Yang Belum Kering di Kampung Dobi

kampung dobi celana

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Hampir tiap subuh, selama bertahun-tahun, ibu saya mencuci pakaian kami sekeluarga dengan tangannya, dengan berjongkok. Air cucian bikin kakinya pecah-pecah. Ibu saya mulai tak kuat berlama-lama jongkok. Mesin cuci merk Korea bekas kemudian hadir di rumah kami. Baca lebih lanjut

Iklan

Menghisap Candu di Bandung

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

    • Banyak teks fiksi dan memoar yang mengetengahkan fragmen tentang candu di Bandung.
    • Sebuah gang di Kampung Arab, persisnya Gang Aljabri, menjadi tempat madat di Kota Bandung.

Melacak keberadaan candu dan para pemadat di Kota Bandung.

tirto.id – Bandung tempo dulu tak hanya dibaluri julukan yang bertendensi pujian macam Parijs van Java, The Garden of Allah, Paradise in Exile, Europe in de Tropen, De Bloem der Indische Bergsteden, dll, namun juga menyisakan kisah tentang candu atau madat.

Seperti ditulis James R. Rush dalam Candu Tempo Doeloe, pemerintah kolonial Belanda pernah menjadikan candu sebagai pundi-pundi kas negara. Persebaran candu di Pulau Jawa ternyata masuk dan beredar di Bandung, kota pegunungan yang menjadi salah satu “anak emas” pemerintah kolonial.

Agak sulit sebetulnya mendapatkan catatan yang gamblang ihwal candu di Bandung, namun jika menilik beberapa teks fiksi dan memoar, akan banyak ditemukan fragmen-fragmen pendek yang setidaknya menjelaskan bahwa candu telah ada dan hidup dalam keseharian sebagian masyarakat Bandung. Baca lebih lanjut

Menelusuri Kampung Dobi: Menakar Cadangan Air Kota Bandung

Oleh: Willy Akhdes (@willygeologist)

Masalah kekurangan pasokan air bersih Kota Bandung telah lama mencuat dalam beberapa tahun ke belakang. Pada tahun 2015, beberapa kecamatan mengalami kelangkaan air bersih yang sangat parah. Masyarakat mendapati bak-bak penampungan air mereka kosong dan sumber mata air berhenti mengalirkan salah satu kebutuhan primer mereka.

Berubahnya fungsi ekologi pada beberapa kawasan berakibat pada berkurangnya kawasan imbuhan air tahan (groundwater recharge area). Pembangunan yang berjalan tidak mengikuti acuan rencana tata ruang kota telah merubah daerah-daerah resapan air menjadi tanah yang dilapisi beton-beton penyangga gedung-gedung bertingkat. Mengakibatkan berkurangnya jumlah air yang dapat dialirkan dari daerah resapan ke lapisan pembawa air (akuifer). Belum lagi pengambilan air tanah dalam melalui sumur pemboran yang melebihi kapasitas, mengakibatkan penurunan muka air tanah 2-4 meter/tahun, bahkan pada beberapa daerah industri mencapai 6 meter/tahun.(Irawan, 2009). Padahal Untuk memperbaruinya kembali diperkirakan memerlukan waktu belasan tahun, puluhan tahun, bahkan beratus tahun (Sunarwan, 1997). Hasil penelitian volume air yang meresap dan menjadi air tanah di Bandung sekitar 108 juta m3, padahal pengambilan melalui sumur pemboran, yang resmi adalah 1.438 sumur ditambah sumur yang belum terdaftar mencapai 140 juta m3.

Secara geologi, dengan penyusun batuan vulkanik yang memiliki permeabilitas dan porositas sangat baik, Cekungan Bandung adalah cekungan yang paling baik untuk menampung dan menyimpan air tanah. Didukung oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sebagai DAS terbesar di Jawa Barat yang mengaliri beberapa sub-DAS, termasuk Cikapundung, seharusnya dapat memenuhi kebutuhan air seluruh warga kota. Baca lebih lanjut

Melacak Jejak Kampung Dobi Bersama Aleut dan Ingatan Tentang Mata Air di Cipaku

Oleh: Nurul Ulu (@bandungdiary)

