Ngaleut! Puntang – Curug Gentong

Ditulis oleh : Cici Asri Mustika

Peristiwa telekomunikasi ini terjadi berkat adanya stasiun Radio Malabar. Singkat cerita, hari Minggu kemarin (13/12/09) komunitas Aleut mengajak pegiat-pegiatnya untuk menjelajahi sisa-sisa kolonial di Puntang – Malabar. Semangat ? Sudah pasti ! Karena saya penasaran sekali dengan keberadaan Radio Malabar ini dan sudah sejak lama ingin melihat langsung sisa-sisa bangunannya. Berangkatlah saya dan 15 orang teman di minggu pagi itu. Oya, informasi lengkap mengenai stasiun Radio Malabar, bisa lihat catatan teman saya – Ayan – dan catatan teman saya juga – Bang Ridwan.

Kami berkumpul jam 8 pagi di seberang museum Sribaduga – Tegallega. Jam 9 lebih, kami mulai berangkat menggunakan angkutan umum langsung menuju Puntang. Untung Elgy gak ditinggalin (^^). Ongkosnya murah, Rp 6000.- saja. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami di gerbang gunung Puntang. Untuk memasuki wilayah ini, dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 5000.- Tidak lama kami berjalan, sudah terlihat sisa-sisa kolonial berupa alas/peyangga pipa air yang terbuat dari batu, ukurannya besar-besar. Pipa besinya sendiri sudah tidak bersisa karena mungkin sudah diambil warga. Tidak jauh dari situ, dapat kita lihat kolam bekas penampungan air yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Jalan ke atas sedikit, dapat kita jumpai bangunan bekas rumah tinggal para pegawai radio Malabar, disebut Radio Dorf atau Kampung Radio. Dinding bangunan-bangunan ini terbuat dari batu dan sekarang tinggal puing-puingnya saja yang sudah tertutupi lumut dan tanaman liar. Kata Ayan, di salah satu sudut bangunannya ada plakat bertuliskan nama-nama orang yang ikut membangun kompleks Radio Dorf. Tapi gak berhasil nemu. Padahal penasaran banget bentuknya kayak gimana ..

Hari sudah siang tetapi perjalanan baru saja dimulai. Agar tetap bertenaga dan tidak kelaparan, istirahatlah kami di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari puing-puing bangunan tadi. Bala-bala masih menjadi makanan favorit di tiap perjalanan. (^^) Teh Ana, Yanstri, Eby dan Dimas lahap sekali menyantap baso kuah panas pedas a la Puntang.

Sambil mengisi perut dan mengumpulkan tenaga, Bang Ridwan mengobrol dengan pemilik warung. Saya ikut-ikutan nguping aja, siapa tahu dapat informasi menarik mengenai Radio Malabar ini. Beruntunglah kami mengobrol dengan Pa Edi. Kami dapat cerita lumayan banyak. Mengenai gua, ada yang bilang bahwa gua yang sekarang bernama Gua Jepang itu adalah tempat persembunyian. Tetapi Pa Edi bercerita, sejak awal, gua tersebut dibuat untuk pemancar radio. Mengenai kolam cinta yang terkenal dengan mitosnya itu, dahulu adalah kolam hias biasa saja sebagai bagian dari halaman depan kantor pusat Radio Malabar. Disebut kolam cinta mungkin karena bentuk kolamnya yang menyerupai hati. Dan mengenai hancurnya Radio Malabar, bukan karena pengeboman yang dilakukan oleh pihak Jepang, tetapi karena dihancurkan oleh warga Bandung sendiri. “Ieu sadaya direksak ku bangsa urang, ngarah Belanda henteu uih deui ka dieu” cerita Pa Edi. Bahkan jembatan Citarum – Dayeuh Kolot pun sengaja dirusak agar tidak ada yang bisa masuk ke wilayah ini. Pa Edi mendapatkan cerita ini langsung dari ayahnya yang merupakan salah satu pegawai Radio Malabar pada waktu itu.
Hmm .. Cerita yang menarik dan makin menambah rasa ingin tahu. Tapi apa daya, cerita harus dilanjutkan di lain waktu karena hari sudah terlalu siang dan kami masih ingin melanjutkan satu perjalanan lagi ke Curug Gentong.

Perjalanan yang jauh dan lumayan bikin paha pegel-pegel. Sebelum benar-benar mendaki, kami masih mendapati puing-puing bangunan kolonial di kiri-kanan jalan setapak. Keadaannya sama, hampir rata dengan tanah dan tertutup banyak tanaman liar. Kami dapati juga beberapa pasangan anak muda yang sedang berdua-duaan duduk di semak yang sepi dan terpecil (hihi .. uyuhan ga ararateul kena ulet dan hewan ateul lainnya^^).

Setelah melewati jembatan dan kolam cinta, mulailah kami menapaki jalan menuju curug. Ini kali pertama Aleut minta ditemani guide. Ya, khawatir tersesat dan kami belum begitu mengenal medan yang satu ini. Kami ditemani oleh tiga orang guide. Setengah jam perjalanan, tiga perempat jam perjalanan, satu jam perjalanan, masih aman-aman saja. Setelah kira-kira satu jam lebih perjalanan, kami mulai kelelahan. Istirahat sejenak, minum air jeruk dan makan sepotong coklat. Seperti biasa, jangan khawatir kelaparan kalau ada A Yanto dan Teh Ana. Memang sudah jadi kakaknya Aleut, gak pernah lupa bawa makanan banyak buat adik-adiknya. Hehe. Jeruk, mangga, duku, sampai ubi rebus pun gak ketinggalan. “A Yanto memang sahabat alam” kalo kata Ayan mah. Perjalanan sudah sejauh ini, dan saya yakin pasti sebentar lagi sampai ! “Masih satu jam lagi, Teh .. “ kata Akang guide. Wuaduuhh … Bujubuset dah ndroo … Kirain udah mau di akhir .. Ternyata masih setengah perjalanan. Huff.. Ayo semangat ! Jalan terus !!

