Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi) Tukang Dobi di Kebon KawungMalam ini, saya baru selesai membaca tulisan Chika Aldila tentang pengalamannya saat NgAleut Basa Bandung Halimunan. Tulisan ini menarik dan menggoda saya untuk menambah cerita tentang salah satu titik perjalanannya. Titik itu adalah mata air Ciguriang di Kebon Kawung. Dalam tulisan Chika, pengguna mata air Ciguriang adalah warga Kebon … Lanjutkan membaca Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Kota Bandung
Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sehari pasca pembubaran paksa oleh berbagai ormas seperti FPI, PUI, dan Laskar Fisabililah, akhirnya kemarin (24/3/2016) pentas monolog Tan Malaka berhasil digelar dengan aman. Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung itu berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat keamanan dan beberapa LSM yang mendukung acara seperti AMS, Jangkar, dan Pekat. Gelaran … Lanjutkan membaca Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Roti Gratis Untuk Bobotoh
Panpel Persib membagikan roti dan air mineral gratis bagi Bobotoh yang datang menonton laga final Piala Bhayangkara di Gelora Bung Karno. Roti dan air mineral ini tak hanya dikhusukan bagi mereka yang memegang tiket, namun bagi seluruh Bobotoh yang sedang melintas di daerah ini. Momen ini diabadikan oleh @kedaipreanger saat bertandang ke GBK untuk menyaksikan … Lanjutkan membaca Roti Gratis Untuk Bobotoh
Pintu Air di Cicendo
Warga sekitar menyebut tempat ini dengan nama Bong. Padahal, arti dari bong sendiri adalah pemakaman Tionghoa. Kok bisa? Hehe, soalnya wilayah pemukiman padat di dekat pintu air ini dulunya memang pemakaman Tionghoa. Entah bagaimana di kemudian hari warga sekitar mengenal bong sebagai pintu air. Ngomong-ngomong, apakah Aleutians tau nama sungai yang ada di foto ini? … Lanjutkan membaca Pintu Air di Cicendo
Patrakomala, Penghias Stilasi Bandung Lautan Api
Oleh: Tegar Bestari (@teg_art) Bunga Patrakomala adalah maskot Kota Bandung yang dijadikan penghias stilasi Bandung Lautan Api. Meskipun kalah ukuran, tapi bunga aslinya juga mau ikut eksis di sebelahnya :))
M.I. Prawirawinata
Di lokasi ini pernah berdiri sebuah Toko Buku dan Percetakan M.I. Prawirawinata, toko buku dan percetakan pertama yang dimiliki oleh seorang pribumi. Setelah berhenti beroperasi pada pertengahan 1930-an, bangunan yang berada di ruas Jl. Lembong ini beralih fungsi menjadi hotel.
Skandal Homoseksual di Bandung
Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem) Kasus pencabulan bukanlah suatu hal baru di Indonesia. Pada masa kolonial, kejadian tersebut turut dianggap sebagai suatu aib. Suatu kisah menarik mengenai itu diungkap dalam buku "Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie" yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan dengan judul "Selamat Tinggal, Sampai Jumpa … Lanjutkan membaca Skandal Homoseksual di Bandung
Bangunan Swarha
Bangunan ini berada di Jl. Asia-Afrika, beroperasi sebagai hotel sekitar awal 1950-an. Pada saat perhelatan Konferensi Asia-Afrika 1955, gedung ini digunakan sebagai tempat menginap para kuli tinta. Setelah sekitar satu dekade beroperasi, hotel ini kemudian tutup. Lantai dasar bangunan ini masih digunakan untuk berjualan kain, sedangkan 4 lantai ke atasnya dibiarkan kosong begitu saja. Sempat … Lanjutkan membaca Bangunan Swarha
Di Balik Layar #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan
Hari Sabtu (12/03/2016), beberapa Aleutians sedang melakukan survey lokasi untuk #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo dulu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan setiap minggunya untuk memastikan lancarnya keberlangsungan #Ngaleut.
Beli Buku di Jl. Cikapundung Barat
Di tengah perjalanan #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu siang tadi, @teg.art dan @tiarahmii menyempatkan diri untuk membeli buku di emper Jl. Cikapundung Barat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra buku dan majalah bekas sejak sekitar 1960-an. Harga buku yang ditawarkan bervariatif, mulai dari puluh ribu hingga ratusan ribu rupiah. Foto: @fajarasaduddin
Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat, dulunya berfungsi sebagai pengadilan. Nama gedung diambil dari judul pledoi Sukarno dengan judul sama yang ia tulis selama mendekam di Penjara Banceuy. Nah, lokasi ini merupakan titik kumpul kegiatan Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu hari Minggu besok. Sudahkah Aleutians memastikan diri bergabung? Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)
Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker
Oleh: Zen RS (@zenrs) Tanpa sengaja berkunjung ke Taman Schiller, taman kecil di depan sebuah kampus seni di Wina. Salah satu yang menyenangkan dari Praha dan Wina, dua dari empat kota di Eropa yang saya singgahi pada Oktober 2015 silam, mungkin juga di kota-kota tua lainnya di Eropa, adalah banyaknya ruang-ruang publik yang dinamai atau … Lanjutkan membaca Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker
Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus
James T. Siegel melihat melalui roman ini bahwa orang-orang Tionghoa juga berkontribusi pada pergerakan nasional. Kemampuan bahasa untuk menerjemahkan isi buku atau surat kabar yang dimiliki Hilda dan Tan Tjin Hiauw sebagai kalangan terdidik berperan untuk mempercepat proses penyebaran ide revolusi di kalangan kaum muda.
Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Dalam roman Rasia Bandoeng, Chabanneau menggambarkan rumah Tan Shio Tjhie sebagai rumah gedong besar di pinggir Groote Postweg (sekarang Jl. Jendral Sudirman), berhadapan dengan Gang Kapitan (sekarang Gang Wangsa) dan di sebelah timur rumah tersebut mengalir Kali Citepus. Sosok Tan Shio Tjhie digambarkan sebagai sosok yang progresif karena tidak menentang kehendak anaknya, Tan Tjin Hiaw, … Lanjutkan membaca Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Wawancara Komunitas Aleut dengan TVRI (Bagian II)
Perekaman paket kedua bersama TVRI Pusat dilakukan pada hari Jumat kemarin di situs Gua Pawon, Padalarang. Kali ini bersama @aryawasho dan @tiarahmi sebagai pengisi materi.