Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang tak mudah, saingannya beratus profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat. Baca lebih lanjut

Iklan

Roti Sumber Hidangan, Roti Legendaris Warisan Bandung

Oleh: Irfan Arfin (@Fan_Fin)

CQXFIcrU8AEOb1f

Sumber Hidangan, atau yang dulu dikenal dengan nama Het Snoephuis, adalah sebuah toko roti legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1929 di Jl. Braga, Kota Bandung. Het Snoephuis sendiri jika diterjemahkan secara bebas memiliki arti ‘rumah manis’, maka tak heran mayoritas makanan yang dijual di sini serba manis. Meskipun terletak di salah satu jalan yang kesohor di Kota Bandung, namun dibutuhkan usaha lebih untuk menemukan toko roti ini karena tidak terdapat plang nama toko yang terpasang di luar. Belum lagi lokasi toko yang terhalang oleh lapak para pelukis jalanan.

DSC_6437Namun tak disangka juga setelah saya masuk ke dalam, toko ini memiliki lahan yang luas dan memiliki display jadul yang cukup besar. Kondisi ini berbeda dengan sebuah toko roti legendaris lainnya, Toko Roti Sidodadi di Jl. Otto Iskandardinata, yang tergolong kecil dan sempit. Sumber Hidangan memiliki koridor jalan yang lebar dan setengah area lainnya yang dapat dipakai menyantap hidangan khas dari toko ini. Meja dan kursi yang tersedia cukup banyak sehingga para wisatawan cukup leluasa berkunjung di sini.

DSC_6436Walaupun toko roti ini terhalang oleh display bertumpuk dari pelukis jalanan Braga, namun ternyata banyak juga turis lokal ataupun mancanegara yang datang kemari karena nama Sumber Hidangan cukup populer di dunia maya. Banyak sekali blog yang membahas mengenai tempat ini, entah postingan saya ini sudah masuk urutan ke berapa di Google. Bahkan sebenarnya saya sendiri yang notabenenya merupakan warga Bandung asli baru mendengar nama toko ini 3 bulan yang lalu dari salah seorang teman saya yang berkunjung dari malang untuk mencari lokasi toko ini.

Daya tarik lain dari toko ini adalah arsitektur dan interior toko yang berkesan vintage karena masih mempertahankan desain dan gaya lama yang sangat jadul. Dekorasi foto hitam putih dan meja kursi yang khas pun tampak menghiasi toko ini.Jarak dari lantai dan langit-langit toko juga terbentang cukup jauh, sehingga kesan luas dari bangunan makin terasa.  Untuk ukuran tempat makan di jaman sekarang yang segala sesuatunya harus selfieable. Artinya, tempat makan tersebut asyik buat selfie dan di-update di media sosial, dan saya rasa Sumber Hidangan sudah masuk kriteria tersebut.

CQXFXQLUYAA-Mq7Sebuah meja kasir besar dan lengkap beserta mesin kasir raksasanya menjadi sesuatu yang cukup ikonik di Sumber Hidangan ini. Pernah nonton film Warkop DKI yang adegannya di sebuah hotel (saya lupa judulnya)? Ya, perabot dan interiornya mengingatkan saya pada film tersebut.

Toko Sumber Hidangan ini memang berniat untuk mempertahankan khas klasiknya. Namun sedikit catatan juga, sebaiknya langit-langit yang terkelupas perlu banyak perbaikan. Jarak dari lantai dan langit-langit toko juga terbentang cukup jauh, sehingga kesan luas dari bangunan makin terasa.

Dan tentunya, hal yang terkenal dari toko roti ini adalah rasa dan bentuk roti tersebut yang tak hanya enak tapi juga unik. Beberapa jenis roti memang cukup familiar seperti croissant, dan roti corong dengan fla, namun saya sendiri baru pertama kali melihat dan mencicipinya kebanyakan roti dan cake di sini. Rasa roti di Sumber Hidangan tak kalah dengan roti-roti yang sekarang banyak dijual di mall. Roti dan kue Sumber Hidangan memiliki rasa manis yang unik yang saya rasa bahkan tidak bisa diciptakan oleh merek-merek roti mall tersebut. Kemasan roti yang menggunakan kertas pun menjadi poin yang memperkuat citra klasik pada roti dan kue Sumber Hidangan.

