letih dan gentar, masuk kampung dan pondok. Kawan-kawannya banyak yang memakai topeng (masker) dimukanya, sarung tangan dan seluruh badannya terbalut untuk mencegah penularan, tetapi Tjipto tidak memakai keistimewaan apa-apa, dengan bulat-bulat ia pasrahkan dirinya kepada nasib…”

 

dr. Tjipto

 

Ada sebuah kisah menarik, Pada suatu ketika Tjipto membawa pulang seorang bayi yang diambilnya dari sebuah rumah yang harus dibakar, sebab penghuninya sudah mati semua, kecuali seorang bayi yang menangis. Untuk emnjadikan kenangan pada peristiwa ini, bayi itu dinamainya PES-JATI. Pes-jati besar di tangan dr. Tjipto dan mengikuti dia sampai akhir hayatnya.

 

Berkat jasanya dalam penanggulangan wabah Pest, pemerintah Belanda menganugrahkan bintang Orde van Oranje kepada Tjipto pada tahun 1912. Namun ketika keinginannya untuk ikut mengobati wabah pest di Solo ditolak pemerintah, bintang penghormatan yang biasanya ia simpan di lemarinya dikeluarkan dan dipasangnya di bagian pantat celana Tjipto. Dengan bintang Orde van Oranje di  pantat ini, ia pergi ke Batavia untuk menyerahkan kembali bintang ini kepada pemerintah pusat.

 

Malaria telah menjadi ancaman selama beratus tahun kedudukan Belanda di Nusantara. Namun berkat penemuan Kina pada abad-18, penyakit ini mulai bisa dihindari. Apalagi setelah tanaman kina berhasil dibudidayakan di Nusantara oleh Junghuhn. Pada tahun 1896, Bandung berhasil menjadi pemasok utama kebutuhan kina dunia. Guna mendapatkan keuntungan lebih tinggi, alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, para pengusaha kina di Bandung akhirnya memutuskan untuk mendirikan pengolahan kina sendiri. Usaha itu terwujud dalam pendirian  Bandoeng Kininefabriek  tahun 1896 dengan modal 700,000 fl.. Pabrik ini bisa memproduksi kina hingga sekitar satu juta ons setiap tahunnya, dengan kualitas terbaik di dunia.

 

dr.Eijkman

 

Penyakit lain yang menjadi momok adalah Beri-beri. Setiap tahun ada ribuan orang yang menjadi korban dari penyakit ini. Prof. Dr. Eijkman akhirnya menemukan penyebab Beri-beri, yaitu proses penggilingan beras yang seringkali hingga menghabiskan kulit ari beras (zilvervlies). Orang-orang tidak lantas percaya hingga pada tahun 1911 dikenalah istilah “Vitamin”. Untuk penemuannya itu, dr. Eijkman dianurahkan hadiah Nobel pada tahun 1929.

 

Usaha Belanda untuk menghasilkan dokter di kalangan pribumi sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1851 ketika Belanda membuat sekolah untuk mendidik dokter Jawa. Tahun 1927 sekolah tersebut diubah menjadi sekolah tabib tinggi (STOVIA). Diharapkan sekolah tersebut bisa memenuhi kebutuhan dokter di Nusantara. Selain itu dibangunlah pula rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta. Di Bandung turut dibangun Gemeentelijk Juliana Zuikenhuis (RSHS) tahun 1917, Labotarium kesehatan (Instituut Pasteur), rumah sakit untuk orang berpenyakit mata (Cicendo), Pabrik Obat-obatan (Kinine Fabriek) dan Sanatorium. Seluruh fasilitas kesehatan tersebut, kecuali sanatorium, ditempatkan dalam suatu kawasan khusus di Bandung, yang dilalui perjalanan komunitas Aleut sore tadi.