Ada yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Tanjakannya memang tidak begitu ekstrim, tapi kok saya merasa horror ya. Jalan yang kami lewati rimbuuun sekali seperti di hutan. Akang guide yang berada di depan saya sering sekali menebaskan goloknya. Syaatt .. syaatt .. syaatt .. (suara golok teh begini bukan ya? ^^) memangkas tanaman dan pepohonan liar di kiri-kanan jalan setapak, dibantu Adi yang pada waktu itu membawa golok juga. Ternyata, belum pernah ada yang melewati jalan ini sebelumnya, bahkan ke-dua guide kami sekalipun! Aleut yang pertama membuka jalur ini !! Waaw Amazing .. “Berarti jalurnya masih perawan!” kata Naluri. Lebih horror lagi karena sepanjang jalan kami harus ekstra hati-hati dengan pohon berduri. Jangankan pohon, daunnya pun berduri tajam dan bikin efek setruman (istilah Budhie) yang luar biasa! Hiii … Semakin liar saja perjalanan kami.

Untuk mencapai Curug Gentong, kami harus menyeberangi tiga sungai kecil dan – yang paling seru – mengikuti jalur air. Kukurusukan ? Pastinya .. ! Bukan Aleut namanya kalo ga pake kukurusuk.. ^^ Suara gemuruh air sebenarnya sudah terdengar, tapi kok belum sampai-sampai juga ? Tapi tidak menyurutkan semangat donk! Hajar teruss!!

Kurang lebih jam 3 sore, akhirnya sampai juga kami di Curug Gentong!! HWAAA .. Saya langsung bersuka cita dan berpelukan dengan Icha, setelah sebelumya melewati Shocking Bridge (Dimas, Bey dan Mpiw jangan bilang siapa-siapa yaa. Cuma kalian kan yang tau?^^). Lelah dan pegal yang kami rasakan digantikan dengan pemandangan curug dimana tumpahan-tumpahan airnya membuat mata dan badan menjadi segar seketika. Setelah itu kami mulai membuka bekal masing-masing. Baru kali ini saya merasakan nikmatnya makan mie goreng delapan jam (mie goreng yang dimasak delapan jam yang lalu. Heu2). Oh ya, curug ini mempunyai ketinggian 25 meter. Dinamakan Curug Gentong karena ketika surut, curug ini katanya terlihat seperti gentong. Lanjut makan-makan .. Biar tambah segar, jangan lupa mencicipi menu wajibnya Dilla, Nutrijel coklat! Selagi mengisi perut, tiba-tiba kabut turun! Indahnyaa … Walaupun tidak setebal kabut di Tangkuban kemarin, saya selalu suka melihat kabut! Selalu suka berada di dalam kabut! Saya sentuh-sentuh kabut itu, ingin sekali rasanya dibawa pulang .. ^^
Hari semakin sore dan kami harus segera turun, khawatir kemalaman di tengah jalan (padahal masih seneng main-main sama kabut). Tidak banyak kendala dalam perjalanan pulang, tetapi masih harus hati-hati dengan tanaman berduri dan harus lebih cepat melangkah karena hari mulai gelap. Kaki saya sudah lemas …

Untunglah kami sudah sampai di bawah tepat saat langit benar-benar gelap. Kami beristirahat kembali di warung yang pertama kami datangi tadi. Segelas susu panas cukup untuk menenangkan dan menghangatkan tubuh saya. Setelah beberapa lama, akhirnya angkot yang kami tunggu datang juga. Kami pulang naik angkot sampai Kebon Kalapa. Bikin lelah .. Tapi terbayar dengan bukti-bukti sejarah radio Malabar dan kabut indah .. (^^)
Mau kesana lagi ??

Gunung Puntang, nanti aku kembali

Ditulis oleh : Febya Stevaria Tangahu

Minggu pagi tanggal 13 Desember 2009, aku dibangunin sama ibu buat pergi ngaleut. Jam setengah 7 aku sudah siap berangkat di anter ibu, di perjalanan aku heran ko hari ini sepi ya jalan? Aku check sms di hp dan kubaca ternyata ngaleutnya jam 8! sial sudah buru-buru eh gataunya kecepetean.

Kami semua berkumpul di Tegalega depan Musium Sribaduga, karena aku sampe kesana jam 06.50 aku sms bey aja biar dateng cepet. Ga lama kemudian yang dateng bukan bey malah a adi. tapi ga lama kemudian juga yang lain pada dateng.

Langsung di Gunung Puntang.
Sesampainya di sana kita kukumpul uang buat bayar masuknya, biayanya kemaren tuh sekitar 5000/orang. Kita berjalan masuk ke sana, tapi terhenti karena para ibu2 ditambah elgy dan dimas pergi ke kamar kecil dan goloknya ketinggalan di angkot. Udah pada kumpul kita jalan ke atas cari warung soalny apada laper, nanjak banget jalan motongnya. Diperjalanan motong kita melihat ada pipa saluran air dari sungai cigeureuh ke kolam penampungan dan ada rumah tempat para pegawai Radio Malabar.