Di sini juga kita dapat membeli beberapa makanan pendamping yang juga nikmat, salah satunya sorbet, yaitu es yang dibuat dari buah asli. Konon memang bentuk dan rasa yang dibuat di Sumber Hidangan ini masih sangat orisinil mengambil dari resep para bangsa asing yang pernah singgah di Indonesia.

Kabar lain yang beredar, bahwa toko ini akan tutup dalam beberapa tahun ke depan karena tidak dapat mempertahankan omzet dan kalah bersaing dari produk roti modern. Tentunya saya berharap Sumber Hidangan ini akan terus beroperasi, karena resep yang dimiliki toko ini benar-benar the one and only.

CQXFCdUUkAAkFA8

 

Tautan asli: http://ceritamatakata.blogspot.co.id/2015/10/roti-sumber-hidangan-het-snoephuis-roti.html

Tidak ada Tiang Listrik di Braga

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

11188281_10205603868030578_1727256618126754231_n

Apa yang membuat Braga begitu istimewa? Kalau kita perhatikan ternyata tidak ada tiang listrik dan kabel yang bersliweran di sana. Pejalan kaki bisa menikmati trotoar dengan nyaman sambil menikmati keindahan sisa-sisa pertokoan mewah jaman kolonial.

Namun siapa sangka kalau dulu pernah dipasang tiang-tiang listrik di sana. Adalah GEBEO, perusahaan listrik Bandung yang memasang jalinan tiang listrik di Braga pada tahun 30’an. Tak ayal tindakan itu langsung mendapat protes dari warga yang tidak ingin keindahan Braga tercoreng oleh untaian kabel-kabel dan tiang listrik. Akhirnya tiang-tiang itupun dicabut.

Mari kita bermimpi suatu saat jalanan Bandung bisa terbebas dari kabel-kabel dan tiang listrik yang semrawut. Tanah-tanah di dalam kota memang dimiliki oleh pribadi, swasta, dan pemerintah. Namun keindahan kota adalah milik seluruh warga Bandung.

#PojokKAA2015: Enam Alinea untuk Alina *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar? Dari depan Rathkamp, sore ini aku ingin mengirimmu beberapa alinea. Kata, sebagaimana kau tahu, selalu lebih berhasil menarik minatku. Kini, di sini, di tepi Jalan Asia-Afrika yang tengah ramai oleh pengendara dan pejalan kaki, aku mencoba merekamnya dalam redup dan remang bahasa; untukmu. Aku sengaja tidak mengerat dan memotong beberapa gambar, untuk apa? Orang-orang sudah terlampau banyak mengantongi rupa; di depan Gedung Merdeka, tepi Jalan Cikapundung Timur, pinggir sungai yang keruh itu, sekitar monumen Dasasila Bandung, di depan kantor Harian Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi. Mereka mencoba mengawetkan semesta dirinya dalam dekapan yang mulia kamera. Tidak Alina, aku tidak mau mengirimmu keriuhan yang banal itu lewat gambar. Aku ingin mendekatimu dengan kata.

Selepas hujan sore ini, mentari masih malu-malu menampakan diri. Sementara orang-orang justru girang memenuhi ruas trotoar dan sebagian bahu jalan. Arus lalu-lintas tersendat, sesekali klakson bersahutan. Hotel Savoy Homann, de Vries, Visser, dan Gedung Merdeka mulai tersaput temaram. Beberapa saat lagi adzab maghrib akan berkumandang dari Masjid Agung. Menjelang sore dijemput malam, keramaian semakin riuh. Tua-muda, laki-laki perempuan, semuanya menyesaki trotoar yang sudah dipercantik. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Braga Akan Punya B-R-A-G-A

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Sementara Masih B-R-A-A-G

Sementara Masih B-R-A-A-G

Di sebelah utara Bank BJB Braga sedang berlangsung sebuah proyek pembangunan yang awalnya ditutupi oleh seng. Belakangan, seng di proyek ini mulai dibuka dan terlihatlah beberapa undakan dan huruf B, R, A, A, dan G. Ah, rupanya di sini akan dibangun sebuah siasan huruf B-R-A-G-A seperti D-A-G-O yang ada di Taman Cikapayang.

