Sekelumit Kisah Leendert van der Pijl di Bandung

van der pijl foto

Foto Dr. Leendert van der Pijl

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (IG: @suryadwipa)

Kondisi Karesidenan Priangan (mencakup Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi, dan Bogor) yang sejuk dan sarat akan kandungan keanakaragaman hayati ternyata telah mengambil hati sekelompok ilmuwan Eropa di bidang botani. Hal tersebut dibuktikan dengan maraknya penelitian mengenai tanaman perkebunan di Priangan, juga dengan dibangunnya Herbarium Bogoriense serta ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Oleh sebab itu Bogor pernah memperoleh predikat sebagai pusat perkembangan ilmu botani di Hindia Belanda. Selain di Bogor, Kawasan Bandung ternyata juga sempat dijadikan destinasi untuk mempelajari aneka jenis tetumbuhan khas Priangan. Salah satu ahli yang berperan penting dalam mengungkap rahasia dunia flora di Bandung dan sekitarnya adalah Dr. Leendert van der Pijl.

Leendert van der Pijl lahir di Utrecht, Belanda, pada tahun 1903. Ia mengenyam pendidikan sebagai seorang botanis di Amsterdam University selama 5 tahun, mulai dari tahun 1922 hingga 1927. Kemudian, van der Pijl pindah ke Hindia Belanda dan selama mengabdi di tanah surgawi ini, van der Pijl telah bertualang di Sumatera Selatan (Bengkulu), Anak Krakatau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Sunda Kecil (Timor, Rote, Bad, Flores, Ende, Ruteng, Sumbawa dan Bima), hingga Maluku (Ambon, Saparua), Sulawesi (Kendari, Buton, Bontang, Bone, Nengo, dan Riapia).

Perjalanannya di Jawa Barat ia awali di G. Patuha dan Cibodas (G. Gede) pada tahun 1928. Sejak saat itu,  van der Pijl semakin memperluas langkah kakinya mulai dari Bukittunggul (1931), G. Burangrang (1934), G. Cikuray (1931), Karawang (1937), G. Malabar (1930, 1931), G. Manglayang (1931), G. Galunggung (1936, 1940), G. Guntur (1928, 1937), Padalarang (1931), G. Pancar (1940), G. Papandayan (April & Desember 1930), G. Patuha (1937), Sukanegara (1938, 1940), G. Tampomas (1928), hingga G. Wayang (1931). Sementara lokasi penelitiannya di Jawa Timur hanya dilakukan di Gunung Raung dan Ijen pada tahun 1929. Dewi Fortuna rupanya berpihak pada van der Pijl saat di Ijen, karena ia berhasil mengoleksi suatu tumbuhan jenis baru dari marga Gentiana. Kini spesimen tersebut disimpan di Herbarium Kew, UK.

Selain aktif mengumpulkan spesimen tumbuhan, van der Pijl juga banyak menulis buku dan mengajar. Hasil penelitiannya di Padalarang, ia tuangkan dalam artikel berjudul  De kalkflora van Padalarang (Jenis-jenis tumbuhan karst di Padalarang) yang diterbitkan dalam jurnal de Tropische Natuur volume 22 pada tahun 1933. Karya lainnya yang tidak kalah fenomenal yakni The re-establishment of vegetation on Mt Goentoer dan Botanische notities over een bezoek aan Anak Krakatau in Augustus 1949. Judul pertama diterbitkan dalam jurnal ilmiah Annales du Jardin botanique de Buitenzorg volume 48 tahun 1938. Sementara judul kedua diterbitkan oleh Chronicle Natural Journal volume 5 pada tahun 1949.

Selain berkecimpung di bidang botani, Pijl juga menaruh perhatian lebih pada alam Bandung. Semua ia lakukan karena perasaan takjubnya pada tanah Dayang Sumbi ini. Karyanya mengenai topografi dan alam Bandung adalah Bandoeng en haar hoogvlakte yang diterbitkan oleh Penerbit Visser & Co. cabang Bandung pada tahun 1930. Buku tersebut memuat peta Lembang-Tangkuban Perahu, beragam foto tentang Pegunungan Priangan dan Kota Bandung. Hal menarik lainnya yaitu adanya satu bab khusus informasi flora dan fauna di Bandung.

Ia menyinggung keberadaan pohon damar (Agathis dammara) dan kiara payung (Filicium decipiens) di Dagoweg serta pohon asam (Tamarindus indica) di Riouwstraat. Van der Pijl juga menyebutkan beberapa jenis tumbuhan yang banyak ditanam tempo doeloe, seperti Acalypha, Pyrostegia, Acacia, anyang-anyang (Elaeocarpus grandiflorus), Cassia grandis, ganitri (Elaeocarpus ganitrus), dan kelapa. Buku lainnya yang ia tulis yaitu Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe Bandoeng (Uitgave A.C. Nix & Co, 1932). Buku ini merupakan salah satu guidebook tentang bentang alam Gunung Tangkuban Perahu. Sama seperti buku sebelumnya, informasi jenis-jenis tumbuhan khas Tangkuban Perahu juga terekam dalam Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe Bandoeng.

tangkoeban-prahoe_wandelgids

Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe Bandoeng

Ketika tinggal di Bandoeng, ia sempat bekerja sebagai guru di Christelijk Lyceum, Dagoweg. Namun sayangnya informasi lebih lanjut terkait pekerjaannya di Christelijk Lyceum belum diketahui. Saat masa kependudukan jepang, van der Pijl kembali ke Negeri Belanda hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di The Hague pada tanggal 16 April 1990.

Baca juga artikel lainnya dari Arifin Surya Dwipa Irsyam

(komunitasaleut.com – ipi/upi)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s