Jalinan Wisata Jalur Kereta Api Mati & Wisata Perkebunan Rancabali, Ciwidey (Bagian 2)

Sampul buku panduan tour bergambar foto lama Jembatan Rancagoong (Tropen Museum @mooibandoeng)

Sampul buku panduan tour bergambar foto lama Jembatan Rancagoong (Tropen Museum @mooibandoeng)

Baca : Jalinan Wisata Jalur Kereta Api Mati & Wisata Perkebunan Rancabali, Ciwidey (Bagian I)

Oleh : Rizka Fadhilla (@rizka_fdhlla)

Gambung terletak di kaki Gunung Tilu dan di bagian belakangnya terletak wilayah Pangalengan. Narasumber bercerita bagaimana beratnya upaya Rudolf Eduard Kerkhoven merintis perkebunan di wilayah Ciwidey dan Pangalengan. Setelah mengolah lahan gambung bekas perkebunan kopi milik pemerintah yang sudah tak terurus menjadi perkebunan teh yang berhasil, R.E. membelah hutan Gunung Tilu yang pekat oleh pepohonan berukuran raksasa untuk membuka perkebunan baru di Pangalengan.

Perkebunan baru ini diberi nama Malabar, menggunakan nama daerah di India tempat asal teh yang ditanam di sini.

Rumah administratur perkebunan Gambung 1 (@mooibandoeng)

Rumah administratur perkebunan Gambung (@mooibandoeng)

Setelah dikelola oleh sepupunya, K.A.R. Bosscha, mulai tahun 1896, Perkebunan Teh Malabar akan mencapai puncak kejayaannya sebagai penghasil teh terbaik dan terbesar di Hindia Belanda. Cerita tentang Bosscha agak dibatasi dalam kesempatan ini karena tour fokus pada perkebunan di wilayah Ciwidey. Baiklah.

Cerita-cerita seputar perkebunan dilanjutkan oleh narasumber di lokasi istirahat makan siang, yaitu Rest Area Pasirjambu. Lokasi istirahat ini sungguh nyaman, pemandangannya sawah menghijau dan saung-saung dengan kolam-kolam di depannya. Di belakang, pemandangan Gunung Tilu, kompleks gunung dengan tiga puncak, terlihat cukup jelas. Bagian puncaknya tertutup kabut.

Romantik sekali membayangkan R.E. Kerkhoven dengan kereta kudanya menembus rimba melintasi gunung untuk sampai ke Pangalengan. Perjuangan luar biasa yang dilakukan secara manual begitu sungguh tak terbayangkan dapat diulang di masa kini. Dari lantai dua, turun seorang pramusaji membawa beberapa cangkir kopi yang diseduh secara tradisional, tubruk. Kopi asli dari Ciwidey, katanya.

Ya belakangan ini ketika kopi mulai kembali jadi tren di mana-mana, banyak kopi muncul kembali di wilayah Priangan. Umumnya perkebunan kopi baru ini digarap oleh masyarakat atau koperasi menggunakan lahan-lahan milik Perhutani.

Rest Area Pasirjambu dengan pemandangan ke arah kawasan Gambung (@mooibandoeng)

Rest Area Pasirjambu dengan pemandangan ke arah kawasan Gambung (@mooibandoeng)

Usai makan siang, rombongan menuju Stasiun Ciwidey, ujung jalur kereta api di kawasan perkebunan ini. Pusat kota Ciwidey sebenarnya tidak berada di dekat kawasan perkebunan, masih membutuhkan perjalanan beberapa kilometer lagi untuk mencapai perkebunan terdekat, seperti Gambung, Rancabali, atau Sindangkerta. Rencana pembangunan jalur ternyata belum sempat mencapai wilayah pedalaman lebih jauh lagi.

Di lokasi bekas Stasiun Ciwidey masih tercapat cukup banyak jejak, masih ada jalur-jalur rel, gudang-gudang, bangunan bekas stasiun, dan yang cukup menarik, turntable atau konstruksi pemutar arah lokomotif. Lokasi turntable yang biasanya berada di wilayah terbuka dan kosong, sudah dipadati oleh permukiman. Setengah bagian roda pemutar sudah berada di bawah bangunan rumah warga.

Turntable di tengah perkmpungan padat Ciwidey (@mooibandoeng)

Turntable di tengah perkmpungan padat Ciwidey (@mooibandoeng)

Eksplorasi di lokasi bekas Stasiun Ciwidey ternyata menarik juga, peserta dapat melihat jalur-jalur rel yang masih utuh, namun di atasnya sudah berdiri rumah-rumah. Artinya, ada jalur rel di lantai rumah-rumah itu. Lalu gudang-gudang yang sudah berubah fungsi menjadi toko atau bengkel, dan rumah tinggal. Lumayan semrawut, tapi dari banyaknya gudang dapat dibayangkan seperti apa ramainya stasiun ini dulu.

