Merintis Trayek Bandung-Waduk Jatigede

IMG-20180213-WA0045

Ngaleut Jatigede | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Novan Herfiyana (@novanherfiyana)

“Sudah kejauhan. Ini sudah mau ke arah Kuningan,” ujar seorang petugas berseragam dishub (dinas perhubungan) di sebuah persimpangan di wilayah kecamatan Jatinunggal, kabupaten Sumedang, kepada rombongan Komunitas Aleut yang pada Minggu, 11 Februari 2018, melakukan kegiatan ke Waduk Jatigede. “Balik ke sana, ke Situraja, dari sini kira-kira ada 14 kilometer,” petugas itu pun menambahkan informasinya. Di jalur ini, memang, saya masih melihat mobil elf trayek Bantarujeg-Bandung via Wado yang lewat. Bantarujeg merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Majalengka yang dekat dengan kabupaten Kuningan.

Sambil mendengarkan obrolan teman-teman lain dengan petugas dan beberapa orang yang berada di sebuah pos, saya berbisik kepada Nia, co-navigator saya, “He he. Empat belas kilometer. Saya memperkirakan 30 kilometer.” Ya, saya yang dikenal oleh sebagian rekan sebagai “tukang ngukur jalan” memang mencatat 25-30 km untuk balik lagi ke kecamatan Situraja, kabupaten Sumedang.

Sejatinya, untuk menuju Waduk Jatigede dari Bandung, berdasarkan kesimpulan saya, kita bisa melewati tiga tahapan perjalanan. Pertama, jalur Bandung-Sumedang via Jatinangor-Tanjungsari.

Kedua, melintasi kawasan Sumedang (kota) di antara marka bundaran tugu Binokasih dan marka bundaran Alam Sari Sumedang. Di Sumedang (kota) ini, setelah tugu Binokasih, kita menelusuri Jalan Pangeran Soeriaatmadja, Jalan Cipada, Jalan Palasari, dan Jalan Prabu Geusan Ulun, hingga “berakhir” di Bundaran Alam Sari Sumedang. Di kabupaten Sumedang, biasanya hanya ada tiga arah ke kota lain yang ditandai papan petunjuk berwarna hijau yaitu Bandung/Subang/Jakarta, Cirebon (tentu saja mengarah juga pada Majalengka), dan Wado/Malangbong/Tasikmalaya.

Ketiga, di Bundaran Alam Sari Sumedang, kita memilih arah Wado/Tasikmalaya, memutar ke kanan. Seingat saya, di sini, di Jalan Raya Sumedang-Wado, perjalanan diawali dengan Jalan Tadjimalela, Jalan Sebelas April, dan Jalan Umar Wirahadikusuma. Jika disebutkan jalan kecamatan, kita melintasi Sumedang Utara, Ganeas, dan Situraja. Nah, di kecamatan Situraja (baca juga: Jalan Raya Situraja-Wado) itulah kita belok kiri ke Jalan Warung Ketan. Dari sini, kita akan melakukan perjalanan lebih kurang 6,3 km menuju Waduk Jatigede (Puncak Damar). Sebagai catatan, pintu masuk Puncak Damar yaitu dua dusun di desa Cigintung, kecamatan Cisitu (Dusun Sarongge dan kemudian Dusun Karamat).

Trayek Kedai Preanger-Waduk Jatigede

Perjalanan menuju Waduk Jatigede pada Minggu, 11 Februari 2018, tentu saja sudah direncanakan Komunitas Aleut. Selebihnya, selalu ada ke-khas-an, yaitu menelusuri jalan-jalan “sunyi”. Karenanya, kelak, salah satu jalan yang dilintasi yaitu belok kiri di Cadas Pangeran, dan bukannya melintasi jalan utama meskipun di depan kita tetap bertemu dengan jalan utama tersebut. Hanya memotong sedikit.

Tepat pada pukul 08.08 WIB, kami berangkat dari Kedai Preanger yang berada di Jalan Solontongan No. 20 D Kota Bandung. Seperti biasa, persiapan awal perjalanan ialah mengisi BBM, dan kali ini memilih SPBU di Gedebage (Jalan Soekarno-Hatta). Lebih kurang 31,7 km kemudian dari Kedai Preanger, kami sudah tiba di Cadas Pangeran pada pukul 09.22 WIB. Kemacetan “hanya” terjadi di Tanjungsari.

