Ngaleut Rasia Bandoeng, Tentang Skandal di Bandung Tahun 1914

Oleh: Nurul Ulu (@bandungdiary)

Tahun 1917 bulan Desember di kota Bandung terbit sebuah novel berjudul Rasia Bandoeng. Novel ini berkisah tentang sepasang muda mudi Tionghoa yang jatuh hati dan kawin lari. Karena keduanya berasal dari marga yang sama, maka cinta mereka terhalang tradisi. FYI, kisah dalam novel ini merupakan kisah nyata. Menambah nilai bonus bagi para pecinta cerita fiksi sekaligus sejarah.

Pertama ini kisah sungguh-sungguh terjadi. Kedua setting dalam novelnya berlatar Bandung di periode 1900-an.

Rasia Bandoeng terbit dalam tiga jilid. Jilid terakhirnya muncul di tahun 1918. Hampir 100 tahun sejak novel tersebut pertama kali hadir, sebuah komunitas sejarah di Bandung menyalin ulang dan menerbitkannya kembali. Komunitas Aleut bukan cuma menerbitkan ulang, tapi juga menyelenggarakan acara menyusuri tempat-tempat yang diceritakan dalam novelnya pada hari Minggu (30/10/2016).

Gak banyak acara jalan-jalan yang dibuat rutenya berdasarkan sebuah buku apalagi genrenya novel. Malah jarang banget. Atau hampir gak ada ya? Di Bandung saja yang menyelenggarakan walking tour berdasarkan novel kayaknya baru Aleut dan Lembang Heritage (waktu saya ikut tur ke Gambung, salah satu lokasi yang ada di novel Sang Juragan). CMIIW.

Cerita Novelnya

Tokoh utama di novel ini ada dua: Hilda Tan dan Tan Tjin Hiauw. Konfliknya muncul karena mereka berdua punya marga yang sama yaitu Tan. Di komunitas Tiong Hoa, orang yang marganya sama tidak boleh menikah, apalagi punya keturunan. Orang dengan marga yang sama artinya punya hubungan kekerabatan yang dekat (sedarah).

Dengan pria yang rentang umurnya berbeda tujuh tahun itu Hilda tidak peduli marganya sama. Pokoknya cinta mati ke si Tan Tjin Hiauw deh.

Hilda berasal dari keluarga kaya raya. Sebaliknya Tan Tjin Hiauw berasal dari keluarga yang kondisi keuangannya sedang bangkrut. Rumor mengatakan bahwa si laki-laki menyambut cinta Hilda lantaran ingin memperoleh kekayaan keluarga Hilda. Tapi bagaimana mungkin bisa kecipratan harta kekayaan ayahnya Hilda kalau Hilda sendiri ‘dipecat’ dari ahli waris keluarganya ya…

Secara garis besar kisah di novel ini sama kok dengan kebanyakan cerita di novel fiksi lainnya. Cinta kasih yang ditolak adat tradisi.

Menyusuri Ceritanya

Ngaleut Rasia Bandoeng hari itu destinasinya adalah tempat-tempat yang jadi lokasi Hilda dan Hilda Tan dan Tan Tjin Hiauw kencan dan jalan-jalan. Rutenya dari Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan ke area sekitar Braga, Pasar Baru dan Stasiun Bandung.

Biasanya kalau history walking tour kan jalan kaki terus hinggap di satu titik lalu cerita tokoh atau cerita penting. Ini kayaknya baru pertama kali saya menyusuri tempat-tempat bersejarah di Bandung yang bumbu ceritanya dari skandal sepasang kekasih. Bukan tentang gedung itu dibangun tahun berapa lah, rumah ini gaya arsitekturnya apa lah 😀 Seru juga sih kayak main detektif-detektifan *halah*

Waktu Alex (pemandu Komunitas Aleut) cerita kalau novel ini sebenarnya ada tiga jilid, dalam hati saya agak-agak bete ke penulisnya. Tega banget ya ke Hilda. Itu kayak mengupas tuntas skandal kisah cinta Hilda Tan dan Tan Tjin Hiauw tiga buku berturut-turut di muka publik. Seperti luka yang belum dicuci lalu ditaburi garam terus menerus.

Penulis menggunakan nama rahasia: Chabanneau*******. Di novel ini yang masih misteri adalah penulisnya sih. Itu satu-satunya rahasia yang belum terpecahkan.

