Jejak Sukarno di Bandung

Jejak Sukarno di Bandung 6

Foto keluarga di Gedung Indonesia Menggugat | © Fan_fin

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Kata-katanya selalu dinanti. Suaranya selalu dirindukan. Sosoknya sangat dicintai. Semua seakan menahan nafas dan tak bergerak sedikit pun ketika ia berorasi. Bahkan seekor cicak pun enggan untuk bergeming. Orasinya mampu membakar semangat, bahkan janggut para pejabat Hindia Belanda terbakar dibuatnya. Tak ada yang mengalahkan pesonanya ketika naik podium. Ia Sukarno, Singa Podium. Baca lebih lanjut

Aku, Bung Karno, dan Bandung

Oleh : Dahlia Anggita (@dahliaanggita)

“Who is this?” tanya host sister-ku suatu hari, menerjemahkan pertanyaan host dad-ku yang tak bisa berbahasa Inggris. Mereka berdua memandang sebuah foto hitam putih yang ada di dompetku.

“Is that your grandpa?”

“He’s my first president.”

Dan raut wajah Pa – panggilan akrab ­host dad-ku – seketika berubah.

“Then why do you put his photo inside your wallet?”

Tak pernah sekali pun aku mengungkap alasan kenapa aku mengagumi Bung Karno kepada orang lain. Rasanya terlalu naif.

“I just love him,” jawabku singkat.

***

Sudah jalan dua bulan tinggal di Bandung, setiap akhir minggu aku masih bingung harus melakukan apa. Setelah sedikit melakukan riset melalui sosial media, aku menemukan akun sebuah komunitas sejarah yang mengadakan tour wisata.

Di situ tertulis “Ngabandros Jejak Sukarno di Bandung”. Baca lebih lanjut

Gunung-gunung di Gasibu

Oleh: Nandar Rusnandar (@nandarkhan)

Hari Minggu pagi memang asyik bila dimanfaatkan untuk sekadar jalan santai atau olah raga lari-lari kecil, di Bandung ada banyak tempat tempat yang disediakan untuk kegiatan olahraga ringan ini, salah satunya, Gasibu.

Lapangan Gasibu  sekarang sudah lebih bagus dibanding tahun-tahun kemarin, sudah tersedia jogging track berwarna biru mengelilingi lapangan utama, ditambah  dengan fasilitas  perpustakaan, taman, dan toilet yang bersih, membuat para pengunjung yang ingin melakukan aktivitas olahraga seperti bulu tangkis, senam, bermain sepatu roda, dan jogging merasa nyaman dan betah berlama-lama di sana. Selain yang datang untuk berolah raga, ada pula yang hanya sekadar ngumpul bareng keluarga atau teman-temannya sambil duduk duduk dipinggir lapangan dan menikmati jajanan makanan yang tersedia di sana.

Hari ini saya sedang ingin jogging, menikmati hangatnya matahari sambil mendengarkan lagu dari earphone saja. Setelah lari beberapa putaran, saya pun  kelelahan dan melanjutkan dengan berjalan kaki santai saja. Tak sengaja, terasa ada yang menarik pandangan saya ketika asyik jalan kaki menyusuri  jogging track ini. Batas antara area biru dan lapangan bagian dalam yang berumput ternyata dibatasi oleh sebuah jalur lempengan seperti paving block, berukuran 40 x 40 cm, berwarna natural seperti batu semen, dan terdapat lobang di bagian pinggirnya, mungkin lobang itu berfungsi untuk serapan air bila hujan turun.

