Situ Sipatahunan

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Tergolek janji berahi. 

Tumpur dalam keangkuhan jaman. (Juniarso Ridwan – Asap di Atas Bandung)

Sebetulnya saya agak malu dengan pengetahuan saya tentang tempat wisata di Bandung Selatan. Tempat wisata di Bandung Selatan yang pernah saya kunjungi hanya di Ciwidey dan Cibuni. Saat itu, saya merasa gagal sebagai warga Bandung yang harusnya kenal Bandung.

Setelah mengetahui pengetahuan saya yang kurang tentang Bandung Selatan, saya coba ikuti kegiatan ngaleut Ciparay bersama Komunitas Aleut. Objek – objek ngaleut Ciparay yakni Situ Sipatahunan, Bukit Munjul, dan Bukit Cula.

Kali ini, tulisan pertama saya tentang Situ Sipatahunan. Kenapa harus Situ Sipatahunan dulu? Tentu saja karena Situ Sipatahunan adalah salah satu tempat wisata yang memprihatinkan.

Situ Sipatahunan dulu dan kini

Sawah dekat Situ Sipatahunan

Menurut warga, Situ Sipatahunan yang sekarang adalah  bekas sawah  milik warga. Sawah – sawah tersebut berada di cekungan. Oleh karena itu, cekungan tersebut sering menjadi danau tadah hujan saat hujan.

Pada akhir tahun 1970-an, pemerintah membeli sawah –  sawah tersebut untuk diubah menjadi danau buatan. Fungsi awal danau buatan tersebut adalah sebagai pengairan sawah sekitarnya.

Sekarang ini, fungsi danau bertambah menjadi tempat wisata dengan nama Situ Sipatahunan. Selain tempat wisata, Situ Sipatahunan sering dipakai oleh warga sebagai tempat pemancingan. Kalau musim kemarau, warga sekitar sering memakai air di Situ Sipatahunan untuk kebutuhan sehari – hari.

Situ Sipatahunan, tempat wisata yang setengah matang

Walaupun memiliki status sebagai tempat wisata, jalan  yang menuju Situ Sipatahunan tergolong tidak layak. Jalan sepanjang 1,5 km tergolong sempit dan tidak rata. Sehingga, saya tidak bisa membayangkan bus wisata berukuran besar bisa melalui jalan tersebut.

Setelah jalan selama 15 menit, pemandangan Situ Sipatahunan akan terlihat. Pemandangan Situ Sipatahunan lebih diisi dengan warna hijau dan coklat muda. Warna hijau berasal dari pohon – pohon di gunung yang berada di belakang Situ Sipatahunan. Sedangkan warna coklat muda berasal dari air Situ Sipatahunan.

Situ Sipatahunan dan TPS

 

Rasanya ada yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut berasal dari dua Tempat Pembuangan Sampah (TPS) . TPS tersebut berlokasi dekat dengan Situ Sipatahunan.

Selain TPS, terdapat satu hal lagi yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut datang saat saya ingin buang sampah. Situ Sipatahunan yang berstatus tempat wisata tidak memiliki tempat sampah. Mungkin karena itulah, saya menemukan banyak sampah yang tercecer di sekeliling Situ Sipatahunan.

Melihat banyak kekurangan Situ Sipatahunan yang disebabkan oleh manusia. Rasanya Situ Sipatahunan kurang mendapat penghargaan dan perawatan dari warga dan pemerintah. Mungkin dengan sedikit perawatan, Situ Sipatahunan akan indah seperti seharusnya.

Keindahan Situ Sipatahunan tanpa TPS

 

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/24/catatan-perjalanan-situ-sipatahunan/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s