Ditambah lagi fakta kalau novel ini dibuat berdasarkan surat-surat Hilda yang isinya curhat tentang perasaan dan hubungannya dengan Tan Tjin Hiauw. Belum cukup ini diangkat dari kisah nyata, si penulis menyatakan dalam pendahuluannya kalau nama tokoh dalam novelnya ia ubah sedikit tapi inisialnya sama dengan tokoh aslinya.

Masih belum cukup, konon penulis novel ini memeras Hermine (tokoh asli Hilda). Kalau tidak ingin kisahnya bocor ke muka umum, Hermine diminta membayar sejumlah uang. Hermine gak mau, lalu terbitlah novel Rasia Bandoeng.

Sepanjang mendatangi kawasan yang disebut dalam novel Rasia Bandoeng, cuma sedikit bangunan yang masih berdiri. Salah satunya eks Hotel Ekspres di Kebonjati. Saya mengenal hotel ini dengan nama Hotel Surabaya. CMIWW. Sekarang bangunan ini milik perusahaan Kagum, jadi hotel Gino Ferucci. Bagian depan gedungnya yang masih kuno masih dipertahankan. Tapi ke bagian tengah dan belakang sudah berganti wajah jadi modern dan bertingkat.

Kami juga melihat kawasan tempat Bioskop Venus dan Apollo (di Banceuy) yang gedungnya sudah tidak ada lagi. Juga ke lokasi kantornya Tan Tjin Hiauw dan toko milik keluarga Hilda. Termasuk ke lokasi Sarikat Kuli-kuli Tionghoa di Pasir Kaliki sebelum berbelok ke arah Stasiun Bandung.

Berbagi Sudut Pandang tentang Rasia Bandoeng

Arya (Komunitas Aleut) dalam sesi terakhir di Ngaleut ini berbagi pandangannya mengenai novel ini. Rasia Bandoeng baginya adalah literasi di balik pemerasan. Iya juga sih, kalau Hilda menuruti kemauan si pemeras, gak ada novel Rasia Bandoeng.

Bila tidak ada novelnya, gak ada acara Ngaleut Rasia Bandoeng hari itu. Gak ada yang tahu bioskop Apollo dan Venus. Gak ada yang tahu sejarah keluarga Tan Djia Goan, ayahnya Hilda. Gak ada yang tahu perihal Hotel Expres. Gak ada yang tahu Perempatan Kompa. Gak ada yang tahu dulu di Alun-alun Bandung ada pohon beringin dan kalau sore di situ mangkal PSK, gak ada yang tahu nama gang Ijan itu dulunya Soeria-Ijan, dan masih banyak detail-detail lokasi dalam novelnya yang bisa kami telusuri jejaknya hari ini. Ya ada sih di buku yang lain. Tapi kan beda buku beda cerita.

Juga saya baru tahu dari novel ini kalau istilah Pelesiran artinya kamu singgah ke rumah bordil. Juga panggilan ‘neng’ yang dulu berlaku untuk laki-laki.

Skandal dibalik terbitnya Rasia Bandoeng ini bisa jadi blessing in disguise. Kesusahan untukmu adalah anugerah untuk orang lainnya lagi.

Sama seperti karakter Hilda yang menurut saya keras kepala (dalam kosakata yang enak dibaca, maka ‘teguh pendirian’ adalah kalimat yang tepat :D). Di dalam angkot menuju pulang ke rumah, saya ngobrolin novel ini dengan Indra. Indra bilang kayaknya di dunia ini memang diciptakan sosok-sosok seperti Hilda agar orang lain belajar dari hidupnya.

Maksudnya Hilda orang gak bener terus kita belajar dari kesalahan dia gitu? Tanya saya pada Indra.

Indra menjawab. Every storm has its silver lining. Sisi negatifnya ya dirasakan oleh Hilda: dikucilkan dari keluarga, mesti berjuang dengan pendapatan Tan Tjin Hiauw yang gak sebanyak uang ayahnya, dan jadi omongan banyak orang. Tapi kan selalu ada sisi positifnya, yaitu belajar dari kesalahan Hilda. Buat Indra kesalahan Hilda adalah keras kepala, gak nurut pada orang tuanya. Tapi buat saya mah kesalahannya bukan itu sih.

Sebagai perempuan di tahun 2016, kesalahan Hilda buat saya adalah dia cinta dan merasa bahagia dengan orang yang punya ‘selir’. Tan Tjin Hiauw berhubungan dengan perempuan lain bernama Nyi Enon yang profesinya pelacur sih. Oleh Tan Tjin Hiauw, Nyi Enon disewakan rumah. Dalam buku sih disebut Nyi Enon dipiara Tan Tjin Hiauw.