Ternyata, tidak semua lempengan batu semen itu polos, ada sebagian yang bergambar. Yaa betul saja, ini seperti prasasti, di permukaan lempengan tertulis nama gunung lengkap dengan keterangan ketinggian serta siluet gunung tersebut. Saya iseng-iseng mengelilingi lempengan batu semen itu dan terkumpul ada 17 lempeng nama gunung yang dipasang mengelilingi lapangan Gasibu. Uniknya, jarak lempengan nama gunung satu dengan lainnya itu tidak sama, saya menduga arah pemasangan nama-nama gunung ini disesuaikan dengan lokasi gunung sebenarnya berada. Baca lebih lanjut

ITB sebagai Objek Wisata Alternatif

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Alkisah sekitar seabad yang lalu, tepatnya pada 4 Juli 1919, empat gadis mewakili empat bangsa secara simbolis menanam empat batang pohon di tengah lahan persawahan Dago, menandai pembangunan sekolah tinggi teknik pertama di Hindia Belanda – Technische Hogeschool – yang akan didirikan di lahan tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya, niat pendirian sekolah tinggi teknik itu sudah dibicarakan oleh sekelompok pengusaha swasta (semacam KADIN) di Belanda. Salah satu pertimbangan utamanya adalah kesulitan mereka memenuhi tenaga teknisi yang handal atas industri mereka di Hindia Belanda. Usaha mendatangkan insinyur-insinyur Eropa ke  Hindia Belanda dianggap sangat mahal, oleh sebab itu muncul ide untuk membuat “pabrik” teknisi sendiri di Hindia Belanda, berbentuk sekolah tinggi teknik yang nantinya diharapkan bisa menghasilkan tenaga-tenaga insinyur “murah” yang kiranya akan diberdayakan pada industri-industri milik orang Eropa.

Nah sampai di sini, bisa disimpulkan bahwa pada awalnya ITB didirikan untuk menghasilkan SDM berkualitas yang diproyeksikan untuk bekerja bagi perusahaan asing. Maka itu, bagi para mahasiswa ITB yang sekarang kuliah hanya untuk bekerja di perusahaan asing, sungguh mulia mereka karena sejatinya telah meneruskan idealisme  para pendiri kampus itu.

Oke lanjut ke sejarah, intinya setelah membentuk komisi khusus yang tugasnya bikin kajian, pengumpulan dana, dan sebagainya, diputuskanlah izin pendirian sekolah teknik di Hindia Belanda oleh kerajaan Belanda sono. Dalam satu pertemuan melibatkan para inisiator dan pemerintah, sempat timbul perdebatan terkait lokasi kampus. Terdapat opsi Batavia, Solo, Yogyakarta dan Bandung. Tampil memberi solusi, Walikota Bandung yang kebetulan ikut rapat, namanya B. Coops (biasa dipanggil Kang Engkus karena ikut-ikutan Kang Emil), langsung tunjuk tangan. Baca lebih lanjut

Ngapain sih banggain sisa kolonial ?

Oleh : M.Ryzki Wiryawan
………….
Ngapain sih kita membangga-banggakan peninggalan kolonial ?

Kalimat tersebut muncul kala diadakan curah pendapat di penghujung acara ngaleut taman kota Bandung, menurut Agung, seorang rekan Aleut dari sahabat kota, kalimat tersebut sempat muncul dalam suatu rubrik kompasiana. Yang jelas, tema ini sangat menarik untuk dibahas, karena bisa jadi masyarakat salah kaprah dalam memandang sejarah.

Gampangnya gini aja deh, peninggalan sejarah itu ada dua macem, yang berwujud and yang tidak berwujud. Yang berwujud itu contohnya bangunan-bangunan tua, taman-taman kota, dan situs-situs megalitikum dsb-lah, sedangkan yang tidak berwujud itu contohnya bahasa, musik, budaya hidup, dll. Intinya gitu. Tapi saya bagi lagi, sejarah itu ada yang positif and negatif, tugas kita adalah menyaring dan mengambil pelajaran dari kedua jenis peninggalan sejarah tersebut.

