Taman Lalu Lintas, Masih Sintas Meski Tak Lagi Mendidik Berlalu Lintas

Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Jauh sebelum maraknya bermunculan taman tematik, Kota Bandung sudah memiliki satu taman bertemakan lalu lintas. Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani adalah nama lengkap taman ini, namun warga Bandung lebih mengenalnya dengan nama Taman Lalu Lintas. Taman yang usianya sudah lebih dari 50 tahun ini kerap ramai dikunjungi saat akhir pekan maupun musim libur sekolah.

Meskipun menggunakan nama lalu lintas dan terdapat banyak rambu-rambu lalu lintas di dalamnya, kini tak lagi terlihat adanya pendidikan berlalu lintas di dalam taman ini. Banyak pengunjung Taman Lalu Lintas yang melihat rambu-rambu lalu lintas ini hanya sebagai pajangan semata. Hal ini seolah-olah membuat fungsi Taman Lalu Lintas sudah bergeser dari fungsi awalnya sebagai taman pendidikan informal dalam berlalu lintas. Lantas, seperti apa fungsi Taman Lalu Lintas saat ini?

***

Insulindepark Sekitar tahun 1920-an (Foto: KITLV)

Insulindepark Sekitar tahun 1920-an (Foto: KITLV)

Sejarah Taman Lalu Lintas dimulai dari awal abad ke-20. Pada saat itu, Pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan pemindahan ibukota dari Batavia ke Bandung. Batavia yang terletak di pesisir Laut Jawa dianggap sangat rentan untuk diserang dari laut dan udara. Di sisi lain, Bandung dianggap sangat aman karena Bandung dikelilingi oleh gunung dan jauh dari laut.

Pemindahan ini dimulai secara bertahap, salah satunya adalah pusat militer yang pindah pada tahun 1910-an di sekitar Jl. Aceh – Jl. Sumatera – Jl. Kalimantan. Bangunan yang pertama didirikkan adalah Departement van Oorlog (Departemen Peperangan) pada tahun 1915. Satu tahun berselang, di sebelah barat daya Derpartement van Ooorlog dibangun Paleis van de Leger Commandant (Istana Panglima Militer Tertinggi).

Di antara kedua bangunan ini terdapat sebuah lahan kosong yang digunakan Tentara Hindia Belanda untuk melakukan upacara militer, baris berbaris, dan berolahraga. Namun pada awal tahun 1920-an, kegiatan ini dipindahkan ke lahan yang sekarang menjadi Stadion Siliwangi. Lapangan ini kemudian ditanami banyak pohon dan mengalir Kanal Ci Kapayang di tengahnya. Pada tahun 1925, taman ini dinamakan Insulindepark oleh Gementee Bandoeng dan didesain sebagai taman tropis. Insulinde sendiri berarti ‘kepulauan Hindia’, sesuai dengan lokasi taman yang berada di kawasan nama jalan kepulauan.

Insulindepark sempat diubah namanya menjadi Taman Nusantara pada tahun 1950 berdasarkan hasil Sidang DPRD Kota Bandung. Namun nama ini hanya bertahan selama kurang dari satu dekade. Pada tahun 1954, Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) mulai merencanakan pembangunan sebuah taman bertema lalu lintas sebagai tempat pendidikan keamanan lalu lintas. Taman Nusantara dihibahkan oleh Pemerintah Kota Bandung kepada BKLL untuk digunakan sebagai lahan mendirikan taman tersebut.

Peletakan batu pertama pembangunan Taman Lalu Lintas dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 1956, sedangkan taman ini diresmikan dan mulai dibuka untuk umum dua tahun berselang, tepatnya pada 1 Maret 1958. Taman Lalu Lintas Bandung merupakan taman dengan tema lalu lintas terbesar dan terlengkap di Indonesia. Taman Lalu Lintas dilengkapi jalan taman yang dilengkapi oleh rambu-rambu lalu lintas, mobil-mobilan, sepeda, jaringan rel dan stasiun kereta api, dan papan peragaan rambu-rambu lalu-lintas. Taman Lalu Lintas juga dilengkapi dengan beberapa alat peraga yang merupakan hibah dari Djawatan Pos Telepon dan Telegraf (PTT) dan sebuah tank dari Divisi III/Siliwangi

