Titik Nol Kilometer Bandung

Oleh : Arya Vidya Utama

Sesuai janji, saya lanjutkan ke seri berikutnya. Kali ini tentang Titik Nol Kilometer Bandung, yang merupakan salah satu trademark kota yang memiliki sebutan Kota Kembang.

Semua orang tentu sudah tahu siapa Herman Willem Daendels.

Ya, dia adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mempunyai mega proyek jalan raya pos dari Anyer hingga Panarukan. Daendels ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda oleh Raja Perancis, karena saat itu Belanda sedang dikuasai Perancis. Sekitar 30.000 pribumi terbunuh dalam mega proyek tersebut, jumlah yang sangat banyak. Walaupun terkenal dengan kekejamannya, Daendels merupakan orang yang punya jasa dalam pembangunan Kota Bandung.

Sebenarnya kalau kita perhatikan, jalan raya pos Anyer-Panarukan itu membentang di sekitar pantai utara Pulau Jawa, namun mengapa jalan tersebut belok ke daerah Bandung? Karena pada saat itu hasil bumi dari Priangan sangat banyak, dan dibelokan karena jalan ini juga mempunyai fungsi untuk mengangkut/jalur distribusi hasil bumi tersebut.

Lalu mengapa di tempat itu dijadikan titik nol kilometer Bandung? Jalan raya pos (groote postweg) di daerah Bandung harus membelah sungai Cikapundung, maka dibangunlah sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan tersebut. Pada hari peresmiannya, Daendels bersama Wiranatakusumah II, yang menjabat sebagai Bupati Bandung saat itu, sedang berjalan ke arah timur. Lalu pada suatu titik, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang kurang lebih artinya “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Seperti yang kita ketahui, Bandung, pada tahun 1800-an awal, belum menjadi sebuah peradaban seperti Batavia atau Cirebon.

Tak lama setelah kejadian tersebut, terbitlah sebuah surat perintah yang isinya meminta perpindahan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke sisi Groote Postweg. Dan tempat dimana konon Daendels menancapkan tongkatnya dijadikan titik nol kilometer Bandung.

Namun setelah Bandung menjadi sebuah kota, konon (lagi) Daendels tidak pernah kembali ke Bandung, karena pada saat itu masa jabatan Daendels di Hindia Belanda sudah habis dan diganti.

Dan, apa ada hubungan antara titik nol kilometer Bandung dengan stoom walls yang ada di gambar atas? Jawabannya tidak, hanya kebetulan saja karena kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat berada di depan titik nol kilometer Bandung :D

Tambahan:

Tanda “CLN 18″ pada tugu menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah timur adalah Cileunyi, dengan jarak 18 km. Sedangkan “PDL 18″ menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah barat adalah Padalarang dengan jarak 18 km.

Dikutip dari data Komunitas Aleut!

Original Post : http://aryawasho.wordpress.com/2011/08/11/titik-nol-kilometer-bandung/

Cerita Pasang Surutnya Bioskop Majestic Bandung

Oleh : Arya Vidya Utama

Sesuai janji kemaren, sekarang saya mau lanjutin pengalaman sekalian bagi ilmu tentang pemanduan sebelumnya. Dan… *jengjreng*

Majestic Bioscoop

Dibangun pada tahun 1924, didesain oleh C.P. Wolff Schoemaker dan dikerjakan oleh Biro Arsitek Soenda. Terletak di Bragaweg (Jalan Braga), bioskop ini masih ada hubungan dengan bangunan di sebelahnya, Societeit Concordia (sekarang Museum Konprensi Asia-Afrika, telah dibahas disini) sebagai sarana hiburan tambahan orang-orang yang berkumpul disana. Bagian atas dari bangunan ini menyerupai kaleng biskuit, yang membuat bioskop ini disebut juga Bilken trommel. Sebagaimana pada umumnya bangunan yang dibangun oleh C.P. Wolff Schoemaker, bangunan ini bergaya Eropa namun juga memiliki ornamen Nusantara yaitu kala.

Kursi bagi penonton didalamnya dibuat bertingkat, mirip seperti bioskop di masa sekarang, namun perbedaan tingkat tempat duduk akan membedakan harga tiket masuknya. Semakin bawah posisi tempat duduk, semakin murah harganya. Sedangkan harga tiket paling mahal berada di balkon. Posisi duduk di balkon pun cukup eksklusif, karena para penonton yang membayar untuk menonton di balkon akan  diposisikan seperti di café. Hal yang cukup unik adalah letak duduk bagi lelaki dan perempuan dipisahkan di sisi kanan dan kiri bioskop, meskipun bagi para pasangan yang telah menikah aturan ini dilanggar juga.