Tapi perspektif perempuan di tahun 1914 mungkin berbeda ya. Apalagi kedudukan Tan Tjin Hiauw yang pernah jadi kepala bagian pembukuan dan wakil organisasi kuli-kuli Tionghoa. Masa iya gak berhubungan dengan lebih dari satu perempuan meureun ya 😀 Seumur-umur saya baca buku tentang bupati Bandung dan jabatan sejenis, baru Martanegara saja yang monogami.

Liefde is bliend. Cinta itu buta. Begitu kalimat pertama dalam bab XI di novel ini.

Kalau nikah semarga, saya gak bisa menilai itu salah sih. Kakak ipar saya menikah dengan perempuan yang masih satu keluarga. Anaknya sekarang empat. Terus biasa-biasa aja sih gak ada masalah heuheuehu. Prinsip tiap adat memang berbeda-beda ya.

Yang menarik saya baru saja membaca novel Memang Jodoh karya Marah Rusli. Ceritanya mirip Rasia Bandoeng, diangkat dari kisah nyata penulisnya sendiri. Marah Rusli adalah orang Minang yang menikah dengan perempuan dari Suku Sunda. Pernikahannya itu tidak disetujui keluarga Marah Rusli. Buku ini terbit 50 tahun setelah Marah Rusli wafat karena keinginan beliau sendiri. Kata Marah Rusli sih novel terakhirnya ini kisah nyata dan ia gak mau menyinggung tokoh-tokoh asli dalam novelnya. Kalau diterbitkan 50 tahun kemudian kan para tokoh dalam novelnya sudah meninggal. Begitu katanya.

Wow baik banget ya. Satu novelnya Marah Rusli itu menurut saya mah kenyinyiran dalam bentuk terbaik, tercerdas, terhalus, dan tersopan. Beda banget dengan Rasia Bandoeng ini. Sudah mah kejadiannya tahun 1913-1917, novelnya pun terbit di tahun 1917. Hilda Tan menanggung banyak beban di punggungnya. Tapi bener gak ya beban, bisa jadi kan Hilda mah cuek-cuek aja kan. Kadangkala orang yang gak mengalami kayak saya ini bisanya mendramatisir, yang ketimpa masalahnya mah kalem. Ya mungkin sih 😀

Menjadi peserta di Ngaleut Rasia Bandoeng, saya tentu saja baca novelnya dulu sebelum berangkat jalan-jalan. Ini buku membawa perasaan melankolis mengingat settingnya yang beneran Bandung tahun 1900an. Namun juga tragis.

Bacaan saya baru sampai di halaman 130an. Novelnya tamat di halaman 257. Sebelum membaca novelnya, seperti biasa saya baca Kata Pengantarnya yang lumayan panjang. Tapi wajib dibaca ya, jangan dilewatkan oleh sebab kata pengantarnya cerita panjang lebar tentang latar belakang novelnya disalin dan terbitkan ulang.

Lalu saya langsung baca daftar isi dan langsung loncat ke bagian terakhir.

Di bagian terakhir buku ini ada 12 tulisan seorang wartawan Pikiran Rakyat yang berkaitan dengan kehidupan nyata tokoh-tokoh dalam novel Rasia Bandoeng. Wah ini juga menarik banget!

Kalau bab cerita di novelnya ada 27 kalau gak salah. Jadi ya ini buku padat gizi 😀

FYI kalau kamu sama kayak saya, berasa pusing kalau baca tulisan berejaan lama, nah novel ini sudah menggunakan ejaan baru. Gak semua sih, karena tutur kalimatnya masih melayu tempo dulu. Beberapa kosakata masih dipertahankan aslinya. Tapi ejaan kayak OE diubah jadi U.

Ngaleut Rasia Bandoeng Tur jalan kaki yang melankolis sih menurut saya mah. Ngaleut yang menyenangkan. Buku apalagi yang bisa dijadiin tur jalan kaki gini ya? Mau lagi lah ikutan 😀

Novel Rasia Bandoeng dapat dibeli di Komunitas Aleut. Cek Instagramnya untuk detail pembelian novelnya.


Teks : Ulu
Foto : Ulu. Foto-foto gak terlalu nyambung sih dengan novelnya. Cek IG atau Twitter Aleut juga ya. Heuheuheu. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s