Gunung Bohong, dari Sangkuriang sampai Kereta Api Cepat

Langit di belakang Gunung Bohong berwarna merah keemasan. Rerumputan berbulu halus berwarna ungu dalam kilauannya. Dataran sawah yang luas dan luas. rumpun bambu, taman yang indah dan kampung-kampung kecil, terbentang begitu tenang di antara perbukitan rendah dan pegunungan biru di kejauhan.Sevenhuysen-Verhoeff, 1935.

Secara tidak sengaja, saya melewati pinggiran utara Gunung Bohong, dari Gadobangkong menuju Bandung. Sebelumnya, saya mengambil beberapa gambar proyek kereta api cepat di jembatan dekat stasiun untuk keperluan lomba yang diadakan pihak pembangun Kereta Api Cepat, Rabu, 14 Oktober 2020. Daerah pinggir gunung tersebut memang terasa cukup tenang karena jauh dari keramaian. Hanya sesekali saja “diganggu” oleh suara kereta api yang lewat di dekatnya.

Yang paling saya ingat di Gunung Bohong adalah sejarah tentang pembangunan rel kereta api di daerah tersebut pada tahun 1880-an. Ceritanya, perusahaan kereta api dihadapkan pada tantangan alam berupa bukit yang harus dipotong supaya rel yang terpasang rata dengan rel sebelumya.

Gambar: geheugen.delpher.nl

Gunung Bohong merupakan salah satu bukit di antara Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Bukit yang bagian timurnya dipakai sebagai lapangan tembak bagi tentara, mempunyai ketinggian 896 mdpl. Dalam sejarah geologi Bandung, Gunung Bohong merupakan salah satu bukit pematang tengah, yang membagi Danau Bandung menjadi dua. Bukit pematang ini merupakan jajaran bukit yang melintang dari arah Soreang menuju Gadobangkong. Bukit yang berjajar dari selatan ke utara ini, antara lain adalah Gunung Puncaksalam, Pasir Kamuning, Pasir Kalapa, Gunung Lalakon, Pasir Malang, Gunung Selacau, Gunung Padakasih, Gunung Lagadar, Gunung Jatinunggal, dan Gunung Bohong.

Kata bohong dalam bahasa Sunda menurut Kamus Sunda R. Satjadibrata adalah “ngomong teu sabenerna”, atau dalam bahasa Indonesia berarti “bicara tidak sebenarnya”. Menurut salah satu Cerita Sangkuriang yang ada dalam sebuah literatur kolonial, kata ini dipakai menjadi nama sebuah gunung oleh Sangkuriang yang merasa dibohongi oleh ibu yang dicintainya, Dayang Sumbi. Dituliskan, Sangkuriang yang merasa kecewa, marah, dan frustasi pergi meninggalkan proyeknya dan berdiam di sebuah gunung yang tak berpenghuni sebelum matahari sebenarnya terbit.

Gambar: geheugen.delpher.nl

Dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kereta Api di Priangan, Agus Mulyana menceritakan bagaimana jalur kereta api di bagian kaki Gunung Bohong merupakan salah satu jalur yang terberat pembuatannya di awal tahun 1880-an. Para pekerja harus menggali tanah sedalam 14 meter supaya tanahnya sejajar sebelum dipasang rel. Penggalian ini dimudahkan oleh keberadaan aliran air yang cukup melimpah karena bisa melunakkan tanah. Sampai sekarang, jalur di bagian ini membentuk cekungan yang cukup dalam. Terdapat banyak mata air di pinggiran rel. Tak heran, kita bisa melihat tempat air yang dimanfaatkan penduduk di sana untuk mencuci, bahkan mandi.

Gunung Bohong. Foto: Pahepipa.

Dari fenomena mta air ini, kita bisa menduga Gunung Bohong punya potensi air yang cukup besar. Potensi inilah yang membuat Belanda memindahkan kompleks permakaman ke Kerkhof Leuwigajah. Pada mulanya, mereka sempat membuat permakaman di kaki Gunung Bohong. Namun, karena tanahnya terlalu basah, permakaman ini akhirnya dipindahkan.

Potongan yang dilakukan di Gunung Bohong akhirnya bukan yang terakhir. Dalam proyek kereta api cepat yang menghubungkan Bandung dan Jakarta yang sedang dalam tahap pembangunan saat ini, bukan hanya memotong Gunung Bohong, tetapi menembusnya dengan membuat sebuah terowongan. Terowongan ini menghubungkan rel kereta api cepat di kawasan Gadobangkong menuju rel yang ada di bagian selatan Gunung Bohong, tepatnya sisi jalan tol Padaleunyi.