Menurut Pak Dadang, salah satu petugas Pemerintah Kota Bandung yang sedang mengawasi jalannya proyek ini, sebetulnya ide dari proyek bukan dalam rangka menyambut 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Ide dan pengerjaan proyek ini ini sebetulnya sudah muncul dan dimulai sebelum maraknya perbaikan dan pembangunan infrastruktur menjelang Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika. “Kebetulan saja momennya pas dengan persiapan Konferensi Asia-Afrika”, ujar Pak Dadang.

Saat puncak acara Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika nanti, saya sudah membayangkan akan banyak warga Bandung yang selfie atau berfoto di tempat ini.

Memotret Braga: Era Kolonial vs Kekinian

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

memotret braga

Pedati dan otomobil hilir mudik di Jalan Braga, tepat di seberang gedung Societeit Concordia, saya berdiri mematung bersama tustel format besar Graflex 4×5. Membidik cantiknya arsitektur dengan sisipan seorang juffrouw yang anggun melintas. Sungguh mereka tak berdusta, kota ini memang pantas dilabeli Parijs van Java. Dan mungkin terlalu indah untuk dilukiskan hanya jadi foto hitam putih.

Ini tahun 1930. Namun kemudian terlihat ada yang ganjil. Kok bisa-bisanya ada rombongan anak muda inlander berkalung DSLR? Akhirnya saya tersadar. Saya pun seorang pribumi.

Ah sialan, halusinasi dan delusi liar saya kembali berkecamuk. Ini memang sudah era kekinian, bukan lagi era kolonial. Sebuah fantasi yang membuncah karena melihat foto lawas Braga, ingin mengapresiasi sang juru kamera yang sayangnya namanya tak tercatut.

Sumber: Tropenmuseum

Ah ya, sebuah pertanyaan pun muncul dari dalam kepala saya. Pertanyaan tentang siapa fotografer dan apa kamera yang digunakan waktu itu.

Terimakasih kepada Google, untuk nama fotografer memang tak teridentifikasi, namun ada informasi penting tentang dimensi fotonya yang bisa mengarahkan kita pada jenis kamera yang digunakan. Disebutkan kalau dimensi foto yang digunakan adalah 9 x 12 cm, atau kalau diubah satuannya menjadi 4×5 inchi. Ya, ini artinya kamera large format lah yang digunakan.

Dan jika ditelusuri soal teknologi kamera saat itu, untuk awal abad ke-20 memang kamera large format lah yang paling umum digunakan untuk pendokumentasiaan. Singkatnya, kamera large format itu yang super gede, bayangkan aja klise film yang digunakan 16 kali lipat dari klise standar yang sering kita gunakan.

Tercatat, distribusi produk alat-alat fotografi di Bandung waktu era kolonial adalah melalui agen NV. Handelmy – C.M. Luyks. Telah ada sejak tahun 1898, menjadikan N.V Luyks ini toko tertua kedua di jalan Braga. Namun pada akhirnya mati suri memasuki masa perang pasific dan pendudukan Jepang 1942-1945

Meski sekarang Toko Luyks telah tiada, di Braga sendiri masih terdapat toko penyedia alat fotografi yang jadi primadona, Kamal Photo Supply. Ini toko paling saya rekomendasikan.

Memang Braga hari ini nggak seindah pas zaman kolonial dulu, keromantisan Parisnya sudah lama hilang. Hanya tinggal bekas-bekasnya. Tapi ini juga sudah lebih dari cukup. Kaum pribumi memang pengelola kota yang buruk, tapi selalu ada upaya-upaya untuk menghidupkan kembali kejayaan Braga.

Semoga saja di masa mendatang kefotografisannya tetap terasa, minimal bisa saya pakai buat bikin foto prewed sama si dia suatu saat nanti.