Sesampainya di warung kita makan-makan ada tukang baso ya udah kita panggil aja kebutulan baso adalah makanan kegemaran ayan. Sesudahnya makan kita bersenda gurau sejenak menunggu Guide. Guide datang kami pun berjalan ke Gua Belanda.

Di Gua Belanda kami masuk dan anehnya Gua Belanda itu mempunyai sekitar 150cm yang tidak sepadan dengan badan orang Belanda, tapi ada sebagian tempat yang lebih tinggi juga tidak setinggi 150cm. Panjang Gua Belanda itu kurang lebih 200m dengan beberapa lorong. Ada yang bikin aku heran ini gua udah lama tapi ko kaya yang baru di benerin ga tau emang betonnya bagus atau abis di renovasi.

Keluar dari Gua Belanda kami langsung jalan menuju Curug Gentong, katanya sih mau ke Curug Siliwangi tapi medannya lebih curam dan jauh dan “katanya” wisatawan juga belum ada yg kesana. Diperjalanan kami melihat ada Kolam Cinta. Kolam itu dinamakan Kolam Cinta karena berbentuk hati dan berada di depan kantor.

Kolam Cinta sudah kami lewati kami pun terus berjalan menuju Curug Gentong yang jaraknya 3.5m dari Kolam Cinta. Karena Curug Gentong belu banyak yang ngedatengin jalan yang kami tempuh aga sedikit tertutup untung Guide kita menebang pohon yang nutupin jalan. Tapi hati-hati ada daun berduri kalau kena kulit akan perih dan lama-lama jadi gatel aku aja kena beberapa kali di kaki perih banget, terus banyak juga batang yang durinya gede-gede kakiku sampe baret-baret. Kata Guidenya daun itu juga bakal tembus ke baju durinya, kalo mau cepet ilang gatelnya yang kena daunnya digosok-gosok pake tanah.

Kami menemukan 2 jalan yang curam sampe-sampe harus pake tali turunnya, kaya climbing, hampir 90 derajat medannya. Akhirnya kita sampai di Curug Gentong dalem Curug Gentong sampai 3m dan airnya dingin seperti air kulkas. Akupun senang akhirnya sampai disana walaupun tempatnya itu sempit.

Perjalanan pulang dari Curug Gentong kami tempuh selama 2.5 jam. Sampai di warung kamipun istirahat dan ada yang makan dan ada yang ngobrol rame sambil nunggu angkot pulang ke Bandung.

12/18/2009;02:52

Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II

Ditulis Oleh : M. Ryzki W.

Again,,, Perjalanan dengan Pak Bachtiar / Pak Budi selalu memberi wawasan dan pengalaman baru bagi saya, kali ini temanya adalah Geotrek II “Menguak Kabut Gunung Malabar dan Gunung Wayang, Kab. Bandung” Punten kalo judulnya salah, maklum saya masih terpesona dengan pengalaman kemarin,, hahaha

Seperti biasa di pagi2 buta, peserta sudah dikumpulkan di Itzerman Park – Taman Ganesha, di lokasi ini, apabila kita mau ngamprak sedikit, ada sebuah plakat buatan jaman Belanda yang menunjukan lokasi Pegunungan Malabar, yang dahulu konon masih terlihat dari taman ini, sekarang mah tertutup kabut polusi made by human,,,

Sejak pertama datang, saya disajikan dengan wajah2 asing yang tampak ramah, beberapa orang telah saya kenal seperti Pak Bachtiar, Ulu, Bang Ridwan, dan Yanstri, yang lainnya sepertinya perlu Taaruf dulu,,, Dalam perjalanan nanti, wajah2 ini akan selalu terkenang, walau nama2nya tidak bisa semuanya saya ingat karena keterbatasan memori otak saya.

Nah, dalam perjalanan kali ini kami menggunakan Bus ITB, yang sangat nyaman dibandingkan dengan Truk TNI yang pernah kami gunakan menuju lokasi tambang emas di Pangalengan dahulu kala,,, Insting saya membimbing saya kepada Bus 1, dan benar saja, kebetulan Pak Bachtiar juga menaiki Bus yang sama, jadi dalam beberapa kesempatan di perjalanan saya beruntung bisa mendapatkan joke2 segar dari beliau, selain materi2 tentunya,,,

Alhasil, tibalah kita di lokasi pertama, yaitu Gunung Puntang yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar,,, Sesampainya di gerbang gunung ini, kami sudah disambut oleh segerombolan anak SMP yang sebenarnya memang tidak berniat menyambut rombongan kami. Setelah menghabiskan beberapa bala-bala tiis kami pun meneruskan perjalanan ke lokasi pemancar komunikasi Hindia Belanda yang terkenal itu.

