Beramai-ramai di Ulang Tahun Bandung

Oleh : Ifa Paramitha

Minggu pagi itu terasa sangat segar. Dukungan cuaca yang cerah juga turut menyemarakan akhir pekan di penghujung September 2010. Dalam rangka memperingati HUT ke 200 Kota Bandung yang jatuh sehari sebelumnya, kami menyusuri jejak Bandung tempo dulu dengan jalan-jalan di sekitaran wilayah kota tuanya di tahun 1920-1940an. Bandung memang terkenal sebagai kota paling Eropa se-Asia, maka ga heran kalau banyak nuansa Eropa di bangunan-bangunan tua di ibukota Jawa Barat ini.

Perjalanan dimulai dari jalan Asia Afrika yang termasuk rangkaian jalan raya pos, jalan yang dibuat pada zaman Daendles untuk menghubungkan ujung timur dan barat Pulau Jawa.  Pusat kota terletak di jalan ini setelah sebelumnya sempat bertempat di Dayeuhkolot dan Cipaganti.

Patokannya adalah titik 0,0 yang ada di depan Gedung Bina Marga. Disana ada batu putih berukuran sekitar satu meter bertuliskan Bdg 0,0 dengan CIN 18 di sisi kiri dan PDL 18 di sisi kanan. Ini menandakan jarak Cileunyi dan Padalarang masing-masing 18 km ke arah utara dan selatan dari titik itu berada.

Kami berkumpul di Gedung Merdeka. Gedung ini merupakan tempat mewah di zamannya dan terkenal dengan sebutan Sociated of Concordia karena menjadi tempat berkumpulnya para menir Eropa saat itu. Selain sekedar kumpul untuk ajang sosialisasi, biasanya mereka menonton teater. Ruangan yang dipakai adalah sebuah aula besar yang pada tahun 1955 sempat digunakan saat Konferensi Asia Afrika (KAA). Pot bunga, meja, dan kursi yang digunakan saat itu masih ada lho sampai sekarang.

Tepat di seberang Gedung Merdeka, ada gedung yang sedang direnovasi bernama De Vries. Dulu, tempat ini bisa dibilang adalah sebuah toko berkonsep mal. Zaman itu, memang belum lazim ada toko yang udah punya toilet di dalamnya. Dan seperti gedung tua lainnya, De Vries juga punya ruang bawah tanah dan ruang kecil berjendela di atap yang menyembul dari deretan genting. Kini rencananya, gedung yang beberapa waktu lalu sempat tidak terurus itu akan menjadi bank.

Lanjut ke arah selatan, ada dua hotel yang menjadi saksi sejarah KAA, yaitu Savoy Homann dan Grand Preanger. Preanger telah mengalami proses pemugaran dengan ciri khas art deco Eropa oleh arsitek Schoemacker dengan Presiden Soekarno sebagai asisten juru gambarnya.

Di Preanger juga ada lampu gas yang hingga kini masih ada tergantung di sisi ujung hotel bagian atas.

Bandung berada di peringkat 9 kota art deco sedunia. Bahkan Paris saja berada di peringkat 10. Maka ga heran kalau aktor sekelas Charlie Chaplin pernah berlibur di Bandung dan mengina di Hotel Savoy Homann. Kini, kamar Chaplin masih ada dan ga disewakan. Kedua hotel ini memang terkenal sebagai hotel yang sangat berkelas, sehingga para pribumi pun kadang sering bertanya-tanya kapan bisa menginap di sini.

Homann dan Preanger merupakan tempat para delegasi KAA menginap. Sebutan  historical walk pun lahir karena mereka berjalan kaki dari hotel menuju Gedung Merdeka tempat konferensi dilaksanakan.

Kaki-kaki kami kemudian beranjak ke jalan Braga. Di hadapan kami terbentang gedung berbentuk kaleng biskuit bernama New Majestic. Dengan masih mempertahankan ornamen lokalnya, yaitu ukiran Batara Kala di atasnya, tempat ini kini berfungsi sebagai gedung kesenian. Batara Kala sendiri merupakan tradisi Hindu untuk menangkal aura negatif. Di Bandung, ukiran ini ada di dua bangunan: New Majestic dan Landmark. Namun untuk yang di Landmark, Batara Kala diukir tanpa rahang bawah.

Sebelum kemerdekaan, gedung yang sempat bernama Asia Africa Cultural Center (AACC) ini merupakan lambang ras Belanda. Saking prestisiusnya, pernah ada tulisan “terlarang bagi anjing dan pribumi” di dindingnya. Wow!

Setelah merdeka, AACC jadi bioskop. Zaman Susanna terkenal dengan peran hantu sundel bolong tahun 1980-an, AACC jadi bioskop khusus dewasa yang nayangin film-film syur.

Tepat di sebelah New Majestic, ada gedung tua yang sangat tidak terurus. Padahal dulunya tempat ini, Oubon Marche, adalah toko pakaian elit yang stok barangnya dikirm langsung dari Perancis. Bangunan bercat putih pucat ini punya dua lantai. Bagian dalamnya sangat berantakan dengan barang bekas dan kayu-kayu tua. Semakin ke dalam, semakin gelap dan hanya ada sedikit cahaya matahari mengintip dari celah bekas jendela. Tangga menuju ruang atas juga terlihat rapuh. Saking tua dan tidak terurusnya, di dinding depan ada akar pohon yang menjalar. Cocok sebagai tempat uji nyali.

Di seberang, ada bangunan bernama Sarinah yang ditutup beberapa seng  yang berjajar di depannya. Dulu, Sarinah adalah toko serba ada.

Sistem blok di Braga menggunakan sistem kepemilikan sewa atau beli. Satu blok bisa menampung dua toko. Hal ini bisa dilihat dari atap-atapnya yang simetris.Braga memang surganya toko pada zaman itu maka ga heran kalau kawasan ini menjadi pusat denyut ekonomi kelas atas yang superkaya. Untuk beli es krim saja, para noni berpakaian gaun dan yang cowok pakai tuksedo. Kebayang kan betapa elitnya Braga tempo dulu. Bahkan kawasan ini juga menyediakan ladang prostitusi para wanita indo di jalan Kejaksaan.

Di persimpangan Braga-Naripan, ada bangunan yang kini menjadi Bank Jabar. Dulu tempat ini berfungsi sebagai bank juga, namanya Denisch Bank.  Sama seperti Hotel Yamato di Surabaya, bank ini menjadi saksi bisu dirobeknya bendera Belanda.