Nama Taman Lalu Lintas ditambah dengan nama Ade Irma Suryani Nasution pada tahun 1966 untuk memperingati dan mengenang Ade Irma, putri Jenderal A.H. Nasution yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September. Make sejak itu, taman ini memiliki nama resmi Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution

***

Jam Buka Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Jam Buka Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Secara keseluruhan, Taman Lalu Lintas berada dalam kondisi yang baik. Kebersihan  taman cukup terjaga, sarana penunjang yang ada seperti WC umum tersedia di beberapa titik. Taman Lalu Lintas juga menyediakan mushola bagi pengunjung, sehingga saat waktu sholat tiba pengunjung tak perlu keluar untuk mencari tempat sholat. Taman ini buka setiap hari (kecuali hari Jumat) mulai dari jam 08.00 hingga 16.00, dengan harga tiket masuk Rp 6.000,00 dan Rp 7.000,00 di hari Minggu.

Taman Lalu Lintas masih menjadi tujuan berwisata warga Bandung karena lokasinya yang berada di tengah kota, sehingga mudah untuk diakses baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Menurut salah satu pengunjung yang kami wawancarai, ia berkunjung ke Taman Lalu Lintas karena harga tiketnya yang murah dan menawarkan suasana yang nyaman untuk beraktivitas bersama keluarga. Pengunjung lain yang kami wawancarai datang ke Taman Lalu Lintas untuk sekedar bernostalgia masa kecil, karena saat kecil ia sering diajak ke Taman Lalu Lintas oleh orang tuanya dan meneruskan tradisi ini kepada anaknya. Sayangnya, tak ada satupun pengunjung yang kami wawancarai menyebut alasan untuk mengajari anak mengenal rambu-rambu lalu lintas saat bermain ke Taman Lalu Lintas.

Bersantai Setelah Main Perosotan (Foto: Andi Nur Diva)

Bersantai Setelah Main Perosotan (Foto: Andi Nur Diva)

Toh terlepas dari tak adanya pengunjung yang berkunjung untuk mengajari anak mengenal rambu-rambu lalu lintas, permainan yang ada di Taman Lalu Lintas sangat baik untuk mengasah kemampuan motorik anak. Hal sangatlah baik, mengingat di banyak kota besar seperti Kota Bandung kemampuan motorik anak-anak kurang terasah akibat lebih gemar bermain gadget. Anak-anak yang berada di dalam taman ini terlihat berlarian ke sana kemari, naik ke puncak perosotan dengan semangat 45, bahkan beberapa terlihat tertawa lepas saat naik beberapa permainan yang ada di Taman Lalu Lintas. Tawa mereka menjadi hiburan untuk kami tersendiri yang rata-rata sudah dibuat pusing oleh padatnya aktivitas selama weekday.

Kereta Api Legendaris di Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Kereta Api Legendaris di Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Taman Lalu Lintas memiliki dua jenis permainan, yaitu permainan berbayar dan yang tidak berbayar. Beberapa permainan berbayar diantaranya Sepeda Mini, Sepeda Tricker, Gajah Terbang, Mobil Listrik, Karosel, Kereta Api, Kereta Motor, Kereta Listrik, Arena Trampolin, Arena Memancing, dan Kolam Renang Mini. Harga tiket setiap permainan dipatok Rp 5.000,00, kecuali Kolam Renang yang dipatok dengan harga Rp 6.000,00. Ada juga beberapa mainan yang menggunakan koin dengan harga Rp 2.000,00 per koin. Sedangkan untuk permainan yang tidak berbayar, Taman Lalu Lintas menyediakan ayunan, jungkat-jungkit, kursi putar, dan perosotan yang tersedia di beberapa titik taman.

