Toponimi Citepus

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisonipin)

Setahun yang lalu sungai ini sempat menjadi buah bibir warga Kota Bandung. Kala itu Bandung diterpa hujan deras yang berlangsung kurang lebih 3 jam. Durasi hujan yang lama dan intensitas hujan yang deras telah yang membuat debit air tak bisa lagi ditampung oleh sungai Citepus. Hingga air terpaksa meluap dari aliran sungai. Luapan air itu meluap ke daerah pinggiran sungai seperti Pagarsih, Astanaanyar. Bahkan saking derasnya luapan air sempat menyeret sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan raya.

Tak hanya soal meluapnya air di kala musim penghujan. Ada hal yang menarik lainnya mengenai sungai Citepus. Yakni nama sungai ini masuk ke dalam karya sastra abad ke-20 karya Chabanneu yang berjudul Rasia Bandoeng. Sungai ini melintasi beberapa lokasi di Kota Bandung, seperti Pasirkaliki, Kebonjati, Saritem, Sudirman, dan Cibadak. Sehingga, namanya mungkin sudah tidak asing didengar oleh masyarakat Bandung. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa nama Citepus ada kaitannya dengan nama tumbuhan, yakni Tepus. Dan mungkin saja wujud dari Tepus sendiri belum banyak diketahui oleh masyarakat, terlebih lagi bagi masyarakat kota sekarang. Baca lebih lanjut

Balada Banjir Pagarsih

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Rumahnya di mana?”
“Di Pagarsih”
“Itu teh di mana?”
“Itu deket Kings, dari Cibadak juga deket”
“Oh”

Percakapan di atas sering terjadi saat orang yang baru saja dikenal bertanya mengenai tempat saya tinggal. Tapi itu dulu, karena semenjak beberapa minggu lalu, nama Pagarsih menjadi populer seantero Nusantara karena tragedi banjir yang menghanyutkan sebuah mobil Grand Livina. Kini spontan saat mendengar nama Pagarsih, orang yang mendengarnya akan langsung menanyakan kondisi rumah saya saat banjir kemarin, seperti keasyikan dapat bertemu langsung dengan korban hidup suatu bencana.

Tak berlebihan bila saya menyebut Pagarsih kini terkenal seantero Nusantara, karena berbagai media kemudian berebut memberitakan kejadian bencana banjir ini. Media serasa mendapatkan emas untuk dipahat saat melihat Kota Bandung yang pamornya belakangan terangkat berkat sepak terjang Walikotanya, kini mendapat bencana yang di luar perhitungan sang mantan arsitek dan warganya. Tapi kan namanya bencana, memang siapa yang menduga.

Saya warga asli Pagarsih sejak 28 tahun lalu…yaa sudah hampir 29 tahun.
Yang tak banyak orang tahu, pada dasarnya Pagarsih memang langganan banjir sejak dulu, namun untuk banjir yang sebesar sekarang memang dikarenakan cuaca ekstrim yang datang sekitar 1 dekade sekali. Karena walaupun tinggal di Pagarsih, rumah saya jarang sampai kemasukan air, hanya beberapa kali saja saya ingat saat banjir sebesar sekarang, yaitu  pada tahun 1996, 1997, 2006 dan 2016. Warga lama yang sudah tinggal di Pagarsih puluhan tahun pun sudah banyak yang menyiasati banjir ini dengan cara membuat pagar kedap air atau meninggikan pintu masuk ke dalam rumahnya. Media pun hanya memberitakan soal mobil yang hanyut kan? Bukan rumah warga yang terendam air. Baca lebih lanjut

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Catatan Ngaleut Inhofftank, 1 Desember 2013

Oleh: Vecco Suryahadi

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.

Pepatah Sunda di atas tetap terpatri dalam pikiran setiap kali mengikuti kegiatan @KomunitasAleut: “Ada masa lalu, ada masa kini, tidak ada masa lalu maka tidak ada pula masa kini.”

Pukul 07:30, kami sudah berkumpul di depan Museum Sribaduga untuk melaksanakan kegiatan ngaleut hari ini, yaitu menelusuri salah satu jejak masa lalu Kota Bandung di kawasan Inhofftank. Seluruh peserta sudah siap dengan perlengkapan masing-masing, buku catatan, pensil, kamera, dan tentunya bekal semangat dalam mencari jejak Inhofftank.