Saya pikir sudah cukup banyak kutipan yang menyebutkan pentingnya menjaga warisan sejarah. Namun bangsa Indonesia ini terkenal buruk dalam menghargai nilai warisan sejarah. Contohnya, saat menemukan Candi Borobudur yang berada dalam kondisi mengenaskan di awal abad XIX, Raffles mengatakan :

“Ketidakpedulian pribumi sama besarnya dengan para penguasa mereka, sehingga mereka pun menelantarkan karya-karya para leluhur mereka yang tidak dapat mereka tiru”

Ucapan Raffles 200 tahun lalu itu hampir sesuai dengan kondisi sekarang. Lihatlah bagaimana kasus penjualan artefak museum kerap terjadi, penghancuran bangunan bersejarah, atau yang paling dekat bagaimana mesin kapitalisme mengancam bukit pawon yang menyimpan situs manusia sunda purba.

Mari saya hubungkan dengan konteks ngaleut! taman kota kemarin. Dalam perjalanan ini kita bisa menemukan mana aja peninggalan sejarah yang positif dan negatif tersebut.

Di awal perjalanan, kita memasuki kompleks ITB yang didesain oleh Ir. Maclaine Pont. Beliau lahir tanggal 21 Juni 1884 di Meester Coenelis atau Jatinegara, Batavia. Setelah mengenyam pendidikan tinggi di Belanda dan kembali ke Hindia Belanda, beliau sangat mengapresiasi peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit, khususnya yang berada di kawasan Trowulan-Mojokerto. Apresiasinya kemudian ditelurkan dalam berbagai karya jurnalnya yang membahas situs tersebut.

Apresiasi Maclaine Pont terhadap budaya lokal tersebut, menjadikannya terpilih sebagai arsitek utama pembangunan THS. Perkembangan ini sesuai dengan pernyataan Thomas Karsten (perancang Bandung Utara), bahwa pembuatan bangunan selama ini yang selalu mengacu pada arsitektur barat asing dapat memunculkan isolasi bagi warga Eropa di lain pihak memunculkan resistensi dari warga pribumi.

Dari pemikiran ini muncullah kampus THS (Technische Hogeschool), sekarang ITB. Arsitektur bangunan utama kampus ini mengacu pada bangunan Minangkabau (sunda besar), yang lapisan-lapisannya membentuk “lembaran bunga teratai”. Atap yang berlapis-lapis diadopsi dari tradisi ruang berpilar yang dilacak dari relief-relief candi abad kesembilan di Jawa Tengah. Bentuk lainnya mengadopsi arsitektur Pendopo yang digunakan kaum ningrat di Jawa. Pembangunan kampus pun mengacu pada tradisi kosmos local, dimana gunung tangkuban parahu berada di poros utara. Apabila kita memandang dari arah selatan, akan terlihat jelas bagaimana gunung keramat ini berada di tengah bangunan aula barat dan timur. Gaya arsitektur ini digabungkan dengan teknologi tercanggih saat itu, yang dikenal sebagai busur berikat cincin, yang hanya satu-satunya tersisa di Hindia Belanda saat ini.

Tidak lupa, konsep kampus THS yang dirancang Maclaine Pont meniru gaya kampus di Amerika, dengan taman-tamannya sebagai ruang interaksi yang nyaman serta kondusif untuk belajar.

Dapat kita simpulkan, dari satu objek saja, bahwa peninggalan Belanda tidak murni berasal dari pemikiran kolonialisme. Mereka juga mengadopsi keagungan tradisi lokal Indonesia, teknologi tercanggih saat itu, serta konsep politik yang ada tentunya. Mari kita bandingkan dengan kondisi sekarang.

Berjalanlah sedikit ke kawasan Dipati Ukur, lihatlah ada berapa bangunan kampus yang menggunakan arsitektur lokal. Yang anda temukan hanyalah kampus-kampus yang dibangun dengan arstitektur minimalis, tidak banyak filosofi yang bisa dibanggakan darinya. Salah satu kampus (ITHB) bahkan dibangun dengan gaya Empire, dengan pilar-pilarnya yang megah, suatu gaya yang ditinggalkan Belanda karena “tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan tidak cocok dengan iklim tropis”. Kampus-kampus di jalan Dipati Ukur ini bahkan tidak dilengkapi dengan taman-taman sebagai sarana interaksi dan belajar yang sehat, sehingga terpaksa mahasiswanya lebih banyak menghabiskan waktu di kostan atau café bagi yang lebih beruntung. Ini baru satu contoh.

