Catatan Kelas Literasi: Film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Mengapresiasi film (dan musik) sudah menjadi salah satu kegiatan rutin di Komunitas Aleut. Pada kesempatan kali ini untuk kedua kalinya digelar Kelas Apresiasi Film bagi para peserta Aleut Development Program 2020 (ADP-2020). Film terpilih kali ini adalah “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” karya sutradara Garin Nugroho.

Film ini dipilih karena menceritakan sosok Tjokroaminoto yang punya peranan penting dan sangat berpengaruh sebagai salah satu tonggak perjuangan ke-Indonesia-an.  Latar ini juga yang menjadi daya tarik dan penyemangat saya untuk menonton filmnya dengan sungguh-sungguh.

“Guru Bangsa: Tjokroaminoto” adalah film garapan Garin Nugroho yang pertama kalinya saya tonton, baru setelah usai pemutaran filmnya saya ketahui bahwa Garin merupakan sosok yang luar biasa dalam dunia perfilman. Ternyata ada banyak karya film Garin lainnya yang sepertinya selalu menjadi bahan perbincangan dalam dunia perfilman,

Sebagai penikmat film yang awam, saya membuat beberapa catatan, anggap saja sebagai refleksi random saya setelah menonton film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Tentu tidak mudah bagi saya untuk membuat penilaian-penilaian, bahkan rasanya sulit untuk sekadar mengatakan apakah film ini tergolong film yang “bagus” atau “buruk.”

Film dengan durasi dua jam empat puluh menit ini menggambarkan kehidupan dan Tjokroaminoto sedari kecil serta berbagai perjuangannya di masa dewasanya. Durasi ini cukup panjang untuk sebuah film, namun terasa masih kurang untuk menceritakan detail sosok H.O.S Tjokroaminoto.

Hemat saya, Garin hanya mengemas gambaran kasar tentang perjuangan Tjokroaminoto di Serikat Islam melawan politik Hindia Belanda, dan juga perannya sebagai guru yang akan melahirkan sosok pahlawan di masa setelahnya. Maka tentu saja film tersebut tidak akan memberikan kepuasan informasi tentang Tjokroaminoto. Namun sah-sah saja jika Garin membuat cerita seperti itu, jika ingin mendapatkan gambaran yang lebih detail mungkin harus dibuat menjadi film serial.

Pembangunan cerita pada film ini maju mundur dan perlu menyimak dengan baik agar tidak kehilangan alur. Secara umum, bayangan situasi tempo dulu cukup terbantu oleh setting lansekap, pakaian, perlengkapan, dan dialog campur-campur antara bahasa Jawa, Belanda, dan Indonesia (Melayu). Ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa adegan itu harus dimasukkan, bahkan rasanya tidak ada hubungan penting dengan filmnya secara keseluruhan. Misalnya, pada bagian tari-tarian Sukarno dengan Oetari dll yang saya kurang yakin juga kebenarannya.

Cerita dalam film ini terasa sangat hidup oleh peran aktor-aktor yang handal, terutama pemeran utama sebagai Tjokroaminoto, Reza Rahadian. Ekspresi wajah, intonasi bicara, gerak-geriknya, membuat saya terlena, jangan-jangan itu memang Tjokroaminoto dan bukan aktor Reza Rahadian. Peran-peran lain juga terasa cukup meyakinkan, seperti Semaoen, Moesso, Agus Salim, dll.

Namun saya masih dibuat bingung oleh sosok Stella yang diperankan oleh Chelsea Islan, bukan berarti Chelsea berperan buruk, namun ada kekurangan dalam perannya sehingga saya tidak menemukan sosok Stella dalam diri Chelsea. Begitu juga ada beberapa peran rakyat yang tidak begitu mendalami perannya, sehingga menjadi tidak sempurna.

Pembuatan suasana akhir abad 19 dan awal abad 20 membuat saya cukup puas menontonnya. Saya seperti betul-betul barada dalam masa itu. Tata rias dan busana terasa sangat mewakili zamannya, apalagi perbandingannya pun dapat saya lihat dalam film karena dalam beberapa bagian ditayangkan juga beberapa foto lama. Semua suasana lama yang dibikin untuk pembuatan film pada tahun 2015 ini ternyata mampu membuat saya larut dalam gambaran masa lalu yang disampaikan.

Selain oleh Tjokroaminoto, saya juga takjub pada sosok Ibu Suharsikin. Beliau selalu mendukung, setia, dan berkorban dibalik sesosok H.O.S Tjokroaminoto. Ini mengingatkan saya kepada kata-kata murid dari Tjokroaminoto yaitu, Buya Hamka. Katanya, “Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk.”