Setelah tiba di gunung puntang, Pak Bachtiar menjelaskan mengenai asal muasal nama “Malabar” yang menurutnya berasal dari bahasa sunda yang artinya air yang membludak (tolong revisi kalau salah, pak,,) atau bisa juga mengacu pada kawasan di India, yang merupakan salah satu kawasan penghasil budak bagi VOC… Penggunaan nama malabar ini juga mungkin berhubungan dengan Edward Kerkhoven pengusaha perkebunan teh yang pernah mengepalai perkebunan teh di daerah Assam India. Selain itu kawasan ini mungkin pernah dijadikan perkebunan kopi asal Malabar India, yang diimpor ke Jawa tahun 1699 oleh VOC. Kata “Malabar” ini juga bisa jadi berasal dari bahasa Arab “Mal” artinya Uang dan “Abar” yang artinya Sumber, dan memang Malabar ini merupakan daerah yang sangat menghasilkan uang,,,,

Peta Malabar, India

Lalu, konon dulunya di situs gunung Puntang ini berdiri kerajaan Nagara Puntang, beberapa peninggalannya pernah ditemukan. Tapi yang paling terkenal dari sini adalah pemancar radio kolonial , yang berdasarkan informasi dari situs PR, dibangun di masa pemerintahan hindia Belanda mulai tahun 1917-1929 oleh Dr. Ir. C.J. de Groot (de Groot artinya “Yang Besar/Agung”, suatu julukan baginya), beliau adalah seorang sarjana teknik lulusan Universitas Delft, Belanda.

Pemancar ini ditujukan sebagai sarana komunikasi utama dengan pemerintah pusat di Belanda, daripada sebelumnya yang menggunakan saluran kabel Laut milik Inggris di laut Aden yang rawan karena sedang terlibat perang dunia II.

Nah, Pemilihan gunung puntang dengan ketinggian 1300 mdpl sebagai lokasi pemancat ini, pertama dengan pertimbangan keamanan tempat ini cukup tersembunyi, selain itu struktur kawasan ini mendukung penguatan sinyal ke negara Belanda.

Ahh,, Mengunjungi lokasi ini seakan2 mengingatkan saya akan kakek saya yang dahulu pernah juga mengunjungi tempat ini.

Poto si Kakek dan kawan2 di depan kantor Stasiun radio malabar

Radio Malabar berdiri tanggal 5 Mei 1923 merupakan pemancar menggunakan teknologi arc transmitter yang terbesar di dunia. Stasiun pemancar Malabar ini memiliki antena pemancar sinyal sepanjang 2 Km, membentang hingga gunung halimun. Kebayang? Nah saya juga gak kebayang sebelum liat gambar berikut

Sketsa bentuk antena

Berikut adalah kutipan informasi dari situs Pikiran Rakyat :
…Sementara untuk perangkat pemancar, Dr. Ir. C.J. de Groot menggunakan teknologi yang cukup kuno yaitu berupa poulsen (busur listrik) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km hingga 75 km.

Mereka yang bertugas menjalankan pemancar tersebut di antaranya Mr. Han Moo Key, Mr. Nelan, Mr. Vallaken, Mr. Bickman, Mr. Hodskey, Ir. Ong Keh Kong, serta masyarakat setempat, di antaranya Djukanda, Sudjono, dan Sopandi. Hal ini tertulis dari nama-nama yang tertera di dinding rumah yang kini hanya berupa puing-puing dinding batu….

Melalui pemancar ini jualah, terkenal frase “Halo Bandung” sebagai sign call dan pernah pula dipopulerkan lewt lagu oleh Willy Derby dan konon Ismail Marzuki. Dahulu, untuk bisa sekadar berkomunikasi lewat pemancar ini, biayanya sangat mahal, pokoknya untuk orang pribumi mah gak akan mampu dah, orang Belanda juga kudu nabung berbulan2 supaya bisa nelpon kerabatnya di negara asalnya. Makanya dalam lagu Halo Bandung yang versi asli, terlihat gambaran perasaan sang penelpon yang sangat terharu ketika bisa mendengar suara ibunya. Mantap dah,,,

The Famous Halo Bandung

BTW, Puing2 bangunan yang sempat dijadikan lokasi pemotretan peserta tour dulunya adalah Kampung Radio (Radio Dorf), yang rumah2nya bergaya kolonial. Di lokasi ini juga terdapat fasilitas penunjang seperti kolam renang, lapangan olah raga (tenis), bahkan gedung bioskop. Kolam renangnya adalah yang dikenal sebagai kolam cinta, yang konon apabila kita pacaran disana, hubungan pacarannya akan langgeng, tapi tetep aja nikahnya mah sama orang lain,, hahaha

Nah, siapa pula yang menghancurkan bangunan2 disini, yang pasti adalah pihak yang anti Belanda, bisa jadi jepang atau pribumi,,, Tapi jangan lupa, lewat pemancar inilah teks proklamasi bisa menyebar ke seluruh dunia,,,

Nah sebagai bahan perenungan, bayangkanlah bahwa dahulu untuk sekadar menelpun orang di luar negeri, memerlukan sebuah kompleks bangunan dengan antena 2 kilometer yang ditenagai oleh 4 pembangkit listrik, sekarang cuma butuh sebuah handphone dan charger, dan pulsa tentunya,,, mari kita bersama2 mengucapkan Syukur Alhamdulillah,,,

Kemudian, sesuai tradisi, perjalanan dengan Pak Bachtiar atau Pak Budi seakan-akan belum lengkap apabila belum basah-basahan. Walaupun ada jalan tanah yang lumayan bagus, tetap saja peserta dibimbing menyusuri sungai Cigereuh (Tolong revisi kalo salah), yang meripuhkan banyak peserta kecuali saya, untung saja tidak ada peserta yang mengalami kesulitan berarti, semuanya berhasil melalui rintangan dengan selamat sentausa, semuanya bahagia kecuali pak Moro yang harus mengikhlaskan kamera digitalnya yang tercelup air,,, Pengen diganti tuh Pak,,

Setelah sampai di sisi sungai ini, Pak Budi langsung menjelaskan mengenai jenis batu-batuan serta penyebab parahnya efek gempa di tasikmalaya (2/09/09) di daerah Pangalengan, yang ternyata berada dalam satu sesar/jalur patahan, ditambah dengan konstuksi bangunan yang rapuh. Sumpah saya baru tahu, Pak,,,

Selanjutnya peserta digiring kembali ke tempat parkir Bus, tapi tetep aja banyak yang penasaran dengan kolam cinta, padahal pada gak bawa pacar, tapi saya pun tergoda dan mengikuti mereka juga,,, Peserta memanfaatkan keindahan suasana kolam ini dengan saling mengambil dokumentasi.