Tidak jauh dari kampus ITB, Aleut melewati taman ganesha, yang dulunya memiliki satu kolam, ternyata sekarang memiliki tiga kolam berukuran raksasa ! Taman ini memang berada di elevasi yang lebih rendah dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, jadi wajar saja kalau hujan gede, taman ini bakal menjadi muara bagi aliran air yang berasal dari sekitarnya. Dahulu, Perancang taman ini sudah mempertimbangkannya sehingga mereka membuat dua buah selokan kecil, sebagai sarana aliran air yang terkumpul di taman. Sayangnya kedua selokan ini sudah tidak ada, akibatnya mau nggak mau air akan menggenangi taman ini, membawa sampah-sampah, mematikan vegetasi-vegetasi kecilnya, dan menghasilkan tanah becek yang tidak enak dipandang.

Lihatlah bagaimana Belanda mendesain perumahan-perumahannya dengan apik, dengan taman-taman sebagai pusat interaksi dan penunjang kesehatan, mereka juga berkepentingan menjaga kesehatan warga pribumi (seperti yang kita lihat di gempol), karena warga pribumi ini bekerja untuk mereka tentunya. Namun, merubah mental pribumi itu pekerjaan berat lain.

Tahun 1920’an, H.F. Tillema seorang apoteker di Semarang mencatat bahwa di masa tersebut orang-orang Pribumi masih kerap “Buang Hajat” di tengah jalan disamping kebiasaan buruk lainnya. Menurut catatannya, “Hari demi hari, Sidin, begitu kita sebut tukang kebun pribumi itu, membuang sampah dari rumah majikannya, dari dapur dan dari warung-warung… Bukannya ke tempat sampah, melintasi pagar,melainkan dengan tangannya yang halus, ke Jalanan…”

Tradisi ini masih kita pegang hingga sekarang, dengan “Tiisnya” kita membuang bungkus Cilok, gorengan, botol-botol plastik ke jalanan seperi Sidin si tukang kebon di tahun 20.

Nah, Pemerintah kota sekarang, yang dikenal dengan julukan “Wagiman”, walikota gila tanaman memiliki ide bagus. “Mengapa tidak kita pagari saja taman-taman tersebut, agar tidak dapat dimasuki dan dirusak oleh orang-orang pribumi…”

Jalan lagi dikit ke jalan sekitar perempatan Sultan Agung Tirtayasa, disini bisa diliat bangunan-bangunan dengan arsitektur kembar, yang didesain secara simetris. Ini adalah buah dari perancangan kota saat itu yang berkiblat ke barat. Sejak 1909, di Hindia Belanda perencanaan kota yang berhubungan dengan arsitektur bangunan di dalamnya diatur dengan sangat ketat, rancangan gedung pemerintahan, sekolah, pegadaian, kantor pos, dan penjara di koloni harus mengikuti pedoman resmi : Untuk setiap jenis gedung, telah ditetapkan sebuah keputusan, apa yang disebut “Rencana Normal”, dari situ hanya variasi yang diizinkan,,,

Apakah pemerintah saat ini punya arahan ?, So pasti punya, Lalu apakan arahan tersebut diaplikasikan, Hmm,, tentu saja, nanti akan saya instruksikan pada jajaran terkait,,, Begitulah kira2 percakapan fiktif saya dengan pejabat pemerintah.