Foto: geheugen.delpher.nl

Ketika tulisan ini dibuat, penampang bukit bagian utara memang masih belum dilubangi. Hanya ada satu eskavator yang sedang membereskan tanah di sisi gunung kecil ini. Sementara di bawah, beberapa rumah di satu perumahan sudah berganti menjadi tiang-tiang penyangga yang datang dari arah barat. Pekerjaan terowongan ini memang tersendat, setelah mendapat penolakan dari warga sekitar yang terganggu karena aktifitas pembangunan.

Gambar: KITLV.

Pembangunan terowongan dengan kode Tunnel #11 ini seolah mengulang sejarah saat rel kereta api reguler dari arah Cianjur menuju Bandung di sekitar tahun 1880-an. Jika dahulu, para pekerja hanya menggali kaki Gunung Bohong saja, kini mereka coba untuk menembusnya. Jalan tol Padalarang Cileunyi, jalur kereta api reguler, dan jalur kereta api cepat pun akhirnya mengepung Gunung Bohong. Keadaan yang membuat tempat ini, tidak lagi seperti yang digambarkan oleh Sevenhuysen-Verhoeff di atas, sebagai tempat yang menenangkan.

Ditulis oleh Hevi Abu Fauzan, member Komunitas Aleut, bekerja sebagai manajer konten di Simamaung.com. Anggota Tim Ahli Cagar Budaya tingkat Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Dapat dihubungi melalui akun sosial @pahepipa.

Catatan Ngaleut Kompleks Militer Cimahi

IMG-20190922-WA0005

Stasiun Cimahi (Dokumentasi Komunitas Aleut)

Oleh: Aquinaldo Sistanto (@edosistanto)

Jam menunjukkan pukul 07.00. Setelah memarkir motor, saya bergegas menuju Stasiun Selatan Bandung. Tak perlu waktu lama untuk mencapai gedung bergaya Art Deco rancangan arsitek de Roo itu. Saya pun berjalan menuju ruang tunggu, mencari Lina, sesama pegiat Aleut yang sudah lebih dulu tiba di sana. Di ruang tunggu, saya menemui Lina bersama beberapa peserta lainnya. Saya mengeluarkan Baca lebih lanjut

Memoar Domba Tersesat dari Cimahi

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Mereka sudah tiba di Bandung!”

Syahdan, tersiar kabar ada sepasukan bangsa bermata sipit hendak bikin onar. Paniklah manusia yang Totok begitupun Indo, kelimpungan takut dihabisi Nippon.

Dari Cimahi, hiduplah dia yang seorang Indo, berbapak Belanda beribu babu. Seorang dokter, dan katanya sih juga seorang vrijdenker. Memang saat itu lagi tren soal ateis, agnostik, dan beragam jenis lainnya. Banyak umat malas beribadat yang melakukan pembenaran dengan memakan bacotan Nietzsche dari kemarin awal abad. Maka begitupun yang terjadi sama si katolik yang pas bocahnya taat benar ini, yang sekarang sudah amnesia dengan doa-doa rosario. Namun meski sudah sedikit murtad, tak percaya lagi pada-Nya, dia tetap berkawan baik dengan Pastor Bart Leenders. Sohibnya sejak kecil, dan teman ngobrol sampai sekarang.

“Oh mungkin suatu saat deh Bart,” ucapnya buat menghentikan cerocosan dakwah pastor Gereja St. Ignatius Cimahi itu. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Ngaleut Tjimahi!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berjalan adalah cara terbaik dalam berwisata!

Penetapan Cimahi sebagai garnisun

Pada abad 19, pemerintah Hindia Belanda merencanakan pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung. Dalam upaya pemindahan tersebut, pemerintah membangun fasilitas–fasilitas yang akan dipakai. Jika rencana pemindahan ibukota berhasil, kelak fasilitas–fasilitas tersebut akan menopang Bandung sebagai ibukota.

Di antara banyaknya fasilitas yang dibangun, garnisun atau tempat kedudukan tentara adalah fasilitas yang paling penting. Hal itu terlihat dari fungsi garnisun sebagai benteng utama ibukota dan pemerintahan.

Sebagai tempat kedudukan tentara, lokasi garnisun harus sesuai dengan syarat–syarat. Beberapa syarat tersebut adalah wilayah tersebut harus memiliki hawa sejuk dan garnisun harus dilewati jalur kereta api. Cimahi dipilih menjadi lokasi garnisun Hindia Belanda karena memenuhi kedua kriteria tersebut.

