#PernikRamadhan: Munding dan Alun-alun Tempo Dulu

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Pedati kerbau dari Padalarang ke Bandung

Pedati kerbau dari Padalarang ke Bandung (sumber : KITLV)

Coba kita berkeliling sekitar Alun-alun Bandung. Dengan kondisi sekarang, mungkin Alun-alun sangat nyaman untuk digunakan ngabuburit. Tapi, pernah membayangkan kalau sekitar satu setengah abad yang lalu, banyak munding atau kerbau berada di Alun-alun ? Tentu saja tidak! Karena kita hidup di tempo kini dan tidak pernah mengalami masa itu.

Lalu, kenapa ada kerbau di Alun-alun? Apa mereka ikut mudik bersama kerbau-kerbau lainnya? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Enam Alinea untuk Alina *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar? Dari depan Rathkamp, sore ini aku ingin mengirimmu beberapa alinea. Kata, sebagaimana kau tahu, selalu lebih berhasil menarik minatku. Kini, di sini, di tepi Jalan Asia-Afrika yang tengah ramai oleh pengendara dan pejalan kaki, aku mencoba merekamnya dalam redup dan remang bahasa; untukmu. Aku sengaja tidak mengerat dan memotong beberapa gambar, untuk apa? Orang-orang sudah terlampau banyak mengantongi rupa; di depan Gedung Merdeka, tepi Jalan Cikapundung Timur, pinggir sungai yang keruh itu, sekitar monumen Dasasila Bandung, di depan kantor Harian Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi. Mereka mencoba mengawetkan semesta dirinya dalam dekapan yang mulia kamera. Tidak Alina, aku tidak mau mengirimmu keriuhan yang banal itu lewat gambar. Aku ingin mendekatimu dengan kata.

Selepas hujan sore ini, mentari masih malu-malu menampakan diri. Sementara orang-orang justru girang memenuhi ruas trotoar dan sebagian bahu jalan. Arus lalu-lintas tersendat, sesekali klakson bersahutan. Hotel Savoy Homann, de Vries, Visser, dan Gedung Merdeka mulai tersaput temaram. Beberapa saat lagi adzab maghrib akan berkumandang dari Masjid Agung. Menjelang sore dijemput malam, keramaian semakin riuh. Tua-muda, laki-laki perempuan, semuanya menyesaki trotoar yang sudah dipercantik. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Aku Pun Bersolek

Oleh: Deris Reinaldi

Menjelang perhelatan yang sangat bergengsi, yaitu Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, tetangga-tetanggaku disepanjang Jl. Asia Afrika nampak bersolek diri seraya ingin terlihat cantik. Mereka menampakkan diri akan kebersolekkannya, seakan-akan ingin terlihat oleh khalayak ramai dan mengeksiskan diri. Tapi aku, Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat atau terkenal dengan sebutan Mesjid Agung, pun ingin bersolek sama seperti tetanggaku. Masa saat nanti ada tamu-tamu dari luar negeri aku tampil kucel, malu rasanya, mau ditaruh di mana harga diri aku sebagai rumah ibadah ini?

deris1Aku tidak mau menampakkan diri akan kebersolekkanku, aku tidak mau dikatai riya, karena itu perbuatan tercela. Tentulah jikalau aku tampil mempesona, anggun dan rupawan maka siapa yang akan bangga? Jelaslah Kota Bandung, provinsi Jawa Barat serta negaraku tercinta Republik Indonesia. Kalau aku cantik tentunya menjadi bahan perbincangan diantara tamu-tamu peringatan KAA ke-60 tahun. Aku bangga menjadi mesjid di kota ini, aku sudah tua berada di Kota Kembang ini. Dahulu ketika pertama kali KAA di Bandung, aku sudah tegak berdiri disini, aku menjadi saksi bisu di peristiwa itu. Begitu pun ketika peringatan KAA ke-50 tahun, aku pun kembali menjadi saksi bisu, meskipun aku tidak seperti 50 tahun yang lalu.

Dari tanggal 13 Maret 2015 aku mulai bersolek diri. Tukang cat, tukang pasang ubin, dan tukang-tukang lainnya telah berada disini. Mereka bekerja pagi-siang-malam tanpa lelah bekerja untukku agar aku cantik di hari yang akbar nanti. Cuaca dan waktu yang menjadi kendala tidaklah mengganggu pekerjaan bersolek ini. Kubahku sudah selesai pertama dengan di cat berwarna emas. Wahai warga Bandung, tengoklah aku yang sedang mempercantik diri ini,. Silakan kalian berfoto sepuasnya agar terkesan kekinian.