Coba lihat di Dago dan Cipaganti, Yang dahulunya didesain sebagai perumahan Villa, yang daripada bangunan2nya tidak boleh berpagar dan tingginya gak boleh melebih tiga lantai untuk menjamin ketersediaan cahaya bagi para penghuninya. Kini bangunan-bangunan tersebut berdiri semaunya, peduli amat tetangga dapet cahaya matahari atau nggak. Mereka juga berlomba meninggikan pagar, bagai Belanda yang takut diintai pribumi…

Ini adalah sesuai dari catatan B. de Vistarini, seorang arsitek Hindia Belanda yang menyatakan bahwa pada awal kedatangannya di nusantara, pemukim Belanda pertama membangun rumah-rumahnya dengan sangat tertutup. Dan bahkan hingga abad ke-XX mereka masih belum bisa melepaskan diri dari ketakutan terhadap Pribumi. Menurut Cuypers, di tahun 1919, rumah-rumah orang Eropa biasanya ditutupi oleh tembok yang dibangun mengelilingi seluruh bangunan, hanya dengan satu pintu masuk di bagian depan, dan satu lagi di belakang.

Nah lho, kaum elit negeri ini telah menjelma menjadi Belanda !

Akhir kata, Saya menganalogikan pendudukan Belanda bagai seorang ayah tiri yang galaknya bukan main, sering menghina, menyiksa, dan memperbudak kita, namun beliau telah mati dan meninggalkan warisan yang sangat berharga. Lalu apakah kita akan membuang warisan tersebut ? Apakah tidak lebih baik apabila warisan itu kita gunakan sebagai modal guna perbaikan kelangsungan hidup kita ke depan…

Catatan seorang pelajar ITH tahun 30’an…

By : Muhammad Ryzki Wiryawan
Perkenalkan, nama saya Moehammad Hassan Windoedipoero. Hari ini, tanggal 07-06-09 saya akan mengulangi masa-masa muda semasa masih menjadi pelajar di Indische Technische Hoogeschool melalui perjalanan yang diadakan Klab Aleut…

Perjalanan ini cukup berat bagi orang seusia saya, tetapi gairah yang terpancar dari mata para pemuda-pemudi Klab Aleut untuk mengapresiasi sejarah dapat memulihkan kekuatan masa muda saya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila ada data yang salah, karena ingatan saya yang sudah cukup memudar seiring waktu.

Saya (tengah) bersama Mas Kusumo (Kiri) dan Karman (Kanan)
Saya dan Saidi, membelakangi kampus ITH
Baiklah, pertama-tama Klab Aleut mengajak saya mengunjungi tempat saya kuliah dahulu. Indische Technische Hoogeschool pertama kali dibuka tahun 1921 oleh prakarsa dari para pengusaha-pengusaha Belanda yang sukses serta perkembangan Kota Bandung yang menuntut ahli-ahli tehnik dan arsitektur. Sebelumnya, arsitek-arsitek kolonial hanya dihasilkan dari Sekolah Tinggi Tekhnik di Delft Belanda. Hingga kemudian kritik2 bermunculan bahwa lulusan dari sekolah tinggi tersebut memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang kondisi lingkungan dan budaya tropis di hindia belanda, oleh karena itulah perlu dibangun sekolah khusus teknik dan cabang2 ilmunya di hindia Belanda ini. Bandung patut bangga karena Kota ini dianggap cukup layak untuk ditempati komplek sekolah bergengsi ini.

Kampus ITH 1930’an
Rancangan Komplek ITH oleh Maclaine Pont

Kalau membicarakan ITH, mau tidak mau kita akan membicarakan peran Henry Manclaine Pont (1879-1955) yang merancang bangunan-bangunan di ITH ini. Detail2 yang mencolok dalam proses pembangunan ITH menyangkut peran dua guru Maclaine Pont , yaitu Klopper dan Klinkhamer. Prof.Ir. J. Klopper adalah direktur utama ITH saat itu, saya ingat sekali pernah berpapasan dengannya sesekali kala berangkat kuliah. Kemudian saya baru tahu kalau tuan Klinkhammer adalah keponakan dari K.A.R. Boscha, seorang humanis dan pengusaha perkebunan teh terkenal di Priangan.