 

Ahhhh… sebenarnya masih banyak yang bisa diceritakan, tapi siksaan kantuk dan asmara yang tak tertahan menghalangi saya untuk menulis lebih lanjut…  

 

 

 

 

Referensi :

-, 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976. Fakultas Kedokteran UI – 1976

M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo Demokrat Sejati, Djambatan – 1952

Frater Amator, Sedjarah Indonesia, W. Versluys Amsterdam – 1952

Tamar Djaja, Pusaka Indonesia, Kementrian P dan K –  1951

D P. Pverelli, Beknopt Leerboek der Schoolhygiene, J.B. Wolters Groningen – Batavia – 1933

-, Petundjuk Nama Djalan Kota Bandung berikut peta, Visser Bandung.

–>

 

Juliana Zuikenhuis (RSHS)

 

Gaya hidup tidak sehat..

 

 

 

Sekilas Tentang PLTA Bengkok

Oleh : Asep Nendi

PLTA BENGKOK

 

Begitulah nama PLTA yang terletak di selatan Taman Hutan Raya Ir. Djuanda (Tahura). PLTA ini menggunakan aliran air sub sungai Cikapundung, yang dialirkan melalui parit-parit seperti sungai buatan. Salah satu jalur melalui Goa Belanda, goa yang pada awalnya (1918) difungsikan sebagai terowongan air.

 

Sejak pertama kali dibangun oleh Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landiswaterkrachtbedijf Bandung en) pada tahun 1923, PLTA Bengkok merupakan salah satu sumber penyuplai listrik untuk Bandung dan sekitarnya. Pada tahun yang sama pula PLTA Dago dibangun pada aliran sungai Cikapundung.

 

Dari Tahura kita harus menuruni rangkaian anak tangga yang berjumlah seribu (coba hitung sendiri).  Atau coba berjalan di atas pipa-pipa raksasa yang terbuat dari baja (kalo berani !) untuk sampai di lokasi PLTA Bengkok.

 

 

Pipa-pipa raksasa itu sudah pensiun menjalankan tugasnya sebagai penyalur air, karena ketebalannya sudah banyak berkurang.

 

Dari sini air yang dialirkan melalui pipa-pipa raksasa itu digunakan untuk memutar turbin dan menggerakkan generator. Produksi listrik pun berlangsung. sementara air sisa kegiatan produksi digunakan oleh PDAM.

 

Kini PLTA Bengkok berada dalam pengelolaan PT. Indonesia Power, anak perusahaan negara (BUMN) PLN. PLTA ini berfungsi sebagai penghasil listrik, namun kita tidak akan mengetahui kemana listriknya dialirkan. Ini sesuai dengan penjelasan dari Pa Luthfi (Indonesia Power), “sistem pengaliran listrik yang digunakan adalah interkoneksi, dimana aliran listrik yang dihasilkan dari beberapa PLT dikumpulkan terlebih dahulu sebelum kemudian didistribusikan”.

 

 

Tanah Bengkok atau Bangkok?

 

Lama saya memiliki anggapan kalau nama  Bengkok yang dipakai berasal dari nama Bangkok (Thailand atau Muangthay). Ini merujuk pada kedatangan Raja Rama V di Bandung. Kemudian membuat prasasti di Curug Dago.

Namun setelah melalui beberapa obrolan bersama teman-teman di Komunitas Aleut! Didapatlah satu pencerahan mengenai asal kata Bengkok.

 

Bengkok yang dipakai merujuk pada kata Tanah Bengkok, diartikan sebagai lahan garapan milik desa. Dalam sistem agraria di Pulau Jawa Tanah Bengkok tidak boleh diperjualbelikan tanpa persetujuan seluruh warga desa, namun boleh disewakan oleh mereka yang memiliki hak mengelola (Wikipedia).

Menurut penggunaannya Tanah Bengkok dibagi menjadi 3 kelompok :

  1. Tanah Lungguh, hak pamong desa untuk menggarapnya sebagai kompensasi gaji yang tidak dibayarkan.
  2. Tanah Kas Desa, dikelola oleh pamong desa. Digunakan untuk mendanai keperluan desa.
  3. Tanah Pengarem-arem, hak pamong desa yang sudah pensiun sebagai pengganti jaminan hari tua. Pengelolaannya sampai meninggal, untuk kemudian dikembalikkan ke desa.