Kota kembang ini punya sepuluh instalasi perjuangan heroik rakyat Bandung. Salah satunya berada tepat di depan bank ini. Harusnya bunga Patrakomala, namun akibat ulah tangan-tangan iseng, bunga itu kini hilang dan hanya tersisa rantingnya.

Kini, kami berada di jalan Braga yang dilapisi batu andesit. Entah karena pemeliharaan dari pemkot yang kurang terjamin atau memang para pengguna jalan yang jorok, batu-batu itu banyak yang rusak. Sedikit retak dan ada yang pecah.  Padahal harganya kan ga murah ya. Sangat disayangkan.

Oke, kembali ke bangunan tua. Kini kami berhenti di depan kantor administrasi perusahaan gas negara. Penerangan saat itu memang menggunakan gas, bukan listrik. Gas disalurkan ke setiap rumah. Lampu gas yang ada di Hotel Preanger itu juga sumbernya dari sini.

Berjalan sedikit ke depan, ada minimarket Alfamart. Kebetulan sebagian dari kami merasa haus dan memutuskan belanja minum sebentar di sini. Beranda yang unik, foyer mungil, dan ubin yang masih mempertahankan keaslian bangunan asalnya  membuat tempat ini nyaman dan tidak tampak seperti minimarket kebanyakan.

Selesai dengan urusan minum, kami melangkah menyebrangi Jalan Lembong. Dulu jalan ini bernama Jalan Rumah Sakit Lama karena memang ada rumah sakit di dekat Hotel Panghegar. Rumah sakit ini kemudian pindah ke Rancabadak yang kelak menjadi Rumah Sakit Hasan Sadikin. Lembong sendiri merupakan nama seorang kolonel yang gugur dalam pertempuran melawan Westerling.

Di sebelah kiri, terdapat bangunan bernama Landmark yang juga punya ukiran Batara Kala seperti New Majestic. Di depannya, trotoar ga langsung beratapkan langit, tapi ada semacam atap yang menjorok ke atas. Arcade ini dibuat seperti konsep jalanan di Eropa.

Bank Mandiri di sebelahnya dulu sempat menjadi pom bensin. Dipisahkan oleh rel kereta api, di sebelah kanan bank ada bangunan dengan desain sangat Eropa yang anti matahari. Jendelanya dipasangi besi kecil warna-warni. Dulu pernah menjadi pabrik minyak. Kini tempat itu sedang dalam tahap penjualan. Sempat menjadi kantor residen, polda, sekolah, dan event organizer.

Bersisian dengan bangunan itu, ada gedung tinggi yang sempat menjadi gedung pemerintahan Jawa Barat hingga tahun 1970an sebelum pindah ke Gedung Sate. Bangunan itu kini digunakan sebagai Gedung Kerta Mukti

Tepat di seberangnya, berdiri Bank Indonesia (BI). Tahun 1909, lahan BI ini merupakan lapangan kosong tempat anak muda berkumpul. Selain sebagai pusat lifestyle, tempat ini juga kerap dijadikan ajang pamer mobil. Kalau sekarang, sekelas lah ya dengan gelaran Djarum Black Car yang suka diadain di Gasibu.

Lanjut lagi ke Taman balaikota. Dulu taman ini disebut taman raja soalnya suka dipake ngaso anak-anak yang sekolah di seberang taman ini (sekarang SD Banjarsari). Selain itu, di sini juga sering banget dipake kegiatan marching band, balapan sepatu rida, atau modern dance. Ada juga gazebo babacong, sebuah tempat mirip kerangkeng yang dipake buat orkes militer. Di dekat gerbang sana juga teronggok patung badak putih. Konon badak itu dulunya suka mandi lumpur disitu.

Beres duduk-duduk dan foto di taman balkot, kami nyebrang jalan merdeka. Melewati mapolwltabes yang saat itu lagi banyak motorl diparkir di halamannnya. Kirain jadi showroom motor. Oh ternyata itu motor sitaan hasi menjaring geng motor di malam sebelumnya. Yah..kepada yang tertangkap, saya ucapkan selamat! Selamat merana!

Setelah menyusuri Jalan Jawa, kami belok ke jalan Sumatera di seberang SMP 5 dan SMP 2. Di ujung jalan ini ada gedung Balai Keselamatan yang merupakan jaringan organisasi sosial internasional. Sistem keanggotaan yang dipakai berdasarkan pangkat. Unik deh ya. Sekarang gedung  yang dibikin sama orang Inggris ini jadi panti asuhan berbasis agama.

Di jalan ini juga ada Taman Lalu Lintas yang jadi taman bermain wajib bagi anak-anak masa kini. Masa itu, taman ini dijadikan tempat latihan para tentara. Kayak baris berbaris, dll. Kemudian taman ini dijadikan sebagai taman pendidikan lalu lintas bagi anak-anak. Nama Ade Irma Suryani Nasution diabadikan jadi nama taman ini setelah dia gugur saat peristiwa G30S/PKI. Taman ini cocok untuk belajar lalu lintas sebelum menjalani tes bikin SIM.

Daerah ini juga jadi kawasan militer karena saat itu memang ada wacana untuk pemindahan ibukota dari Batavia ke Bandung. Alasannya, Bandung punya pertahanan alami karena dikelilingi gunung. Oleh karena itu, mulailah pembangunan pertahanan militer dilaksanakan. Di Cimahi ada garnisun penjara, di Kiaracondong dibangun pabrik senjata Pindad, di Gatsu ada perumahan militer, di Jalan Aceh ini dibangun istana komandan militer yang kini jadi markas Kodam III/Siliwangi. Tapi…karena ada krisis pasca Perang Dunia 1, pemindahahan ibukota itu dibatalkan.

Di belokan sana, ada taman Maluku yang terkenal dengan patung pasturnya. Menurut cerita yang beredar, dia adalah seorang rohaniawan militer Belanda yang posisinya suka berubah. Entah lah..

Di sekitaran ini juga ada lapangan tenis Maluku yang melahirkan juara Wimbledon junir, Angelique Wijaya.

Sedikit berjalan ke depan, ada bangunan dengan tiga patung Atlas yang sekarang dipakai jadi Kodiklat. Namanya Jaarbeurs. Hingga tahun 1941, Jaarbeurs ini semacam bursa tahunan seperti pekan Raya Jakarta.  Masjid yang ada di komplek ini dulu berfungsi sebagai gudang. Pos penjagaan di gerbang depan itu dulunya loket pembelian tiket Jaarbeurs. Sayangnya, Jaarbeurs dihentikan dan mati saat masa penjajahan Jepang.