Bangunan di kompleks Stasiun Ciwidey (@mooibandoeng)

Bangunan di kompleks Stasiun Ciwidey (@mooibandoeng)

Setelah Stasiun Ciwidey, sebenarnya tujuan berikutnya adalah Jembatan Cikabuyutan di satu daerah yang bernama Cikabuyutan juga. Letak jembatan ini ada di antara Jembatan Rancagoong dan Stasiun Cisondari, sengaja dikunjungi terakhir sekalian perjalanan pulang ke Bandung. Tetapi karena masih tersedia banyak waktu sebelum sore menjelang, panitia tour memberikan perjalanan bonus, kunjungan ke Perkebunan Teh Rancabali. Wow!

Peserta begitu bersemangat, apalagi saat itu terlihat kabut mulai turun di kawasan Ciwidey. Sebagian berharap akan menemui kabut tebal di kawasan perkebunan nanti. Harapan yang ternyata segera terwujud.

Suasana di Perkebunan Teh Rancabali yang sedang berkabut tebal (@mooibandoeng)

Suasana di Perkebunan Teh Rancabali yang sedang berkabut tebal (@mooibandoeng)

Di tepi jalan dekat warung tenda, tak jauh dari lokasi Pemandian Ciwalini, mobil menepi dan para peserta segera menghambur keluar, langsung ke tengah kabut yang saat itu sangat tebal. Beberapa peserta memesan kopi hitam panas, sementara sebagian lainnya tanpa buang waktu, menyeberang jalan dan turun ke area perkebunan. Dingin tak begitu dihiraukan, bahkan ketika gerimis akhirnya turun.

Peralatan foto dan gadget yang sudah disiapkan segera beraksi. Pemandangan dan suasana perkebunan teh memang punya daya tarik sendiri, apalagi untuk para peserta yang datang dari Jakarta. Suasana seperti inilah yang mereka cari dan tunggu bila berkunjung ke perkebunan teh.

Lekuk liku bukit-bukit kecil dengan bebatuan besar di puncaknya dalam waktu singkat sudah terekam dengan baik pada kamera dan gadget mereka masing-masing. Tidak hanya berupa foto, tapi juga rekaman-rekaman video berdurasi pendek. Sore ini terasa begitu menyenangkan berbagi keindahan alam Ciwidey.

Suasana warung tenda di tepi jalan kawasan Rancabali (@mooibandoeng)

Suasana warung tenda di tepi jalan kawasan Rancabali (@mooibandoeng)

Setelah puas berfoto dan menikmati suasana, para peserta masuk ke dalam warung tenda, memesan jagung bakar, bandrek, mi instan, dan kopi. Sambil menunggu sajian, narasumber bercerita mengenai konflik perebutan pembukaan jalur kereta api Bandung-Kopo (Soreang) antara perusahaan Tiedman dan van Kerchem dengan perusahaan kereta api milik pemerintah, Staatsspoorwegen.

Kedua perusahaan yang disebut di atas sebenarnya sudah mendapatkan konsesinya pada tahun 1915. Banyaknya perkebunan di wilayah Ciwidey tentu saja cukup menjanjikan bagi usaha transportasi dan pengangkutan. Produk teh dan kina saat itu sedang mengalami masa keemasannya. Staatsspoorwegen yang sudah membangun jalur kereta api Bandung-Banjaran berusaha mengambil alih pembangunan jalur Banjaran-Kopo (Soreang) tersebut dan berhasil.

Bagi Staatsspoorwegen tentu Ciwidey hanyalah salah satu wilayah sasaran saja, karena selain itu sudah ada beberapa kawasan perkebunan lain yang jalur transportasinya sudah mereka kuasai juga, seperti Dayeuhkolot dan Banjaran.

Ya kira-kira begitulah perjalanan tour hari ini yang berlangsung sangat seru dan beyond expectations. Satu hal yang baru saya sadari di bagian akhir perjalanan adalah ketika membaca lagi judul tour ini, “Susur Jejak Spoorwegen Bandjaran-Tjiwidej.” Ternyata tour ini bukan hanya tour jejak kereta api, melainkan gabungan yang manis antara tour jejak kereta api dengan sejarah perkebunan di kawasan Bandung Selatan.

Today I feel so happy.

* * * * *

Rute perjalanan tour Spoorwegen Bandjaran-Tjiwidej (@mooibandoeng)

Rute perjalanan tour Spoorwegen Bandjaran-Tjiwidej (@mooibandoeng)

Baca juga artikel mengenai kereta api dan catatan perjalanan lainnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s