Minggu Berfaedah: Pagi dan Trotoar Jl. Homan

Barangkali, siang hanyalah cara langit menghangatkan sepi. Selepas pagi, berlari dari gelap yang sunyi. Meski nanti akhirnya kembali lagi; pada sepi. –Rohmatikal Maskur

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Sempat bingung dengan apa yang harus diabadikan saat #ngaleutmerekamkota kemarin, perhatian saya tertuju pada Jl. Homan. Jalanan kecil yang sedikit terlihat berbeda dibanding jalan-jalan di sekitar kawasan Asia Afrika yang cukup padat dan ramai. Meski matahari pagi cukup hangat, Homan terlihat teduh dari seberang.

Ngaleut kemarin cukup berbeda dari biasanya. Aleutian diberi misi untuk mengambil foto bertema Photo Story atau Photo Series. Agak bingung juga sebenernya, karena hari Sabtu saya absen di kelas literasi yang ngebahas soal fotografi. Tapi, the show must go on ya buk. Berbekal kesotoyan dengan sedikit penjelasan Kang Irfan saat briefing di Titik 0 Km, Jl. Homan menjadi tujuan.

Singkatnya, yang saya pahami dari Kang Irfan photo story itu photo yang menggambarkan cerita dengan teknik pengambilan sebuah objek secara detail, frame, dan dari beberapa angle. Seperti, saat objeknya mamang bubur nih, yang diambil bisa saat beliau berinteraksi dengan kita atau pelanggan, potret tangan beliau saat menuangkan bubur dari panci, bubur di mangkok, framing dengan komposisi beliau,pelanggan dan gerobak dll.

Kalau photo series, bisa berbagai objek yang sejenis tapi memiliki tetap memiliki kisah. Kang Irfan bilang, ada seorang fotografer yang sempat membuat photo series nama-nama kuda di Bandung. Hanya nama-namanya saja, tetapi tetap menarik. Seperti Gonjales (literally pake ‘J’ instead of Gonzales) yang nyunda pisan.

Yang pertama kali menarik perhatian saya dan Millah di Jl. Homan, adalah kakak-kakak ini. Trotoar di Homan menjadi backstage life Cosplayers jurig (hantu) dari sekian banyak komunitas cosplayers yang sering beraksi sekitar Jl. Asia Afrika. Karena weekend, jadi mereka sudah bersiap dari pagi.

Beranggotakan cosplayers jurig lokal dari genderuwo, pocong kupu-kupu, nyi roro kidul sampai valak dan peri-peri lucu. Kata Kang Adi, salah satu Cosplayers Comjurig Bandung ini, sebelum menjadi tourist attraction, ternyata mereka sering dikejar satpol PP. Sampai akhirnya meminta izin pada pemerintah kota sehingga legal. Ya, sempat mendapat penghargaan pula. Aren’t they amazing?

Setelah beberapa meter berjalan dari tempat kakak-kakak cosplayers tadi, terlihat beberapa becak ‘parkir’ di trotoar. Satu becak menjadi juara karena tampilannya. Menarik, dengan Tulisan ‘Sesa Online’ (Sisa Online) yang notabene becak adalah angkutan tradisional yang masih bertahan di tengah inovasi transportasi online. Saya pikir, mamang becaknya pasti Naruto garis keras nih, dengan tulisan Naruto, Hokg. Beneran Hokg, bukan Hokage. Atau mamang becak sengaja membranding diri dan becaknya untuk menarik perhatian orang. Who knows.

Tidak jauh dari becak-becak di sebrang jalan, masih dari trotoar, ada sebuah space pagar dengan tanaman yang menutupinya sudah rusak. Entah bangunan apa yang terlihat, sepertinya cukup secure dengan tidak diperbolehkan merokok sembarang tempat. Could you imagine how dangerous it is if someone out there throw a cigarette near the broken plants fence? They should think more about it.

Kali ini, lensa saya arahkan pada gerobak yang terletak di seberang. One stop gerobak makanan banget sih ini. Kebayang kan ribetnya harus menyediakan menu yang berbeda? Saya nggak sempet ngobrol sama penjualnya karena waktu udah mepet, and you know what? Seorang Kakek sedang sibuk di balik gerobak. Jika memang beliau chef-nya, wah! *standing applause*

Ini adalah penutup di ujung Jl. Homan. Sebuah plang yang menyiratkan banyak sekali tanya. Quite interesting, rite? What do you think about it, then? Hey, would be nice to hear your thoughts.

Bagaimanapun, dibalik ramai dan padatnya Bandung, setiap tempat memiliki ceritanya masing-masing. Memotret dan menulis adalah salah satu cara membuat cerita itu abadi, selain menyimpannya dalam ingatan yang kadang hilang. Begitupun Homan dan seisinya. Jika ingin melihat dan mendengar lebih dalam, banyak hal yang sangat ‘hooman’ di dalamnya.

Pukul 09.00, saat Braga mulai ramai dan matahari semakin hangat, kami kumpul di taman Braga yang terletak tepat di depan Bank BJB atau sebrang Victoria Bank. Semua berbagi cerita dibalik foto-foto yang diambil. Lengkapnya bisa di track di #ngaleutmerekamkota di instagram. Terima kasih Kang Irfan dan Komunitas Aleut atas Minggu Berfaedahnya! Juga Comjurig Bandung yang mau berbagi cerita. Have a great day!


More stories:

Komunitas Aleut @komunitasaleut

Comjurig Bandung @comjurigbandung

Tautan asli medium.com/@inshonia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s