Inhofftank sebetulnya penyesuaian lokal untuk Imhofftank (dengan “m), yaitu istilah bagi suatu instalasi pengolahan air limbah yang dahulu pernah didirikan di sekitar Tegallega. Selama ini jejak yang kami ketahui hanya berupa nama jalan saja. Hari ini kami akan cari jejak fisiknya.

DSCF7035Mulut Jalan Inhofftank.

Pukul 08:00, kami mulai memasuki kawasan Imhoftank, mulut jalan Inhoftank terletak di sebelah pintu barat Museum Sribaduga. Belum lama berjalan, kami sudah menemukan banyak selokan yang telah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Di beberapa jalur kanal tampak aliran air berwarna hitam pekat. Trotoar sudah tumpang tindih dengan badan jalanan, sampah berserakan di mana-mana.

Di tengah perjalanan akhirnya kami dapat menemukannya, suatu bangunan yang tinggal berupa puing-puing. Sisa bangunan yang diam terhimpit permukiman yang sekarang marak mengepungnya. Berapa lama lagi sisa bangunan ini mampu bertahan?

DSCF7045Puing-puing Inhofftank, sekarang menjadi tempat jemuran warga.

Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari warga, instalasi Imhofftank ini dulu sangat besar, kira-kira seluas kawasan Inhofftank sekarang. Banyak manfaat yang didapatkan dari keberadaan Imhofftank, mengurangi air limbah, membersihkan air kotor, menghasilkan energi gas untuk menjalankan bis sekolah, sampai membuat pupuk.

Belakangan katanya banyak mahasiswa yang datang ke lokasi puing-puing bangunan ini untuk keperluan studi. Kami juga mendapatkan informasi bahwa di bawah puing-puing ini masih terdapat bangunan bekas kolam penampungan sedalam 11 meter.

IMG_4135Foto bersama di atas Bendung Ranjeng dan Kali Ci Tepus.

Pukul 09:45, kami mengunjungi sebuah pintu air yang terdapat di sekitar sini, yaitu Bendung Ranjeng. Pintu air ini mengatur aliran kali Ci Tepus yang mengalir di bawahnya. Sedih rasanya melihat keadaan pintu air ini, penuh sampah dan tikus. Pintu air ini seperti sedang menunggu kehancurannya sendiri.

Pukul 10:30, kami sudah memasuki Jl. Muarasari yang terletak di sebelah pintu air. Sebelumnya kami dengar kabar dari warga sekitar bahwa di jalan itu terdapat makam seorang Penghulu Bandung tempo dulu. Jabatan Penghulu dulu cukup penting, dialah yang mengurusi semua persoalan masyarakat yang berhubungan dengan keagamaan (Islam).

Dengan membawa rasa penasaran kami susuri jalan Muarasari, dan setelah bertanya ke sana-sini akhirnya ketemu! Di sebuah lokasi yang agak tersembunyi dan sepi, kami temukan makam-makam yang dimaksud.

IMG_4144Makam Penghulu Bandung, R.H. Abd. Rahman.

Ada dua makam yang terlihat menonjol dibanding makam-makam lainnya, masing-masing atas nama R.H. Abd. Rahman dan N.R. Salbiyah. Kuncen makam yang kami temui mengatakan hal yang sama, R.H. Abd. Rahman adalah Penghulu Bandung tempo dulu. Lalu kami membuat beberapa foto untuk dokumentasi @KomunitasAleut.

Pukul 11:00, kami sudah tiba kembali di Museum Sribaduga. Perjalanan menyusuri gang di kawasan Inhofftank cukup membuat lelah, tetapi hati kami senang karena berhasil mendapatkan sejumlah informasi.

Sambil beristirahat, kami mengumpulkan foto-foto dokumentasi yang sudah kami buat selama perjalanan. Tidak lupa juga pada bagian akhir ini kami berbagi cerita pengalaman selama perjalanan.

