ITB sebagai Objek Wisata Alternatif

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Alkisah sekitar seabad yang lalu, tepatnya pada 4 Juli 1919, empat gadis mewakili empat bangsa secara simbolis menanam empat batang pohon di tengah lahan persawahan Dago, menandai pembangunan sekolah tinggi teknik pertama di Hindia Belanda – Technische Hogeschool – yang akan didirikan di lahan tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya, niat pendirian sekolah tinggi teknik itu sudah dibicarakan oleh sekelompok pengusaha swasta (semacam KADIN) di Belanda. Salah satu pertimbangan utamanya adalah kesulitan mereka memenuhi tenaga teknisi yang handal atas industri mereka di Hindia Belanda. Usaha mendatangkan insinyur-insinyur Eropa ke  Hindia Belanda dianggap sangat mahal, oleh sebab itu muncul ide untuk membuat “pabrik” teknisi sendiri di Hindia Belanda, berbentuk sekolah tinggi teknik yang nantinya diharapkan bisa menghasilkan tenaga-tenaga insinyur “murah” yang kiranya akan diberdayakan pada industri-industri milik orang Eropa.

Nah sampai di sini, bisa disimpulkan bahwa pada awalnya ITB didirikan untuk menghasilkan SDM berkualitas yang diproyeksikan untuk bekerja bagi perusahaan asing. Maka itu, bagi para mahasiswa ITB yang sekarang kuliah hanya untuk bekerja di perusahaan asing, sungguh mulia mereka karena sejatinya telah meneruskan idealisme  para pendiri kampus itu.

Oke lanjut ke sejarah, intinya setelah membentuk komisi khusus yang tugasnya bikin kajian, pengumpulan dana, dan sebagainya, diputuskanlah izin pendirian sekolah teknik di Hindia Belanda oleh kerajaan Belanda sono. Dalam satu pertemuan melibatkan para inisiator dan pemerintah, sempat timbul perdebatan terkait lokasi kampus. Terdapat opsi Batavia, Solo, Yogyakarta dan Bandung. Tampil memberi solusi, Walikota Bandung yang kebetulan ikut rapat, namanya B. Coops (biasa dipanggil Kang Engkus karena ikut-ikutan Kang Emil), langsung tunjuk tangan.

Dengan gaya Ahok, Kang Engkus pun berkata “Ente-ente mau bangun kampus mending di kota ane aja. Ente semua  mau apa? Tanah? Ane kasih 30 hektar di Dago. Ane kasih gratis, kalo masih kurang ane bisa tambah lagi… Kalo gak mau kebangetan ente.”. Tanpa pikir panjang seluruh peserta rapat langsung setuju sama ide Kang Engkus. Gimana gak setuju, dikasih tanah gratis 30 hektar di Dago pula… Kalo diduitin berapa ember tuh. Lagian menurut rekomendasi Dokter Tillema dari Semarang, udara di Bandung itu jauh lebih sehat dari kota lainnya di Hindia Belanda, bagus buat belajar, bekerja, dan berumah tangga.

Panorama Kampus THS yang Indah

Panorama Kampus THS yang Indah

Komplek THS dilihat dari Udara tahun 1930

Komplek THS dilihat dari Udara tahun 1930

Singkat cerita,  jreng kampus THS pun berdiri di Dago. Kompleksnya dirancang khusus sama arsitek Maclaine Pont yang keren abis. Bangunan-bangunan kampus sengaja dibuat terlindung oleh taman-taman, berjarak dari jalan utama karena Pont tahu di masa depan jalanan Dago bakal macet dan bising, terutama kalau dilewatin geng motor alay. Kebayang donk gimana mahasiswa bisa konsen kuliah. Nggak cuma tata letak kampus yang dirancang secara visioner oleh Maclaine Pont, bangunan kampus juga dirancang mengadopsi gaya arsitektur nusantara plus digabung sama teknologi modern. Bangunan aula barat dan timur karyanya mendapat banyak pujian dari arsitek-arsitek Belanda saat itu karena dianggap BERKARAKTER. Saya pake huruf besar semua karena bangunan jaman sekarang jarang banget yang bisa seperti itu.

Dus selama puluhan tahun sampai sekarang THS/ITB telah berhasil menelurkan ratusan ribu lulusan yang banyak di antaranya berhasil menjadi orang (sisanya jadi pohon). Ada yang jadi Proklamator, Presiden, Menteri, Calon Presiden,  Walikota, Pengusaha, Pimpinan Partai, Anggota DPR, Koruptor, dan lain-lain. Intinya lulusan ITB itu mudah bekerja dan berkualitas (lha kok kayak LP**A). Oh iya, selain itu lulusan ITB juga mudah di-acc calon mertua (pengalaman).