Di seberangnya, ada lapangan Saparua yang sempat fenomenal di era 90-an. Tempat ini jadi saksi sejarah pergerakan scene musik undergorund Bandung. Jadi ga heran kalo Saparua dulu jadi tempat paling representatif untuk para anak muda Bandung. Berbelok ke kiri Jalan Banda, terdapat bangunan tua lagi berupa gereja katholik bebas yang udah ada sejak Natal tahun 1916. Dulu pernah jadi pusat teosofi.  Gereja S. Albanus ini sekarang buka kursus bahasa belanda.

Perjalanan pun telah sampai di penghujung cerita. Kami istirahat di Taman Lansia sebelah gedung Pos Indonesia di Gedung Sate. Kebetulan saat itu kegiatan pasar kaget gasibu masih berlangsung ditambah suara latihan marching band , membuat suasan jadi makin ramai. Taman ini adem sekali dengan pohon gede yang tumbuh menjulang. Kenapa pohon ini bisa tumbuh sedemikian rindang di tengah kota? Ga lain dan ga bukan karena adanya kanal buatan yang sengaja dibuat untuk mengairi pohon-pohon ini. Sebuah sistem sederhana. Ga kaya sekarang yang riber mesti ada mobil khusus penyiram tanaman yang mondar-mandir di jalanan.

Akhirnya, usai sudah  kisah menyusuri sejarah Bandung versi kota tua hari itu. Sungguh seru berjalan kaki di tanah priangan ini. Bertahun-tahun melewati jalan yang sama, tapi baru ini saya nyadar betapa indahnya si Bandung kalau diamati dan ditelisik lebih dekat.

Selamat ulang tahun, Bandung! Semoga dirimu yang sudah berusia tepat dua abad ini dapat menjadi kota bijak yang selalu menyenangkan dan tidak mengada-ada. I love you more!

-ifa. 2010-

NgAleut 200 thn Bandung

Oleh : Nara Wisesa

Bandung oh Bandung… Untuk yang belom tau, weekend ini Bandung ceunah mah berulang tahun yang ke 200 loh! Jadi hometown ku tercinta ini, yang selalu dikangenin dan dirindukan kalau saya lagi menghilang merantau, ternyata eh ternyata udah berumur 2 abad!! Lebih tua dari kura-kura Galapagos yang tertua loh!! (Kura-kura Galapagos tertua yang diketahui berusia 170 tahun… loh, kenapa Bandung jadi dibandingin sama kura-kura?)…

Wilujeng Tepang Taun Bandung!!!

Jadi udah dua abad berlalu sejak Daendels menancapkan tongkat di lokasi yang sekarang menjadi Kilometer 0 Bandung di Jl. Asia Afrika, memberikan komando yang kemudian menjadi awal terbentuknya kota Bandung… Dan di lokasi tersebut pula perjalanan hari Minggu ini dimulai… Eh, sebenernya beberapa ratus meter dari situ sih, tepatnya di depan Gedung Merdeka…

Kilometer 0 Bandung

Tapi kita rewind dikit dulu, pagi-pagi setelah meninggalkan cigadung dengan diselimuti hawa dingin lembab sisa hujan semalam, saya pun menuju dago berbekal sepasang kaki, sebuah kamera dan duit secukupnya, untuk (akhirnya) melihat, seperti apa sih bandung car free day iyang katanya diadakan tiap minggu jam 6-10 pagi dari simpang dago sampai jembatan pasupati… Padahal udah lama banget pengen liat tapi kesiangan mulu, heuheu… ;p

Dari simpang dago memang sudah terasa perbedaan, terlihat beberapa sepeda berseliweran, tapi sempet bingung, koq masih ada mobil yak?? Oh rupanya yang ditutup mulai dari belokan dayang sumbi, dari situ Dago pun berubah menjadi cycling & pedestrian area… Cukup kagum juga sih liat Dago yang biasanya notabene penuh mobil, berubah jadi penuh orang jalan/lari dan sepeda…  ME LIKEY!!!!

Dago pada saat Car Free Day… coba tiap hari kayak gini
di depan SMAK Dago… yang biasanya penuh sesak sama mobil…

Coba ini setiap hari, gak cuma minggu pagi doang…. *ngarep*… Setelah jajan bapau ayam buat sarapan, saya pun melanjutkan perjalanan ke Jalan Merdeka, dengan si Kalapa-Dago yang jaman SMA dulu merupakan salah satu tunggangan setia saya… udah lama gak naik, sempet kelewatan sampe Lengkong Besar, haha…

Sekitar jam 7.45an (kayaknya sih… gak liat jam soalnya), akhirnya saya mulai mengikuti ngaleut saya yang pertama! yay!! Walau sebenernya rute yang ini udah beberapa kali dilewatin bareng sama Indra, tapi baru sekarang rame-rame gini… mental seksi dokumentasi (baca: tukang foto) pun langsung kambuh, jepret sana-jepret sini, jadi aja gak dengerin penjelasan para pemandu yang beraksi *maap ya teman-teman pemandu aleut yang terhotmat…* >.<

NgAleut heula ah!

Yang pasti rute ngaleut pagi itu dimulai dari depan pintu masuk museum KAA (asli, ngerubun di depan pintu masuk, untung belom buka, heuheu) sambil berkenal2an (sembari gak kedengeran karena dapet soundtrack dari traffic jalan asia-afrika yang udah mulai heboh), trus seneng liat ada juga yang dateng pake sepedah, maklum, mantan pesepeda yang lagi kangen ngegowes… ;p

Sambutan dari saudara Indra Pratama

Pasukan kemudian berangkat ke tugu Kilometer-0 (one of the coolest spot in bdg, IMO), Hotel Preanger, backtrack lewatin Homann menuju Braga, berenti depan Majestic, masuk ke gedung di sebelah Majestic yang katanya dulu bekas fashion designer gitu (biar rada-rada serem tapi keren abis lah liat dalem situ, apalagi liat akar-akar pohon yang nembus/ngerambat di tembok deket pintu masuk).

Nah, inilah tugu kilometer 0!
di depan Preanger
Kuke asyik motret dari depan Homann – lebih heboh pose fotografernya daripada yang dipotonya ;p
di seberang Majestic
di dalemnya bekas toko fashion itu… kinda spooky but was quite cool!