Nama Daerah = Nama Tanaman

Oleh : Unang Lukmanulhakim

Mungkin kita sudah sangat sering mendengar daerah-daerah seperti kosambi, cihampelas, cilimus, dll. tapi mungkin juga sedikit yang menyadari bahwa nama-nama daerah tersebut berasal dari nama tanaman.

kali ini saya akan sedikit sharing tentang pengetahuan mengenai beberapa tanaman yang namanya dijadikan nama daerah.

Kosambi

Kesambi atau kosambi (Schleichera oleosa) adalah nama sejenis pohon daerah kering, kerabat rambutan dari suku Sapindaceae. Beberapa nama daerahnya, di antaranya kasambi (Sd.); kesambi, kusambi, sambi (Jw., Bal.); kasambhi (Md.); kusambi, usapi (Tim.); kasembi, kahembi (Sumba); kehabe (Sawu); kabahi (Solor); kalabai (Alor); kule, ule (Rote); bado (Mak.); ading (Bug.).

Nama-nama itu mirip dengan sebutannya di India, tanah asal tumbuhan ini, misalnya: kosam, kosumb, kusum, kussam, rusam, puvam. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai gum-lac tree, Indian lac tree, Malay lac tree, Macassar oil tree, Ceylon oak, dan lain-lain. Nama-nama itu merujuk pada hasil-hasil yang diperoleh dari pohon ini, seperti lak dan minyak Makassar.

Kayu kesambi, terutama kayu terasnya, padat, berat, dan sangat keras; berwarna merah muda hingga kelabu. Kayu ini ulet, kenyal, dan tahan terhadap perubahan kering dan basah berganti-ganti, sehingga di masa silam kerap dimanfaatkan sebagai jangkar perahu. Tidak mudah menyerpih, kayu kesambi sering dipakai membuat alu, silinder-silinder dalam penggilingan, dan perkakas rumah tangga umumnya. Mempunyai nilai energi yang tinggi hingga 20.800 kJ/kg, kayu ini disenangi sebagai kayu bakar dan bahan pembuatan arang.

Pepagan kesambi dimanfaatkan untuk menyamak kulit, mewarnai batik, mengelatkan nira agar tidak masam ketika difermentasi, serta untuk campuran lulur. Pepagan yang digerus halus dan dicampur minyak, digunakan sebagai obat kudis. Daunnya yang muda, mentah atau direbus, dimakan sebagai lalap. Buah kesambi yang telah masak dimakan segar, atau, mentahnya dijadikan asinan.

Bijinya, langsung atau setelah lebih dulu dipanggang sebentar, dikempa untuk mendapatkan minyaknya. Minyak kesambi ini (Jw., kecacil) mengandung sedikit asam sianida, dan digunakan untuk mengobati kudis dan luka-luka. Di Sulawesi Selatan, minyak kesambi ini dimasak dengan pelbagai rempah-rempah dan harum-haruman, dijadikan aneka minyak berkhasiat obat; termasuk di antaranya “minyak makassar” (Macassar oil) yang terkenal untuk merawat rambut. Bagian yang kental dari minyak dijadikan salep obat atau untuk menambal celah (memakal) perahu. Dahulu, minyak kesambi ini juga dijadikan minyak lampu, minyak makan dan bahan pembuat sabun.

Daun-daun, pucuk rerantingan, dan limbah biji (bungkil) sisa pengempaan dijadikan pakan ternak. Sementara itu dalam industri kehutanan, pohon kesambi merupakan salah satu pohon inang terpenting bagi kutu lak (Laccifer lacca). Lak dan syelak (shellac), resin lengket yang digunakan sebagai bahan pewarna, pengilat makanan, dan pernis, terutama dihasilkan oleh India. Di Indonesia, lak diproduksi oleh Perhutani di Probolinggo.

Hampelas

Hampelas (bahasa Sunda dan bahasa Melayu) atau rampelas (bahasa Jawa) adalah tumbuhan dari keluarga Moraceae yang tingginya sampai 20 meter dengan gemang 50 cm, tumbuh di seluruh Indonesia, tersebar pada ketinggian kurang dari 1.300 m dpl.