Beberapa Anak Aleut memperhatikan sebuah plakat yang berisi nama-nama donatur pembangunan ITH. Ya, benar sekali, sekolah ini dibangun atas dana swasta, karena permintaan masyarakat luas akan insinyur-insinyur handal di hindia belanda. Baru 4 tahun kemudian ITH beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda. Sampai saat didirikannya Sekolah Tinggi Teknik ini, jarang ada perhatian terhadap perancangan arsitektural. Baru kemudian muncullah diskusi-diskusi dan perdebatan mengenai bentuk arsitektur yang cocok untuk kawasan tropis hindia Belanda.

Suasana perdebatan ini sangat santer terasa apabila anda sempat merasakan masa muda yang saya alami sebagai mahasiswa di sekolah teknik ini. Jurnal-jurnal yang diterbitkan saat itu banyak membahas perseteruan antara dua guru besar kampus ini, yang tidak lain adalah Tuan Schoemaker dan tuan Maclaine Pont. Keduanya sama-sama lahir di nusantara, Schoemaker lahir di Banyu Biru, sedangkan Pont di jatinegara, boleh dibilang keduanya memiliki latar belakang budaya yang hampir sama, tetapi pandangan arsitekturnya cukup berlawanan.

Menurut tuan Schoemaker, langgam arsitektur Indo-eropa harus tetap berhaluan pada arsitektur Eropa modern dan tidak banyak mengadopsi arsitektur lokal. Itulah sebabnya rancangan-rancangan beliau tampak kagok dalam menempatkan unsur-unsur lokal dalam karyanya. Lihatlah toko buku Van Dorp dan Societet Concordia. Unsur lokal hanya dijadikan ornamen tanpa arti. Saya lebih menyukai pandangan Maclaine Pont yang berani mengadopsi gaya arsitektur lokal, tetapi dipadukan dengan teknik arsitektur modern. Contohnya adalah bangunan kampus ITH ini, walau dikenal sebagai bangunan bergaya Indo-eropa pertama di hindia Belanda, muncul banyak kritik bahwa Maclaine Pont tidak tepat dalam menempatkan bangunan bergaya Minangkabau dalam lingkungan sunda. Di luar itu, perhatian besar maclane Pont terhadap arsitektur dan budaa lokal patut diapresiasi. Dalam satu jurnal, Wolff Schoemaker pernah mengomentari gedung2 sekolah tinggi teknik bandung sebagai berikut ,”Sekolah Tinggi Teknik dirancang dengan pemakaian contoh dari beberapa ciri khas bangunan Minangkabau, yang di Jawa berada di tanah asing”.

Rancangan Aula Barat ITB oleh Maclaine Pont

Ada satu hal yang menarik, Tuan Wolff Schoemaker sehari-harinya mau tidak mau harus berada dalam gedung rancangan Maclaine Pont saingannya. Dalam beberapa kuliahnya yang saya alami, beliau menjuluki rancangan Maclaine Pont ini sebagai,“Peniruan bentuk yang dibuat-buat” serta meragukan kegunaan “suatu peniruan bentuk atap Sumatera, yang mengakibatkan kobocoran serius?.

Baiklah, kita lupakan dulu segala perdebatan ini dan beralih kepada taman Indah yang berada di poros selatan Kampus ITH. Dahulu saya kerap bersepeda bersama teman-teman mengelilingi taman ini. Saya ingat sekali, jalan yang sekarang bernama jalan ganesha, dulunya bernama Hoogeschoolweg, sedangkan di sebelah selatan taman ini, yang sekarang bernama jalan Gelapnyawang dulunya bernama MaclainePont Weg. saya dan teman kadang berkelakar bahwa tuan Schoemaker tidak akan pernah bersedia untuk melewati jalan bernama saingannya ini.

