Suatu Subuh di Pasar Andir

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

pasar andir street photography 3

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil…

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Nietzsche menulis Also Sprach Zarathustra ini di tahun 1883, dan kita tak tahu persis apa pasar baginya. Bukankah pasar adalah tempatnya kebersamaan yang semu, hubungan antar-manipulatif, perjumpaan yang sementara dan hanya permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing cuma memikirkan kebutuhannya sendiri agar terpenuhi? Bukankah pasar adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir? Baca lebih lanjut

Ramadhan Kecil Dari Halteu Utara

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Suasana Jalan Halteu Utara

Suasana Jalan Halteu Utara

Pikiran saya agak kacau sore itu. Dengan mengemban banyak beban, saya mengambil satu obat bernama jalan di sore hari. Rute yang diambil berada di sepanjang Jalan Halteu Utara.

Pas sekali, sore itu adalah waktu pemuda dan pemudi, tuan dan nyonya keluar menikmati angin dan suasana sore hari. Sore itu semakin pas karena hari itu adalah hari ke empat di bulan Ramadhan. Dikarenakan di minggu pertama di bulan Ramadhan, suasana khas bulan Ramadhan terasa kental di Jalan Halteu Utara.

Ramadhan tidak pas kalau tidak membeli bekal untuk berbuka puasa. Nah, karena alasan itu, saya membeli satu bungkus tahu bulat ke pedagang yang berjualan di dekat rel kereta api. Sambil menunggu tahu bulat matang, saya mengobrol basa – basi dengan pedagang tersebut.

“Cep, tinggal di mana?”

“Saya mah tinggal di Logam tapi sering main ke sini. Akang sendiri dari mana?”

“Dayeuh Kolot. Ke sini hanya jualan tahu bulat doang”

“Tidak cape kang?”

“Mau apa lagi, cep. Tiket kereta api dan bis mahal. Anak – anak mau ketemu nenek dan kakeknya, cep”

“O,”

Setelah membeli satu bungkus tahu bulat untuk berbuka puasa, saya mengelilingi dan mengamati keadaan sekitar Halteu Utara. Mulai dari pedagang kain hingga pedagang sosis bakar menghias pemandangan Halteu Utara sore itu. Tidak sedikit, ada anak kecil menangis karena tidak dibelikan keinginannya di sela – sela pedagang. Sungguh suasana Ramadhan yang khas!

Selesai mengobrol, saya jalan ke arah Pasar Ciroyom. Setelah jalan sekitar 150 meter, bau tak sedap tercium kuat oleh saya. Bau tersebut berasal dari tumpukan sampah dan tempat pemotongan ayam. Tapi dibalik bau tersebut, saya bertemu dengan kumpulan anak kecil yang sedang asik bermain di daerah tersebut. Dengan ragu – ragu, saya bertanya mereka sedang apa.

“Lagi apa, cep?”

“Lagi ngabuburit, kang.”

“Loh, kok ngabuburit di sini? Engga risih sama bau?”

“Geus biasa, kang. Di dieu mah lumayan lega keur main bola”

“O,”

Setelah bercakap dengan mereka, saya kembali ke rumah. Ada satu pikiran baru yang tercantol di antara pikiran lain. Di antara ingar bingar Ramadhan, masih banyak cerita kecil yang jarang diketahui orang atau mungkin hanya dilihat sekilas oleh orang. Mulai dari pengorbanan yang dilakukan kepala keluarga untuk pulang kampung hingga cerita ngabuburit anak kecil di sekitar tumpukan sampah. Sungguh Ramadhan yang baru untuk saya!

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/06/26/ramadhan-kecil-dari-halteu-utara/