Batang dari pohon hampelas berdiri tegak, bulat, dan mempunyai percabangan simpodial. Daunnnya tunggal, berseling, lonjong, tepi bergerigi. Daun hampelas teksturnya kasar dan jika kering bisa dijadikan sebagai ampelas untuk menghaluskan permukaan kayu. Bunganya mempunyai panjang 5-7 mm, berwarna hijau kecoklatan, dan kelopaknya berbentuk corong. Sedangkan bijinya berbentuk bulat dan berwarna putih.

Hampelas ada yang dibudidayakan karena kegunaan daunnya, ada juga yang tumbuh dengan sendirinya.

Cairan dari tumbuhan ini dapat diminum, berguna untuk pengobatan orang yang mengalami kesulitan mengeluarkan air kencing dan sebagai obat murus/mencret. Hampelas mengandung air, berwarna cokelat kekuningan dan rasanya pedas. Cairan ini dapat diperoleh dengan cara memotong akarnya. Daun, akar dan batang pohon hampelas mengandung saponin, flavonoida dan polifenol.

Limus

Limus (sunda) atau Bacang adalah nama sejenis pohon buah yang masih sekerabat dengan mangga. Orang sering menyebut buahnya sebagai bacang, ambacang (Min.), embacang atau mangga bacang. Juga dikenal dengan aneka nama daerah seperti limus (Sd.), asam hambawang (Banjar), macang atau machang (Malaysia), maa chang, ma chae atau ma mut (Thailand), la mot (Myanmar) dll. Dalam bahasa Inggris disebut bachang atau horse mango, sementara nama ilmiahnya adalah Mangifera foetida Lour.

Bacang terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar jika masak. Wanginya yang khas menjadikan buah ini digemari sebagai campuran minuman atau es, meski masih kalah kualitas jika dibandingkan dengan kuweni (Mangifera odorata).

Getah bacang yang gatal juga terdapat pada buahnya; akan tetapi jika masak, getah ini terbatas berada hanya pada kulitnya. Dengan demikian buah bacang perlu dikupas agak tebal, supaya getah itu tidak melukai mulut dan bibir dan menyebabkan bengkak-bengkak. Buah bacang yang muda biasanya direndam dalam air garam, sesudah dikupas dan dipotong-potong, agar dapat dijadikan rujak atau asinan. Di Kalimantan Timur, bacang juga kerap digunakan sebagai asam dalam membuat sambal.

Kayu bacang tidak begitu baik kualitasnya, namun kadang-kadang dimanfaatkan dalam konstruksi ringan di dalam rumah. Daunnya dapat digunakan sebagai penurun demam, dan bijinya untuk mengobati penyakit jamur, kudis dan eksim. Getahnya untuk memperdalam gambar tato tradisional.

Bintaro

Buah bintaro yang belum masak

Bintaro (Cerbera manghas) atau ada pula yang menyebutkan Cerbera odollam Gaertn adalah tumbuhan pantai atau paya berupa pohon dengan ketinggian dapat mencapai 12m. Dikenal di Pasifik dengan nama leva (Samoa), toto (Tonga), serta vasa. Pohon Bintaro juga disebut Pong-pong tree atau Indian suicide tree.

Dinamakan Cerbera karena bijinya dan semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut “cerberin” yaitu racun yang dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Getahnya sejak dulu dipakai sebagai racun panah/tulup untuk berburu. Racunnya dilaporkan dipakai untuk bunuh diri atau membunuh orang. Bahkan asap dari pembakaran kayunya dapat menyebabkan keracunan. Walaupun beracun, bijinya mengandung minyak yang cukup banyak (54,33%) dan berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel dengan melalui proses hidrolisis, ekstrasi dan destilasi.

Lame

Lame atau Pulai adalah nama pohon dengan nama botani Alstonia scholaris. pohon ini dari jenis tanaman keras yang hidup di pulau Jawa dan Sumatra. Dikenal juga dengan nama lokal pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung.

kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembab, tapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung. Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat. berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain. Di Jawa Barat kayu lame sering digunakan untuk pembuatan wayang golek.

