Candu Tarawangsa

Oleh: Aozora Dee (@aozora_dee)

Pukul 4 sore aku baru pulang ke kosan setelah mengurus ini itu. Segera saja kusimpan tas di tempat penyimpanan dan langsung menuju kamar mandi. Aku harus mandi biar badan lebih segar setelah banyak kegiatan di akhir pekan ini.

Aku lepas bajuku satu persatu. Aroma kemenyan serta wewangian lain masih menempel di baju yang aku pakai kemarin malam saat ikut acara tarawangsa. Kalau kata Upi mah bau kemenyan itu kayak aroma terapi. Aromanya menenangkan. Baca lebih lanjut

Tarawangsa: Pengalaman Ekspresi Diri yang Magis dan Mistis

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Penghujung Agustus 2019 merupakan hari yang cukup sibuk untuk aku dan teman-teman Komunitas Aleut. Setelah malam sebelumnya kami pulang larut selepas menunggu dekorasi untuk Bandung Historace 2019, esok paginya kami sudah stand by kembali di halaman Museum Kota Bandung untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Baca lebih lanjut

Memahami Geografi dan Kekuasaan Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Sekarang kata “Sunda” hanya dikenal sebagai salah satu etnis di Indonesia yang mayoritas bermukim di Pulau Jawa bagian barat. Namun, siapa sebenarnya “urang Sunda”?

Pertanyaan ini setidaknya dapat diurai dengan dua pendekatan yakni geografis dan kekuasaan.

Menurut Ptolemaus, ahli ilmu bumi dari Yunani yang hidup antara tahun 90 hingga 168 Masehi, nama Sunda sudah dikenal sejak abad pertama Masehi. Kepulauan Sunda berada ke arah timur dari Ceylon. Ptolemaeus menyebut sebuah pulau subur dengan nama Javan Dwipa. (Arnold Hermann Ludwig Heeren, George Bancroft, Historical Researches Into the Politics, Intercourse, and Trade of the Principal Nations of Antiquity: Carthaginians, Ethiopians and Egyptians, 1983. hlm 452).

Sementara Edi S. Ekadjati dalam buku Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah, mengutip dari  R.W. van Bemmelen, menerangkan bahwa Baca lebih lanjut

Jalan Panjang Lahirnya Kamus Bahasa Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Pada satu pagi di akhir 1973, Ajip Rosidi seorang dosen bahasa dan sastra Sunda pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, didatangi seorang sepuh yang menyampaikan kabar bahwa dirinya baru saja menyelesaikan sebuah kamus bahasa Sunda yang digarap dari 1930.

Orang tua itu memperkenalkan dirinya sebagai R.A. Danadibrata. Ajip tentu saja kaget dan tidak percaya, sebab nama R.A. Danadibrata mulanya tidak dikenal sebagai ahli bahasa Sunda.

Saat itu, penyusun kamus bahasa Sunda identik dengan R. Satjadibrata yang telah melahirkan beberapa karya, di antaranya: Kamus Sunda-Indonesia (1944, 1950), Kamus Basa Sunda (1948, 1954), Kamus Leutik Indonesia-Sunda jeung Sunda-Indonesia (1949, 1950, 1956), dan Kamus Indonesia-Sunda (1952). Selain R. Satjadibrata, ada juga orang asing yang menjadi pelopor penyusunan kamus bahasa Sunda, yaitu Jonathan Rigg (A Dictionary of the Sunda Language of Java) pada 1862.

Ketika sang sepuh itu menyambangi rumahnya, Ajip mendapati kamus bahasa Sunda setebal 2.000 halaman. Setelah itu ia baru yakin bahwa R.A. Danadibrata telah melakukan kerja besar. Penyusun kamus tersebut menyampaikan bahwa ia mengerjakannya tidak menggunakan sistem kartu seperti umumnya para leksikografer bekerja.

Tapi dicatet anu tuluy diketik tapi sering kudu dibalikan deui ngetikna lamun aya kecap anu anyar kapanggih anu kudu diselapkeun. Kitu deui anjeunna mah ngempelkeun kekecapan keur kamus téh lain tina téks anu dimuat dina naskah, majalah atau buku, tapi ngasruk ka pilemburan jeung gang-gang leutik kota Bandung, ngajak ngobrol ka jalma-jalma anu tepung sarta nyatetkeun kumaha ngagunakeunana. Ngan hanjakal, cara anu katingal tina naskahna, henteu dibarengan atawa dilengkepan ku panalungtikan kecap-kenap tina téks.”