Taman indah ini didedikasikan untuk Tuan Yzerman, karyawan pegawai staats spoorwegen-SS (Jawatan Kereta Api Negara) dan merupakan salah seorang penggagas pendirian ITH. Dahulu di ujung taman ini terdapat patung dada beliau. Sayangnya patung ini ditebas di masa kemerdekaan Indonesia. Sungguh disesalkan…

Saya, Kusumo dan Kardi bergaya di depan patung Yzerman

Muda-mudi ITH kerap beristirahat dan bercengkrama di taman yang asri ini (kalau tidak salah ada juga salah satu pegiat aleut yang bernama Asri) Ya, Kalau dilihat dari angkasa, jalur di taman ini akan membentuk huruf “Y”, dari inisial Yzerman. Di taman ini pula terdapat dua kolam berbentuk lingkaran, salah satunya memancarkan air. Ada juga peneduh-peneduh berbalur daun yang diatur dengan sangat apik. Kemudian kalau anda perhatikan di belakang patung ini, terdapat plakat-plakat yang menunjukan lokasi gunung-gunung yang memunggungi Bandung dari arah selatan beserta ketinggiannya. Dahulu saya masih bisa melihat jelas lekuk-lekuk gunung ini dari taman ini, sayangnya sekarang sudah tidak bisa.

Landscape taman Yzerman

Taman ini dibangun agar bisa merekam kondisi taman-taman di Eropa, sebagaimana kawasan Bandung utara memang diatur berdasarkan konsep tuinstaad atau Kota taman. Anda tidak perlu jauh-jauh ke negeri Belanda untuk merasakan nuansa Eropa, dahulu anda cukup untuk mengunjungi taman Yzerman ini. Jangan lupa membawa sebuah buku menarik serta sekeranjang roti dan sebotol susu.

Klab Aleut ini memang keterlaluan, tanpa melihat usia saya yang renta, mereka terus mengajak saya untuk mengunjungi lokasi lainnya,, baiklah akan saya turuti kemauan pemuda-pemudi gagah ini… Semoga pengalaman yang pernah saya alami dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak muda ini…
(bersambung)

Brievenkart berlatar taman Yzerman

Ngaleut Taman Episode 1

By : Adri teguh Bey Haqqi
Bandung, Minggu 07 Juni 2009.

INFO ALEUT : ayo kita jelajahi taman kota dan rumah kolonial.kumpul di jalan sumur bandung no.4 hari minggu 070609 jam 07.07 pagi.
Seperti itu pesan yang saya terima dari seorang pegiat aleut pada hari sabtu tanggal 060609.*isi singkatnya.

berhubung suka telat jadi aku saya adri teguh bey haqqi berencana akan menginap di rumah pa koordinator jalan sumur bandung no.4 supaya dibesok hari tidak akan telat berkumpul dan bisa mengikuti brieving bersama.
saya mengajak pegiat aleut yang lainnya tetapi yang mau diajak saya cuma ica ama caca.tak apalah daripada ga ada teman.

ica ma caca lg tidur.

ternyata tidur di rumah orang lain juga sama saja, bangun telat. baru bangun pukul 07.00 wib lebih dikit lah. itu juga bangun gara gara denger suara yang parau serak serak basah ciri khas om bang br ridwan.
langsung ajah melakukan ritual trus mandi dulu. eh beres mandi ada bala bala satu keresek penuh ternyata teh widi yang bawa. alhamdulillah rezeki mah dateng darimana wae. terima kasih teh widi.
beres mandi dll tuh jam 07.30 am dan masih banyak pegiat yang belum tiba di sumur bandung no.4 ini.

pukul 08.00 wib semua pegiat yang akan ikut ngaleut telah datang semua. ada bang ridwan,om adhi,a ayan,ibu budi,kang asep,teh cici,teh dila,teh widi,teh uti,teh dinda,teh uni,a ajay,a candra,a indra,teh adinda,a yanto,a elgy.
setelah melakukan briping mengenai jalur yang akan dilewati dan berdoa bersama demi keselamatan semua akhirnya kita pun melangkahkan kaki menuju taman pertama yang akan di lewati.