Ngabotram di Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Ngabotram di Taman Lalu Lintas (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

Kebanyakan para pengunjung yang datang ke Taman Lalu Lintas berekreasi bersama keluarga. Selain berekreasi menaiki beberapa permainan yang ada di Taman Lalu Lintas, para pengunjung juga ngabotram di taman ini. Ada yang membawa bekal sendiri dari rumah, ada juga yang membeli makanan yang dijual di dalam Taman Lalu Lintas. Makanan yang dijual pun beragam, mulai dari es krim, makanan ringan, hingga timbel dan bakso. Berniat untuk ngabotram di sini namun bingung karena tak punya tikar? Jangan khawatir. Di dalam taman ada jasa penyewaan tikar dengan harga sewa Rp 10.000,00 saja per tikarnya.

Selain mereka yang berekreasi dan ngabotram, Taman Lalu Lintas juga sekarang ini dijadikan tempat favorit untuk melakukan sesi foto. Saat kami bermain di Taman Lalu Lintas, terlihat beberapa anak muda sedang asik berfoto di dalamnya. Hal ini juga diutarakan oleh salah satu pegiat Aleut yang beberapa kali mengadakan sesi foto di Taman Lalu Lintas.

***

Berdasarkan penelusuran kami, benar adanya bahwa Taman Lalu Lintas sudah bergeser fungsinya dari yang awalnya didesain sebagai taman pendidikan dalam berlalu lintas menjadi taman rekreasi keluarga. Pergeseran fungsi ini berpotensi membahayakan keberadaan Taman Lalu Lintas sendiri, karena dengan fungsinya saat ini Taman Lalu Lintas harus bersaing dengan mal dan taman hiburan dengan kekuatan modal yang jauh lebih besar.

Terlepas dari pergeseran fungsi ini, Taman Lalu Lintas masih menjadi salah satu tujuan wisata warga Bandung dan sekitarnya. Di tengah maraknya fenomena bermain gadget di kalangan anak-anak, permainan yang ada di Taman Lalu Lintas sangat baik untuk mengasah kemampuan motorik. Dengan harga tiket masuk yang relatif murah, Taman Lalu Lintas mampu memberikan nilai lebih.

Jika Taman Lalu Lintas bisa kembali ke fungsi awalnya sebagai taman pendidikan informal dalam berlalu lintas, taman ini akan memiliki keunikan yang akan menarik lebih banyak pengunjung. Mereka akan datang untuk mendidik anaknya berlalu lintas sejak usia dini. Pendidikan berlalu lintas bisa diberikan melalui simulasi: anak-anak harus menaati peraturan berlalu lintas dan setiap pelanggaran yang dilakukan akan diberikan sanksi sebagaimana di dunia nyata.

Pendidikan ini akan bisa lebih efektif lagi jika dinas terkait mampu memasukkan pendidikan berlalu lintas ke dalam kurikulum seperti yang dilakukan Provinisi Jawa Tengah, dan praktek pendidikan berlalu lintas dapat dilangsungkan di Taman Lalu Lintas. Diharapkan, pendidikan berlalu lintas, terutama di usia dini, mampu mengurangi dan bahkan menanggulangi permasalahan geng motor yang sudah menahun di Kota Bandung.

___

Referensi:

Katam, Sudarsono. 2014. Insulinde Park. Bandung: Kiblat

Data dikumpulkan pada tanggal 15 Februari 2015.

Kontributor:

Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Mohamad Salman (@vonkrueger)

Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Arif Abdurahman (@yeaharip)

Fajar Asaduddin (@fajarraven)

Gita Diani Astari (@gitadine)

Al Amin Siharis (@amincun)

Achmad Hadyan Zihni Djunet (@ahmadjunet)

Fadilla Rahmatunnisa (@Imnerdgirl)

Andi Nur Diva (@divaar)

Novrizal Aji (@rzalznov)

Rozan Umar Ismail

Ita

Iklan

2 pemikiran pada “Taman Lalu Lintas, Masih Sintas Meski Tak Lagi Mendidik Berlalu Lintas

  1. Ping balik: KEHINDAHAN DI KOTA BANDUNG | tikahihit

  2. Ping balik: WISATA BANDUNG | siscaambarblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s