“Tapi dicatat yang kemudian diketik, tapi mengetiknya sering harus diulangi lagi kalau ada kata yang baru ditemukan yang harus disisipkan. Beliau juga mengumpulkan kata-kata untuk kamus bukan dari teks yang dimuat dalam naskah, majalah atau buku, tapi berkeliling mendatangi perkampungan dan gang-gang kecil di Kota Bandung, mengajak berbicara kepada orang-orang yang ditemuinya serta mencatat bagaimana menggunakannya. Tapi sayang, seperti yang terlihat dalam naskahnya, tidak dibarengi atau dilengkapi oleh penelitian kata-kata dalam teks,” tulis Ajip Rosidi menjelaskan proses kreatif R. A. Danadibrata dalam pengantar untuk cetakan pertama kamus tersebut pada 2006.

Keterangan Ajip Rosidi ihwal proses kreatif R.A. Danadibrata dalam mengumpulkan kata untuk kamusnya disampaikan juga oleh penyusun kamus tersebut kepada Majalah Manglé No. 993, 16-22 Mei 1985:

Lantaran mindeng ditugaskeun kudu ngasruk ka pilemburan, jorojoy aya niat hayang ngumpulkeun kecap-kecap basa Sunda keur pikamuseun, nya dina taun 1930 éta niat téh dimimitian ku jalan nyatet-nyatetkeun kecap basa Sunda nu kapanggih,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Karena sering ditugaskan harus mengunjungi perkampungan, kemudian ada niat ingin mengumpulkan kata-kata bahasa Sunda untuk kamus, maka dalam tahun 1930 niat tersebut dimulai dengan cara mencatat kata bahasa Sunda yang ditemukan,” ungkap R.A. Danadibrata.

Sosok R.A. Danadibrata

R.A. Danadibrata adalah seorang pensiunan wedana yang waktu itu tinggal di lingkungan pendopo Kabupaten Bandung, di selatan alun-alun Kota Bandung sekarang. Tempat tinggalnya tersebut tidak terlalu jauh dari Ajip Rosidi yang pernah menyewa rumah di Gang Asmi, Jalan Moch. Toha, Kota Bandung.

Seperti pengakuannya yang dituturkan kepada Majalah Manglé, R.A. Danadibrata  sudah tertarik pada bahasa Sunda dari sejak masih sekolah di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), pendidikan bagi calon pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda. Tapi karena kesibukannya di pemerintahan, ketertarikannya itu tidak bisa dikembangkan.

Sementara Ajip Rosidi menambahkan dalam harian Kompas, edisi Selasa, 5 Pebruari 1974, bahwa niat R.A. Danadibrata untuk menyusun kamus bahasa Sunda diperoleh dari guru yang juga pamannya di Sekolah Raja (penyebutan lokal untuk OSVIA), yaitu R. Djajadireja yang terkenal karena buku bacaan yang disusunnya, yaitu Rusdi jeung Misnem.

“Ketika itu mereka berdua menetapkan pula urutan abjad yang akan dipergunakan kamus yang hendak disusun itu,” tutur Ajip kepada Kompas.

Ketika Jepang tiba di Indonesia dan merebut kekuasaan dari Belanda, kamus yang ia susun telah selesai. Namun sayang, kecamuk revolusi fisik membuat R.A. Danadibrata harus mengungsi ke Ciamis, dan kamus yang disusunnya tidak mungkin dibawa serta. Waktu ia kembali ke Bandung, kamus tersebut tak bersisa, hangus terbakar.

Ngan lapur, waktu mulang deui ka Bandung éta naskah téh kapanggih sacewir-cewir acan lantaran béak kaduruk,” ceuk R.A. Danadibrata. Atuh pagawéan nyusun kamus téh dibalikan ti enol deui.

“Tapi luput, waktu kembali lagi ke Bandung naskah tersebut tidak ketemu selembar pun karena habis terbakar,” kata R.A. Danadibrata kepada Manglé. Maka pekerjaan menyusun kamus dimulai lagi dari nol.

Jalan Berliku 

Maksud R.A. Danadibrata menemui Ajip Rosidi 44 tahun silam, tujuannya hanya satu yaitu untuk meminta solusi bagaimana caranya menerbitkan kamus tersebut. Meski waktu itu menjabat sebagai Direktur penerbit Pustaka Jaya, Ajip merasa kesulitan karena garapan utama Pustaka Jaya bukan menerbitkan buku berbahasa Sunda.

Sebagai ikhtiar, akhirnya Ajip mengundang para wartawan untuk mengabarkan ihwal kamus tersebut, dengan harapan ada orang Sunda yang jugala dan mempunyai katineung membantu menerbitkan kamus yang dalam hitungan saat itu memerlukan biaya sebesar Rp15 juta..