brivingan..
serius..

tidak jauh dari sumur bandung no.4 kita telah tiba di sebuah taman segitiga di belakang itb simpang tiga gitu.
padahal baru jam 8an tapi si cahaya matahari terik sangat panas sekali menyengat kulit kita.
di simpang tiga ini bang ridwan menerangkan mengenai suasana sekitar siliwangi pada zaman dulu dan kemudian menjelaskan sebuah park yang dulunya itu jubileum park dan sekarang sudah menjadi kebun binatang bandung.
ternyata dulu itu sebagian besar taman sari dari taman sari sampai lebak siliwangi adalah jubileum park. pada tahun 1923 taman ini diresmikan untuk memperingati jubileum ratu wilhelmina dari Belanda.
dulu di bagian selatan jubileum park ada prasasti jubileumpark. sampai tahun 50-an masih bisa dilihat, tetapi setelahnya tidak tahu ada dimana.

di simpang tiga.br menjelaskan jubileum park

kemudian kita melanjutkan kembali perjalanan memasuki kawasan kampus itb.
itb merupakan kampus pertama yang ada di hindia-belanda. dulunya Technische Hoogeschool (THS) yang diresmikan pada tahun 1920.
para pegiat berjalan-jalan di dalam kampus itb yang udaranya sejuk, damai, aman, tenang, tentram, sedikit kendaraan yang melintas, dan sesekali terlihat para mahasiswa yang sedang melakukan joging atau berlatih taekwondo dan karate juga mahasiswa yang sedang berdiskusi.*beda banget lah ama unpad nangor mah komo deui upi jauh!!hehe..
kita dikejutkan oleh sebuah cerita dari BR kalau di THS ada gedung yang kayak gedung kuliah di harvard gitu. kita berharap bisa masuk ke gedung Fisika itu, namun sayang di gembok. kita hanya bisa mengintip dari sebuah lubang kecil.*bari jeung teu kaciri.
di dalam itb saya menemukan beberapa plakat yang masih menempel di dinding-dinding gedung.banyak plakat yang ada nama boscha nya. opa boscha ini adalah salah seorang donatur pendiri ths.
dari yang saya lihat gedung gedung itb bentuknya unik. gedungnya beratap gaya minangkabau tapi pondasi bergaya eropa.keren!!
oh ternyata gedung nya itu karya Ir. Hendri Maclaine Pont.

para sesepuh..

keluar dari THS kita sudah disuguhi oleh sebuah taman lagi.nama tamanya itu ijzerman park.sebagai tanda terima kasih buat bapak Dr.Ir.J.W.Ijzerman yang sangat berjasa besar dalam pendirian THS, maka pada tahun 1919 dibangun sebuah taman yang sangat indah,rapih,artistik sehingga apabila kita lihat dari udara akan terlihat seperti huruf Y.
kata BR tahun 80an si taman ini masih asri (bukan cici) terus ada air mancur kursi taman terowongan dari pohon merambat gitu, terusterus ada di belakang patung kubus ga jelas yang tembok setengah lingkaran ada nama-nama gunung yang mengelilingi Bandung.HEBAT!!
selain itu juga di pintu masuk taman bagian utara didirikan sebuah patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman. tahun 60-an patungnya diganti jadi patung ganesha. patung ganesha diganti dengan patung yang katanya artistik terbuat dari logam anti karat sampai sekarang.
katanya patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman tersimpan di dalam gedung rektor itb di simpang tiga sulanjana taman sari. tapi tidak tahu juga, karena saya sendiri belum melihat.
sekarang tuh nama tamannya berubah jadi taman ganesha.

Referensi :

http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/izjermanpark.html

http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/jubileumpark.html

http://bandungtempodulu.com/gedung_arsitektur_belanda/gedung_sekolah/technische_hoogeschool.html