Catatan Perjalanan: Ngaleut Situ Aul

Oleh: Aozora Dee (@aozora_dee)

“Ngaleut Situ Aul. Kumpul jam 6.36 di Kedai Preanger,” begitulah yang tertera pada poster yang di-post di Instagram Komunitas Aleut. Aku bersemangat sekaligus sedikit khawatir  karena  ini adalah ngaleut pertamaku di bulan Ramadan, khawatir medannya terlalu berat dan bisa berakibat batal puasa. Tapi daripada disawang mending langsung buktikan sendiri. Jadilah hari itu aku ikut mendaftar rombongan Ngaleut Situ Aul.

Pukul 7 pagi aku sudah sampai di Kedai. Saat itu baru ada dua teman aleut yang sampai, ternyata ada yang lebih terlambat dari aku. Mungkin efek sahur membuat ngantuk lebih lama sehingga mereka bangun terlambat. Dimaklum.

Sambil menunggu teman-teman yang lain, aku membuka beberapa referensi bacaan yang ada di internet tentang Situ Aul. Aku tertarik dengan penamaan situ itu. Setahuku aul adalah sebuah nama mahluk, bisa disebut siluman atau sejenisnya berbadan manusia dan berkepala anjing yang posisi kepalanya menghadap ke belakang. Mungkin situ itu ada hubungannya dengan mahluk “campuran” itu. Belakangan Bang Ridwan memberitahu bahwa aul adalah salah satu jurig legenda di tanah Sunda.

Pukul 07.30 kami berangkat menuju Situ Aul. Cuaca tidak terlalu panas dan tidak mendung juga selain itu jalanan tidak terlalu macet. Tapi cuaca sekarang tidak bisa diprediksi. Mudah berubah-ubah bak perasaan manusia saja.

Dari Kedai kami belok kiri ke arah Buah Batu – Baleendah – Bojongsoang – Banjaran – Dayeuh Kolot kemudian belok ke kiri ke arah Jl. Raya Pangalengan sampai ke Cimaung. Itu rute kota, aku sempat mengantuk ketika melewati jalan-jalan itu. Baru ketika sampai di PLTA Cikalong kantukku hilang akibat semrawutnya jalan yang mengakibat kemacetan. Jadi ingat cerita Abang tentang kemacetan dan orang –orang yang menggerutu karenanya.

Aku perhatikan memang selalu ada orang seperti itu padahal ia menjadi bagian dari kemacetan itu sendiri. Ada satu yang membuatku tertawa. Saat macet itu, aku lihat ada seorang pengendara, ia tampak tidak sabar dengan macetnya jalanan. Setiap celah ia coba masuki berharap semoga itu bisa membawanya lepas dari kemacetan. Bukannya bisa lolos ia malah terjebak di sumber kemacetan itu sediri. Aku yang ada di belakangannya bisa mendahului dia. Sabar saja. Semua akan indah pada waktunya. Skip!

Untuk menuju Situ Aul, kami masuk dari Perkebunan Teh Kertamanah. Beruntunglah mereka yang mau bangun pagi karena mendapat bonus pemadangan indah kebun teh dan segarnya udara pagi. Kulihat di depanku Mey merentangkan tangannya seolah ingin menyentuh setiap oksigen yang dihasilkan pagi itu. Amanda sibuk memotret dengan smartphonenya.

“Sayang aku gak bawa kamera,” kataku.

“Kenapa atuh gak bawa?” Mang Agus merespon kalimatku sambil terus memperhatikan pemandangan kebun teh.

“Lupa beli baterai” singkat saja aku menjawab.

Padahal dalam hati aku merutuki diri sendiri karena bangun kesiangan sehingga tak sempat beli baterai. Ceroboh.

