Susur Pantai #5 Ciletuh: Dimulai dari Solontongan, Berakhir pula di Solontongan

Ciletuh

Susur Pantai #5 Ciletuh | Foto Hendi Abburahman

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Minggu malam yang dingin. Jalan Solontongan 20-D yang beberapa hari ke belakang sepi tiba-tiba kembali ramai dengan berderetnya beberapa motor dan tampang orang-orang yang kelelahan. Mereka selonjoran sambil menceritakan pengalaman-pengalaman seru yang telah mereka lewati. Meski dengan muka letih, gelak tawa masih saja berhamburan. Sebagian membuka handphone, sebagian menyulut rokok, dan sebagian lainnya menunggu makanan yang sedang dipesan. Sedangkan motor-motor yang terparkir sudah tak ingin lagi bergerak. “Cukup 544 kilometer yang kami tempuh,” begitu ujarnya. Meski sebagian motor-motor itu sadar, kilometer akan Baca lebih lanjut

Ciletuh: Ratusan Kilometer yang Basah

Oleh: Nurul Fatimah (@nurulf90)

“Lu kudu bikin catetan rul. Kudu! Setiap detil tempatnya, ambil foto yang banyak, nulis!”

Begitu kiranya isi kepala menghadapi kesempatan ke-5 untuk susur pantai. Ini yang ke-5, tapi pertama bagi saya. Bayangkan. Empat kali saya harus absen diiringi ketabahan mengunduh dan melihat tiap gambar yang dibagikan di linimasa oleh kawan-kawan saya.

Susur pantai. Jelas bukan dari namanya? Kami beberapa motor iringi-iringan menyusur ratusan kilo menjauhi Bandung. Target kali ini, Ciletuh. +200 Km ke arah barat Kota Bandung. Nama Ciletuh menjadi banyak diperbincangkan setelah kawasan tersebut diakui UNESCO sebagai geopark nasional. Perjalanan dirancang tiga hari dua malam. Dimulai Jumat malam, 26 Januari 2018.

Tapi, hari Jumat saya harus pulang telat. Pekerjaan sebagai buruh pabrik masih meminta untuk mengutamakan dan menuntaskan supply sebelum bersenang-senang. Maka jadilah saya batal berangkat di hari itu. Pukul 21.00 WIB kawan-kawan lain mulai melaju dari Solontongan dalam rintikan hujan, saya mengiringinya dengan doa-doa keselamatan. Baca lebih lanjut

Mendekap Cianjur Selatan lewat Ngaleut Citambur

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Malam kian larut saat Agus, Tegar, Windy dan Upi memberikan senyumnya ketika melihat saya memarkirkan motor dan hendak menghampiri mereka. Sedangkan saya, dan juga beberapa kawan lainnya yang mulai berdatangan satu per satu, memasang raut wajah lelah. Namun, tetap dengan senyum manis yang tak mau kalah.

“Wih… anu nggeus ti Citambur,” sapa Agus.

“Laleuleus, euy,” saya menimpali.

Tanpa permisi saya menerobos masuk ke sudut ruangan kedai kopi yang sekaligus menjadi base camp Komunitas Aleut itu untuk menyimpan barang-barang bawaan. Setelah barang bawaan tersimpan, saya bergabung bersama mereka untuk ngobrol sambil menahan rasa lelah.

Saya mesti bersyukur tiba di Jalan Solontongan 20-D, Buah Batu, dengan sambutan senyum mereka. Setengah jam kemudian, saya gandakan rasa syukur itu setelah melihat postingan instagram Dudi Sugandi. Tidak seperti biasanya, kali ini postingan terakhir yang saya dapati darinya bukan tentang panorama keindahan alam atau lanskap perkotaan, melainkan tentang sebuah kecelakaan bus pariwisata di daerah yang sebelumnya saya lewati; Ciwidey. Beruntung di waktu kejadian saya sudah sampai sini, saya berkata dalam hati. Baca lebih lanjut