Lanjut ke lokasi perobekan bendera (tapi gara-gara di sebelah tugu peringatannya ada mobil yang dipajang, orang yg lewat kayaknya ngira ini lagi pada narik undian)…

Lokasi perobekan bendera

Dari situ pun kita berlanjut menyusuri gedung Braga sembari membahas gedung-gedung dan sejarahnya (kayaknya sih… lagi2 sibuk jadi mat kodak jadi gak meratiin bener :p tapi dapet beberapa foto yang lumayan lah, hehe..), memberanikan diri menyebrang perempatan lengkong, melewati gedung Landmark, melintasi rel kereta api (sambil popotoan – kids, DON’T DO THIS!), penjelasan sebentar di depan gedung BI (yang baheula merupakan lapangan tempat anak-anak mobil jaman belanda pamer mobilnya, “Gaol Bangetss” ceuk Indra mah) lalu kita pun menuju Taman Balai Kota, sebuah taman kota yang cukup okeh dan nyaman di Bandung, untuk beristirahat dibawah teduhnya pohon-pohon beringin (meureun… sotoy abis..) di depan kerangkeng yang ceunah dulunya tempat brass band tentara belanda bermain musik menghibur pengunjung taman…

menyusuri Braga
di depan gedung Perusahaan Gas negara
mempertaruhkan nyawa menyebrang jalan Lembong
JANGAN DITIRU!!! Kids, DON’T DO THIS!

Setelah beristirahat sebentar (dan diancam untuk ikut kuis dadakan dengan pertanyaan, siapa nama bapaknya Indra?), pasukan Aleut (kalo kata Kuke mah “Aleutians”) bergerak menuju jembatan yang menyebrangi jalan merdeka, untuk melanjutkan perjalanan ke arah jalan Jawa, kemudian belok ke arah Taman Lalu Lintas (lagi-lagi seperti biasa keteteran jauh di belakang pasukan utama gara-gara asik jepret sana jepret sini) sampai kemudian berhenti di perempatan depan KODAM Siliwangi (bener kan ya?) dan membahas berbagai aspek sejarah daerah tersebut (termasuk tentang sang panglima belanda yang dulu dibangunkan oleh marching band tiap pagi untuk sekedar dadah-dadah dan tidur lagi)…

Beristirahat di BalKot
Foto keluarga di BalKot
Di seberang SMP 5

Perjalanan dilanjutkan menyusuri Taman Maluku (ayo ngaku siapa yang dulu pernah beroperasi disitu sebelom dikerangkeng! ;p) menuju Jaarbeurs yang dulunya merupakan tempat pekan raya jaman belanda, dimana diatasnya ada patung Atlas buligir yang membuat bu Wiwit kesengsem… setelah break sebentar (ada yang duduk, ada yang sepedahan, ada yang popotoan, ada yang beli kacang rebus), perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan Banda (sempat menyabung nyawa menyeberang jalan Riau) dan menuju Gedung Sate…

Di Seberang Jaarbeurs
Jaarbeurs bersama trio Atlas

Saat melintas gedung sate, melihat “sate” nya pun terpikir (baca: ide-ide aneh muncul di otak), kenapa disebutnya sate ya? padahal kan tajemnya keliatan sementara “daging”nya dibawah… dimana-mana sate kan tajemnya ketutupan sama dagingnya… eh tapi masuk akal juga sih, itu kan gedungnya udah lama, jadi pasti lama-lama dagingnya melorot ke dasar tusuk sate… (maksudlo naaar??? – geus lah, tong diwaro, keur error, udah lama gak jalan jauh suplai oksigen ke kaki semua jadi otak mulai hipoksia kayaknya mah…)

gedung sate, dagingnya melorot ke dasar tusukan… ;p

Akhirnya, perjalanan pun berakhir di taman kota yang di samping gedung sate (taman cilaki ya kalo gak salah? depannya yoghurt cisangkuy lah yang pasti), dimana Aleutians meluruskan kaki di tanah berlumpur, Bang Ridwan pun bergabung dengan kita disitu dan memberi keterangan-keterangan tambahan… Satu poin yang paling saya anggap menarik adalah mengenai sungai/kanal yang melalui taman tersebut, yang ternyata didesain oleh town planner jaman belanda dulu untuk melalui taman-taman kota di bandung… WOW… Tapi ya gak aneh juga sih, orang2 belanda itu kan emang jawaranya lah soal desain-mendesain kanal…

meluruskan kaki… tapi kakinya pada ditekuk semua..
Salah satu kanal di taman kota dekat gedung sate

Dan disanalah perjalanan minggu ini berakhir, dimana kami pun berbagi mengenai pesan dan kesan tentang perjalanan hari ini, dan harapan untuk bandung ke depannya (sambil diiringi lagu-lagu nasionalis dari marching band yang lagi latihan di gedung sate, jadi, punten we nya,tadi ga kedengeran pada ngomong apa…) Sharing berakhir, pasukan pun foto keluarga – untuk KETIGA KALINYA hari ini, haha 😀

Foto keluarga pamungkas di taman Cilaki 🙂

Ngaleut untuk memperingati ulang tahun bandung ini pun berakhir sudah, untuk ngaleut pertamakalinya buat saya, menikmati banget lah, asik banget menjelajahi kota sendiri bersama-sama! Dan yang pasti, yang saya rasakan, sebenernya Bandung itu enak banget, atau lebih tepatnya, BISA enak banget untuk wisata berjalan kaki, kalau kebudayaan berjalan kaki dibangkitkan dan infrastrukturnya diperbaiki… soalnya percuma juga kalau infrastruktur udah bagus, trotoar dibagusin, lampu merah untuk pejalan kaki diaktifkan lagi, tapi gak dimanfaatkan dengan baik, akhirnya paling rusak percuma lagi… jadi, ayo kita lebih sering jalan kaki!! 😀

Ngaleut de Bragaweg

Oleh : Catra Pratama

Original Post at http://catra.wordpress.com/2010/04/13/ngaleut-di-bragaweg/

Minggu pagi itu saya bangun. Melirik jam dinding dan berpikir sejenak. Ternyata Minggu pagi ini ada agenda saya bersama Komunitas Aleut buat ngaleut bragaweg. Segera saya ke lokasi tempat start ngaleut yaitu di depan gedung Merdeka jalan Asia Afrika Bandung. Di sana telah berkumpul dua puluhan teman-teman pencinta sejarah dan ngaleut Bandung. Ngaleut dalam bahasa Sunda adalah jalan-jalan bareng. Saya berpikir, ternyata masih ada generasi muda Bandung yang bangun lebih awal untuk melakukan hal-hal yang positif tanpa begadang di malam minggunya. Bangun pagi ngaleut sambil mengapresiasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Bandung.

Minggu itu agendanya adalah menelusuri jalanan Braga hingga finish di taman SMAN 5 Bandung. Lokasi start di gedung merdeka sambil ramah tamah antar anggota komunitas membuat kami lebih akrab satu sama lain. Saya baru bergabung dengan komunitas ini sebulan yang lalu. Anggotanya yang kebanyakan mahasiswa dari berbagai macam universitas yang ada di Bandung yang sama-sama memilik rasa cinta terhadap Sejarah dan Kota Bandung. Sangat terbuka dan terkesan tak ada sekat diantara kita membuat selama perjalanan kita bisa berbagi pengetahuan dan wawasan antar sesama anggota.