Hingga hari ini, yaitu H-10, pekerjaan ini sudah 60 % selesai. Kalau menurut Teteh Syahrini, ini “sesuatu” karena belum sampai satu bulan tetapi pekerjaan sudah lebih dari 50 %. Setiap hari, angka itu teruslah naik. Hari ini ubin-ubin di toilet dan tempat wudhu belum terpasang, tempat wudhu ditambah, agar cukup untuk para tamu istimewa ketika beribadah sholat di sini dan tembok dalam mesjid sedang di cat. Pekerjaan ini ditarget harus selesai pada tanggal 17 April 2015. Semoga para tukang tetap sehat selalu agar bisa mengerjakan pekerjaan yang sangat penting ini.

Deris2Apapun persiapan yang sedang dilakukan untukku ini merupakan dana dari Bank Jabar Banten (BJB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah pusat belum memberikan dana untuk keperluanku ini. Aku berharap pemerintah pusat yang notabene pemilik hajatan akbar ini bisa membantu untuk keperluanku agar terlihat cantik rupawan.

Ketika perhelatannya di Bandung pada tanggal 24 April 2015, para tamu istimewa akan menunaikan salat Jum’at di mesjid agung. Para jema’ah akan diatur oleh protokoler negara, sehingga sangat mungkin bahwa beliau ini akan menempati shaf terdepan terlebih dahulu. Apabila warga Bandung ingin ikut beribadah shalat Jum’at silahkan saja datang, aku sangatlah senang jikalau warga Bandung shalat Jum’at disini. Meskipun untuk warga, shalat Jum’at menempati shaf belakang atau sesuai aturan protokoler. Dalam rangka acara peringatan KAA ini, khatib shalat Jum’at dipilih oleh negara. Aku hanya menyiapkan serta memberikan beberapa calon kahtib kepada negara.

Di hari yang akbar itu aku berharap keamanan dapat mengantisipasi adanya aksi pencurian. Aku takut sepatu para tamu istimewa yang karasep dicuri dengan alasan untuk kebanggaan bisa memiliki sepatu tamu istimewa. Aku tidak mau apabila ada aksi ricuh karena melihat orang asing apalagi ada yang menjerit-jerit histeris, Pokoknya katakan tidak terhadap hal-hal buruk. Semoga aku tetap berada dalam karunia Tuhan yang Maha Kuasa, aku hanya berserah diri kepada-Mu supaya aku diberikan kelancaran dalam kegiatan peringatan KAA ke-60 tahun. Aamiin…

#PojokKAA2015: KAA dan Transformasi Atap Mesjid Agung Bandung

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Istilah Bale Nyungcung, bagi generasi muda Kota Bandung bukan lagi menjadi istilah familiar untuk merujuk Mesjid Agung Bandung yang kini memiliki nama resmi Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat sekarang. Hal yang wajar karena bentuk atap mesjid tersebut sudah lagi tidak “nyuncung” melainkan kubah setengah bola.

Atap Mesjid Agung Bandung tahun 1930-an

Atap Mesjid Agung Bandung tahun 1930-an

Perubahan atap mesjid yang bernama Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat ini terjadi sekitar 60 tahun yang lalu, menjelang Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Atas gagasan Presiden Soekarno, mesjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran terutama pada bagian atap. Bentuk atap Mesjid Agung Bandung yang nyungcung bertranformasi menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara pada bagian kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Sempurna di Hari – H

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

opik1

Semua perempuan ingin tampil sesempurna mungkin di hari pernikahannya, dan berbagai upaya pun dilakukan agar hal tersebut terwujud. Mulai dari perawatan tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki, diet yang ketat, serta banyak upaya lain yang ditempuh, supaya di salah satu hajatan paling  penting dalam hidup-nya tersebut, dia menjadi perempuan paling cantik yang menjadi pusat perhatian para tamu yang datang.

Gambaran di atas mungkin cocok dianalaogikan dengan keadaan Kota Bandung saat ini. Menghadapi hajatan besar berupa peringatan Konferensi Asia – Afrika (KAA) ke 60, yang gelaran-nya tinggal menghitung hari ini, Kota Bandung berupaya tampil sesempurna mungkin di hadapan para tamu agung-nya yang datang dari berbagai negara.  Upaya-upaya untuk mencapai kesempurnaan ketika hari H-nya, mulai dilakukan secara maraton oleh pihak Pemkot Bandung, di mana untuk perbaikan infrastruktur di kawasan yang menjadi pusat perhelatan KAA sudah digeber sejak bulan Februari yang lalu. Baca lebih lanjut