Ngaleut, Melangkah Beriringan Memaknai Sejarah

Oleh: Sora Soca (@SoraSoca)

Menuntut ilmu merupakan metode mendapatkan kebahagiaan hidup. Maksud dari ungkapan tersebut memang benar. Namun, apa gunanya ilmu pengetahuan jika tidak bisa disampaikan kepada orang banyak?

Ilmu itu sendiri terdapat banyak cabangnya. Salah satunya sejarah. Mengacu pada kalimat penulis Belanda Edgar du Perron, “Bahasa yang sulit, tidak selalu mewakili pikiran yang bermutu”. Banyak sekali buku sejarah bermutu yang kita temui hanya bisa mengisi tumpukan buku yang tidak dibaca karena penulisannya yang terlalu ilmiah dan berat. Di sinilah ilmu sejarah harus lebih aplikatif.

Persoalan itu kemudian berusaha dipecahkan oleh Komunitas Aleut. Melalui kecintaan kepada Kota Bandung, mereka menggelar kegiatan rutin bernama Ngaleut setiap hari Minggu. Mereka berusaha membangun kesadaran masyarakat akan sejarah yang terjadi di kotanya. Apakah benar begitu?

Salah satu pegiat Komunitas Aleut, Gina Azriana, mengatakan Ngaleut membuatnya menyukai sejarah. Selain itu, kegiatan ini dapat menambah pertemanan dan wawasan tentang situs penting di Bandung.

 

Sejarah bisa apa saja, tidak hanya tempatnya tapi juga ada kisah menarik di sekitarnya. Saat bergabung dengan Aleut wawasan bertambah dan ternyata tidak hanya di Bandung,” kata mahasiswi asal Sintang, Kalimantan Barat itu.

Gina mengaku baru setahun bergabung dengan Komunitas Aleut melalui ajakan seorang teman yang sudah lebih dulu aktif. Sejak saat itu ia rajin mengikuti kegiatan reguler Aleut.

“Saya ikut Ngaleut perdana saat ada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Sejak saat itu jadi sering kegiatan setiap Minggu,” ungkapnya.

Salah seorang koordinator Ngaleut, Arya Vidia Utama menjelaskan, sejak dibentuk 10 tahun lalu komunitas ini memang bertujuan mempelajari sejarah dengan cara mendatangi langsung tempat-tempat bersejarah yang dituju. Dengan menerapkan metode tersebut diharapkan mendatangkan pengetahuan baru bagi para anggotanya terkait sejarah.

“Yang ikut Ngaleut sekarang ini sekitar 20-30 orang. Rata-ratanya memang mahasiswa tapi sebenarnya usia berapapun bisa selama tertarik pada sejarah,” ucapnya.

Setiap Minggu, kata Arya, tema yang dibahas berbeda-beda sehingga lokasi yang menjadi titik-titik keberangkatan komunitas ini pun beragam mulai dari jalan raya, pemukiman penduduk dan sebagainya.

“Kadang temanya ditentukan dari hal apa yang mau dicari. Ada juga yang terkait dengan event terdekat di Bandung. Misal, HUT Kota Bandung kita cari yang berhubungan dengan momen tersebut,” terangnya.

Ngaleut sendiri merupakan kata dari Bahasa Sunda yang berarti berjalan beriringan. Mereka mengadakan Ngaleut untuk bersama-sama saat mempelajari sebuah tempat bersejarah. Hampir seluruh tempat bersejarah di Bandung sudah dikunjungi komunitas ini. “Sumber temanya sendiri dari buku. Tidak hanya baca dari satu literatur saja. Ada dari buku memoar, novel dan lain-lain,” jelas Arya.

 

Setiap koordinator juga berperan penting dalam menyampaikan sejarah. Mereka biasanya bergantian menyampaikan informasi terkait situs penting kepada pegiat Aleut.

“Siapa yang menguasai materi yang jadi penanggung jawabnya. Saya misalnya, bertanggung jawab yang di dalam kota. Yang lain ada tentang literasi, militer, kereta api dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Komunitas Aleut juga pernah menjelajahi jejak sejumlah tokoh dan pahlawan nasional yang pernah tinggal di Bandung, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dr. Tjipto Mangeoenkoesoemo, dan Douwes Dekker.

Sleain itu, pegiat aktif menuliskan pengalaman Ngaleut dalam catatan perjalanan mereka yang dimuat di komunitasaleut.com. Dengan cara bercerita, diharapkan semakin banyak orang tahu akan sejarah dan tertarik mendalaminya.

Dikatakan Arya, para pegiat aktif juga turut menyumbangkan ide untuk tema Ngaleut. “Pegiat aktif juga memberi ide karena di pengurus di sini tidak sentris,” ucapnya.

(Huyogo Simbolon)

 

Tautan asli: https://qubicle.id/story/ngaleut-melangkah-beriringan-memaknai-sejarah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s