Dari gedung merdeka kita berjalan ke hotel preanger, salah satu hotel eksotis peninggalan kolonial di jalan Asia Afrika. Hotel ini pernah ditempati oleh delegasi Konfrensi Asia Afrika pada tahun 1955 dahulu. Lanjut ke titik KM 0+00 Kota Bandung. Di titik itu pernah berdiri seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang sewaktu meninjau pemabngnan jalan raya pos yang terbentang dari anyer ke panarukan. Beliau mengatakan dan berharap di tempat ia berdiri itu dibangun sebuah kota. FYI, Bandung ternyata memang dibangun oleh pemerintah kolonial. Ibukota Bandung yang awalnya berada di daerah dayeuh Kolot 10 Km ke selatan Bandung di pindahkan ke alun-alun sekarang agar terletak di pinggir jalan raya pos yang melewati Bandung, sekarang jalan yang membelah kota Bandung itu menjelma jadi jalan Asia Afrika.

Tak jauh dari tempat itu berdiri kokoh hotel Savoy Homann. Hotel bergaya kolonial dengan ciri khas lengkung di sisi timurnya. Gaya khas Arsitek Terkenal Albers. Di hotel ini juga pernah ditempati oleh Kepala negara negara pesarta KAA 1955. Juga, artis dunia Charlie Chaplin. Perjalanan di lanjutkan ke sepanjang Braga. Jalan Braga cukup unik, karena jalan ini tidak memakai aspal, melainkan memakai batu pualam. Kiri-kanan jalan ini terdapat bangunan-bangunan sisa kolonial sehingga jalanan ini membuat kita seolah berada di eropa.

Pada awal abad 20 an Braga merupakan pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung. Rata-rata warga Eropa tersebut bekerja di perkebunan di sekitar Bandung dan sangat mapan dibandungkan warga pribumi pada saat itu. Banyak sekali gedung-gedung tempat hiburan bagi kaum planters tersebut, tempat pertunjukan musik, Bioskop, Tempat Pemandian dll. Nah, yang bikin miris yaitu fasilitas itu tak bisa dinikmati oleh kaum pribumi sendiri yang merupakan empunya negeri ini. Bahkan di gedung majestik yang merupakan Bioskop tempat pemutaran film pada zaman itu terpampang tulisan Anjing dan Pribumi dilarang masuk. Masyaallah, ternyata status kita disamakan dengan anjing pada saat itu.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Balaikota Bandung, melewati Bangunan kuno Polwiltabes Bandung. SMP 2 Bandung yang merupakan tempat pendidikan menengah yang elite pada saat itu. Melewati tempat kompleks perkantoran militer yang juga warisan kolonial. Kolonial membangun negeri ini dengan apik, tertata dan terencana.

Perjalanan ini sangat menarik karena di sepanjang perjalanan saya merasa kembali ke suatu zaman yang tak terbayangkan oleh saya sebelumnya. Ketika kita bangsa indonesia menjadi babu bangsa asing yang bercokol di negara kita. Ketika kita hanya bisa melihat dari jauh kemewahan kaum kolonial di kampung kita sendiri. Ketika kita hanya bisa menelan air ludah karena tak bisa merasakan nikmatnya fasilitas-fasiltas tersebut. Sekarang, Kita sudah merdeka. Sisa-sisa fasilitasnya diwariskan kepada kita. Namun kita seolah menelantarkannya. Terletak bagaikan bangunan rongsok tua yang keropos di pinggir jalan.

Jika gw punya 30 hari liburan di Bandung

Oleh : R.Indra Pratama

Hell yeah.. dibalik kesulitan dalam menulis skripshit.. tiba2 tercembul ide buat nyusun tulisan ini dari inspirasi yang diberikan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3615483 .. cekidot..

Bandung si Parijs van Java menawarkan banyak banget kesempatan untuk melakukan hal-hal seru, kalo TS dikasih sebulan tinggal liburan di Bandung, TS bakal ngelakuin hal-hal dibawah!

1. Berburu DVD/Mp3/CD Audio di Kota Kembang
Buat para pemburu, all Discs under 10rb, kecuali bokep2 yang lagi happening.. kalo yang modalnya berlebih tapi tetep pengen mendukung piracy, bisa belanja di Vertex deket SMP 7.

2. Mencoba peruntungan naek ke gedung Sate
Coba berdiplomasi sama petugas keamanannya (kalo bisa bawa rombongan yang sangar2 hehe), dan jika Tuhan memberkati anda bisa naek ke menara (atau balkon?) paling atas untuk ngelihat view ke sekeliling kota Bandung.

3. Makan Perkedel Bondon
Sayangnya bondon nya nggak ada, tp perkedel ini enak kok buat dima’em, tapi kesananya jam 11 malem keatas ya..

4. Dateng ke acaranya Klab Jazz
Acara ini kadang suka nggak puguh sih jadwalnya, tp yg jelas sebulan sekali, dengan tempat seringnya di Café Halaman di Tamansari.

5. Liat konvoinya Paguyuban Sapedah Ontel
Ingin lihat konvoi ontel plus kostumnya yang mejik2? Dateng aja ke depan museum Geologi minggu pagi jam 8-9 an.. kalo lagi gak konvoi? Ya tungguin aja sampe konvoi

6. Ngelihat prasasti nya Raja Thailand di Curug Dago
Sekalian jalan pagi dari Tahura, jalan aja terus ngikutin trek sampe denger ada suara curug alias air terjun. Tapi jangan ikut terjun karena ada tangga curam yang menuntunmu kearah prasasti tersebut

7. Berburu barang bekas di CIhapit
Mantep dah jalan ini, mulai dari audio mobil, elektronik, antiques, kaset/cd lama, buku, hingga kuliner mantap (tapi saying sekali kulinernya bukan bekas). Siapkan skill nawarmu!

8. Nyimol Gedebage (belanja di Cimol Gedebage)
Yah udah lah, nggak usah nunggu deskripsi, brangkat sana..

9. Mengunjungi ambulan Bahureksa
Silahkan dikunjungi, malem2 lebih asik, ngomong aja sama yang jaganya.. oke..

10. Berburu buku di Palasari, Cikapundung, atau Dewi Sartika
Lebih lengkap dari Cihapits, harga bersaing, tapi koleksi Playboy bekas jangan diambil ya, itu punya saya..

