Catatan Perjalanan Ngaleut Bojongsoang (1)

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Sabtu pagi yang cukup cerah untuk mengawali Ngaleut kali ini. Tidak seperti Ngaleut biasanya yang dimulai dari mulai pukul tujuh, pada Ngaleut Bojongsoang, saya dan beberapa kawan Aleut berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut pukul sepuluh kurang sebelas menit. Kami berangkat agak siang karena rute serta tempat yang akan kami singgahi tidak banyak dan relatif berdekatan. Pasukan Ngaleut Bojongsoang kali ini hanya ada saya, Rani, Annisa, Reza, Adit, juga MangLex yang menjadi “ensiklopedia berjalan” kami selama Ngaleut berlangsung. Ada pula satu kawan baru kami yaitu Asep yang langsung bertemu di titik Ngaleut pertama.

Baca lebih lanjut
Iklan

#PojokKAA2015: Secuil Jalan yang Hanya Dibuka Untuk KAA

Oleh: Hevi Abu Fauzan (@hevifauzan)

CDU99nXUkAA9LX2

Sewaktu penulis kecil, tidak ada pemandangan yang paling aneh di Bandung, kecuali ketika melihat secuil jalan dibebaskan dari kandangnya. Iya, saya besar di Jalan Stasiun Timur, dan secuil jalan yang saya maksud adalah sebuah potongan kecil Jalan Otto Iskandardinata (Otista) yang dilintasi rel kereta api di sebelah timur Stasiun Bandung.

Pembukaan jalan yang saya maksud pada saat itu terlihat sangat mewah. Terang saja, iring-iringan kendaraan mengkilap di selingi sirine polisi dan beberapa panser memang menjadi pemandangan yang tidak akan pernah kita saksikan sehari-hari. Sebuah perayaan yang kemudian penulis tahu sebagai peringatan Konferensi Asia Afrika. Dan Bagi penulis, saat-saat kendaraan melintasi secuil jalan itu adalah salah satu keajaiban dunia saat itu. Baca lebih lanjut