Tepat di belakang kolam ini, ialah stasiun pemancar radio tersebut, kini hanya tersisa puingnya yang terongok dengan kondisi yang menyedihkan, untuk mencapainya, saya dan Yanstri harus melewati ranting2 dan semak2 lebat terlebih dahulu,,, Tapi lumayanlah bisa popotoan di sini.

Sekembalinya ke Bus, ternyata sudah dipenuhi oleh para peserta yang kelaparan dan tampaknya sudah lumayan lama menunggu, untung saja ada peserta yang lebih telat datang, jadi saya dan Yanstri nggak terlalu malu,, haha

Kita melanjutkan perjalanan ke situs Boscha,,,

Mulai terasa hawa yang membuai dan pemandangan yang menyilaukan seperti kesan Penulis Louis Couperus saat mengunjungi kawasan pangalengan ini :

“Ya di alam yang indah dan lingkungan yang bersinar cerah, pria itu sekan-akan berada dalam rumahnya sendiri. Dia besar dan kuat seperti gunung berapi, dia pekat dan halus seperti kehijauan daun teh, sama sperti langit biru yang membentang”.

Kedatangan kami di tempat ini disambut oleh jamuan makan siang yang luar biasa, betapa tidak, Soto Bandung yang hangat di tengah hawa dingin pangalengan. Yummm,,, Tidak sempurna hidup seseorang sebelum merasakan moment tersebut… Sebelumnya pak Budi bercerita mengenai gempa bumi, mengingat kediaman boscha tempat kami bersantap ini juga merupakan salah satu korban gempa bumi yang tidak bertanggung jawab tersebut,,,

Kemudian pak Bachtiar menceritakan legenda Danau Cisanti (Hulu sungai citarum) yang membuai angan,,, Konon di masa lalu ada seorang pemuda gagah nan tampan yang memakai kemeja biru dan bertopi Kompas (hehe), yang ingin menikahi seorang wanita cantik di daerah lain. Nah, ketika pemuda ini asyik bertapa di Cisanti, ia melihat seorang wanita cantik jelita, lebih cantik dari Luna Maya,,, dan hatinya langsung terpikat,”Keleplek-klepek” kalau istilah Pak Bachtiar.

Sesuai dengan istilah “wajahnya mengalihkan duniaku”, pemuda ini sangat terobsesi dengan wanita cantik tersebut, bahkan usaha agrobisnisnyapun hingga terbengkalai. Alhasil, ketika sang pemuda ini hendak meminang wanita calon istrinya, dalam perjalanan menuju lokasi resepsi, ia berkata pada pengawalnya kalau ia pengen mampir dulu ke cisanti untuk bertapa,,, Benar saja sang wanita gaib pun muncul, kali ini sang pemuda pun penasaran mendekatinya dan berakhir mati tenggelam….

Ternyata sang wanita gaib adalah arwah seorang wanita yang mati penasaran karena dikecewakan seorang pria tak bertanggung jawab, ia ingin memepringatkan pria lain agar tidak lengah,,, Dan ternyata terbukti kalau sejak dahulu pria itu tidak bisa dipercaya,,,

Nah, orang tua mempelai wanita yang menunggu kedatangan sang Pemuda sangat kecewa atas kematian calon menantunya, ia pun mengobrak-abrik gedung perkawinan dan melempar apapun yang ada di sana, seperangkat wayang yang ia tendang berubah menjadi gunung wayang, lainnya ada yang berubah menjadi gunung kendang, dan lain-lain…

Sungguh cerita yang menarik dan sangat bermuatan moral, intinya jadi cowok jangan jelalatan !

Setelah santap siang yang tidak terlupakan, saya menyempatkan diri untuk sekadar mendokumentasikan rumah sang Hoofdadministrateur Bosscha yang kemarin sempat terkena efek gempa. Nah, mumpung masih di rumah Bosscha, mari kita sekalian ngomongin beliau…

Interior Rumah bosscha

Ngutip Wikipedia sedikit, Bosscha lahir di Den Haag tanggal 15 Mei 1865. Ia adalah anak dari Johannes Bosscha, seorang profesor sekolah akademi militer di Breda sekaligus direktur Politeknik Delft. Nah, si Bosscha ini ternyata dari kecil memang sudah punya cacat di kaki, jadi harus selalu ditemani tongkat di usia lanjutnya.

Setelah menamatkan sekolah tinggi di Delft, ia berangkat ke Bandung untuk mengurus proyek pertamanya, yaitu pemrosesan teh dengan “ban berjalan” di pabrik teh di perkebunan Sinagar Cibadak yang dikelola oleh pamannya E.J. Kerkhoven. Beberapa tahun kemudian ia mendapat panggilan dari pamannya, R.E. Kerkhoven, seorang pengusaha teh yang pernah dimuat dalam novel Hella S. Haasse, Berjudul Heren van de Thee (1992). Bosscha ditugasi untuk mengelola lahan perkebunan teh baru di pangalengan yang memiliki ketinggian 1400-1700 mdpl. Mulai tahun 1986, perkebunan ini mulai digarap, dan menghasilkan perusahaan NV Assam Thee Onderneming yang sangat menguntungkan.