ARB – Pengusaha Sukses yang Merupakan Alumni ITB

ARB – Pengusaha Sukses yang Merupakan Alumni ITB

Dalam tulisan ini saya cuma mengingatkan kalau ITB punya sejarah yang sangat luar biasa, khususnya bagi kota Bandung. Suatu potensi, yang sayangnya menurut saya belum sepenuhnya tergarap. Begini maksudnya. Saat ini kota Bandung lagi krisis objek wisata. Hotel dibangun di mana-mana, tapi objek wisata nggak nambah-nambah. Dari jaman nenek moyang objek wisatanya itu lagi itu lagi (cuma nambah TSM). Akibatnya banyak hotel sepi dan terancam bangkrut.

Nah, satu potensi wisata Bandung, terutama kekayaan bangunan heritage, seyogianya bisa dimanfaatkan. Lihat saja bagaimana setiap harinya orang-orang memenuhi Lawang Sewu di Semarang atau Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Nah Bandung punya apa? Masa dari jaman tikotok dikeresekan cuma mengandalkan Tangkuban Perahu, Gua Jepang, Museum Geologi atau Pasar Baru doang. Sudah saatnya ratusan bangunan cagar budaya yang tercantum di Perda diangkat menjadi objek wisata alternatif.

Salah satu heritage potensial adalah ITB karena berbagai keunikan dan keistimewaan sejarah yang dimilikinya. ITB bisa jadi objek wisata heritage dan pendidikan dengan captive market yang spesifik. Jadi jangan khawatir lingkungan ITB bakal “tercoreng” oleh perilaku wisatawan alay yang suka usil atau buang sampah sembarangan. Menurut Pearce (1997), para peminat wisata heritage memiliki profil berikut :

  • Sebagian besar mengenyam pendidikan tinggi
  • Sekitar 50% merupakan pekerja; sebagian besar juga merupakan pelajar
  • Lebih dari 40% di bawah usia 30 tahun
  • Mereka mencari pengembangan personal dan kesempatan untuk mempelajari budaya baru
  • Memiliki hasrat untuk menemukan pengalaman baru beserta nostalgia
  • Mereka mencari keotentikan
  • 60% merupakan turis domestic, dan sisanya penduduk lokal.
Sejak tahun 2008, Komunitas Aleut telah mengadakan kegiatan apresiasi sejarah ITB

Sejak tahun 2008, Komunitas Aleut telah mengadakan kegiatan apresiasi sejarah ITB

So, jangan khawatir kedatangan wisatawan bakal mengganggu ketertiban dan kenyamanan perkuliahan di ITB. Toh tidak akan membludak seperti pengunjung Borobudur atau Alun-alun Bandung. Paling banter nanti akan banyak bule-bule yang ramai menikmati keindahan bangunan heritage di ITB dan kecantikan mahasiswi di sana. Tapi bayangkan efek promosinya. Bule-bule itu akan pulang ke negerinya sambil bertestimoni, “Bandung punya kampus yang hebat sekali, so wonderful apalagi the student-nya, cantik-cantik sekali!”. Kalau ditanya, “Mister, bagaimana dengan mahasiswanya?”. “Oh kalau cowoknya mah standard saja, not bad lah..” ujar si bule sambil ngaleos. Well, begitulah kenyataannya…

Bayangkan betapa hebatnya ITB kalau di sana dibuat museum sejarah, auditorium, guide profesional, dan atraksi wisata lainnya. Banyak cerita yang bisa disajikan, mulai dari sejarah tokoh-tokoh nasional yang dihasilkan ITB, arsitektur kolonial sampai modern, alumni ITB yang gagal jadi wakil presiden, wah lengkap deh… Kurang apalagi sumber daya yang dimiliki ITB; punya P2PAR, Studi Kepariwisataan, SBM, dan Unit-unit pendukung lainnya. Masak kerjaan cuma mengembangkan objek pariwisata di tempat lain aja, tapi potensi wisata kampus yang begitu besar tidak dikembangkan?

Akhir kata, bagaimanapun ITB tidak bisa dipisahkan dari Bandung. Adalah Bandung yang pada awalnya menyediakan berbagai fasilitas bagi ITB, alangkah baiknya apabila ITB juga mau memberi kontribusi pada kota dalam bentuk kesediaannya menjadi objek wisata alternatif. Jangan cuma bikin macet kalau wisuda aja, ITB harus bisa mewakili semangat Bandung yang ingin menjadi Smart City tanpa melupakan kebudayaan lokal.  Kalau ITB tidak mau berkontribusi, silakan kota Bandung menarik kembali lahan 30 hektar yang sudah diberikan ke ITB… hehe just kidding

Iklan

2 pemikiran pada “ITB sebagai Objek Wisata Alternatif

  1. Terimakasih tulisannya, Kang Ayan. Saya merasa tertohok terutama karena kalimat ini; ““Oh kalau cowoknya mah standard saja, not bad lah..” ujar si bule sambil ngaleos. Well, begitulah kenyataannya…”. Saya tidak standar, saya abstrak.

    Salam untuk Kang Encoops.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s