Lebih kurang 9,2 km kemudian, kami sudah tiba di Jalan Pangeran Suryaatmaja, ditulis juga Soeriaatmadja, menjelang pukul 10 siang, dan menghentikan perjalanannya untuk sementara. Alasannya, kira-kira 70-100 meter ke belakang, lebih tepatnya di persimpangan tugu Binokasih, dua motor rekan kami terkena razia. Sementara salah seorang di antaranya (Irfan) terkena tilang. Setelah berkeliling mencari ATM, puing-puing rupiah pun terdampar ke kas negara.

Tertahan selama 45-50 menit di Jalan Pangeran Suryaatmaja tidak lantas membuat perjalanan kami terhenti. Rombongan Komunitas Aleut yang berjumlah 25 orang dari 13 motor itu pun melanjutkan perjalanannya di kawasan Sumedang (kota) menelusuri Jalan Pangeran Suryaatmaja, belok kiri ke Jalan Cipada, belok kanan ke Jalan Palasari, dan persimpangan “lampu merah” di Jalan Prabu Geusan Ulun. Jalan Prabu Geusan Ulun merupakan salah satu jalan besar di kawasan Sumedang (kota) dan di tempat inilah terdapat pusat-pusat keramaian.

Melintasi Jalan Prabu Geusan Ulun hingga marka bundaran Alam Sari Sumedang, kami memutar untuk belok kanan. Dari sini, kami pun memulai perjalanannya melintasi Jalan Tadjimalela, yang dilanjutkan Jalan Sebelas April dan kemudian Jalan Umar Wirahadikusuma. Nama-nama jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Raya Sumedang-Wado yang melintasi kecamatan-kecamatan: Sumedang Utara-Ganeas, Situraja-Cisitu-Darmaraja-Wado.

Menjelang pukul dua belas siang, hujan mulai turun. Kami pun menghentikan perjalanannya di sebuah warung di dekat jembatan Cikasongambang untuk mengenakan jas hujan. Di “prasasti” jembatan ini tertulis: “JEMBATAN CIKASONGAMBANG, KM.BDG. 62+400, RUAS JALAN SUMEDANG-WADO”. Di pinggir jembatan Cikasongambang ini pula terdapat papan petunjuk “Makam Keramat Tadjimallela” sejauh 5 km ke arah kanan.

Di sepanjang perjalanan yang diiringi hujan besar itu, kami melanjutkan perjalanan hingga persimpangan (Puskesmas Darmaraja) dan terus lurus ke Darmaraja, bukan belok kanan ke jalan lingkar barat. Namun, justru itulah, kami malah balik lagi ke Puskesmas Darmaraja untuk menuju jalan lingkar barat. Sampai akhirnya, kami menuju Wado dan berakhir di sebuah persimpangan di kecamatan Jatinunggal sebagaimana diceritakan di awal tulisan tadi.

Setibanya di persimpangan di kecamatan Jatinunggal, kami balik lagi ke Situraja. Tentu saja jalur Jatinunggal-Wado-Darmaraja-Cisitu-Situraja akan dilintasi kembali. Namun, sebelum itu, peserta #momotoran Komunitas Aleut beristirahat di rumah makan di pinggir jembatan sungai Cimanuk. Ya, sungai Cimanuk yang airnya ditampung di Waduk Jatigede.

Puncak Damar Waduk Jatigede

Selepas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama yaitu (Puncak Damar) Waduk Jatigede. Seingat saya, kami masuk ke jalan di dusun Cisonggeang, desa Situmekar, kecamatan Cisitu. Di depan, kami melintasi desa Ranjeng dan desa Cigintung. Sebagai catatan, di pintu gerbang dusun Sarongge pun sempat terlewati. Namun, dari hasil obrolan, warga setempat memberi tahu. Lalu, setelah dusun Sarongge, kami masuk ke dusun Karamat. Sayang, jalan yang beraspal itu tampak rusak, jalan berbatu. Perjalanan sejauh 7,4 km sejak masuk dari desa Situmekar itu, kami tiba di Puncak Damar Waduk Jatigede pada pukul tiga sore.

Sebelumnya, lebih kurang 1,2 km menuju Puncak Damar Waduk Jatigede, saya membayar tiket sebesar Rp 5.000,- kepada para pemuda karang taruna dengan selembar tiket yang bertuliskan: “Karcis Wisata Jati Gede, Puncak Damar, Karang Taruna Dusun Karamat, Hatur Nuhun”.