Tahun 1910 Ru Bosscha menjadi anggota pengurus harian Het Thee Expert Bureu. Tahun 1911 ia mendirikan Kebun Pembibitan Selecta di Garut. Sejak tahun 1917 Ru menjadi Kepala Persatuan Kebun Percobaan Teh. Tahun 1917-1920 an 1922-2923 menjadi pimpinan Persatuan Perkebunan Sukabumi (Soekaboemische Landbouw Vereneging). Ayahnya pada waktu di Eropa terkait denagn peraturan skala metrik (het metricsh stelsel), karena itu Ru Bosscha menerapkannya di Indonesia. Satuan ukuran tanah yang dahulunya adalah bahoe ( 1 bahu bangunan=500×500 Rijnlandse roeden=7096 m2) diganti dengan hektar. Sepanjang jalan dari Pengalengan ke Bandung dipancangi tonggak dalam jarak ukuran kilometer yang sebelumnya mepergunakan pal (1 pal = 1.5 kilometer). (Dikutip dari maulanusantara.wordpress.com)

Tidak seperti tokoh kolonial lainnya, Bosscha termasuk dalam kalangan Filantropis atau sahabat kemanusiaan, bahkan sejak dulu ia telah mengembangkan konsep Corporate Social Responsibity (CSR). Di perkebunannya ia turut mendirikan pusat kesehatan dan sekolah rakyat untuk para buruh dan keluarganya (sekarang bangunannya masih ada lho).

Para petani teh mengantar hasil panen ke Pabrik,,,

Selain sebagai preanger planter, Bosscha juga merambah ke bidang-bidang lain, dan kalau membahas semuanya mungkin perlu sebuah buku tersendiri, silakan saja browsing di internet kalau mau tahu lebih banyak,,,

Nah tanggal 28 November kemarin saat kita mengunjungi makan Boscha sebenarnya mendekati masa 81 tahun sejak Bosscha meninggal tanggal 26 Nopember 1928 di Malabar. Ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung. Nah, saking sibuknya, Boscha belum sempat menikah sepanjang hidupnya, lagipula buat apa menikah kalau anda tinggal di tengah perkebunan teh dingin yang dihuni oleh banyak mojang2 yang geulis ?

Makam Bosscha nih, pak Upin belum lahir pas poto ini dibuat,,,

Jenazahnya tidak dikirim ke Negara asalanya melainkan dikebumikan di area perkebunan ini sesuai amanatnya.

Peserta tour berkesempatan untuk mengunjungi makam Bosscha yang berbentuk observatorium Bosscha di Lembang, namun sang kuncen makam “kekeuh” kalau bentuk makam itu menyerupai topi yang biasa dikenakan oleh para Preanger Planters. Sang kuncen, kalau gak salah namanya Pak Upin, otomatis menceritakan segala yang ia ketahui mengenai Bosscha, mulai dari penyebab kematiannya karena tetanus, yang menurut sumber lain karena patah tulang akibat terjatuh dari kuda Putihnya (versi kedua ini lebih saya percaya,,,), kisah pohon teh tua gaib yang suka berpindah2 (yang menurut saya mitosnya sengaja diciptakan agar tidak ada yang mengganggu peohonan tersebut), kisah sepeda torpedo yang bisa mengantar Bosscha secepat kilat ke Lembang, hingga kisah turis pembakar jagung yang mendadak kaya setelah bertemu hantu Bosscha…

Pak Upin juga menceritakan legenda gunung Nini (diterjemahkan menjadi Gunung Nenek, hehe), yang di atasnya terdapat sebuah gazeebo tempat Tuan Bosscha mengamati kekayaan alamnya. Menurut Pak Upin, gunung ini didiami seorang nenek-nenek, yang kedapatan amanat menjaga perkebunan ini. Segala informasi ini cukup menghibur, sebanding dengan tarif Rp. 1000 yang dikenakan kepada setiap peserta yang mendengarkannya,,, hahaha

Entah soal kebenaran mitos2 mengenai Bosscha di atas, namun menurut saya Tuan Bosscha sangat memahami kultur masyarakat Indonesia yang serba mistis, sehingga dia menciptakan mitos-mitos tersebut untuk menjaga asetnya, dan usaha tersebut terbukti berhasil.

Oh ya, sebelum kelewat, Pak Budi Brahmantyo juga sempat menjelaskan mengenai proses penggunaan panas bumi (Geothermal) sebagai pembangkit listrik, yang menjadi sample dalam hal ini adalah PLTU Wayang Windu, yang tidak terlihat jelas karena sudah tertutupi kabut,,, Yang bisa saya simpulkan adalah bahwa teknologi geotermal ini cukup ramah lingkungan, namun sangat bergantung pada keadaan lingkungan sekitar…

Dari sini, kitapun melanjutkan perjalanan ke situ Cileunca, bus berhenti sebentar, memberi kesempatan kepada peserta yang ingin mengambil dokumentasi.