Di daerah Cinyiruan kami berhenti sejenak. “Ada tugu peringatan 100 tahun berdirinya perkebunan kina di Pangalengan ini. kalau mau lihat ke sana, sok. Saya mau merokok dulu,” kata Abang. Kami langsung berbelok ke arah lapang itu. Tugunya tidak terlalu tinggi dan sepertinya memang tidak terawat dengan baik. Berdasarkan cerita Mang Irfan, tidak jauh dari di balik komplek tugu ini ada sebuah makam seorang Jerman yang dikubur bersama boneka kesayangannya. “Saking sayangnya ia terhadap boneka, orang Jerman itu ingin dikubur bersamanya. Tapi ia tidak pernah menikah dengan siapaun,” lanjut Mang Irfan.

Selepas dari melihat-lihat tugu dan mendengarkan cerita tentang orang Jerman itu, kami lanjutkan perjalanan. Tidak langsung ke Situ Aul, tapi kami mampir ke penangkaran rusa di Kertamanah. Di depan penangkaran rusa itu sedang ada proyek pembangunan wisata air panas.

Hari sudah mulai terik, kami lanjutkan perjalanan. Langsung ke Situ Aul? Tentu tidak. Abang membawa kami ke sebuah situ, Situ Kinceuh namanya. Patokan masuk ke Situ Kinceuh adalah dari pertigaan Wayang Windu Village, ambil kanan. Dari sana terus saja ikutin jalan sampai akhirnya menemukan sebuah situ yang tidak terlalu luas.

Menurut cerita, nama situ itu diambil dari nama seorang anak pemilik Perkebunan Kertamanah dan dimakamkan di sekitar situ ini. Terlepas dari cerita angkernya situ dan kejadian dibalik situ itu, buatku mampir ke situ ini adalah sebuah hadiah.

Setibanya di sana, kami disambut oleh celoteh anak-anak yang berenang di sebuah aliran sungai yang berada agak ke atas dari situ itu. Mereka berenang kesana kemari. Asli! Ini ujian. Di tengah terik matahari dan sedang berpuasa, melihat air jernih seperti ini sangat menguji iman.

Kami turun mendekati situ. Semakin dekat semakin jelas terlihat jernihnya air. Semakin menyusuri aliran sungai, semakin tak tahan untuk masuk ke dalam airnya, bahkan dasar sungainya pun jelas terlihat. Ada banyak ikan kecil yang berenang. Kalau di Bandung ikan kecil itu disebut impun, di Tasik aku menyebutnya endol.

Waktu masih kecil aku sering mencari endol padahal aku tidak suka memakannya. Tapi kegiatan mencari ikan di sungai seperti ini sangat menyenangkan. Beruntung aku pernah mengalami masa kecil seperti mereka. Terkadang sehabis mencari ikan aku suka berenang. Sama seperti anak-anak yang aku temui di situ ini. mereka membawa alat pancing dan mencari ikan sehabis itu berenang. Atau bisa berenang sambil mencari ikan sekaligus.

Teman-teman Aleut tak berhenti memuji jernihnya air, terlebih ketika kami menemukan penampungan air. Kami berkumpul mengelilingi bak penampungan itu, tak berhenti berkomentar juga sambil menyusuri aliran sungai. Kulihat Akay terus-terusan melihat ke arah sungai. Ia yang paling kencang berkomentar. Sepertinya ia ingin juga merasakan segarnya sungai. Benar saja. Tak lama dari itu ia langsung melepas bajunya dan masuk ke air. Serius! Melihat Akay berenang, aku iri. rasanya ingin juga masuk ke sana.

Puas bermain air dan memotret segala yang ada di sana, kami lanjutkan perjalanan. Ke Situ Aul? Tidak dong. hari sedang bagus. Kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebelum hujan datang baiknya maksimalkan kesempatan untuk menjelajah Bumi Parahyangan.

Sekarang ceritanya kami sedang nyasar ke Gunung Wayang. Seperti gunung-gunung lainnya di tanah sunda khususnya, Gunung Wayang juga mempunya cerita mistis. Misalnya, apabila datang bulan purnama maka akan terdengar sayup-sayup suara gending gamelan. Selain itu kepulan asap pada saat bulan purnama lebih tebal dan berlapis. Ada juga cerita lainnya tentang Gunung Wayang yang sering dijadikan tempat untuk ngalap elmu oleh orang-orang yang ingin memperoleh kesaktian.