Lalu, lebih kurang 300 meter sebelum Puncak Damar Waduk Jatigede, saya pun membayar tiket lagi sebesar Rp 10.000,- untuk dua orang (Nia, co-navigator saya, memberikan Rp 5.000,- kepada saya) dan diberi karcis masuk kendaraan motor yang bertuliskan Rp 2.000,-. Selain itu, ada juga karcis masuk pengunjung yang bertuliskan Rp 5.000,-. Saya mengetahui hal itu karena penjaganya bilang: “Kang nitip karcis kangge nu Aa itu, nya!”. Bagi saya, ini menarik. Intinya, mesti ada kerapian.

Terlepas dari itu, dari kejauhan, peserta #momotoran Komunitas Aleut pun bisa menikmati keindahan Waduk Jatigede dengan satu-dua pulaunya. Namun, bagi saya, di sana tampak kengerian. Mungkin soal kedalaman air Waduk Jatigede.

Ada yang berfoto. Ber-selfie dengan bergaya ala model. Jangan lupakan pula, di sebuah warung satu-satunya, ada sekelompok anak muda yang berbahagia (baca: rombongan Komunitas Aleut) yang bercengkrama dengan tukang madu. Tampaknya, Irfan yang berkesempatan membawa oleh-oleh madu asli yang dibawa tukang madu bersama lebahnya itu. Tidak mau kalah, “Sang Bibi” pun tidak mau membuang kesempatan dengan membawa oleh-oleh madu asli.

Tepat pukul 16.25 WIB, kami pulang, meninggalkan Puncak Damar Waduk Jatigede. Setelah melintasi dusun Karamat dan dusun Sarongge, seingat saya, kami tidak melintasi desa Situmekar lagi, tetapi desa Ranjeng untuk masuk ke kecamatan Situraja yang berakhir di persimpangan Jalan Warung Ketan/Jalan Sumedang-Wado. Namun, sebelumnya, Irfan lagi-lagi membuat cerita. Setelah ditilang dan kemudian membawa madu asli, ternyata ban motornya bocor. Tentu saja ban motornya harus ditambal. “Itu (tukang tambal bannya) di sana,” ujar seorang warga.

Alhasil, karena menunggu Irfan, kami pun menghentikan motor di Jalan Sumedang-Wado, lebih tepatnya setelah keluar dari persimpangan Jalan Warung Ketan (Situraja). Dari Puncak Damar Waduk Jatigede ke Jalan Raya Sumedang-Wado (di Situraja) ini menempuh jarak 6,3 km.

Ternyata, berhenti di sini ada hikmahnya, khususnya bagi saya pribadi, bahwa saya bisa menggambarkan rute perjalanan “termudah” menuju Puncak Damar Waduk Jatigede. Alasannya, karena di tempat perhentian inilah saya melihat papan petunjuk ke arah Jatigede (ke kiri, jika dilihat dari arah Bandung) sehingga tulisan ini tersaji. Jarak dari persimpangan ini, jika dari Pasar dan/atau Alun-alun Situraja lebih kurang 1,2 km.

Setelah “bertahan” selama 28 menit menunggu Irfan, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Perjalanannya tidak mudah karena kami harus melewati iring-iringan truk besar di kawasan Cadas Pangeran yang berkelok-kelok itu.

Setelah “lulus” melewati iring-iringan mobil, terutama truk-truk besar, tiba-tiba Bibi Kania melambaikan tangan. Saya sigap dan menyambut lambaiannya sehingga kami pun beristirahat di warung makan di kawasan Cadas Pangeran pada waktu maghrib. Beberapa rekan sudah tiba dan beristirahat.

Melewati lalu lintas yang ramai sejak Tanjungsari, saya baru tiba di Kedai Preanger pada pukul 20.26 WIB. Ada pemotor yang sudah tiba lebih dahulu dan ada juga yang datang “terlambat”. Perjalanan kami, terutama saya, hari ini untuk trayek Kedai Preanger-Waduk Jatigede-Kedai Preanger plus program “berkeliling”-nya telah menghimpun jarak 199,2 km.

Tautan asli novanherfiyana.wordpress.com

Baca juga artikel lainnya mengenai catatan perjalanan

(komunitasaleut.com – nov/upi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s