Selain catatan di atas, saya sebenarnya sering kurang menangkap alur cerita dan hubungan sebab-akibat beberapa adegan, seperti apa hal pertama yang membuat Tjokroaminoto menjadi sangat dikenal di kalangan rakyat, atau apa penyebab konflik antara orang Tionghoa dan orang pribumi yang dapat diredakan begitu saja oleh Tjokroaminoto.

Segitu saja catatan saya, tapi ketika berdiskusi usai pemutaran film, ada beberapa hal lain yang disampaikan oleh temen-temen ADP, sebagian yang saya tangkap saya catatkan juga saja di sini.

Inas merasa bagian musiknya terasa mengganggu dan mendapatkan penjelasan dari diskusi bahwa musiknya memang tidak sesuai zaman, misal “Surabaya Johnny” yang dalam film dinyanyikan tahun 1906 padahal lagunya baru terbit tahun 1929. Begitu juga lagu dengan judul “Terang Boelan” yang baru populer tahun 1937-1938.

Kesan dari Ervan adalah bahwa banyak tokoh yang muncul dalam film tapi tidak dijelaskan dengan baik siapa-siapanya, sehingga terasa cukup membingungkan dalam mengikuti alur cerita. Pahepi mengatakan bingung, sebenarnya film ini mau fokus pada tema apa. Hal ini ditambahkan oleh Adit, Lisa, dan Rani, dengan pertanyaan yang sama, sebenarnya inti ceritanya itu Tjokroaminoto sebagai Guru Bangsa atau peran Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam? Pahepi juga mencatat soal latar belakang pemandangan dalam adegan dengan kereta api, yang terlihat itu di Ambarawa dan bukan di Surabaya.

Ya masih banyak catatan lain yang muncul dalam diskusi, tidak hanya yang dianggap sebagai kekurangan, tapi juga kelebihan-kelebihan film ini seperti sebagian yang sudah ditulis di atas. Paling tidak film ini dapat menjadi gambaran kasar bagi mereka yang ingin mengenal siapa itu H.O.S Tjokroaminoto. Setelah beberapa film lain tentang tokoh-tokoh bangsa juga dibuat, semoga ke depannya semakin banyak film-film sejarah dan ketokohan semacam ini diproduksi agar generasi berikutnya dapat lebih kenal lagi kepada para perintis kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Semoga perfilman Indonesia terus maju dan berkembang ke depannya, dan ini pasti membutuhkan sikap kritis dari kita semua, Bangsa Indonesia.

***

Catatan Perjalanan Ngaleut Bagendit

WhatsApp Image 2019-03-03 at 8.47.11 PM

Momotoran Komunitas Aleut/komunitasaleut.com

Oleh: Mey Saprida (@meysaprida)

Memilukan, seseorang harus menjatuhkan hukuman mati kepada temannya sendiri, lantaran temannya itu melakukan pemberontakan. Berawal dari sana, saya penasaran bagaimana pemberontakan itu berakhir? Akhirnya dia yang memboncengku bercerita. Baca lebih lanjut

H.O.S Tjokroaminoto dan Pengaruhnya di Priangan

Oleh: Bagus Reza Erlangga (@bagusreza)

Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah sang Raja Tanpa Mahkota. Ia dilahirkan di Madiun pada 16 Agustus 1882 dengan gelar kebangsawanan Raden Mas, namun gelar ini ia tanggalkan dan menggantinya dengan Haji Oemar Said. Hal ini ia lakukan karena merasa gelar kebangsawanannya melekat erat dengan cap pro-kolonial. Ia memang sosok yang anti-kolonial, bahkan ia mengundurkan diri sebagai pegawai juru tulis di Madiun yang dirasa pro-kolonial untuk kemudian melarikan diri ke Semarang menjadi buruh angkut pelabuhan.  Di sini ia merasakan betul seperti apa penderitaan kaum pribumi kelas bawah.

Sepak terjang dan nama besarnya tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sarekat Islam (SI). Sarekat Islam didirikan oleh H. Samanhoedi pada 11 November 1911 dengan tujuan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan Pedagang Cina dan Kalangan Ningrat Solo. Di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi, Sarekat Islam berjalan lepas. Meski memiliki tujuan yang tinggi, kepemimpin Samanhoedi tidak dapat menjangkau anggotanya secara luas. SI tidak bisa memperluas kegiatannya yang terbatas hanya pada persaingan bisnis dengan Pedagang Cina dan Ningrat Solo saja.

Merasa organisasinya tidak berkembang, H. Samanhoedi dan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai penyusun anggaran dasar pertama, mengajak Tjokro bergabung pada Mei 1912. Pada masa itu Tjokro telah dikenal dengan sikapnya yang radikal dalam menentang perilaku feodal. Baca lebih lanjut

HOS Tjokroaminoto

Oleh @bagusreza

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, sang Raja Tanpa Mahkota. Ia dilahirkan di Madiun pada 16 Agustus 1882. Menanggalkan gelar kebangsawanan Raden Mas dan menggantinya dengan Haji Oemar Said. Mengundurkan diri sebagai pegawai juru tulis di Madiun yang sangat pro-kolonial dan kemudian melarikan diri ke Semarang menjadi buruh angkut pelabuhan, tempat Ia dapat merasakan penderitaan kaum bawah. Sepak terjang dan nama besarnya kemudian tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sarekat Islam.

