Rumah itu bernama Komunitas Aleut

Oleh: Anggi Aldila Besta (@anggicau)

Rumah bagi setiap orang adalah salah satu hal yang sangat dirindukan, tempat kita bisa berkumpul, bercanda, bercerita bahkan bertengkar, hanya karena berbeda pendapat kecil atau salah paham. Di rumah tersebut kita senantiasa bisa menemukan seseorang yang enak untuk diajak bercerita dan bertanya.

Pembentukan karakter seseorang pun kadang tidak terjadi di sekolah, melainkan lebih banyak di rumah, dibentuk oleh kebiasaan yang diajarkan oleh orang tua kita. Bagaimana cara bertanya atau menjawab sebuah pertanyaan terkadang kita dapatkan ketika kita dididik di rumah. Saya mungkin sangat setuju sekali dengan ungkapan home sweet home , meski kadang saya tidak betah juga berada di rumah jika tidak ada yang dikerjakan.

Ketika bergabung dengan Komunitas Aleut, saya merasakan suasana di rumah itu terjadi juga di Aleut. Belajar, diskusi, saling mendengarkan cerita satu sama lain, semuanya mengalir begitu saja seperti tidak ada batasan, saking nyamannya dengan suasana rumah.

Komunitas yang sangat terbuka untuk semua golongan dan latar belakang ini, sangat bermanfaat karena banyak ilmu yang bisa diambil di sini. Tidak hanya selalu soal sejarah atau Kota Bandung, ilmu pemasaran maupun kiat-kiat menulis puisi cinta bisa didapatkan di sini dengan mudah.

Seperti halnya sebuah bangunan rumah, selalu ada yang keluar masuk tetapi bangunan tersebut tetap utuh, hanya ada perbaikan sedikit-sedikit agar rumah tersebut tetap nyaman untuk ditinggali.

Saya yang pertama kali mengenal Aleut dari medsos ini boleh dikatakan telat “berkenalan” karena sejak komunitas ini didirikan 10 tahun silam adalah saat saya sudah menggilai dunia permedsosan, anehnya saya malah tidak tahu ada komunitas ini. Baru pada sekitar 2011–2012 saya mulai intens berinteraksi dengan akun twitter @komunitasAleut dan baru bisa benar-benar ikut ngAleut pada tahun 2013, itu pun di Jakarta, seharian ngAleut berkeliling kawasan Gambir (baca : https://tulisansikasep.wordpress.com/2015/06/27/sebuah-cerita-di-sisi-timur-gambir/ ).

Barulah pada saat saya kembali bekerja di Bandung saya bisa ikut ngAleut secara reguler dan sudah mulai sering berhubungan dengan teman–teman di Komunitas Aleut ini. Seperti seorang tamu yang untuk pertama kalinya datang ke sebuah rumah yang asing, masih ada rasa canggung untuk bercengkrama, tetapi saat sudah memulai obrolan, suasana cepat sekali cair, berkomunikasi pun layaknya seorang tuan rumah menerima saudara jauhnya.

Tidak ada batasan formal namun saling respect ke sesama lainnya menjadi peraturan yang tidak tertulis yang dapat dipahami oleh semua teman-teman yang berkumpul dan berkegiatan dalam komunitas ini. Semua saling bekerja sama, saling membantu semampunya, meski itu sekadar menanyakan hal-hal yang dianggap sepele. Rasa persaudaraan tumbuh dengan cepat di rumah ini, banyak sekali aktivitas yang dilakukan dan dibagikan kepada sesama anggota, semua ikut sibuk dan membangun rumah ini bersama.

Sepuluh tahun sudah, kami akan tetap terus merawat rumah ini semampunya agar tidak rubuh, dan senantiasa dapat menerima anggota-anggota keluarga baru dari berbagai pelosok dan latar belakang, agar rumah ini bisa diwariskan kepada generasi setelah kami selanjutnya. Proud of you guys…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s