Dobi yang saya tahu adalah peri di film Harry Potter. Kalau Dobi di Bandung apa artinya?
Karena Penasaran saya daftar jadi peserta Ngaleut pada hari minggu 2 Oktober 2016. Judul acara jalan-jalan Komunitas Aleut hari itu adalah melacak jejak Kampung Dobi di Bandung.
Kampung Dobi merupakan salah satu yang tertua. Dobinya sudah tidak ada. Jadi cuma bisa lihat bekas-bekasnya doang.
Stasiun kereta api Bandung jadi titik pertama kami berkumpul. Jam 8 pagi di bawah langit yang kelabu, kami beranjak menuju jalan-jalan kecil di depan stasiun. Ada Jalan H. Akbar dan Jalan Mesri. Nama jalan lainnya saya gak ingat (dan gak cari tahu di peta :D).

Kolam mata air Ciguriang

Jadi apa itu Dobi?
Dobi adalah laundry. Pencuci pakaian, maksudnya. Dobi itu artinya orang yang punya skill mencuci pakaian, sampai-sampai jadi profesi yang termashyur. Kampung Dobi gak cuma ada di Bandung, tapi terdapat di sepanjang Sumatera hingga Jawa. Dobi bisa jadi berasal dari Bahasa India, karena di India sana juga ada Dobi yang artinya sama.
Kalau orang zaman sekarang gak mau cuci pakaian sendiri, perginya ke Laundry. Nah orang zaman dulu perginya ke Kampung Dobi. Mereka yang minta pakaiannya dicucikan ini termasuk orang-orang Belanda.
Tiap hari Dobi-dobi mencuci, selalu pada malam hari. Nyuci bajunya di samping mata air Ciguriang. Pakaian dibanting-banting, digosok-gosok dengan sabun batangan. Sabun ini mereka gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan juga. Satu sabun, untuk semua kegunaan 😀
Karena nyucinya malam hari, geng Dobi ini sambil nyuci sambil nyanyi. Bertalu-talu dengan pakaian yang mereka banting-banting ke batu (papan) penggilasan. Sebenarnya tujuannya supaya semangat aja sih, karena kalau gak nyanyi mungkin suasananya sepi dan bikin ngantuk kali ya 😀
Kampung Dobi di Bandung terletak di belakang Jalan Mesri. Tepat di belakang GOR Pajajaran.
Kata bapak-bapak tua yang merupakan warga setempat dan mendadak jadi narasumber kami, dahulu pohon di Kampung Dobi lebih banyak lagi. Ada pohon Aren (Kawung) makanya di situ disebut Kebon Kawung. Juga dua pohon Kiara yang menaungi kolam mata air Ciguriang.
Saya lihat ada satu Pohon Aren sih, kurus dan menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang kering. Apa itu satu-satunya sisa pohon dari masa lampau? Ternyata bukan. Baru ditanam sih, ya sekitar puluhan tahun namun bukan dari tahun 1900an.

Melihat ada satu Pohon Aren aja di situ saya kok rasanya agak sedih ya. Memperhatikan Pohon Aren dan memendarkan pandangan menyaksikan pemukiman, kolam mata air yang jernih dan di sisinya ada sampah, juga menatap sisa tempat para Dobi mencuci. Diselingi bau pesing yang menyeruak dan angin yang sejuk karena kami berdiri di bawah pepohonan rindang.

Dahulu seperti apa ya pemandangannya. Mencuci pakaian di tengah kebon kawung. Terus kan airnya dingin banget. Bagaimana cara mereka menghangatkan diri? Kayaknya bersiduru kali ya, di sekitar situ ada kompor kayu mungkin. Kan mereka harus minum atau mengemil sesuatu supaya tubuh tetap hangat. Berarti harus ada yang mengirim air minum dan makanan kan. Eh gimana sih hehehe rasa penasaran makin menjadi-jadi.

