#PojokKAA2015: Maung Tapi Singa

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Puncak perayaan peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika tinggal beberapa hari lagi. Persiapan di sekitar Gedung Merdeka dan Museum Asia-Afrika sudah tinggal memasuki tahap finishing. Lampu-lampu penerangan jalan umum (PJU) bergaya klasik dipasang di sisi ruas Jalan Asia-Afrika, Jalan Naripan, dan Jalan Cikapundung Timur.

C360_2015-04-21-10-53-57-070

Lampu ini tak hanya memiliki fungsi menerangi jalan saat sang surya sedang beristirahat, namun juga memiliki nilai estetika yang bisa dinikmati saat ia sedang bertugas. Bagian tiang lampu diberi dudukan sehingga dengan mudah kita temui banner Soekarno dan Mandela di sisi kanan dan kirinya. Di bagian atas lampu bertengger sesosok binatang sebagai pelengkapnya. Binatang ini terlihat seperti seekor maung, namun dari sudut berbeda juga terlihat seperti seekor singa. Eh? Singa?

Singa dan Simbol Kolonialisme

Sebagai penggila sepakbola, maung akan kental sekali konteksnya dengan Persib Bandung dan Hull City. Iya, Hull City, klub Liga Inggris itu memang menggunakan maung sebagai lambang klub mereka. Hull City dijuluki The Tigers.

Sedangkan konteks singa di pikiran saya identik dengan Arema, Inggris, dan Belanda. Di luar polemik kepemilikan yang terjadi saat ini, Arema selalu diidentikan dengan julukan ‘Singo Edan’. Inggris? Kesebelasan nasional mereka terkenal dengan julukan ‘The Three Lions’, sebagaimana lambang Asosiasi Sepakbola Inggris yang berlambang tiga singa jengke. Belanda? Setali tiga uang dengan Inggris, Belanda menggunakan singa sebagai lambang Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB) yang mengadopsi dari lambang negara mereka.

Baik Inggris dan Belanda, keduanya berkaitan erat dengan kolonialisme. Beberapa daerah yang pernah dijajah Inggris kini masih berstatus “Negara Persemakmuran”. Belanda? Ah semua orang juga tahu bagaimana hubungan antara Belanda dengan Indonesia di era kolonial.

Beberapa negara di Asia-Afrika pernah dijajah oleh setidaknya satu dari dua negara ini. Luar biasanya, Indonesia pernah dijajah oleh dua macam singa ini. Singa Oranye memang menduduki Indonesia lebih lama dari Tiga Singa, ya tapi rasa pedihnya sama saja. Tak ada bangsa manapun yang ingin dijajah, bukan?

Maung-Singa, Simbol Persaudaraan

Lupakan soal simbol kolonialisme. Polemik maung atau singa ini punya konteks yang baik bagi hubungan Asia- Afrika. Asia seringkali dikaitkan dengan binatang maung (macan), bahkan moto ‘Macan Asia’ pernah digunakan salah satu calon presiden dalam Pemilu 2014 kemarin. Singa? Seperti yang kita ketahui setiap melihat acara satwa, terutama dalam acara bagaimana kumpulan singa hidup, setting-nya hampir selalu berada di Afrika. Tak heran mengapa Afrika selalu diidentikan dengan singa.

Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung pun sudah masuk ke dalam hitungan jam. Maung-Singa ini bisa jadi bentuk persaudaraan yang baik antara kedua benua. Dua ekor kucing besar yang buas bersiap menerkam dunia.

Namun, alangkah baiknya jika pihak pemerintah mengklarifikasi apakah binatang yang sebetulnya dipasang di puncak PJU yang baru ini. Saya pribadi yakin ini maung karena Kang Emil pernah menjelaskan di Twitter kalau itu adalah maung. Tapi tentu sajatidak semua orang melihat twit Kang Emil dan tak sedikit pula yang beranggapan kalau singa lah yang terpasang di puncak PJU.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s