Menteng atau Kapundung

buah kapundung

Menteng, kepundung, atau (ke)mundung (terutama Baccaurea racemosa (Reinw.) Muell. Arg.; juga B. javanica dan B. dulcis) adalah pohon penghasil buah dengan nama sama yang dapat dimakan. Sekilas buah menteng mirip dengan buah duku namun tajuk pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut) meskipun ada pula yang manis.

Jenis ini dipelihara, terutama untuk hasil buahnya. Buah yang segar mungkin dapat lebih populer jika kultivar yang rasanya asam diganti dengan yang manis, dan jika dagingnya tidak menempel kepada bijinya (karenanya biji sering ditelan). Buahnya juga dimanfaatkan untuk setup; mungkin dijadikan asinan, atau difermentasi menjadi anggur. Sebagian besar jenis Baccaurea menghasilkan kayu yang baik sekali, merupakan produk utama berbagai jenis minor, walaupun untuk beberapa jenis buahnya dapat dimakan juga. Kayunya digunakan untuk bangunan rumah, perahu, dan mebel. Selain itu, sama halnya dengan pohon-pohon kauliflora lainnya, Baccaurea dianggap sebagai pohon perambat yang baik untuk rotan. Jenis-jenis yang dibudidayakan membentuk tajuk yang bagus dan dapat dimanfaatkan juga sebagai tanaman hias dan pohon pelindung. Kulit kayu beberapa jenisnya, dengan dicampur berbagai ramuan, digunakan untuk mewarnai sutra menjadi kuning, merah, atau lembayung muda, melalui proses pewarnaan yang dalam bahasa Melayu disebut ‘pekan’. Kulit kayu ini digunakan juga untuk mengobati mata bengkak.

Kemang

buah kemang

Kemang adalah pohon buah sejenis mangga dengan bau yang harum menusuk dan rasa yang masam manis. Pohon ini berkerabat dekat dan seringkali dianggap sama dengan binjai. Akan tetapi beberapa pakar menyarankan untuk memisahkannya dalam jenis tersendiri, Mangifera kemanga. Kemang juga dikenal dengan nama lain seperti palong (bahasa Kutai, Kaltim).

Sebagaimana binjai, kemang terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan segar setelah buah itu masak atau dijadikan campuran es. Buah kemang juga biasa dijadikan sari buah. Buah kemang yang muda disukai untuk bahan rujak. Demikian pula bijinya, yang dalam keadaan segar diiris-iris dan dimakan setelah dibumbui serta ditambah kecap. Daun kemang yang masih muda (kuncup) digunakan untuk lalap dan kerap dihidangkan di rumah-makan Sunda. Sedangkan batangnya dapat dijadikan kayu untuk konstruksi ringan.

Dadap

polong dadap

Dadap atau cangkring adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae (=Leguminosae). Tanaman yang kerap digunakan sebagai pagar hidup dan peneduh ini memiliki banyak sebutan yang lain. Di antaranya dadap ayam, dadap laut (Jw.; dadap blendung (Sd.); theutheuk (Md.); dalungdung (Bal.); deris (Timor); galala itam (Maluku) dan lain-lain.

Juga dapdap, andorogat (Fil.); th’ong banz (Laos (Sino-Tibetan)); thong baan, thong laang laai, thong phueak (Thai); penglay-kathit (Burma); Indian coral tree, variegated coral tree, tiger’s claw (Ingg.); arbre au corail, arbre immortel (Fr.) dan lain-lain.

Dadap kerap dipakai sebagai pohon peneduh di kebun-kebun kopi dan kakao, atau pohon rambatan bagi tanaman lada, sirih, panili, atau umbi gadung. Juga baik digunakan sebagai tiang-tiang pagar hidup.[4] Di wilayah Pasifik, dadap dimanfaatkan sebagai penahan angin. Tanaman ini menghasilkan kayu ringan (BJ 0,2-0,3), lunak dan berwarna putih, yang baik untuk membuat pelampung, peti-peti pengemas, pigura, dan mainan anak. Kayunya juga merupakan bahan pulp, namun kurang baik digunakan sebagai kayu api karena banyak berasap.