Sayang sekali orang yang berprofesi sebagai Dobi sudah meninggal. Gak ada jejak hidup yang dapat kami ulik sejarahnya. Padahal ingin sekali bertanya pada mereka.
Berapa pakaian yang mereka cuci dalam waktu semalam?
Berapa upahnya?
Nyucinya tiap hari?
Gimana rasanya mencuci pakaian pada malam hari hingga fajar menyingsing di bawah naungan pepohonan rindang? Serem gak? 😀 Ada pengalaman horor gak? (halah)
Siapa kliennya? Ada orang terkenal gak?
Setelah dicuci, pakaiannya disetrika gak?
Kampung Dobi ini asli orang Bandung semua atau ada pendatang?
Arya cerita sewaktu Komunitas Aleut ke Kampung Dobi di tahun 2011, masih ada yang mencuci di tempat pencuciannya ini. Mereka lihat sendiri. Sementara si bapak tua itu bilang terakhir kali Dobi-dobi mencuci adalah di tahun 80an. Mungkin yang Aleut lihat waktu itu warga yang sedang mencuci pakaiannya sendiri ya. Bukan Dobi. Ah entahlah.
Di sekitar Kampung Dobi ini banyak mata airnya. Bersama Aleut saya lihat satu mata air lain selain Ciguriang. Namanya Susi, Sumur Siuk. Mata air ini kondisinya jauh lebih bersih dan terjaga. Di sisi mata air ada bangunan yang terdiri dari kamar mandi. Warga setempat masih mencuci dan mandi di situ. Ambil airnya gampang banget, tinggal disiuk alias tinggal diambil dengan cibuk dan byur byurrr tumpahkan ke tubuh sendiri.
Sumur Siuk ini dangkal. Sekitar 3 meter kali ya. Bentuknya melebar seperti kolam. Tiap sisi dibangun dinding setinggi 3 meter dan atapnya terbuka. Saya gak tahu sih di belakang dinding itu ada apa. Semoga gak ada yang bawa tangga dan ngintip orang mandi karena kamar mandinya terhubung langsung ke Sumur Siuk ini. Kamar mandi mah beratap. Mata airnya yang enggak.
Air di Sumur Siuk ini jernih sekali. Saya bisa lihat dasarnya. Rasanya aneh lihat ada mata air yang sanggup bertahan di antara kepungan pemukiman. Alhamdulillah.
Dari Sumur Siuk, Aleut berjalan lagi. Kami balik arah karena ada urusan lain jadi gak ikut Ngaleut hingga acara selesai. Kalau lihat foto-foto acaranya, mereka mengunjungi mata air lainnya.
Bandung memang terdiri dari banyak mata air. Namanya juga pegunungan. Di tempat saya tinggal sekarang, Ledeng, juga pernah ada banyak mata air (banyak bangetngetgetnget). Sayang sekali mata airnya sudah pada kering. Satu mata air terdekat dari rumah ada di tebing, di Cipaku. Menuju ke sana kami harus turun tangga yang curam-curam ukuran tangganya.
Karena kakek saya yang memperbagus kondisi mata airnya dan beliau juga yang membangun akses berupa tangga, termasuk kakek saya juga yang membangun tempat pencucian, maka Pak Aki -panggilan saya untuk kakek- yang memberi nama untuk mata air tersebut.
Beliau menamakan mata airnya Ci Iim. Ci = air. Iim = nama anak kesayangannya (Siti Fatimah, nick namenya Iim).
Ci Iim dan mata air lainnya yang ada di dataran lebih tinggi mengairi pesawahan di Cipaku. Yes, Cipaku itu dulunya lembah yang bisa jadi tadinya hutan sih. Cuma saya ingatnya Cipaku itu sawah luaaaaas sekali. Hijau membentang dan di sisi sawahnya ada pemukiman penduduk dan hutan. Sawah-sawah itu milik kakek saya. Dulu keluarga besar saya sering botram (piknik makan-makan) di saung di sawah Cipaku. Sekarang sawahnya sudah tidak ada, sudah jadi perumahan.
Jejak mata airnya masih ada, tapi ya tinggal puing-puing. Mata airnya sudah tinggal kenangan. Sudah mati. Kakek saya pun sudah meninggal di tahun 2008.
Ya begitulah cerita Ngaleut hari minggu kemarin. Ngaleut yang menyenangkan sekaligus membuat saya agak sedih sih karena ingat Pak Aki, Ci Iim, dan kenangan indah akan pemandangan sawah-sawah di Cipaku.

Baca lebih lanjut

Finding Dobi: Menapaki Jejak Legenda Kampung Dobi di Bandung

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Sekarang sumber air sudekat,
beta sonde pernah terlambat lagi”

Begitu bunyi kalimat populer dari sebuah iklan air mineral beberapa tahun silam.  Kalimat itu sepertinya mencerminkan perjalanan saya dan kawan-kawan di hari minggu lalu (2/10). Sebuah poster bertuliskan “Ngaleut Kampung Dobi” yang diedarkan Komunitas Aleut di dunia maya jumat siang, cukup kuat menggerakkan kaki saya untuk hadir di Stasiun Bandung jam 7 pagi di hari Minggu.