Situ Cileunca Baheula

PLTA ini menggunakan aliran sungai Cisangkuy (atau Cileunca ya?…), pada awalnya ditujukan untuk memberi pasokan listrik bagi Stasiun Pemancar Radio Malabar. Pembangunan dilakukan selama 7 tahun (1919-1926), dan mitosnya saat menguruk lahan tersebut, penduduk tidak menggunakan pacul melainkan menggunakan halu.

Berdasarkan catatan Amoel (amoel.blogspot.com), Pembangunan situ tersebut, dikomandani dua orang pintar, yakni Juragan Arya dan Mahesti. Maka, tak heran, makam Mahesti dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat. Selain itu konon ada dua siluman yang terkenal di Situ Cileunca. Lulun Samak dan Dongkol. Lulun Samak adalah “sesuatu” yang mematikan dengan cara menggulung mangsa. Sementara, Dongkol adalah “sesuatu” yang berwujud kepala kerbau.

Yah, di luar semua mitos tersebut,,, Pemandangan situ ini patut mendapat “Two Thumbs Up” dari Roeper dan Ebert…

Nah, kali ini perjalanan yang sangat tunggu2, mengunjungi rumah “Jerman” di daerah Cukul. Sepertihalnya makan soto Bandung di Rumah Bosscha, tidak sempurna pula hidup seseorang sebelum mengunjungi rumah luar biasa ini… Berangkkkaat !

Saat kita tiba di lokasi “Waaakwaww,,,!!!” Rumah ini telah rata dengan tanah, sayapun menangis tersedu-sedu melihat pemandangan ini, artinya hidup saya tidak sempurna,,, Lebay,,, Tetapi aslina, saya tetap sangat menyesali pembumirataan bangunan ini, yang menurut penjaganya disebabkan oleh gempa panalengan kemarin. Tapi katanya mau dibangun lagi, entah seperi bentuk aslinya atau berubah sama sekali,,, Di lokasi tersebut saya sempat menancapkan sebuah tongkat, dimana nantinya apabila saya mengunjungi lokasi tersebut diharapkan telah berdiri bangunan yang sama persis,,, (Meniru Daendles)

The Ruins

Akhirnya Geotrek II pun ditutup dengan suasana yang sendu, tapi saya tetap bahagia dan sangat menikmati mengikuti perjalanan ini, sunggu tidak akan terlupakan sepanjang masa,, saya akan terus mengikuti geotrek selanjutnya selama masih sesuai dengan anggaran fiskal saya, baiklah, terima kasih untuk semua penyelengara, Wabilahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,,,

“Pemboman” Radio Malabar

Ditulis oleh : Ridwan Hutagalung

J.C. Bijkerk dalam bukunya “Vaarwel tot Betere Tijd” menulis bahwa pada tanggal 6 Maret 1942 para pembesar Pemerintah Hindia Belanda (Jend. Ter Poorten, G.G. Tjarda, Maj. Bakkers, dan Gubernur Jabar Hogewind) mengadakan suatu pertemuan di rumah Residen Bandung, Tacoma. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan menjadikan Bandung sebagai kota terbuka dengan maksud agar Jepang dapat masuk Bandung tanpa harus terjadi peperangan.

Peristiwa ini tentu dapat dimaklumi mengingat sebelumnya Jepang telah memborbardir pertahanan sekutu Pearl Harbour di Lautan Pasifik (8 Desember 1941) yang dilanjutkan dengan siaran gencar radio propaganda Nippon yang dipancarkan dari Tokyo. Siaran dalam bahasa Indonesia ini berisi : “Sebentar lagi Tentara Dai Nippon akan tiba di Indonesia. Kami akan datang bukan sebagai musuh, tetapi bertujuan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.” Sebagai pembuai, siaran gombal dari Jepang ini selalu diakhiri dengan pemutaran lagu Indonesia Raya yang ternyata memang mampu membuai kebanyakan rakyat Indonesia.

Propaganda balik dari pihak Belanda dilakukan melalui radio-radio Nirom Surabaya dan Nirom Batavia, isinya agar rakyat Indonesia jangan memercayai siaran radio propaganda Jepang tersebut. Namun serangan balik ini sama sekali tidak berhasil karena tak lama kemudian Suarabaya, Malang, dan Madiun telah dibombardir angkatan udara Nippon.

Serangan berikutnya terjadi di Laut Jawa pada 27 Februari 1942. Jepang berhasil menenggelamkan kapal-kapal Exeter, Kortenaer, Java, dan Encouter milik sekutu yang disusul oleh dua kapal terakhir, Houston dan Perth.

Rangkaian peristiwa ini sudah membuat pihak Belanda kehilangan daya untuk melawan sehingga menyerah tanpa banyak perlawanan. Karena itulah pertemuan di Bandung seperti yang dikutipkan di atas dapat terjadi.

Setelah menduduki Bogor, pangkalan udara Kalijati, benteng Ciater, dan kemudian pangkalan udara Andir, maka sebagian besar Jawa Barat sudah ada di tangan Jepang. Penyerbuan ke wilayah pedalaman Jawa Barat pun tidak mendapatkan reaksi berarti.

Kemudian pada 8 Maret 1942, terjadi perundingan Kalijati antara pihak Belanda (Ter Poorten, dkk) dengan pihak Jepang (Jend. Imamura) yang intinya adalah gencatan senjata dan pernyataan penyerahan Belanda kepada Jepang.

Keesokan harinya di Hotel Homann, Jend. Imamura dan tentaranya melakukan upacara doa atas keberhasilannya menguasai Pulau Jawa dan segera dilanjutkan dengan sebuah pesta perayaan. Dengan ini resmilah Jepang menjadi penguasa baru Nusantara. Tanggal 8 Maret kemudian dijadikan Hari Kemenangan Perang Asia Timur Raya yang wajib dirayakan oleh bangsa Indonesia.