11. Makan Colenak
Makanan dari tape ini ajib banget agan2, sekali hap!.. beuuhh…. Kalo mau nyari ada di Jl.A.Yani 733 udah kearah Caheum gitu

12. Ziarah ke makam para Bupati Bandung zaman dulu..
Hehe, kalo yang belon tahu, makam para pembesar Bandung jama dulu ini ada di daerah Dalem Kaum In the middle of crowd.. kesana aja oke..

13. Maen ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Museum yang seru tapi sepi ini buka jam 8 sampe jam1 siang (senen ampe kemis) kalo jumat jam 10 udah tutup.

14. Jalan sehat ke Punclut
Naek aja terus dari Ciumbuleuit, nah pas ada rame2 (sabtu minggu biasanya) jalan aja terus ngelewatin crowd, kalo udah sepi suasananya asoy ban-jed. Apalagi kalo pas diatas kita makan nasi merah – sambel terasi..

15. Nongkrong di Taman Dewi Sartika (balkot)
Asik gila lah buat macar, bawa bekalmu guys!

16. Ikut ngaleut nya KOMUNITAS ALEUT!
Komunitas interpreter sejarah, sering jalan2 keliling kota atau kadang mrepet2 ke pinggir kota untuk menemukan perspektif baru dalam memandang sejarah, hubungi TS aja kalo mau ikutan. ato klik https://aleut.wordpress.com

17. Hangout ke Dago Plaza
Gak hangout, gak gaol! (kayak yang suka aja hahah)

18. Nonton show angklung di Saung Angklung Udjo
Terletak di Padasuka deket Caheum, saung angklung ini menyelenggarakan daily show yang seru,angklung, wayang golek, dsb.. tiket 50rb doang..

19. Sowan ke Gua Pawon
Sebuah gua yang kaya peninggalan masa prasejarah di kawasan karst Padalarang, perhatikan kondisinya teman2!

20. Bertandang ke Kampung Adat Cikondang
Terletak di deket PLTA Cikalong, (kalo dari Bandung ambil kearah Moh.Toha – Pangalengan). Be there untuk ngeliat upacara Wuku Taun setiap 15 Muharram!

21. Berkelana di Pasar Baru
Bangunan 12 lantai ini sudah go international lebih popular dari Agnes Monica. Ada pula penjual aneka kletikan (keripik dll), barang2 rumah tangga, selain tentunya penjual2 garmen yang sudah melegenda. Daerah sekitar pasar juga sik dijelajahin lho..

22. Trekking ke Curug Cilengkrang
Air terjun yang terletak di Ds.Cilengkrang (6km dari Jalan raya Cibiru Ujungberung) ini eksotis sekali kabarnya (TS belum pernah ehhe). Bisa pilih jalan, bisa juga cheating dgn naek ojek.

23. Belajar lalu lintas di Taman Lalu Lintas
Taman yang udah eksis sejak 50-an ini bisa jadi alternative buat kamu2 yang mau belajar memahami rambu2 yang sadar-nggak sadar sering kita langgar, ato kalo yang mau belajar sepeda ato naik kereta2an juga bisa.. bawa adekmu kesini biar ntar nyetirnya nggak ugal2an!

24. Sok2 belajar kalkulus di Taman Ganesha
Taman asik ini terletak di depan ITB, seru buat belajar (kalo kamu anak ITB) ato ngeceng2 (kalo lo bukan anak ITB) ato ngadem (kalo lo kepanasan). Tapi ati2 musim ujan suka banjir.

25. Nongkrong di CK
Ini mah bukan hanya di Bdg aja sih, tapi seru lho, asal bedoa aja nggak dapet serangan dari geng motor.

26. Dinner di Ceu Mar
Meskipun TS masih nggak ngerti enaknya dimana, tapi karena rame terus, jadi asik lah!

27. Foto pre wed di Braga
Sudah tentu kawasan kota tua Bandung ini mantep bwt background foto.. datangi!

28. Bergaul di Jatinangor!
Rasakan kehidupan khas kampus, dengan gigs music yang macem2 dan eksklusif, tempat makan dan perpustakaan yang yummy.

29. Nrebus telor di Kawah Domas Gn.Tangkuban Parahu
Asik lah, selain kawah ratu yang amazing, kawah ini juga seru. Ati2 kalo ujan licin bro..

30. Stroberi-an di Ciwidey
Turut berduka cita atas musibah longsor kemarin, semoga Ciwidey tetep rame, karena asik banget. Kebon Stroberi petik sndiri bisa ditemukan banyak bgt di arah ke kawah putih.

Yang TS kasih Cuma gambaran singkatnya aja, kalo mau info lebih detail bisa tanya disini ato browsing sendiri oke… eh tapi inget ya, kalo datang ke Bandung gak boleh buang sampah sembarangan, dan kalo bisa jangan bikin macet ya… ahahha

yang mau nambahin silahkan!

post ini boleh direpost, tp cantumin link ini yaa

ayo dateng ke Bandung yaaa

sumber : Bandung, Where to Go (oleh Intisari dan Komunitas Aleut!)