Dobi yang saya tau, seorang peri yang bertugas sebagai asisten rumah tangga di cerita Harry Potter, yang ternyata tak terlalu jauh pula artinya yang merupakan tukang cuci. Kampung Dobi ini tertulis dalam buku berjudul “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karangan Alm. Haryoto Kunto yang disebut-sebut sebagai kuncennya Bandung. Dalam bukunya ia bercerita mengenai salah satu kampung tertua di Kota Bandung yang para penduduknya berprofesi sebagai tukang cuci. Nama kampungnya sendiri tidak disebut demikian, orang hanya mengenalnya lewat nama Kebon Kawung yang memang sebelumnya ditumbuhi banyak pohon kawung (aren). Namun kini hanya tertinggal satu saja pohon kawung di daerah Kebon Kawung Bandung. Baca lebih lanjut

Serupa tapi Tak Sama: Dhobi Ghat (Mumbai) & Kampung Dobi (Bandung)

Oleh: Gina Azriana (@GiNa_AzriaNa_Na)

Mencuci merupakan suatu kegiatan yang sederhana Mencuci dapat dilakukan di rumah atau di tempat terbuka seperti di kali atau di sungai. Siapa menyangka, dari kegiatan mencuci tersebut justru dimanfaatkan sebagian orang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Adalah Dhobi Ghat, salah satu tempat mencuci terbuka di Mumbai, India.

14494652_10202350190592752_1325656387439288677_n
Dhobi Ghat, Mumbai, India. Tempat pencucian terbuka yang menjadi daya tarik bagi wisatawan asing di India. (www.worldcrunch.com)

Pusat pencucian terbuka. Kalian jangan membayangkan cucian sedikit dengan satu atau dua orang saja yang melakukannya. Tidak.

Bayangkan saja, ada beberapa daerah yang sengaja dibuat untuk memudahkan setiap orang dalam mencuci. Setiap orang berada dalam sekat – sekat yang dipisahkan dengan sebuah tembok batu berbentuk persegi empat . Di dalamnya disediakan bak pencuci yang terbuat dari batu serta beberapa batang sabun untuk mencuci. Tidak ada mesin cuci disini. Semua dilakukan dengan tangan. “Mesin cuci manusia” mungkin kita bisa membayangkannya seperti itu. Kegiatan mencuci di sini, tidak sama dengan kegiatan mencuci modern yang saat ini dapat kita lihat di mana – mana. Cara mereka mencuci pun berbeda.

Di pagi hari, mereka sudah bersiap di tempat mereka masing – masing, cucian yang datang pun bukan merupakan cucian mereka sendiri, melainkan cucian yang memang merupakan pesanan dari seluruh pelosok india. Tak jarang, cucian berasal dari rumah – rumah atau penginapan serta hotel. Setiap orang yang mencuci melakukan pekerjannya sebagai buruh cuci, satu orang dapat mengerjakan berpuluh – puluh cucian. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Mengenang masa lalu, terutama masa kecil, memang selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang dapat kita tertawakan di saat kita beranjak dewasa; kebanyakan mempertanyakan kebodohan-kebodohan yang telah diperbuat saat kita kecil dahulu. Membandingkan keadaan dahulu dan sekarang, dari mulai sifat perilaku sampai dengan lingkungan tempat tinggal. Pahit manisnya kenangan itu tentunya menjadi satu rasa tersendiri, yang akan semakin lengkap apabila dituangkan ke dalam satu tulisan.

Adalah H. Us Tiarsa, yang menuliskan pengalaman masa kecilnya di Kota Bandung pada tahun 50-60an dalam sebuah buku yang berjudul “Basa Bandung Halimunan”, atau dalam Bahasa Indonesia “Kala Bandung Berkabut”. Buku tersebut ditulis dalam Bahasa Sunda keseharian dan disajikan dengan gaya bahasa yang membawa pembacanya mengalir ke dalam penuturannya mengenai Bandung di masa lalu.