Karena dana yang diharapkan tidak kunjung ada, maka Ajip memutuskan untuk menerbitkannya lewat Pustaka Jaya, dengan terlebih dahulu menyusun tim redaksi untuk menyuntingnya. Sampai  1981 ketika Ajip meninggalkan Pustaka Jaya dan pindah ke Jepang, pekerjaan tim redaksi belum juga selesai. Setahun berselang, saat Ajip berlibur ke Indonesia, kamus tersebut belum juga diterbitkan.

Ajip melihat bahwa direktur Pustaka Jaya yang baru tidak berniat menerbitkannya. Ketika bertemu lagi dengan Ajip, R.A. Danadibrata bercerita bahwa dirinya berniat melaksanakan ibadah haji dari honorarium kamus tersebut. Maka Ajip bersama H.I. Martalogawa yang bekerjasama mendirikan penerbit Girimukti Pasaka berunding untuk membeli hak cipta kamus tersebut.

Akhirnya hak cipta kamus dibeli seharga Rp2 juta  dengan dana talangan dari H.I. Martalogawa. Uang sebesar itu cukup untuk biaya ibadah haji R.A. Danadibrata beserta istrinya. Rencana penerbitan kamus bahasa Sunda susunan R.A. Danadibrata kemudian dialihkan ke proyek Sundanologi pimpinan Dr. Edi S. Ekadjati tanpa menunggu hasil penyuntingan dari tim redaksi yang telah dibentuk tapi tak kunjung selesai.

Sebelum rencana itu terlaksana, Dr. Edi S. Ekadjati diberhentikan dari Kepala Proyek Sundanologi, dan tak lama kemudian Proyek Sundanologi dibubarkan. Kamus bahasa Sunda R.A. Danadibrata lagi-lagi gagal terbit. Setelah menemui jalan buntu.

R.A. Danadibrata kemudian membeli kembali hak ciptanya. Hingga pada 13 Oktober 1987, ia meninggal dunia sebelum karyanya terbit. Dua tahun sebelum wafat, kepada Manglé ia berkata: “Sim kuring téh umur geus dalapan puluh taun. Kahayang téh méméh ninggalkeun pawenangan, hayang nempo heula kamus sim kuring geus ngajanggélék jadi buku. Upama sim kuring mulang tur éta kamus masih mangrupa naskah kénéh mah, hartina pagawéan sim kuring téh gaplah,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Saya sudah berumur delapan puluh tahun. Keinginan saya sebelum meninggalkan dunia ini adalah ingin melihat kamus saya sudah menjadi buku. Apabila saya wafat dan kamus masih berupa naskah, artinya pekerjaan saya sia-sia,” ujarnya.

Pada 2003 Ajip Rosidi dari Jepang kembali ke tanah air. Ia kemudian mendirikan penerbit Kiblat Buku Utama dan teringat kamus karya R.A. Danadibrata. Rachmat Taufiq Hidayat selaku direktur Kiblat Buku Utama bersama Dr. Edi S. Ekadjati kemudian menghubungi ahli waris R.A. Danadibrata untuk menerbitkan kamus tersebut.

Bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, pada 2006 Kiblat Buku Utama menerbitkan kamus bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata yang telah lama terbengkalai. Selama 33 tahun sejak rampung untuk kedua kalinya, dan 76 tahun sejak R.A. Danadibrata memulai pekerjaannya yang mula-mula, kamus bahasa Sunda dengan lebih dari 40.000 kata tersebut akhirnya hadir memperkaya khazanah bahasa Sunda. Meski tak bisa menyaksikan karyanya,  R.A. Danadibrata menjadi pelajaran bahwa segala usaha keras pada ujungnya akan membuahkan hasil. (tirto.id – irf/dra)

***

Pertama kali dimuat di Tirto.id pada 16 April 2017

Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta?

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Maung atau harimau punya posisi yang cukup dalam bagi kesadaran orang Sunda. Kita bisa menemukan maung menjadi nama tempat di kawasan Jawa Barat, seperti Cimaung dan Cimacan yang bisa ditemukan di beberapa daerah (Garut, Subang, Banjaran, Cianjur, dll), lambang Kodam Siliwangi, sampai Persib—klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Barat dan Sunda yang dijuluki Maung Bandung.

Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda pada umumnya dikaitkan dengan legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda.

Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya. Amanat yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi ini, di antaranya, memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran di masa depan: Baca lebih lanjut

Anak Muda dan Media Sunda

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

DSCN0307Di tengah gairah kampanye Kesundaan yang divisualkan dengan baju pangsi, iket, kebaya, dan hal-hal yang tak esensial lainnya, media Sunda yang berusaha menjaga budaya literasi justru hampir sekarat tanpa perhatian yang signifikan. Sebagai contoh, Majalah Mangle yang kini berusia 58 tahun berjalan terseok dengan tren jumlah pembaca yang kian turun. Juga mingguan Galura yang jika dilihat dari sisi bisnis hampir pasti tidak menggembirakan. Dengan jumlah penutur kedua terbesar di Nusantara, Bahasa Sunda mestinya adalah pasar yang jelas bagi media Sunda itu sendiri, namun kenyataannya adalah paradok yang semakin buruk.

Kondisi ini tentu menjadi tanggungjawab Ki Sunda yang peduli dengan perkembangan medianya. Jika dipetakan secara sederhana berdasarkan usia, demografi pengembannya mencuatkan satu identitas yang khas, yaitu anak muda. Di luar kata dan kalimat yang kerap dilekatkan kepada anak muda seperti “pembaharu”, “pelopor”, “agent of change” dan lain sebagainya, dalam kontek Bahasa Sunda, anak muda ini adalah generasi pertengahan yang diapit oleh dua tubir jurang.

Jurang pertama adalah anak-anak yang kini terperangkap dalam sistem pengajaran bahasa yang terdegradasi. Di rumah, di lembaga yang mula-mula menadah pemahamannya terhadap bahasa, para orangtua (ibu dan ayah) yang keduanya pituin (asli) Sunda, yang dalam komunikasi antar keduanya menggunakan bahasa Sunda, justru berbahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anaknya. Ihwal ini, Ajip Rosidi pernah menulis dalam buku “Kudu Dimimitian di Imah” (Harus Diawali dari Rumah).

Dalam pendadaran pengalamannya, Ajip menemukan dan menyimpulkan, bahwa lembaga utama dan pertama dalam pewarisan bahasa adalah mutlak harus dimulai dari rumah. Laku komunikasi sehari-hari akan menghasilkan pemahaman bahasa yang jauh lebih baik daripada hanya belajar di sekolah, atau pun dari lingkungan pergaulannya. Jika hal penting ini tidak disadari oleh para orangtua, lalu abai, maka Ajip menegaskan, “Lamun para indung-bapa Sunda henteu ngajak nyarita ku Basa Sunda ka barudakna, tanwandě hirupna Basa Sunda ngan baris nepi ka generasina.” (Kalau para ibu dan ayah Sunda tidak mengajak bicara memakai Bahasa Sunda kepada anak-anaknya, tentu keberlangsungan hidup Bahasa Sunda hanya sampai pada generasinya).

Anak-anak Sunda yang dilahirkan dan besar di tengah kedua orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya–dalam percakapan sehari-hari, berbahasa Indonesia, adalah generasi yang tercerabut dari bahasa sěkěsělěr-nya. Ikatan batin luntur, keterampilan lumpuh, lalu harapan seperti apa yang hendak disandarkan kepada anak-anak ini dalam melanjutkan estafet pengelolaan media Sunda? Pondasi yang lemah seperti ini adalah tubir yang punya kengeriannya sendiri dalam keberlangsungan hidup bahasa dan media Sunda.

Sementara di kalangan para senior (untuk tidak mengatakan tua), usia adalah sesuatu yang tak bisa dilawan. Meskipun ada beberapa yang masih produktif sampai di titik yang sudah senja sekalipun, namun satu-persatu barisan ini mulai pensiun dari medan laga kerja media, juga tak sedikit yang sudah kembali ke hadirat-Nya. Tentu jarak antara generasi ini dengan generasi yang seusia dengan para cucunya cukup jauh, dan perlu jembatan untuk menghubungkannya. Di sinilah letak angkatan muda itu.

Dari cerita dan pengalaman para senior, bahwa pada pengelolaannya, media Sunda kerap terabaikan sebagai anak tiri yang seolah tak pernah sudah. Pemerintah sebagai perwakilan negara selalu berada di posisi yang kurang jelas dalamngamumulě bahasa dan media Sunda. Seperti yang sudah ditulis di atas, pemerintah justru lebih mementingkan tampilan daripada menyentuh persoalan yang sesungguhnya.

Karena di satu sisi pewarisan bahasa menemui jalan yang keliru, dan di sisi lain dukungan dari pemerintah pun kerap membentur setapak buntu, maka tak heran jika media Sunda seolah hanya bertahan dari kematian.