Kami selalu berharap agar setiap peserta ngaleut selalu mendapatkan manfaat dan informasi baru seputar Kota Bandung. Pengalaman-pengalaman ini nanti akan kami bagikan lagi melalui situs http://www.aleut.wordpress.com untuk seluruh warga Bandung.

Salam.

_____

Foto-foto oleh Budi Yasir, Hani Septia Rahmi, dan Adira Oktaroza.

Jalan Inhofftank dan Instalasi Pengolahan Air Limbah Satu Abad yang Lalu

Oleh : Indra Rha

Berikut ini catatan dari kunjungan saya bersama @KomunitasAleut ke kawasan Inhofftank pada hari Minggu, 1 Desember 2013.

Menurut catatan kami tidak ada nama Jalan Inhofftank  di kota lain selain Bandung, tentu saja hal ini ada riwayatnya, nah kegiatan Aleut! hari ini mencoba mencari riwayat penamaan jalan Inhofftank.

Jalan Inhofftank terletak tak jauh dari Taman Tegallega, dari sebelah Museum Sri Baduga, masuk ke Jalan Pelindung Hewan, dan akhirnya kita akan menemukan Jalan Inhofftank. Sebelum memasuki Jalan Inhofftank kami sedikit penasaran juga kenapa nama jalan yang kami lalui ini namanya Jalan Pelindung Hewan. Kami banyak bertanya kepada warga sekitar dan menemukan bahwa di tempat ini terdapat Dinas Pertanian UPT Klinik Hewan yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

DSCF7034Jalan Inhofftank.

Kembali ke Jalan Inhofftank, kami menyusuri ruas jalan kecil yang padat oleh kendaraan dan rumah-rumah. Kami tiba di sebuah kawasan yang oleh masyarakat sekitar disebut Pabrik Mes. Ternyata maksudnya adalah mest atau pupuk dalam bahasa Belanda. Dari tempat inilah cerita tentang Jalan Inhofftank ini mengalir.

Kurang lebih seabad yang lalu, setelah Bandung mendapatkan status Gemeente  pada 21 Februari 1906, pemerintah Belanda giat membangun kota Bandung. Berbagai fasilitas kota didirikan, mulai dari sekolah, hotel, jalan, dan sarana lainnya. Dalam maraknya pembangunan ini, pemerintah Belanda ingin warganya tetap hidup saniter atau lebih memperhatikan kesehatan.

Selain mendirikan Perusahaan Daerah Air Minum yang dikelola oleh Technische Dienst Afdeling, Belanda juga membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Meskipun pencemaran air belum separah saat ini, tapi pemerintah Belanda sudah berpikir bagaimana mengolah air limbah menjadi bermanfaat dan tidak mengotori serta membahayakan lingkungan.

Air limbah domestik mengandung bakteri-bakteri yang berbahaya bila tidak dikelola dengan benar dan dapat menimbulkan penurunan tingkat kesehatan masyarakat karena bakteri ini bisa hidup dan masuk ke dalam tubuh manusia lewat berbagai cara, baik lewat air bersih yang tersusupi bakteri, lewat angin, menempel pada makanan, lewat binatang piaraan, dan lain-lain. Selain itu juga akan menyebabkan kerusakan lingkungan, tanah, dan air.

Saat itu dipilihlah IPAL Imhofftank yang patennya dipegang oleh seorang insinyur dari Jerman, yaitu Karl Imhoff (1879-1965). Dia merupakan salah satu pakar air limbah yang sampai saat ini pun karya-karyanya masih dipakai. Unit Imhofftank ini adalah yang terbaik kinerjanya pada saat itu. Sebagai IPAL generasi pertama, sistemnya pun sederhana, yaitu pengolah bikamar dengan ruang hidrolisis dan sedimentasi.

IPAL Imhofftank yang berada di Bandung ini dibangun tahun 1916 dan merupakan IPAL tertua di kawasan Asia Tenggara. Jarak waktu sejak penemuannya di Jerman pada tahun 1904, hanya 12 tahun. Dengan keterbatasan sarana, komunikasi, dan transportasi, pada waktu itu, akhirnya teknologi IPAL ini sampai juga ke kota Bandung melalui tangan insinyur-insinyur Belanda.

