Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (2)

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Penampungan air di Setiabudhi tahun 1920. Foto: Leiden University

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1). Bagian pertama adalah rangkaian perjalanan dan cerita saat mengunjungi Gedong Cai Cidadap dan Gedong Cai Tjibadak, sedangkan pada bagian ini saya ingin bercerita ketika kami mengunjungi tempat penampungan air di Setiabudhi dan Gedong Cai Cikendi.

Setelah dari Gedong Cai Cidadap dan Tjibadak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penampungan air di Setiabudhi. Tempat ini tampak berbeda dengan Gedong Cai yang kami kunjungi sebelumnya. Bagian atas bangunan terlihat agak membulat dan tertutupi tanah dan rumputan, dulu bangunan seperti ini disebut sebagai gunung cai. Namun sayang ketika kami berkunjung ke sana, kondisi bangunan sudah tertutup dengan rerumputan. Sebagian bangunan juga terkena aksi vandalisme, penuh coretan.

Penampungan air di Setiabudhi tahun 2021. Foto: Deuis Raniarti

Kami istirahat sejenak di tempat ini, lumayanlah untuk melepas lelah dan menikmati angin sepoy-sepoy. Setelah mengamati keadaan sekitar, beberapa saat kemudian kami berlalu menuju gedong cai lainnya yaitu Gedong Cai Cikendi. Perlu diketahui bahwa personil Ngaleut Cidadap ini terdiri dari angkatan terbaru dan belum satu orang pun yang pernah berkunjung ke semua tempat di Ngaleut Cidadap. Jadi sudah saatnya keluarkan GPS, ada yang tau GPS itu apa? Jadi GPS ini adalah Gunakan Penduduk Setempat haha. Berdasarkan informasi yang telah didapat, diketahui bahwa lokasi Gedong Cai Cikendi ini berada di sekitar Hegarmanah. Setelah sampai Hegarmanah kami pun bertanya kepada penduduk sekitar, kebetulan ada warga yang sedang istirahat di pangkalan ojek. Anehnya warga sekitar tidak tahu ketika kami bertanya tentang Gedong Cai Cikendi. Tetapi ketika kami tanya mengenai Pancuran Tujuh mereka langsung mengerti dan menunjukan jalannya.

Berbekal informasi tersebut akhirnya kami sampai juga di Gedong Cai Cikendi. Tempatnya agak jauh ke dalam perkampungan warga, kami pun sempat kesulitan karena jalannya merupakan gang sempit dan berliku. Sebenarnya yang kami jumpai terlebih dahulu adalah Pancuran Tujuhnya, sedangkan Gedong Cai Cikendi posisinya berada di atas dari Pancuran Tujuh. Nah ini penampakan Gedong Cainya:

 Gedong Cai Cikendi. Foto: Reza Khoerul Iman

Dari luar bangunan, keras terdengar suara gemuruh air, pastilah air yang keluar cukup deras. Di depan pintunya juga terlihat air yang menggenang, genangan ini berasal dari dalam gedong cai. Air yang melimpah ini kemudian dialirkan ke bawah menuju Pancuran Tujuh. Dengan melihat posisi gedong cai yang berada di ketinggian rasanya tidak perlu alat atau pompa untuk mengalirkan ke bawah menuju Pancuran Tujuh.

Nah untuk informasi mengenai Pancuran Tujuh, kami mendapatkannya dari pemilik warung yang berada di depan Pancuran Tujuh. Tentunya sambil mengisi kembali tenaga yang sudah terkuras karena naik turun bukit hehe, ngemil tipis kita. Namanya Bapak Elin, beliau sudah tinggal di sini dari tahun 1995. Masjid yang berada tepat di depan Pancuran Tujuh saat itu hanya berupa tajug, sahutnya. Perlu diketahui bahwa di depan Pancuran Tujuh saat ini terdapat masjid yang cukup besar.

Jadi Pancuran Tujuh ini merupakan aliran mata air. Airnya berasal dari dalam gedong cai. Pak Elin bercerita bahwa sebelum pandemi, mata air Pancuran Tujuh ini masih ramai didatangi para peziarah. Puncak kunjungan para peziarah biasanya bulan mulud, khususnya tanggal 14 dan 15. Ketika bulan-bulan biasa, peziarah biasa datang ke sini pada hari Selasa malam dan Jumat malam.

Yang berziarah biasanya mempunyai maksud dan tujuan tertentu, berharap berkah dari adanya Pancuran Tujuh. Ada yang datang dengan tujuan kesembuhan dari penyakit, kelancaran operasi medis, terkabulnya keinginan tertentu, dan lainnya. Di Pancuran Tujuh para peziarah itu mandi, atau bahkan mandi kembang. Peziarah yang datang ke Pancuran Tujuh berasal dari berbagai kota di Jawa Barat. Para peziarah datang sambil membawa berbagai macam sesajen.

Ritual mandi ini dimulai dari jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Tak jarang terjadi juga kesurupan yang dialami peziarah. Bapak Elin juga merasa kasian ketika melihat peziarah membawa bayi untuk dimandikan, dengan udara yang cukup dingin di sini membuat bayi tersebut kedinginan.

Mata air Pancuran Tujuh. Foto: Reza Khoerul Iman

Pak Elin juga menjelaskan bahwa pancuran bagian kiri itu pancuran laki-laki berjumlah 2, sedangkan pancuran sebelah kanan itu pancuran perempuan berjumlah 5. Kenapa pancurannya harus berjumlah 7, Pak Elin mengatakan kalau pancuran itu 8 atau 6, airnya engga akan keluar dan pancurannya pasti rusak.

Saat cukup asyik mengobrol dengan Pak Elin, datang seorang bapak dari pemukiman sekitar sini. Beliau ini bernama Pak Pendi, katanya di Gedong Cai Cikendi ini di dalamnya terdapat 1 sumur ukurannya besar. Dari sumur ini keluar air yang sangat deras. Berbeda dengan kondisi di Tjibadak yang airnya tidak dapat dirasakan warganya, di Cikendi ini air bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Air Cikendi mengalir deras ke pemukiman warga dan dimanfaatkan untuk mandi, cuci baju, bahkan untuk diminum. Sisanya, air Cikendi turun ke bawah menuju sungai Ci Kanyir. Tak terasa hari sudah menjelang sore, langit Bandung juga mulai menghitam tanda sebentar lagi turun hujan. Akhirnya kami pun balik kanan menuju sekre dan mengakhiri Ngaleut Cidadap hari ini.

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s