Sarekat Islam didirikan di Solo oleh H. Samanhoedi pada 11 November 1911 dengan tujuan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan Pedagang Cina dan Kalangan Ningrat. Di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi, Sarekat Islam berjalan lepas. Meski memiliki tujuan tinggi, kepemimpinannya tidak dapat menjangkau anggota, Sarekat Islam tidak dapat memperluas kegiatannya yang terbatas pada persaingan bisnis dengan Pedagang Cina dan Ningrat Solo saja.

Merasa organisasinya tidak berkembang, H. Samanhoedi sebagai Ketua dan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai penyusun anggaran dasar pertama, mengajak Tjokro bergabung pada Mei 1912. Pada masa itu Tjokro telah dikenal dengan sikapnya yang radikal dalam menentang perilaku feodal. Tugas pertamanya di Sarekat Islam yaitu menyusun struktur organisasi yang jelas dan membuat ulang Anggaran Dasar Organisasi. Dengan masuknya Tjokro, Sarekat Islam melaju menjadi organisasi politik ideologis berdasarkan Islam. Sarekat Islam menjadi kendaraan politik gaya baru pada masa itu dalam mengekspresikan kesadaran berbangsa melalui penerbitan surat kabar, unjuk rasa, pemogokan buruh dan partai politik. Ia memimpikan anak Bumiputera bisa berdiri sejajar dengan Belanda.

Tidak lama setelah bergabung, Tjokro berinisiatif mengadakan Kongres Sarekat Islam Pertama di Surabaya pada tahun 1912 dengan hasil Kongres membagi Sarekat Islam ke dalam 3 yaitu Wilayah Barat meliputi Jawa Barat dan Sumatera, Wilayah Tengah meliputi Jawa Tengah dan Kalimantan, Wilayah Timur meliputi Jawa Timur dan daerah Indonesia Timur dengan Kantor Pusat yang berkedudukan di Surakarta. Tjokro tidak butuh waktu lama untuk menjadi orang yang berpengaruh di Sarekat Islam, melalui Kongres Sarekat Islam di Jogjakarta tahun 1914 Ia berhasil menggulingkan Samanhoedi dari jabatan Ketua.

Sebagai ketua, Tjokro langsung bergerilya ke semua cabang Sarekat Islam, berpidato atau hanya sekadar memberikan pemahaman mengenai visi kebangsaannya. Salah satu hasil manuvernya sebagai ketua, yaitu diakuinya Sarekat Islam secara hukum sebagai organisasi Organisasi Nasional oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1916. Setelah itu, pada tahun yang sama Sarekat Islam mengadakan Kongres Nasional pertamanya di Bandung. Program Kerja Sarekat Islam meluas, pro kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Dukungan semakin banyak, anggota di daerah semakin bertambah. Rakyat jelata memiliki identitas baru, mereka sangat antusias mengikuti kongres-kongres. Sejak awal Anggaran Dasar Organisasi yang disusun Tjokro tidak hanya berupaya melindungi kepentingan perdagangan saja, ada kepentingan lain untuk memajukan kesejahteraan dan pendidikan kaum bumiputera.

Sarekat Islam semakin berkembang ketika pengaruhnya semakin kuat di cabang-cabang mulai terjadi beberapa pergerakan yang dinilai sebagai tindakan pembangkangan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Khususnya di wilayah Jawa Barat pada tahun 1919, di Afdeling B Garut para petani menolak menjual berasnya kepada Pemerintah Hindia Belanda, terjadi kerusuhan kecil di kota tersebut. H. Gojali sebagai pemimpin pergerakan itu ditangkap. Pemerintah meggunakan kekuatan senjata untuk menghentikan kerusuhan tersebut. H. Gojali yang mempunyai hubungan dengan Sarekat Islam kemudian dijadikan dasar untuk menangkap Tjokro oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ia ditahan pada bulan Agustus 1921 sampai April 1922 tanpa ditunjukkan Ia bersalah atau tidak.

Ke Bandung-lah Sukarno Akan Kembali…

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Kota Bandung memiliki keterikatan yang sangat erat di dalam diri seorang Sukarno. Ya, meskipun ia lahir dan besar di daerah Jawa Timur, namun di Bandung-lah dirinya ditempa hingga menjadi sosok yang kini kita kenal.