Untuk mencapai Gunung Wayang kami harus menempuh perjalanan kira-kira 300 meter dari tempat kami memarkir motor, menurut warga sekitar. “300 meter teh ceuk urang lembur? Biasana sok leuwih jauh geura euy,” ucap salah seorang dari kami. Kami tahu itu. Dan memang aku pribadi pernah mengalami hal serupa. Tapi tetap saja perjalanan dilanjutkan toh kalau sudah dijalani takan terasa beratnya.

Setapak semi setapak jalan kami lewati. Semakin lama semakin menanjak. Keringat bercucuran. Nafas tersengal-sengal. Ini sih naik gunung, bukan Ngaleut biasa. Kalau gak begini mana mau berkeringat dan memacu adrenalin. Anggap saja sedikit berolah raga. Meskipun sedikit menguras tenaga tapi ketika kita sampai di lokasi rasa capek itu hilang. Ayo semangat!

Bau belerang sudah mulai tercium dan kepulan asapnya sudah terlihat menandakan kawah sudah dekat. Kami lebih bersemangat. Akhirnya kami sampai di Kawah Gunung Wayang. Jika dilihat dari ukuran kawahnya tidak terlalu besar tapi kepulan asap belerangnya cukup tebal. Harus berhati-hati berpijak karena batu-batuan disana rapuh. terlebih karena asapnya yang membuat sulit melihat pijakan. Jika tidak kuat berlama-lama berada disana maka harus segera menyingkir.

Mey, Mang Agus dan seorang kawan lainnya mendekat ke sana. Mereka mengambil foto dari jarak dekat. Sebenarnya memang akan lebih bagus jika mendekati sumber asapnya untuk mengambil foto supaya hasil fotonya terlihat lebih keren karena efek dari asapnya.

Teman-teman lain yang tidak kuat lama-lama dekat dengan bau belerang hanya duduk-duduk mengamati, termasuk aku. Tak lama dari itu tiba-tiba terdengar bunyi petir cukup  keras. Kami segera turun. Ribet juga kalau kehujanan di tengah gunung. Kami kembali ke tempat motor-motor diparkir.

Rute selanjutnya sedikit berat. Jalanan tidak semulus sebelumnya. Banyak batu dan jalannya tanah yang licin. Kami lagi-lagi mampir ke tempat lain, kali ini ke sebuah panenjoan. Di panenjoan itu terdapat sebuah bikepark, namanya Bikepark Gunung Wayang-Windu. Saat kami tiba, sudah ada beberapa orang yang sedang menyiapkan rute bersepeda. Di sana pun kami berpapasan dengan pesepeda lainnya. Tak heran mengingat daerah ini sangat indah dan cocok untuk jadi jalur sepeda dan lagi banyak tempat-tempat baru yang lebih mudah dicapai dengan memakai sepeda daripada memakai motor. Apa mungkin kita perlu ngaleut bersepeda sekali-kali?

Hari sudah semakin sore. Kami mencari masjid. Sekalian berisitirahat. Kami berputar-putar mencari hingga tak jauh dari pertigaan SD Kertamanah kami menemukan sebuah  Mesjid Jami Al-Ikhlas kemudian salat di sana. Adzan ashar berkumandang, shaf mulai dirapikan dan para calon imam ini pun mulai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Betah ngeliatnya. Eh.

Setelah saalat kami lanjutkan perjalanan. Kali ini bukan PHP. Serius! Kali ini kita menuju ke Situ Aul. Jas hujan sudah dipakai – karena hari sudah mendung jadi kami pakai jas hujan segera. Kami langsung memacu motor ke arah Situ Aul.

Dari arah Wayang Windu Village kita melewati Kampung Cibitung. Sepanjang jalan menuju Situ Aul kalian bisa melihat pipa-pipa besar berwarna putih milik PT Star Energy Geothermal. Apa itu PT Star Energy Geothermal? Silahkan googling sendiri. Karena kalau dibahas di sini akan menghabiskan sheet Ms. Word.