220px-Karl_Imhoff_1907

Karl Imhoff

300px-EmscherbrunnenSkema Imhofftank

Air limbah rumah tangga saat itu dialirkan lewat saluran riool atau pipa-pipa sepanjang 14 km serta saluran parit kecil di sepanjang Jalan Inhofftank menuju IPAL mhofftank. Di tempat ini limbah diendapkan dan diolah sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Hasil energi ini dipakai untuk bahan bakar bis-bis sekolah, sedangkan sedimennya diolah lagi menjadi pupuk organik yang tak berbau. Air yang telah diolah sehingga bersih dari bakteri dan kandungan berbahaya lainnya dikeluarkan langsung ke sungai Ci Tepus yang mengalir tak jauh dari lokasi IPAL.

DSCF7046Sisa menara kontrol dan kolam penampungan.

100_0432Tabung-tabung penampung gas.

100_0429bGambar ukur kedalaman Imhofftank.

100_0439Salah satu pintu air tempat pembuangan air hasil IPAL Imhofftank yang sudah bersih ke Sungai Ci Tepus.

IMG_4141Pintu air Sungai Ci Tepus saat ini

Di kawasan IPAL ini terdapat beberapa kolam penampungan dengan masing-masing satu menara kontrol dan lab dengan kedalaman 11m yang dipenuhi pipa-pipa untuk mengalirkan gas. Kondisinya saat ini hanya tinggal puing satu menara, sedangkan kawasan lainnya sudah rata dengan tanah. Di atas bekas lahannya sudah banyak berdiri rumah-rumah sederhana. Malah sebagian tembok penampungan yang masih berlumpur pun dijadikan pondasi rumah panggung yang dibangun oleh penduduk baru yang datang sejak IPAL ini tidak dikelola lagi pada tahun 1980-an.

Menurut Pak Ate Suparman yang saat ini tinggal di salah satu kamar bekas menara kontrol dan lab IPAL Imhofftank, dulu pupuk hasil olahan kawasan IPAL imhofftank ini sangat diminati oleh para petani sayuran di Ciwidey, Pangalengan, dan Lembang, melebihi pupuk-pupuk bahan kimia. Orang tua dari Pak Ate ini adalah salah seorang karyawan IPAL Imhofftank pada sekitar tahun 1960-1970an.

Pernah ada wacana untuk mengaktifkan kembali IPAL imhofftank ini, tapi mengingat sistem IPAL imhofftank ini tidak terlalu besar daya tampungnya untuk masa kini, maka rencana itu tidak direalisasikan. Saat ini kota Bandung sudah punya IPAL yang sangat besar dan luas di daerah Bojongsoang. Luasnya 85 ha terbagi dalam 66 ha kawasan IPAL dan 19 ha kebun serta taman penunjang. Mengingat tingginya pertumbuhan penduduk, IPAL ini pun masih belum bisa melayani kebutuhan masyarakat Bandung, masih diperlukan IPAL-IPAL lain di sekitar Bandung untuk dapat melayani semua sudut Bandung.

Saat ini kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap air limbah tidak sebaik kepeduliannya terhadap air bersih dan air minum. Ini dapat kita lihat dari warga yang menjadikan selokan dan sungai sebagai pembuangan akhir langsung dari kloset dan saluran limbah rumah tangga. Sedangkan pemerintah masih kurang membangun IPAL dalam skala besar untuk bisa melayani kebutuhan warganya.

Air adalah sumber kehidupan yang tak terpisahkan dari manusia, apapun harus diusahakan agar warga dapat menikmati ketersediaan air bersih dan air minum. Setelah air minum dan air untuk keperluan rumah tangga itu dipakai dan menjadi air limbah, maka harus juga dikembalikan kepada alam dalam kondisi yang baik dengan cara diolah dulu.

____________

Sumber Bacaan :
–          www.en.wikipedia.org/wiki/imhoff_tank
–          www.airlimbahku.com
–          www.mooibandoeng.wordpress.com
–          www.jujubandung.wordpress.com

Foto-foto oleh Budi Yasir, Hani Septia Rahmi, dan Adira Oktaroza.