Jejak Sukarno di Bandung

Jejak Sukarno di Bandung 6

Foto keluarga di Gedung Indonesia Menggugat | © Fan_fin

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Kata-katanya selalu dinanti. Suaranya selalu dirindukan. Sosoknya sangat dicintai. Semua seakan menahan nafas dan tak bergerak sedikit pun ketika ia berorasi. Bahkan seekor cicak pun enggan untuk bergeming. Orasinya mampu membakar semangat, bahkan janggut para pejabat Hindia Belanda terbakar dibuatnya. Tak ada yang mengalahkan pesonanya ketika naik podium. Ia Sukarno, Singa Podium. Baca lebih lanjut

Aku, Bung Karno, dan Bandung

Oleh : Dahlia Anggita (@dahliaanggita)

“Who is this?” tanya host sister-ku suatu hari, menerjemahkan pertanyaan host dad-ku yang tak bisa berbahasa Inggris. Mereka berdua memandang sebuah foto hitam putih yang ada di dompetku.

“Is that your grandpa?”

“He’s my first president.”

Dan raut wajah Pa – panggilan akrab ­host dad-ku – seketika berubah.

“Then why do you put his photo inside your wallet?”

Tak pernah sekali pun aku mengungkap alasan kenapa aku mengagumi Bung Karno kepada orang lain. Rasanya terlalu naif.

“I just love him,” jawabku singkat.

***

Sudah jalan dua bulan tinggal di Bandung, setiap akhir minggu aku masih bingung harus melakukan apa. Setelah sedikit melakukan riset melalui sosial media, aku menemukan akun sebuah komunitas sejarah yang mengadakan tour wisata.

Di situ tertulis “Ngabandros Jejak Sukarno di Bandung”. Baca lebih lanjut

Sejarah Bahasa Sunda dalam Kebudayaan Cetak

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Perkembangan bahasa Sunda sampai bentuknya yang sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang Belanda. Atau, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, bahasa Sunda dalam sejarahnya “ditemukan”, “dimurnikan”, dan “didayagunakan” oleh orang kolonial.

“Kaum cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu baru menemukan bahasa Sunda sebagai bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri pada abad ke-19,” tulis Edi S. Ekadjati dalam pengantar buku tersebut.

Seorang Belanda yang perannya cukup besar dan tidak bisa dilepaskan dari hadirnya budaya cetak dalam bahasa Sunda adalah Karel Frederik Holle atau K.F. Holle. Her Suganda dalam buku Kisah Para Preangerplanters menuturkan bahwa sebelum berkenalan dan mendalami bahasa Sunda, K.F. Holle hanya salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda pimpinan Guillaume Louis Jacques van der Hucth. Pada 1843, rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda.

Setelah bekerja selama sepuluh tahun di Kantor Residen Cianjur sebagai klerk dan di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia, K.F. Holle merasa tidak puas. Ia akhirnya memilih menjadi administratur sebuah perkebunan teh di Cikajang, Garut. Setelah itu ia lalu membuka perkebunan teh dan kina waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Di tempat kerja barunya, K.F. Holle tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Sambil belajar bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat, ia pun kerap mengenakan pakaian seperti halnya pribumi, seperti sarung dan kerepus.

Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Sel Soekarno di Banceuy Juga Ikut Berbenah

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Ada hal menarik pada saat saya berkunjung ke Jl. Banceuy pada hari Rabu kemarin. Di sekitar Bekas Sel Penjara Soekarno, terlihat tengah berlangsung proyek perbaikan. Pada saat bertanya kepada salah satu pekerja untuk menanyakan proyek apa yang sedang berlangsung, saya lansgung diarahkan untuk bertemu Pak Ahmad, petugas penjaga situs ini.

Pak Ahmad bukanlah nama yang asing bagi saya dan pegiat Komunitas Aleut, karena tahun lalu kami pernah berbincang dengan beliau seputar Soekarno dan situs yang ia jaga secara sukarela. Ia seringkali mengeluhkan tidak adanya bantuan operasional dari pemerintah maupun keluarga dari Soekarno dalam pengelolaan situs ini.

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Saat bertemu lagi dengan Pak Ahmad, saya cukup terkejut. Di saku kemeja batiknya terlihat nametag yang bertuliskan “Provinsi Jawa Barat”. Iseng saya bertanya pada beliau, dan memang betul sejak akhir tahun 2014 Pak Ahmad diangkat sebagai pegawai Pemprov Jawa Barat yang bertugas untuk menjaga situs ini. Saya merasa lega karena akhirnya pihak pemerintah daerah mau peduli dengan Pak Ahmad dan situs ini.

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Menurut Pak Ahmad, proyek yang sedang berlangsung di situs ini merupakan bagian dari persiapan perayaan Konferensi Asia-Afrika 2015 yang puncak acaranya akan berlangsung pada 24 April 2015. Nantinya, di sekitar sel ini akan dipasang patung perunggu Soekarno yang sedang duduk membaca buku. Akses masuk utama pun dialihkan ke Jl. Banceuy, bukan lagi dari Jl. Belakang Factory.

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Proyek ini menurut Pak Ahmad diharapkan bisa selesai sebelum tanggal 20 April 2015, meskipun proyek ini sendiri baru dimulai tanggal 1 April. Untuk mengejar waktu penyelesaian, proyek ini berlangsung pagi hingga malam hari. Saat saya ajak bercanda dengan sebutan “Proyek Sangkuriang”, Pak Ahmad pun tersenyum.

Meskipun proyek ini terlihat paralel dengan proyek perbaikan yang berlangsung di Jl. Braga, dan sebagian ruas Jl. Asia-Afrika, rupanya perbaikan sel ini tidak didanai oleh biaya dari pemerintah maupun partai politik. Menurut Pak Ahmad, dana perbaikan sel ini berasal dari dana udunan beberapa warga yang peduli dengan kondisi situs ini.

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Semoga saja setelah proyek perbaikan ini selesai, situs Bekas Sel Penjara Soekarno ini lebih mendapat perhatian dari warga Bandung maupun pemerintah daerah.

 

Foto: Arsip Arya Vidya Utama