 

Tautan asli: http://arifabdurahman.com/2015/04/01/memotret-braga-era-kolonial-vs-kekinian/

Braga tak Sekedar Pameran Komputer

Oleh : Erik Pratama

Apa yangpertama kali kepikiran waktu kamu denger nama Braga? Jika pertanyaan ini diajukan beberapa tahun lalu saat saya masih kuliah atau bahkan mungkin beberapa hari lalu, yang akan saya jawab adalah Landmark dan Pameran Komputer. Yup..hehe….untuk orang seperti saya yang biasa mencari cari (Cuma cari yah..g pake beli..) harga komputer dan peripheral lainnya rasanya pantas jawaban itu yang muncul.
Tapi hari minggu 28/3 lalu temen-temen dari Komunitas ALEUT menambahkan pengetahuan baru pada saya bahwa Braga bukan sekedar Landmark dan Pameran Komputer.Di hari itu saya diajak untuk melihat braga tidak hanya di masa itu tapi juga melihat melalui lorong waktu (cie…lebay euy..). Perjalanan dimulai dari gedung merdeka menuju titik BDG 0 km (tempat yang dari dulu saya pengen foto2 disana..hehe..alhamdulillah kesampaian) Hotel Preanger, Savoy Homan, De Vries (g tau yang bener nuisnya kaya gimana) dan tempat lain sepanjang jalan Braga yang kemudian berakhir di Taman Kota dan berlanjut dengan tour Keililing Indonesia, mengitari pulau-pulau (baca:jalan-jalan pulau) di Indonesia.
Setiap berhenti di suatu tempat temen-temen aleut dengan rendah hati dan tidak sombong berkenan menjelaskan sekelumit tentang sejarah tempat itu. Gak banyak yang saya ingat..karena saya bukan orang yang pandai mengingat…hehe…
Mari Kita lihat apa yang saya ingat??!!
Pertama..Terdapat 3 mazhab dalam penamaan jalan Braga..Ada yang menyebutkan bahwa nama Braga berasal dari kata Baraga yang kurang lebih artinya aliran sungai..katanya karena jalan ini mengikuti aliran sungai cikapundung..Ada pula yang menyebutkan bahwa nama Braga berasal dari nama grup Tonil (katanya sejenis drama gitu) yang selalu melintasi jalan yang sekarang bernama braga..dan versi ketiga adalah………ups..saya lupa lagi..hehe….
Kedua.yang saya ingat adalah nama dua orang arsitek yang banyak mendapat proyek pada masa itu yaitu Albers dan Schoemaker (lagi-lagi g tau cara nulisnya).Masing-masing punya ciri khas…dan ternyata setelah saya Tanya om Google ternyata salah satu diantara mereka adalah juga arsitek Isola. Gedung rektorat @ kampus ku tercinta UPI Bandung.
Ketiga. Societet d Concordia..itu adalah nama tempat hang-outnya para preanger planters (kalo g salah artinya pengusaha perkebunan / tanaman di priangan) sekarang itu kalo g salah adalah gedung merdeka (ato yg deket gedung merdeka gtu ya..he,..) di pintu tempat ini bertuliskan 3 kata yang berujung En..yang artinya Pribumi dan An**** dilarang Masuk. Mohon maaf demi kenyamanan yang baca jing nya terpaksa saya sensor….

Keempat…Saya g terlalu hapal semua ceritanya..jadi daripada salah lebih baik Tanya-tanya aja sama temen-temen ALEUT biar g salah.
Intinya adalah pada hari itu saya mendapat pengetahuann yang tidak pernah saya dapat di bangku sekolah (karena seingat saya yang ada di bangku sekolah adalah tulisan I loveyou yang ditukis dengan tipe x ,dan juga rumus2 matematika). Dan belajar menghargai sejarah. Di masa lalu bangsa kita dijajah, dibeda-bedakan, dianggap rendah. Dan kini kita menjajah diri kita sendiri dengan tidak menghargai budaya yang kita miliki. Hayoh..betul kan?!Kita bereaksi keras terhadap klaim bangsa asing terhadap budaya Indonesia . tapi apa yang kita lakukan?Sudahkah kita menghargai budaya kita?!Taukah kita akan budaya bangsa kita?! Saya bukan orang yang paham akan budaya daerah saya.karena itulah saya belajar..setidaknya berkenalan….

Oia..terakhir saya ingatkan kembali apa yang biasa dikatakan kordinator ALEUT. “ramaikan blog nya aleut di aleut.wordpress.com” demikian kata beliau. Saya cuma bisa mengatakan kunjungi juga blog berbagibelajar.blogspot.com