Di Kota Bandung ia memulai kiprah politiknya. Awalnya ia dikenal masyarkat sebagai orator yang ulung. Kemudian, Sukarno memperluas kiprahnya dengan membentuk Partai Nasional Indonesia di Kota Bandung. Partai ini kemudian meluas hingga ke hampir seluruh pelosok Pulau Jawa. Di Kota Bandung pula ia mendekam di balik jeruji besi karena dianggap Pemerintah Hindia Belanda melakukan makar melalui pergerakan politiknya. Di Bandung, Sukarno menjadi Sukarno yang kita kenal melalui banyak sumber literasi.

Tak hanya soal politik dan pergerakan nasional, di Bandung inilah ia menemukan sosok wanita yang menjadi cinta sejatinya. Wanita yang bisa menjadi ibu, kawan, sekaligus isteri yang memang betul-betul dibutuhkan seorang Sukarno. Wanita ini bernama Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung pada 17 Februari 1888. Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.”

Sukarno pertama kali bertemu dengan Inggit saat ia indekos di Bandung. Sukarno yang pada saat itu masih menjadi menantu mentornya, Tjokroaminoto, dikirim ke Bandung untuk mengenyam pendidikan di THS (sekarang ITB). Tjokro menitipkan Sukarno kepada Haji Sanusi, seorang kawan yang merupakan anggota Sarekat Islam dan merupakan suami Inggit Garnasih.

Seiring berjalannya waktu, muncul benih-benih cinta di antara keduanya. Retaknya situasi rumah tangga masing-masing pasangan ini membuat benih cinta mereka kian bersemi. Hubungan Sukarno dengan isterinya, Utari, kian renggang karena sejak awal memang tidak pernah ada cinta di antara keduanya. Sukarno menikahi Utari semata karena ingin mengasuh anak mentornya setelah Utari kehilangan ibunya. Sedangkan hubungan Inggit dengan Haji Sanusi juga semakin renggang setelah Haji Sanusi lebih sering di luar rumah untuk berjudi bilyar.

Akhirnya Sukarno mengambil sikap. Ia mengembalikan kembali Utari kepada Tjokroaminoto, untuk kemudian menikahi Inggit. Sukarno sendiri pula yang langsung mengutarakan maksudnya kepada Haji Sanusi untuk melangsungkan pernikahan dengan isterinya. Tanpa adanya drama, akhirnya Sanusi setuju dan kemudian pasangan yang terpaut tiga belas tahun ini menikah pada tanggal 24 Maret 1923.

inggit-10

Inggit dan Sukarno (foto: Mooibandoeng)

Meskipun tidak berlatar belakang pendidikan yang tinggi seperti Sukarno, namun Inggit mampu merebut hatinya. Di dalam diri Inggit-lah Sukarno menemukan perempuan yang selama ini ia cari: sosok ibu, teman, dan isteri sekaligus. Inggit tahu persis kapan harus menjadi teman berbicara saat Sukarno membutuhkan teman untuk berdiskusi, kapan harus menjadi sosok pengayom Sukarno yang sedang rapuh, dan kapan menjadi sosok istri idaman Sukarno.

Untuk menyokong cita-cita politik Sukarno, Inggit bahkan rela berkorban. Di awal perjuangan, saat Sukarno belum memiliki uang untuk menjalankan kiprah politiknya, Inggit-lah yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus penyandang dana dengan berjualan jamu, bedak, hingga menjahit. Saat Sukarno ditahan, Inggit berkorban lebih keras lagi. Ia menurunkan berat badannya agar bisa menyusupkan surat kabar untuk Sukarno.

Pasangan yang terlihat ideal ini pada akhirnya menemui keretakan. Setelah hampir 20 tahun menikah, keduanya belum juga memiliki keturunan. Sukarno yang usianya lebih muda dari Inggit menginginkan keturunan, sesuatu yang Inggit tak bisa berikan. Maka, ia ingin menjadikan Inggit sebagai istri pertamanya, lalu menikahi Fatmawati, perempuan yang ia anggap sebagai anak angkatnya saat diasingkan di Bengkulu, untuk memperoleh keturunan.

Inggit menolak rencana ini. Sejak awal ia memang sudah punya pendirian: Inggit lebih memilih untuk berpisah dibandingkan harus dimadu. Dengan berat hati, Sukarno akhirnya menceraikan Inggit di Jakarta dengan disaksikan Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiai Haji Mas Mansur. Setelah keputusan itu diambil oleh Sukarno, Inggit merasa ia harus kembali ke Bandung, ke tempat asalnya.

Meski bercerai di tahun 1943 dan menikah sebanyak 7 kali setelahnya, rupanya Inggit masih memiliki tempat di hati Sukarno. Ya, sepertinya sejak bercerai, ia belum lagi menemukan cinta sejatinya, karena cinta sejatinya tetaplah Inggit Garnasih yang tinggal di Bandung.

“Dan aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sejati…” – Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/12/11/ke-bandung-lah-sukarno-akan-kembali/