Daun-daun dadap yang muda dapat digunakan sebagai sayuran. Daun-daun ini berkhasiat membanyakkan susu ibu, membuat tidur lebih nyenyak, dan bersama dengan bunganya untuk melancarkan haid. Cairan sari daun yang dicampur madu diminum untuk mengobati cacingan; sari daun dadap yang dicampur minyak jarak (kasteroli) digunakan untuk menyembuhkan disentri. Daun dadap yang dipanaskan digunakan sebagai tapal untuk meringankan rematik. Pepagan (kulit batang) dadap memiliki khasiat sebagai pencahar, peluruh kencing dan pengencer dahak. Memiliki kandungan protein (dan nitrogen) yang tinggi, daun-daun dadap juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau untuk pupuk hijau. Sebatang pohon dadap yang berukuran sedang, yang dipangkas 3-4 kali setahun, dapat menghasilkan 15-50 kg hijauan pakan ternak dalam setahunnya. Sejauh ini, daun-daun dadap diketahui tidak bersifat racun (toksik) bagi ternak ruminansia.Perakaran dadap bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium mengikat nitrogen dari udara, dan meningkatkan kesuburan tanah.

Gadung

Gadung (Dioscorea hispida Dennst., suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae) tergolong tanaman umbi-umbian yang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan, namun mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila kurang benar pengolahannya. Produk gadung yang paling dikenal adalah dalam bentuk keripik meskipun rebusan gadung juga dapat dimakan. Umbinya dapat pula dijadikan arak (difermentasi) sehingga di Malaysia dikenal pula sebagai ubi arak, selain taring pelandok.

Umbi gadung dikenal sangat beracun. Umbi ini digunakan sebagai racun ikan atau mata panah. Sepotong umbi sebesar apel cukup untuk membunuh seorang pria dalam waktu 6 jam. Efek pertama berupa rasa tidak nyaman di tenggorokan, yang berangsur menjadi rasa terbakar, diikuti oleh pusing, muntah darah, rasa tercekik, mengantuk dan kelelahan.[2]

Meski demikian di Indonesia dan Cina, parutan umbi gadung ini digunakan untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan dan mata ikan. Bersama dengan gadung cina (Smilax china L.), umbi gadung dipakai untuk mengobati luka-luka akibat sifilis. Di Thailand, irisan dari umbi gadung dioleskan untuk mengurangi kejang perut dan kolik, dan untuk menghilangkan nanah dari luka-luka. Di Filipina dan Cina, umbi ini digunakan untuk meringankan arthritis dan rematik, dan untuk membersihkan luka binatang yang dipenuhi belatung.

Mungkin hanya baru ini saja yang dapat saya share untuk kali ini, tapi dari pengetahuan tadi kita dapat mengambil pelajaran bahwa nenek moyang kita dulu banyak menamai daerah di Indonesia ini dengan nama tanaman mungkin memiliki pesan kepada kita sebagai generasi sesudahnya agar senantiasa dapat menjaga dan melestarikan tanaman-tanaman tersebut dan dapat memanfaatkannya dengan maksimal. Namun sayang banyak dari kita sekarang yang tidak peduli akan hal tersebut, sehingga kita hanya bisa menjadi penonton sementara bangsa lain memanfaatkan kekayaan flora kita.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memotivasi kita semua untuk lebih mengenal diri kita dan memaksimalkan potensi yang ada padanya.

sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesambi

http://id.wikipedia.org/wiki/Bacang

http://id.wikipedia.org/wiki/Hampelas

http://sektorazalea.wordpress.com/2008/11/04/berkenalan-dengan-pohon-bintaro/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bintaro

http://id.wikipedia.org/wiki/Pulai

http://oq-151086.blogspot.com/2009/01/jenis-tanaman-langka-yang-ditanam-di.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Menteng

http://id.wikipedia.org/wiki/Kemang

http://id.wikipedia.org/wiki/Dadap

http://id.wikipedia.org/wiki/Gadung

Tulisan ini dimuat juga di http://oenank.tumblr.com/post/2823020104/nama-daerah-nama-tanaman