Bersama dengan Komunitas Aleut, saya dan teman-teman menelusuri beberapa titik di Kota Bandung yang ada di dalam buku Basa Bandung Halimunan hari Minggu (3/4/2016) kemarin. Hari itu kami fokus di kawasan Kebon Kawung, menyusuri wilayah Jl. H. Mesri, Cicendo, dan Kebon Sirih. Rasanya lucu, ngaleut di kawasan yang notabene hanya berjarak beberapa ratus kilometer dari rumah, dan tentunya setiap hari saya lewati. Tapi di sinilah letak keseruan ngaleut, dari rute yang saya biasa sambangi sehari-hari selalu ada hal baru yang saya ketahui. Contohnya adalah rumah Alm. Haryoto Kunto yang berada di Jl. H. Mesri. Ternyata rumah dari “Bapak-nya Bandung” ini berjarak sangat dekat dari rumah saya. For all this time, I just realized it. What a shame.

Kumpul di depan rumah Alm. Haryoto Kunto

Kami berjalan sedikit menuju belakang GOR Pajajaran, dan melihat sebuah pohon yang menjadi saksi sejarah penamaan daerah Kebon Kawung. Ya, pohon kawung. Mungkin ini pertama kalinya saya melihat pohon kawung dari dekat, tepat di lokasi yang dulunya memang merupakan kebun kawung. Tidak lupa sebuah kolam di sebelah pohon tersebut yang jaman baheula biasa digunakan untuk merendam anak-anak laki-laki yang mau disunat sampai bagian bawah tubuh mereka baal (mati rasa). Tidak terbayangkan oleh saya, para anak lelaki yang sedari subuh sudah disuruh berendam selama berjam-jam sampai mereka mati rasa sebelum akhirnya disunat dengan cara yang masih sangat tradisional. Euh, menuliskannya saja sudah membuat saya ngilu, padahal saya perempuan.

Pohon Kawung

Hal menarik lainnya yang saya rasakan adalah pengalaman menelusuri gang-gang yang sangat amat sempit di daerah Cicendo. Bukannya saya tidak pernah menelusuri gang, hanya saja ini kali pertama saya ngaleut melintasi perumahan padat warga di gang yang amat sangat sempit seperti itu. Sempat muncul rasa khawatir akan terganggunya para warga ketika rombongan Aleut melintas, tapi untungnya warga tidak terlihat terganggu ataupun sebagainya.

Saya terkagum-kagum melihat kehidupan warga yang tinggal di gang seperti itu; kegiatannya, interaksinya, perilakunya. Sebagai seseorang yang semenjak lahir tinggal di daerah individualis dengan rumah yang berlokasi di pinggir jalan besar, jarang sekali saya berinteraksi dengan tetangga seperti halnya masyarakat di gang seperti itu. Rasa iri sempat terbesit di dalam hati saya kian makin membesar ketika mendengar pengalaman masa kecil teman-teman saya yang sangat menyenangkan.

Di sesi sharing banyak teman yang bercerita mengenai pengalaman masa kecilnya yang beragam, dan juga menyenangkan. Apalagi mereka yang menghabiskan masa kecilnya di luar kota Bandung, atau mereka yang berusia lebih tua dari saya, yang sempat menikmati indahnya Bandung ketika masih berkabut di pagi hari. Sedangkan saya? Sedari kecil sudah dihadapkan pada sumpeknya kota Bandung—tentunya belum sesumpek saat ini—dan interaksi sosial antara tetangga yang individualis. Masa kecil saya habiskan dengan membaca buku di dalam rumah, jarang bermain dengan teman sebaya. Karena itu, hari Lebaran, dimana saya dan keluarga pergi ke rumah kerabat di Sumedang, merupakan saat yang paling saya tunggu, semata-mata hanya untuk memandang indahnya pegunungan dan hamparan ladang sawah sepanjang jalan.

Meskipun tidak memiliki banyak pengalaman masa kecil yang bersinggungan dengan keadaan kota Bandung masa lalu yang indah, saya cukup senang mendengar penuturan mengenai kisah-kisah masa kecil dari teman-teman Aleut yang lain. Nah, inilah hal menyenangkan lainnya dari ngaleut, bercerita dan mendengarkan cerita, terlebih lagi apabila kisah-kisah perjalanan dan kenangan itu dapat dituliskan dan dibagikan.

 

Tautan asli: http://coretankoenangkoenang.blogspot.co.id/2016/04/catatan-perjalanan-basa-bandung.html