Braga tak Sekedar Pameran Komputer

Oleh : Erik Pratama

Apa yangpertama kali kepikiran waktu kamu denger nama Braga? Jika pertanyaan ini diajukan beberapa tahun lalu saat saya masih kuliah atau bahkan mungkin beberapa hari lalu, yang akan saya jawab adalah Landmark dan Pameran Komputer. Yup..hehe….untuk orang seperti saya yang biasa mencari cari (Cuma cari yah..g pake beli..) harga komputer dan peripheral lainnya rasanya pantas jawaban itu yang muncul.
Tapi hari minggu 28/3 lalu temen-temen dari Komunitas ALEUT menambahkan pengetahuan baru pada saya bahwa Braga bukan sekedar Landmark dan Pameran Komputer.Di hari itu saya diajak untuk melihat braga tidak hanya di masa itu tapi juga melihat melalui lorong waktu (cie…lebay euy..). Perjalanan dimulai dari gedung merdeka menuju titik BDG 0 km (tempat yang dari dulu saya pengen foto2 disana..hehe..alhamdulillah kesampaian) Hotel Preanger, Savoy Homan, De Vries (g tau yang bener nuisnya kaya gimana) dan tempat lain sepanjang jalan Braga yang kemudian berakhir di Taman Kota dan berlanjut dengan tour Keililing Indonesia, mengitari pulau-pulau (baca:jalan-jalan pulau) di Indonesia.
Setiap berhenti di suatu tempat temen-temen aleut dengan rendah hati dan tidak sombong berkenan menjelaskan sekelumit tentang sejarah tempat itu. Gak banyak yang saya ingat..karena saya bukan orang yang pandai mengingat…hehe…
Mari Kita lihat apa yang saya ingat??!!
Pertama..Terdapat 3 mazhab dalam penamaan jalan Braga..Ada yang menyebutkan bahwa nama Braga berasal dari kata Baraga yang kurang lebih artinya aliran sungai..katanya karena jalan ini mengikuti aliran sungai cikapundung..Ada pula yang menyebutkan bahwa nama Braga berasal dari nama grup Tonil (katanya sejenis drama gitu) yang selalu melintasi jalan yang sekarang bernama braga..dan versi ketiga adalah………ups..saya lupa lagi..hehe….
Kedua.yang saya ingat adalah nama dua orang arsitek yang banyak mendapat proyek pada masa itu yaitu Albers dan Schoemaker (lagi-lagi g tau cara nulisnya).Masing-masing punya ciri khas…dan ternyata setelah saya Tanya om Google ternyata salah satu diantara mereka adalah juga arsitek Isola. Gedung rektorat @ kampus ku tercinta UPI Bandung.
Ketiga. Societet d Concordia..itu adalah nama tempat hang-outnya para preanger planters (kalo g salah artinya pengusaha perkebunan / tanaman di priangan) sekarang itu kalo g salah adalah gedung merdeka (ato yg deket gedung merdeka gtu ya..he,..) di pintu tempat ini bertuliskan 3 kata yang berujung En..yang artinya Pribumi dan An**** dilarang Masuk. Mohon maaf demi kenyamanan yang baca jing nya terpaksa saya sensor….

Keempat…Saya g terlalu hapal semua ceritanya..jadi daripada salah lebih baik Tanya-tanya aja sama temen-temen ALEUT biar g salah.
Intinya adalah pada hari itu saya mendapat pengetahuann yang tidak pernah saya dapat di bangku sekolah (karena seingat saya yang ada di bangku sekolah adalah tulisan I loveyou yang ditukis dengan tipe x ,dan juga rumus2 matematika). Dan belajar menghargai sejarah. Di masa lalu bangsa kita dijajah, dibeda-bedakan, dianggap rendah. Dan kini kita menjajah diri kita sendiri dengan tidak menghargai budaya yang kita miliki. Hayoh..betul kan?!Kita bereaksi keras terhadap klaim bangsa asing terhadap budaya Indonesia . tapi apa yang kita lakukan?Sudahkah kita menghargai budaya kita?!Taukah kita akan budaya bangsa kita?! Saya bukan orang yang paham akan budaya daerah saya.karena itulah saya belajar..setidaknya berkenalan….

Oia..terakhir saya ingatkan kembali apa yang biasa dikatakan kordinator ALEUT. “ramaikan blog nya aleut di aleut.wordpress.com” demikian kata beliau. Saya cuma bisa mengatakan kunjungi juga blog berbagibelajar.blogspot.com

Revitalisasi Kawasan Wisata Kota Tua Bandung : Menghidupkan Kembali Raga Jalan Braga

(Oleh : Ridwan Hutagalung, penulis buku “Braga: Jantung Parijs van Java”)***

Jalan Braga sebagai salah satu tujuan wisata di Kota Bandung tampaknya semakin populer belakangan ini. Banyak situs di internet berupa blog dapat dengan mudah kita temui tulisan-tulisan ringan mengenai ruas jalan yang panjangnya hanya sekitar setengah kilometer ini.

Kebanyakan bercerita tentang kesan para penulisnya berjalan-jalan di kawasan Braga. Sebagian lain sedikit lebih serius dengan menyampaikan juga data-data sejarah yang berkaitan dengan perkembangan modern Jalan Braga sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini.

Minat utama para penulis blog yang sempat mengunjungi Jalan Braga ini adalah suasana tempo dulu yang masih dapat terlihat dari sebagian kecil bangunan yang berjajar di sepanjang Jalan Braga. Kadang di lokasi atau gedung tertentu para pengunjung terlihat memerhatikan berbagai detail yang masih tersisa. Untuk diketahui, para penulis blog ini tak sedikit yang berasal dari luar kota, termasuk dari luar negeri.

Yang juga cukup menarik adalah fenomena banyaknya kelompok remaja yang mengunjungi Jalan Braga, terutama pada akhir minggu dan hari-hari libur. Sejak pagi hingga menjelang malam, berbagai kelompok remaja tampak silih berganti berjalan-jalan atau berfoto bersama di sudut-sudut Jalan Braga. Objek foto paling populer tentunya gedung-gedung tua peninggalan masa kolonial yang sebagian tampak masih kokoh berdiri dan menyisakan keindahan masa lalunya. Tak jarang pula bisa kita saksikan berbagai kegiatan pemotretan untuk keperluan fashion atau pernikahan dan bahkan untuk pembuatan film, dilakukan di sepanjang Jalan Braga dengan latar gedung-gedung tuanya.

Beberapa film nasional yang diproduksi belakangan ini memang menggunakan Jalan Braga sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar mereka. Belum lagi perekaman video dokumenter, baik untuk keperluan pribadi ataupun lembaga tertentu, dari dalam maupun luar negeri. Tak terhitung pula artikel dan foto tentang Jalan Braga yang sudah dimuat di berbagai majalah, freemagz (majalah gratis), koran, dan berbagai terbitan lainnya. Sebuah iklan televisi swasta nasional pun sepenuhnya mengambil gambar di Jalan Braga. Tak pelak lagi, Jalan Braga memang merupakan salah satu daya tarik wisata yang cukup penting di Kota Bandung.

**

Jalan Braga sebelum abad ke-20 hanyalah jalanan becek dan berlumpur yang sering dilalui oleh pedati pengangkut kopi dari koffie pakhuis (di lokasi balai kota, sekarang) yang menuju Grote Postweg (Jalan Asia-Afrika, sekarang). Itulah sebabnya di masa lalu Jalan Braga dikenali dengan nama Karrenweg atau Pedatiweg. Menjelang berakhirnya abad ke-19, Jalan Braga mengalami berbagai perkembangan seiring dengan pembangunan kota Bandung secara umum.

Memasuki dekade pertama abad ke-20, kawasan Braga perlahan menjadi semacam pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung, terutama para Preangerplanters yang biasanya berdatangan ke Bandung setelah seminggu penuh mengelola perkebunan mereka di luar Kota Bandung.

Para pekebun yang datang ini ada yang dari Jatinangor, Sumedang, Pangalengan, Ciwidey, Rajamandala, dan berbagai kawasan perkebunan lainnya yang tersebar di Priangan. Mereka sengaja datang untuk berbelanja, bersantai, dan menghibur diri dengan berbagai fasilitas yang tersedia di Bandung saat itu.