Singkatnya kami sudah melewati Kampung Cibitung. Jalanannya lumayan rusak sebetulnya. Harus berhati-hati karena ada beberapa tanjakan yang cukup berbahaya. Dari Kampung Cibitung terus lurus ikutin jalan sampai menemukan sumur produksi, kemudian sampailah di Situ Aul. Letak situnya memang tersembunyi makanya kurang popular dibanding tempat wisata lainnya di Pangalengan. Tapi buat yang suka jelajah alam yang masih sangat alami, Situ Aul cocok untuk dijadikan tempat tujuan penjelajahan.

Jalan menuju ke Situ Aul tidak bisa dilewati motor. Motor kami parkir di depan sebuah sumur produksi. Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pertama-tama harus melewati pipa besar aliran gas bumi itu, lalu berjalan menyusuri jalan setapak. Jalan setapak itu lumayan licin, harus berhati-hati melewatinya ditambah hari sedang hujan jadi harus ekstra waspada. Kami berjalan dengan memakai jas hujan lengkap dengan helm. “Seperti mau nonton pertandingan sepak bola di stadion saja,” kata Mang Irfan.

Situ Aul yang menjadi tujuan kami hari minggu itu sudah terlihat. Ilalang dan tumbuhan air tawar lainnya tumbuh subur di pinggir situ. Meskipun hari sedang hujan, tapi kita bisa melihat permukaan air yang berwarna hijau toska. Sayang kami tidak bisa terlalu dekat. Permukaan air sedang naik. Rencana kami untuk berbuka puasa di tepi Situ Aul terpaksa batal. Padahal kata Bang Ridwan di tepi situ yang terkena luapan air itu ada batu-batu yang bisa digunakan untuk duduk sambil menikmati indahnya Situ Aul yang ada di bawah kaki Gunung Gambungsedaningsih, gunung yang katanya favorit para pendaki itu.

Aku takjub melihat keadaan sekitar. Heran saja tempat seindah ini disebut angker tapi ada baiknya juga karena manusia sepertinya lebih takut dengan label angker daripada berinisiatif menjaga alam. Sudah banyak terbukti bahwa tempat-tempat yang dilabeli angker atau keramat biasanya ekosistemnya lebih terjaga.

Hujan sudah reda ketika kami turun dari Situ Aul menyisakan kabut putih dan titik-titik air yang indah. suasana saat itu mirip di scene di film Twilight. Kabut putih menyelimuti pepohonan dan membentuk siluet yang penuh misteri. Kami berfoto dengan latar kabut putih itu. Indah.

Karena Situ Aul tidak bisa dijadikan tempat berbuka maka kami harus mencari tempat lain dan Tangek adalah lokasi yang kami tuju. Perjalan ke Tangek tidak ditemani hujan tapi karena cuaca mulai gelap tetap saja terasa dingin. Setibanya di Tangek kami memesan menu. Makanan sunda menjadi pilihan kami. Sambil menungu pesanan tiba kami mencari mushala dan shalat magrib dulu di sana. Ketika kami kembali ke rumah makan itu hidangan sudah tersedia. Bau ayam bakar sudah tercium dari kejauhan membuat rasa lapar semakin menjadi. Tanpa ba-bi-bu kami sigap saja melahap makanan yang ada.

Saatnya membayar tagihan makanan kami. Awalnya kami sedikit terkejut ketika melihat deretan angka lima digit yang tertera pada tagihan itu tapi kemudian kami tertawa karena menyadari rasa enaknya masakan tadi. Setiap menu yang dihidangkan memang tidak ada yang mengecewakan.

Harga mah moal ngabohong,” komentar teman-teman yang lain.

Saatnya pulang. Kalau disimpulkan berarti rute pulang dari Situ Aul adalah Situ Aul – sumur produksi  PT Star Energy Geothermal – kampung Cibitung – kecamatan Margamukti – Jl Raya pangalengan – Cimaung – Banjaran – Dayeuh Kolot – Baleendah – Buah Batu – Kedai. [win/avu]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s