Pertunjukkan diadakan hanya pukul 19.30 dan 21.00. Mendekati saat tersebut, pelataran bioskop biasanya sudah ramai oleh berbagai kegiatan, mulai dari pedagang yang menawarkan barangnya hingga orkes yang disewa bioskop untuk memainkan lagu-lagu gembira penarik perhatian. Menjelang film dimulai, orkes mini yang biasanya terdiri atas alat musik biola, gitar, chelo dan tambur ini pindah ke dalam bioskop, untuk memberikan musik latar pada film yang dimainkan. Pertengahan tahun 20-an film bicara belum dikenal di Bandung, sehingga film harus ditingkahi oleh musik orkes beserta seorang “komentator”. Pemain-pemain orkes kerap ikut menjadi terkenal, selain karena ditonton banyak orang, juga skill musik yang dimiliki umumnya cukup tinggi. Maklumlah, permainannya harus sangat disesuaikan dengan cerita yang tengah berlangsung di layar

Film yang diputar, jangan harap berjalan selancar sekarang. Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film, yaitu rol film sepanjang sekitar 300 m. dengan durasi 15 menit. Bayangkan saja untuk film sepanjang satu setengah jam pastilah harus ada jeda lima kali sepanjang beberapa menit untuk mengganti reel. Untuk mengisi waktu, biasanya ditayangkan slide -waktu itu populer dengan sebutan “gambar mati”- reklame dari rekanan bioskop.

Sama seperti gedung Societeit Concordia, di bangunan ini juga terdapat tulisan “Verbodden voor Honder en irlander” (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi).

Pada tahun 31 Desember 1926, bioskop ini juga memutar film lokal pertama di Hindia Belanda, yaitu “Loetoeng Kasaroeng”  yang diproduksi oleh NV Java Film Company. Film ini diputar hingga 6 Januari 1927. Film ini dibuat di sekitar Bandung dan Padalarang, pemeran-pemeran di film ini merupakan pribumi  terpilih dari golongan priayi yang berpendidikan.

Namun, karena sutradara film ini berkebangsaan Belanda, film ini tidak dianggap sebagai film pertama di Indonesia (Hindia Belanda merupakan sebutan bagi Indonesia saat masih dibawah kependudukan Belanda).

Setelah masa kemerdekaan, gedung ini juga masih berfungsi sebagai bioskop bagi masayarakat Indonesia. Namun seiring bermunculannya bioskop-bioskop modern, pada tahun 80-an Majestic mulai ditinggalkan, dan hanya segelintir orang yang menonton sampai pada akhirnya bangunan ini tidak berfungsi sebagai bioskop lagi.

Sempat terbaikan, pada 2002 Majestic direvitalisasi menjadi gedung pertemuan dan berganti nama menjadi Asia Afrika Cultural Centre (AACC). Selain sebagai tempat pertunjukkan kesenian tradisional, gedung ini juga disewakan untuk kegiatan lainnya. SMA saya (SMA Negeri 5 Bandung) sempat mengadakan pra-event bazaar disini pada tahun 2007. Tidak hanya itu, karena kurangnya ruangan/tempat bagi musisi lokal untuk berkreasi, gedung ini juga digunakan sebagai tempat konser. Dan yang memilukan, pada 9 Februari 2008, 10 orang meninggal saat menonton konser band Beside di gedung ini.

Setelah mati suri semenjak kejadian tersebut, akhirnya gedung ini kembali direvitalisasi menjadi New Majsetic pada tahun 2010.

Referensi:

http://historicalofbuilding.blogspot.com/2010/12/gedung-new-majestic-aacc.html

Data dari Komunitas Aleut!

http://www.arsitekturindis.com/?p=42

http://www.syukrie.co.cc/2011/01/sejarah-film-bioskop-di-indonesia.html

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144277

http://dedidude.multiply.com/journal/item/66/KRONOLOGIS_TRAGEDI_KONSER_BESIDE_DI_AACC_BANDUNG_dari_Eben_BK

Orginal Post : http://aryawasho.wordpress.com/2011/08/02/cerita-pasang-surutnya-bioskop-majestic-bandung/