Menyusul pengalihan kekuasaan ini, Jepang melakukan penutupan seluruh stasiun penyiaran (juga media cetak). Selama beberapa waktu semua radio tidak menyelenggarakan siaran. Penyiar Bert Gerthoff dari Nirom Bandung pada tanggal 8 Maret 1942, jam 23.00 telah menyampaikan kata-kata perpisahannya yang terkenal : “Wij sluiten nu. Vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin” (Kami akhiri sekarang. Selamat tinggal, sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sri Ratu.)
Beberapa bulan kemudian Jepang memasang radio-radio umum di tempat-tempat keramaian. Radio yang masih merupakan barang mewah tentu saja menarik perhatian dan segera disukai masyarakat kebanyakan. Nirom Bandung saat itu telah berubah nama menjadi Hooshoo Kanri kyoku atau Radio Propaganda Nippon yang memutarkan lagu-lagu hiburan (keroncong), musik pengiring senam taiso, siaran keagamaan (Islam), dll. Dan tentu saja siaran-siaran propaganda yang penuh dengan kegombalan itu…

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya “Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (1996) menulis betapa Jepang memiliki kepentingan atas Radio Malabar sebagai media propaganda utamanya di P. Jawa. Melalui Radio Malabar pula Jepang melakukan kontak dengan Hooshoo Kyoku di berbagai daerah lainnya termasuk yang berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara (halaman 200). Tanpa penguasaan media-media cetak, radio, dan transportasi, akan sangat sulit bagi Jepang untuk melakukan pembinaan teritorial (halaman 73).

Tentang pemboman beberapa lokasi di Bandung pada tanggal 3-9 Februari 1942, R.P.G.A. Voskuil dalam bukunya “Beeld van Een Stad” (Asia Maior, 1996) hanya mengatakan suatu penyerbuan udara ke beberapa kota di P. Jawa, termasuk di antaranya, Bandung. Serangan di Bandung ditujukan ke pangkalan udara Andir, namun tidak sampai meluluh lantakkan keseluruhan pangkalan. Pada tanggal 11 Februari masih terdapat 8 pesawat Glenn Martin yang secara intensif (antara 11-27 Februari 1942) melakukan penyerbuan ke pangkalan-pangkalan udara yang telah dikuasai Jepang (Palembang, Banjarmasin, dan Teluk Muntok).

Pada tanggal 7 Maret, saat Jepang sudah mendekati Lembang (sebelumnya sudah menduduki Kalijati, Subang) diakui ada sejumlah pesawat terbang Jepang yang berputar-putar di atas Lembang dan Bandung. Pesawat-pesawat ini menjatuhkan sejumlah bom, di antaranya di taman rumah residen, dan di sekitar Alun-alun. Tapi hanya itu saja, karena diakui juga bahwa saat itu memang tidak banyak dilakukan operasi militer di Bandung. Hanya fakta-fakta inilah yang ditulis oleh Voskuil saat mebicarakan secara detil masuknya Jepang ke Bandung melalui Kalijati dan Lembang.

Bukti lain tentang tidak adanya pemboman yang cukup berarti di wilayah Bandung adalah masih berdirinya berbagai bangunan lama bekas instansi-instansi militer Hindia Belanda sampai saat ini. Seluruh pusat perkantoran militer, Istana Komandan Perang, dan gudang-gudang yang berada di pusat kota Bandung sampai saat ini masih berdiri utuh (dari sekitar Taman Lalu-Lintas hingga sekitar Kosambi). Berbagai pemandangan ciri khas kota juga masih berlangsung sama seperti sebelum kedatangan Jepang (Villa Isola, Gedung Sate, Bank Indonesia, dll).

Voskuil juga memuat sebuah foto puing-puing Radio Malabar dengan keterangan yang menyatakan bahwa stasiun radio tersebut dirusak pada Masa Bersiap (1945 –1946).

Dengan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa perebutan Bandung dari Hindia Belanda ke tangan Jepang sama sekali tidak memerlukan dilakukannya bombardir (ejaan Hindia Belanda) seperti yang sering dikatakan selama ini. Bahkan dengan pengalamannya melakukan propaganda internasional melalui siaran radio propaganda Nippon dari Tokyo, Jepang justru sangat membutuhkan keberadaan radio untuk melangsungkan janji-janji gombalnya kemudian hari di Nusantara.

Sekian dulu mungkin catatan yang berhasil saya kumpulkan seputar (pemboman) Radio Malabar. Semoga berguna…

Sumber Tulisan :
1.“Bandoeng, Beeld van Een Stad”, (R.P.G.A. Voskuil, 1996)
2.“Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (Ahmad Mansur Suryanegara, 1996)
3.“Riwayat Radio Tempo Doeloe di Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)
4.“Riwayat Radio Republik Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)
5.“Vaarwel tot Betere Tijd” (J.C. Bijkerk ). Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Djambatan dengan judul “Selamat Berpisah; Sampai Berjumpa di Saat yang Lebih Baik” (1988). Buku ini banyak menceritakan detail peralihan penguasaan wilayah Indonesia dari Hindia Belanda ke pihak Jepang.

3 & 4 adalah kumpulan tulisan yang total berjumlah 52 artikel dan dimuat secara mingguan dalam H.U. Pikiran Rakyat pada tahun 1998