Pertunjukan musik, rumah bola, bioskop, dan toko adalah tempat-tempat utama yang mereka kunjungi. Sambil bersantai, mereka juga berbelanja berbagai keperluan sehari-hari mereka di toko serbaada yang terdapat di ujung selatan Jalan Braga, yaitu Toko de Vries (sebelah barat Hotel Savoy Homann). Untuk menikmati suasana, atau pertunjukan musik, tersedia sebuah tempat favorit, Societeit Concordia (sekarang kompleks Gedung Merdeka). Tempat ini dikenal mahal dan bergengsi. Oleh karena itu, tidak semua warga Eropa juga dapat menikmatinya. Bagi kaum pribumi lebih mengenaskan. Karena untuk sekadar melihat kegiatan di dalamnya pun tidak dapat dilakukan secara terang-terangan, paling-paling dengan pandangan sambil lalu saja.

Untuk memenuhi kebutuhan sandang, para Preangerplanters mendapatkannya dari sejumlah toko di ruas Jalan Braga yang saat itu sudah dikenal dengan nama Bragaweg. Berbagai mode pakaian, perhiasan, dan aksesori tubuh lainnya tersedia di toko-toko yang mulai bermunculan di ruas Bragaweg. Toko pertama yang berdiri adalah toko kelontong milik Hellerman, yang disusul berbagai toko dan perusahaan lain dengan jualan yang lebih spesifik seperti “de Concurrent” untuk perhiasan, “Au Bon Marche” untuk pakaian, dan “Maison Bogerijen” untuk makanan. “De Concurrent” hingga sekarang masih dapat ditemui dan barang yang ditawarkannya pun relatif masih sama, perhiasan. Sementara itu “Maison Bogerijen” sudah berganti rupa, namun tetap beroperasi sebagai restoran dengan nama Braga Permai.

Bandung memang tidak memiliki kompleks kota tua seperti di Jakarta atau Semarang. Namun, mengingat usia Kota Bandung yang juga relatif muda dibandingkan dengan Jakarta atau Semarang misalnya, tak heran bila peninggalan-peninggalan tua berupa bangunan di Bandung tak banyak yang berumur lebih dari satu abad. Dari jumlah yang sedikit ini, sebagian besar tampaknya kurang terurus, dalam keadaan kosong dan tampak kumuh. Sangat disayangkan bila penelantaran seperti ini dibiarkan berlangsung terus sehingga secara perlahan gedung-gedung itu rusak dimakan waktu dan tentunya memunculkan alasan-alasan untuk kemudian merobohkannya sekalian.

Dengan mudah dapat diperhatikan bahwa kondisi seperti ini juga terjadi di Jalan Braga. Sebagai salah satu tujuan wisata, Jalan Braga sudah cukup lama kehilangan perhatian dan ditelantarkan dalam keadaan hidup segan, mati tak mau. Beberapa gedung dibiarkan kosong dan tidak terawat. Belum lagi kepadatan lalu lintas yang membuat Jalan Braga sering dalam keadaan macet dan bising sehingga tidak nyaman untuk dilalui, apalagi dijadikan sebagai tempat bersantai.

**

Sebagai upaya revitalisasi, saat ini Pemerintah Kota Bandung sedang melakukan pembenahan Jalan Braga yang dimulai dengan penggantian jalan aspal dengan susunan batuan andesit. Penggantian badan jalan ini tak lepas dari kritik, terutama karena kualitas jalan aspal di Jalan Braga termasuk yang sangat baik. Seorang pemilik toko di Braga bahkan mengatakan belum pernah mengalami sedikit pun kerusakan jalan di Braga sejak 25 tahun terakhir ini. Akan tetapi, penggunaan bahan batu andesit pun dianggap tak memiliki relevansi sejarah.

Sebelumnya, harapan pernah digantungkan pada kehadiran Braga Citywalk, namun tampaknya hingga saat ini Braga Citywalk belum memberikan pengaruh yang signifikan pada pengembangan Jalan Braga. Lokasi tempat Braga Citywalk sendiri merupakan bekas lokasi pabrik perakitan mobil yang pertama di Hindia Belanda, “Fuchs & Rens”. Pabrik yang didirikan pada tahun 1919 ini juga merupakan pabrik perakitan mobil mewah Mercedes Benz yang pertama di Indonesia.

Kembali ke awal tulisan ini, bila menimbang besarnya minat masyarakat yang tumbuh belakangan ini, diharapkan revitalisasi Jalan Braga bisa lebih memerhatikan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Misalnya, dengan menjadikan Jalan Braga sebagai kawasan pedestrian, tentunya mesti diperhatikan pula objek-objek yang akan ditawarkan kepada para calon pengunjung. Para pedestrian pasti tak ingin mendapati sebuah kompleks wisata dengan gedung-gedung kosong dan kumuh atau pusat pertokoan yang senyap karena tak banyak objek yang cukup menarik hati sehingga tak mampu membuat pengunjung bertahan berlama-lama dan berbelanja di kawasan itu.

Sejumlah usulan tentang revitalisasi Jalan Braga sudah pernah diungkapkan masyarakat melalui berbagai media, salah satunya adalah dengan menjadikan Jalan Braga sebagai sentra FO, distro, atau pusat perbelanjaan yang bergengsi seperti di masa lalu. Atau, mencontoh yang sudah dilakukan oleh beberapa kota besar di Indonesia, dengan menjadikannya sebagai kawasan wisata kota tua.

Sebagai kawasan wisata kota tua, penampilan sebagian besar gedung perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar dapat membawa pengunjung ke suasana khas yang hanya bisa didapatkan di Braga. Gedung yang kosong dan kumuh diperbaiki dan difungsikan kembali agar benar-benar hidup di siang hari mengimbangi suasana malam yang saat ini lebih dinamis oleh keberadaan pub, kafe, dan tempat hiburan lainnya. Bila karena alasan teknis tertentu, gedung tak bisa difungsikan, paling tidak gedung tersebut dalam keadaan terawat dan bersih. Mungkin baik pula bila di depan gedung-gedung tertentu dibuatkan plakat besi atau marmer dengan keterangan ringkas tentang sejarahnya, atau paling tidak, tahun pendirian dan nama arsiteknya.

Namun, apa pun rencana revitalisasi Jln. Braga, pasti memerlukan rancangan yang matang dan kerja sama yang melibatkan banyak pihak dan yang jangan dilupakan, para pemilik toko dan bangunan yang ada di Jalan Braga.

*Dimuat juga di Harian Pikiran Rakyat tahun 2007