Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi) Tukang Dobi di Kebon KawungMalam ini, saya baru selesai membaca tulisan Chika Aldila tentang pengalamannya saat NgAleut Basa Bandung Halimunan. Tulisan ini menarik dan menggoda saya untuk menambah cerita tentang salah satu titik perjalanannya. Titik itu adalah mata air Ciguriang di Kebon Kawung. Dalam tulisan Chika, pengguna mata air Ciguriang adalah warga Kebon … Lanjutkan membaca Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Komunitas Aleut
Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sehari pasca pembubaran paksa oleh berbagai ormas seperti FPI, PUI, dan Laskar Fisabililah, akhirnya kemarin (24/3/2016) pentas monolog Tan Malaka berhasil digelar dengan aman. Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung itu berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat keamanan dan beberapa LSM yang mendukung acara seperti AMS, Jangkar, dan Pekat. Gelaran … Lanjutkan membaca Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Iwang
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. Iwang tengah duduk di depan tempat bimbingan belajar sambil menikmati segelas kopi sachet. “Ngopi dulu,” katanya sambil mengangkat gelas. Saya hanya mengangkat jempol sambil berlalu menuju kios penjual rokok. Sehari-hari Iwang tinggal di tempat bimbingan belajar, dia bekerja di sana. Bukan … Lanjutkan membaca Iwang
Monumen Bandung Lautan Api
Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin) 24 Maret 1946, langit Bandung tak secerah hari ini. Kepulan asap hitam dan jilatan api merah membara mewarnai jengkal udara di kota ini. Ratusan ribu warga kota Bandung membakar bangunan dan tempat tinggalnya untuk melindungi Kota Bandung dari penjajah. 70 tahun berselang, Kota Bandung telah lahir kembali dengan membawa banyak perubahan … Lanjutkan membaca Monumen Bandung Lautan Api
M.I. Prawirawinata
Di lokasi ini pernah berdiri sebuah Toko Buku dan Percetakan M.I. Prawirawinata, toko buku dan percetakan pertama yang dimiliki oleh seorang pribumi. Setelah berhenti beroperasi pada pertengahan 1930-an, bangunan yang berada di ruas Jl. Lembong ini beralih fungsi menjadi hotel.
Skandal Homoseksual di Bandung
Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem) Kasus pencabulan bukanlah suatu hal baru di Indonesia. Pada masa kolonial, kejadian tersebut turut dianggap sebagai suatu aib. Suatu kisah menarik mengenai itu diungkap dalam buku "Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie" yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan dengan judul "Selamat Tinggal, Sampai Jumpa … Lanjutkan membaca Skandal Homoseksual di Bandung
Di Balik Layar #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan
Hari Sabtu (12/03/2016), beberapa Aleutians sedang melakukan survey lokasi untuk #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo dulu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan setiap minggunya untuk memastikan lancarnya keberlangsungan #Ngaleut.
Beli Buku di Jl. Cikapundung Barat
Di tengah perjalanan #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu siang tadi, @teg.art dan @tiarahmii menyempatkan diri untuk membeli buku di emper Jl. Cikapundung Barat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra buku dan majalah bekas sejak sekitar 1960-an. Harga buku yang ditawarkan bervariatif, mulai dari puluh ribu hingga ratusan ribu rupiah. Foto: @fajarasaduddin
Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat, dulunya berfungsi sebagai pengadilan. Nama gedung diambil dari judul pledoi Sukarno dengan judul sama yang ia tulis selama mendekam di Penjara Banceuy. Nah, lokasi ini merupakan titik kumpul kegiatan Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu hari Minggu besok. Sudahkah Aleutians memastikan diri bergabung? Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)
Kliping Riwayat Preangerplanters
Lima artikel yang dimuat di HU Pikiran Rakyat, rubrik Selisik, Senin, 22 Februari 2016. Salinan artikelnya menyusul.
Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker
Oleh: Zen RS (@zenrs) Tanpa sengaja berkunjung ke Taman Schiller, taman kecil di depan sebuah kampus seni di Wina. Salah satu yang menyenangkan dari Praha dan Wina, dua dari empat kota di Eropa yang saya singgahi pada Oktober 2015 silam, mungkin juga di kota-kota tua lainnya di Eropa, adalah banyaknya ruang-ruang publik yang dinamai atau … Lanjutkan membaca Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker
Komunitas Aleut di Galaseni Batik Nusantara
Hari ini, Tegar A. Bestari, salah seorang rekan kita di Komunitas Aleut, menjadi pemateri dalam kegiatan workshop Galaseni Batik Nusantara yang diselenggarakan di gedung Graha Manggala Siliwangi Bandung. Tegar menyampaikan berbagai macam informasi mengenai Batik Nusantara, salah satunya mengenai cara membedakan antara batik asli dan palsu. Banyak yang hadir, terutama adik-adik SMA yang tertarik dengan … Lanjutkan membaca Komunitas Aleut di Galaseni Batik Nusantara
Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus
James T. Siegel melihat melalui roman ini bahwa orang-orang Tionghoa juga berkontribusi pada pergerakan nasional. Kemampuan bahasa untuk menerjemahkan isi buku atau surat kabar yang dimiliki Hilda dan Tan Tjin Hiauw sebagai kalangan terdidik berperan untuk mempercepat proses penyebaran ide revolusi di kalangan kaum muda.
Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Dalam roman Rasia Bandoeng, Chabanneau menggambarkan rumah Tan Shio Tjhie sebagai rumah gedong besar di pinggir Groote Postweg (sekarang Jl. Jendral Sudirman), berhadapan dengan Gang Kapitan (sekarang Gang Wangsa) dan di sebelah timur rumah tersebut mengalir Kali Citepus. Sosok Tan Shio Tjhie digambarkan sebagai sosok yang progresif karena tidak menentang kehendak anaknya, Tan Tjin Hiaw, … Lanjutkan membaca Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Wawancara Komunitas Aleut dengan TVRI (Bagian II)
Perekaman paket kedua bersama TVRI Pusat dilakukan pada hari Jumat kemarin di situs Gua Pawon, Padalarang. Kali ini bersama @aryawasho dan @tiarahmi sebagai pengisi materi.