Suatu Subuh di Pasar Andir

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

pasar andir street photography 3

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil…

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Nietzsche menulis Also Sprach Zarathustra ini di tahun 1883, dan kita tak tahu persis apa pasar baginya. Bukankah pasar adalah tempatnya kebersamaan yang semu, hubungan antar-manipulatif, perjumpaan yang sementara dan hanya permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing cuma memikirkan kebutuhannya sendiri agar terpenuhi? Bukankah pasar adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir?

pasar andir street photography 1

pasar andir street photography 8

Tapi saya sedikit setuju dengan sang Rasul Zarathustra soal agar pergi keluar dari pasar, pergi menjauh dari tempat jijik dan tak beraturan ini. Kemudian lari ke supermarket. Tentu saja, di pasar tradisional tak ada rak-rak rapi dengan kemasan barang warna-warni.  Tak ada lemari-lemari pendingin. Tak ada AC. Tak ada ketenangan yang menyebabkan suara sepatu terdengar enak menginjak lantai, dan gadis-gadis penunggu berbicara sedap.

pasar andir street photography 5

Pasar bukanlah sesuatu yang indah – apa pun yang dikatakan para turis.

Sebuah centang perenang. Di sebelah sini, di lapak tukang daging, berhimpun serpihan usus, keratan tulang, bercak-bercak darah hewan yang anyir. Di pojok di dekatnya, penjual kue. Lalat-lalat hijau hinggap bolak-balik. Aroma tajam berbaur. Udara lembap, permukaan becek.

pasar andir street photography 4

Dan bau itu, kesumpekan itu, dari lapak ikan kering, dari wadah-wadah jengkol, dari bawang dan daun kol yang sebagian membusuk, seakan-akan bersekutu: menaklukan pancaindera.

Larilah menuju supermarket!

pasar andir street photography 2

Pasar memang bukan sebuah selingan estetis. Tapi tidak berarti ini bukan tempat terhormat. Justru ia suatu dunia, juga suatu fungsi, yang sudah sejak dulu seharusnya lebih dihormati – dengan segala kekumuhannya. Sebab di sinilah bertemu, dan sekaligus bergulat, apa yang oleh para ahli disebut “sektor informal”. Di sinilah tempat para pengecer, pedagang kecil, penghuni warung kecil, penyewa lapak yang kecil berkeringat dan meraih nafkah.

pasar andir street photography 6

Ya, ada gambaran lain: di kancah pasar bisa ada tipu daya, persuasi, tekanan, pengisapan namun juga dialog, proses belajar dan kesempatan kreatif. Bukankah sang filsuf besar Socrates pun menimba pengetahuan dan kearifan dari pasar?

| Lihat: Socrates dan Street Photography

pasar andir street photography 7

Inilah secuil potret Pasar Andir, sebuah teater yang akan terjadi mulai dari menjelang malam hingga pagi mengganti.

Inilah Pasar Andir, sebuah pasar yang terletak paling barat Kota Bandung: lokasinya di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman. Berada di terusan Jalan Rajawali Timur – Jalan Kebon Jati, juga dari Jalan Jenderal Sudirman. Lokasinya sebelah selatan Pasar Ciroyom.

Inilah pasar tradisional dengan segmen menengah ke bawah. Mungkin kumuh, tapi tetap terhormat. Ada jijik pun bajik. Dan setiap masuk pasar, selalu timbul nostalgia, ketika saat bocah pasti saya akan merengek minta dibelikan mainan pada sang bunda.

pasar andir street photography 9

Post-scriptum:

Inspirasi teks dari esai Goenawan Mohamad dalam “Zarathustra di Tengah Pasar” dan “Catatan Pinggir: Los”. Inspirasi esai foto dari proof.nationalgeographic.com.

Semua manusia yang terpotret adalah individu, orang yang punya kehidupan, bukan hanya model anonim. Dan maaf saya mencuri adegan kalian demi kepentingan estetis pribadi, tak bisa memberi kredit apapun.

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/12/suatu-subuh-di-pasar-andir/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s