Rumah sakit Militer di Cimahi tahun 1900an

Cimahi harus memiliki fasilitas–fasilitas militer yang memadai untuk dijadikan sebagai garnisun. Fasilitas militer tersebut yakni rumah sakit militer, rumah tahanan militer, fasilitas pelatihan tentara, dan fasilitas logistik militer. Sampai sekarang, kita masih bisa melihat bangunan–bangunan yang pernah menjadi fasilitas militer tersebut.

Selain fasilitas militer, kita akan menemui beberapa fasilitas yang terkait dengan kenyamanan tentara–tentaranya. Fasilitas tersebut antara lain perumahan militer dan tangsi. Bagi tentara pribumi yang berpangkat rendah, mereka mendapat kamar di kamp atau tangsi. Tentara Belanda yang berpangkat tamtama, bintara, dan bintara tinggi dapat tinggal di rumah dinas yang disewakan seharga 10 – 12% dari gaji mereka. Oleh karena itu, kita akan menemukan delapan tingkat perumahan sesuai dengan pangkatnya.

Kantin militer di Cimahi

Pemerintah Hindia Belanda juga membangun fasilitas yang memenuhi kebutuhan pangan tentara, yakni pabrik roti, kantin militer, dan rumah pemotongan hewan. Dengan fasilitas tersebut, tentara KNIL di Cimahi sudah dipastikan memiliki kebutuhan pangan yang cukup.

Seperti orang Belanda di Bandung, orang Belanda di Cimahi memiliki tempat berkumpul yang disebut societeit. Soceiteit tersebut bernama Soceiteit Voor Officieren Tjimahi. Societeit ini dibangun dengan gaya Empire dan digunakan untuk tempat berkumpul orang Eropa. Sama seperti soceiteit di Bandung, soceiteit di Cimahi sering menyelenggarakan pesta dan parade.

Cimahi sebagai tempat berwisata

Seperti catatan perjalanan lainnya, saya selalu berusaha mengenalkan suatu tempat untuk menjadi tempat wisata. Kali ini, saya akan sedikit bercerita mengenai berwisata di Cimahi.

Banyak jalan yang bisa dipilih untuk menuju Cimahi. Jalan seperti memakai motor atau mobil, bersepeda, atau lebih ekstrim yakni berjalan kaki. Tapi dari semua jalan yang ada, kereta api adalah jalan menuju Cimahi yang paling menyenangkan dan murah. Dengan menggunakan KRD Patas, kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000 untuk mendapat tiket. Selain murah, kita akan disajikan pemandangan–pemandangan selama perjalanan ke Cimahi.

Komunitas Aleut di depan Stasiun Cimahi

Kembali kepada topik berwisata di Cimahi. Terdapat satu jalan yang menyenangkan untuk berwisata di Cimahi. Jalan tersebut adalah berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati keindahan bangunan–bangunan tua, pohon – pohon yang teduh, dan sejuknya udara Cimahi di pagi hari.

Sedikit berbeda dengan kota tua di Jakarta dan kawasan Braga di Bandung, Cimahi memiliki keunikannya sendiri. Jika di kota tua dan di Braga, kita bisa mengambil foto bangunan dengan mudah. Hal ini berbeda dengan di Cimahi. Cimahi adalah kawasan militer, sehingga mengambil foto bangunan adalah hal yang sulit dilakukan.

Komunitas Aleut di depan Soceiteit Voor Officieren Tjimahi

Meskipun demikian, kita masih bisa menikmati keindahan bangunan tua di Cimahi. Bangunan – bangunan tua di Cimahi masih dirawat dan tidak berubah banyak karena kepemilikannya kebanyakan berada di tangan PT KAI dan TNI.

Seperti di Bandung, Cimahi memiliki masalah yang sama: trotoar yang tidak layak. Trotoar yang sempit dan kadang – kadang putus di tengah jalan adalah masalah yang dialami saat berjalan kaki di Cimahi. Mungkin berjalan kaki sudah tidak menjadi tradisi orang Indonesia, sehingga trotoar pun bukan masalah utama yang harus diselesaikan.

Sebagai penutup tulisan yang sudah keluar dari jalannya, saya berharap Bandung akan merawat dan memperbaharui bangunan–bangunan tuanya. Bukan karena merawat kenangan era kolonial, tapi karena tanpa bangunan tua tersebut, generasi di bawah kita tidak akan mengetahui kenangan yang dialami keturunan di atasnya.

-Terimakasih-

Sumber Bacaan :

Bandung, Citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng karya Sudarsono Katam

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

@komunitasaleut

@tesyaclalalaud

http://www.media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/01/catatan-perjalanan-ngaleut-tjimahi/