Tapi perspektif di atas bagi anak muda adalah pandangan yang terlalu pesimis. Meskipun diapit oleh dua tubir jurang yang akhirnya memposisikan dirinya (seolah-olah) menjadi generasi—meminjam istilah Sjahrir, “yang apabila diam akan menjadi generasi yang hilang, dan apabila bergerak akan menjadi generasi yang kalah”, namun selalu ada celah untuk berkreasi dan terus produktif.

Anak muda Sunda hari ini, yang pernah dibesarkan di lingkungan keluarga yang masih memuliakan bahasa Sunda, namun dihadapkan pada kenyataan tentang payahnya keberlangsungan media Sunda, tentu harus bersiasat dengan mengisi dan mengolah ceruk-ceruk lain untuk membebaskan media Sunda itu sendiri dari keterbatasan. Media sosial yang kini begitu memanjakan alur dan arus informasi, adalah salah satu celah untuk mengibarkan ajěn-inajěn bahasa Sunda.

Di blog, twitter, facebook, dan kanal-kanal lainnya, anak muda Sunda harus mulai produktif menulis dalam bahasasěkěsělěr-nya. Di sini, di gorong-gorong media tak berbayar, anak muda tak perlu menengadah dan mengiba perhatian dari pemerintah, namun justru berdikari dengan keras kepala–bahwa dengan niat, minat, dan tekad yang bulat, media Sunda “independen” ini bisa terus hidup dan berkontribusi.

Kata “buntu” mesti segera dipensiunkan dari entry kamus anak muda. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh, dan banyak cara yang bisa dilakukan. Di media Sunda formal, anak muda pun bisa berkontribusi dengan cara mengirim naskah-naskah segar dan trengginas. Bahwa media-media itu dinakhodai oleh para senior yang sudah legok tapak gentěng kaděk tak bisa dipungkiri, namun siapa yang bisa menjamin bahwa ketersediaan naskah begitu melimpah? Hal inilah yang perlu didukung oleh anak muda.

Dalam buku “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19″ karya Mikihiro Moriyama, tersirat bahwa sesungguhnya bahasa Sunda ditemukan, dimurnikan, dan didayagunakan oleh Belanda untuk kemudian berkembang meniti gelombang modernitas. Jika media Sunda diibaratkan bahasa yang didayagunakan itu, maka di tengah keterpurukannya seperti sekarang,  anak muda sudah saatnya mengambil peran sebagai pelaku aktif, bukan malah menjadi pengekor tiada guna dan tanpa tendens. Dan pada muaranya, hirup-huripbahasa dan media Sunda kita pertaruhkan. [irf]

 

Tautan asli: https://pustakapreangerblog.wordpress.com/2015/12/15/anak-muda-dan-media-sunda/

Menjatuhkan Cinta di Saung Udjo

Oleh: Hevi Abu Fauzan (@hevifauzan)

saung-angklung-udjo-main-angklung-bersama

“Sorot mata penari cilik itu membuat cinta penulis harus terjatuh kesekian kali”

Untuk kedua kalinya, penulis berkunjung ke Saung Udjo. Pertama, penulis bersama teman sekantor menonton pertunjukan stand up comedy yang diselenggarakan di sana, beberapa tahun yang lalu. Dan ini merupakan kunjungan penulis yang kedua, bersama Komunitas Aleut, dalam rangka Angklung Pride 5. Sebagai orang Bandung asli, penulis merasa berdosa karena baru kali ini bisa menjejakkan kaki untuk menonton pertunjukan seni di Saung Udjo.

Pada awalnya, penulis merasa biasa saja dengan pagelaran seni yang dibuka dengan pagelaran wayang golek yang menonjolkan si Cepot itu. Suasana hati berganti kala pertunjukan tari dimulai. Beberapa anak perempuan kecil dengan gemulai menarikan sebuah tari, dan secara tidak sengaja penulis mendapatkan sorot mata cantik sang penari.

Penulis adalah penggemar seni, dan itu sudah cukup bagi penulis yang merasa tidak berbakat dalam bidang tersebut. Tapi, nilai-nilai seni penulis di sekolah tidak bisa membohongi hal tersebut. Di SD misalnya, penulis pernah menjadi juara menggambar. Di SMP dan SMA, penulis mampu membaca not balok dengan belajar secara otodidak dan mendapatkan nilai yang memuaskan atas kemampuan itu. Kemampuan berkesenian itu berlanjut saat penulis masuk kuliah dengan jurusan sastra. Namun penulis, akhirnya penulis hanya menjadi penikmat seni saja, tidak lebih. Baca lebih lanjut