Upacara dan Nasionalisme

Oleh : Indra Pratama

Kenapa kita upacara?. Apakah upacara itu adalah kewajiban seorang nasionalis?. Bagaimana perjuangan kita untuk berupacara dapat disamakan dengan perjuangan para pahlawan?. Terimakasih banyak untuk pertanyaan Lika yang di forward oleh Bang Ridwan ke saya yang masih lelap di pukul 10.30. Membuat saya berpikir keras tentang apa sih upacara itu, dan bagaimana kita harus menyikapi upacara itu?. Apa harus ikut atau tidak.

Sebuah upacara kenegaraan, seperti layaknya upacara-upacara lain, adalah sebuah ritual. Emile Durkheim mendefinisikan ritual didalam dua kategori, ritual keagamaan dan ritual sekuler. Ritual yang lebih awal merupakan tindakan (actions) untuk menguatkan hubungan antara manusia yang beriman (believer) dengan apa yang ia percayai (god). Namun pada perkembangannya format ini juga dipakai dalam kehidupan sekuler manusia. Dengan tujuan-tujuan tertentu, para pemimpin masyarakat membawa format ritual keagamaan dalam mentransformasi “the chaotic crowd” menjadi “a mass movement“. Dengan kata lain, mengindoktrinasi tujuan society yang dirumuskan para pemimpin kepada para anggota society sebagai setu set kepercayaan umum (shared beliefs), baik secara logis maupun mistik.

Dalam menanamkan kultus kepada anggota masyarakat, dilakukanlah upacara di tempat-tempat yang sakral, dengan dikelilingi oleh objek-objek yang secara historis simbolik masyarakat itu, seperti bendera, senjata-senjata keramat, lagu, doa, kenangan bagi para pendahulu/pahlawan, dan lain-lain. George L.Mosse menyebut prosesi itu sebagai “convey a clearly defined cult to the faceless masses“. Dimana ditanamkanlah identitas masyarakat, serta tujuan dan kepercayaan bersama, yang tentunya dirumuskan oleh para founding fathers.

Dalam konteks nasionalisme, upacara menjadi sangat penting karena fokus aliran ini pada identitas “nation” (menurut World Book Dictionary : sekumpulan manusia yang berbagi wilayah dan berda dibawah satu pemerintahan, dan biasanya memiliki persamaan bahasa, ras, garis keturunan, dan sejarah). Nation, atau sekarang identik dengan bentuk nation-state (negara), memiliki landasan, pedoman, dan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu oleh para elit. Para nasionalis tentunya akan memperjuangkan kepentingan nasional mereka, dimana indoktrinasi kepentingan nasional menjadi sesuatu yang menguntungkan. Dan upacara kenegaraan tentunya bisa menjadi arena indoktrinasi yang baik, sekaligus pengikat secara sosial antar rakyat dengan negara.

Upacara bendera seperti yang dilakukan pada 17 Agustus, maupun upacara mingguan, menjadi sarana bagi Indonesia untuk mempererat lagi hubungan antara negara (konsep, bukan orang-orang) dengan rakyat. Dimana para peserta menghormat kepada bendera, dibacakan Pancasila sebagai dasar negara dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstituante, mengenang dan mendoakan para pahlawan, wejangan pembina upacara, serta berdoa untuk kepentingan bangsa. Disinilah para peserta upacara didekatkan lagi dengan Indonesia secara simbolik-historis (bendera, mengenang dan mendoakan para pahlawan), diingatkan lagi akan landasan-landasan negara (Pancasila dan UUD 1945), diberi informasi tentang kondisi terkini (wejangan pembina upacara), serta harapan negara di masa yang akan datang (doa).

Disinilah kita sebagai warga Indonesia bisa memilih, antara menjadi nasionalis dengan berupacara, dimana identitas kebangsaan kita akan selalu diingatkan tertanam, dan lebih memungkinkan segala perbuatan kita selepas upacara akan didedikasikan pada kemajuan Indonesia. Ataukah kita tipe orang realis nation-centric yang selalu ingat akan sejarah, dasar, pedoman, tujuan dan segala identitas kebangsaan dan memilih untuk melakukan sesuatu yang less-symbolic untuk kemajuan bangsa dan negara. Menurut saya dua-duanya tidak ada yang lebih baik, semua baik, tergantung bagaimana kapasitas otak kita, pilihan sikap kita, kemauan kita untuk berbuat,lingkungan sosial upacara, dan kondisi tubuh dan cuaca.

Sikap saya?. Bagi saya upacara memiliki kelebihan, dimana para peserta dimungkinkan untuk berinteraksi secara moral dengan sesama anggota masyarakat lainnya, dimana kita secara psikologis mendapat keuntungan dengan mengetahui bahwa orang-orang yang ada di sekeliling kita juga ditanamkan hal yang serupa. Tapi karena telat bangun seperti hari ini, saya mencoba mendoktrinasi diri dengan menonton televisi, browsing internet, dan mengumpulkan doktrin-doktrin yang biasa disampaikan di upacara dan berusaha membagi pemikiran saya yang rapuh ini kepada teman-teman. Menurut saya itu pilihan yang tidak bisa dibilang buruk. Karena sekecil apapun tindakan kita, selama lebih menguntungkan buat bangsa kita, tentunya sifat nasionalis sudah ada pada kita, meskipun tentunya tindakan besar jauh lebih baik. Eh iya, tidur saya itu bukan pilihan saya, melainkan murni lalainya saya.

Sumber :

  • Mosse. George L.. 1975. The Nationalisation of the Masses. New York: Howard Fertig
  • Durkheim, Emile. 1915. The Elementary Forms of the Religious Life.
  • Uzelac, Gordana. 2009. National ceremonies: the Pursuit of Authenticity (Jurnal). Dimuat di Ethnic and Racial Studies. Department of Applied Social Sciences, London Metropolitan University.
  • Smith, Anthony D. 1993. National Identity. Reno: University of Nevada Press.
  • Tim Purna Paskibraka Indonesia Kabupaten Tasikmalaya. 2008. Tata Upacara Bendera (TUB). Dimuat di http://ppikabtasikmalaya.wordpress.com/aturan-tata-cara/tata-upacara-bendera-tub/ diakses 17 Agustus 2011.
Iklan

2 pemikiran pada “Upacara dan Nasionalisme

  1. Ketika saya sekolah SD & SMA upacara di lingkungan sekolah maupun kecamatan masih sering dilakukan. Ketika SMP selain di sekolah juga di Balai Kota atau Gasibu. Yang menjemukan dalam upacara kalau wejangan dari inspektur/pembina upacara tidak membangkitkan semangat, isi pidatonya datar, apalagi kalau asyik sendiri membaca teks pidato.

    Tulisannya bagus, mau kasih “like this” mesti daftar dulu. Jadi di sini saja kasih komentar he he.

  2. iya bagus bgt tulisannya bisa aku gunakan sebagai referensi, tapi ada sekelomok orang yang menolak bahkan ada yang mengharamkan hormat kepada bendera. kalau menurut saya pribadi, saya sah2 saja untuk hormat karena kita bukan syirik tapi kita mengenang dan menghormati para pejuang sehingga nasionalisme di jiwa kita tertanam. masalah syirik atau tidak, saya rasa tidak karena sangat berbeda sekali rasa yang diberikan. saya cinta kepada ALLAH adalah rasa taqwa, iman, kita menyadari kita ada dibumi adalah untuk bertaqwa kepadaNya. sedangkan hormat bendera hanya sebagai simbol kita menghargai para pejuang bukan kita meminta atau berdoa kepada bendera. meminta dan berdoa hanya untuk ALLAH SWT semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s