Mesjid Agung, Oase Di Tengah Keramaian

Oleh: Deris Reinaldi

Pasti semua urang Bandung tau mesjid yang satu ini. Mesjid ini bernama Mesjid Raya atau lebih dipikawanoh dengan nama Mesjid Agung. Mesjid yang terletak di Alun-alun Kota Bandung ini semula dikelola oleh Pemerintah Kota Bandung namun pada awal tahun 2000-an Mesjid Agung berpindah pengelolaannya ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Awal mulanya Mesjid Agung dibangun untuk memenuhi syarat sarana perkotaan karena kala itu di sekitar Alun-alun telah ada penjara, kantor pemerintahan serta pasar, sehingga atas prakarsa Wiranatakusumah II (Dalem Kaum) dibangunlah Mesjid Agung. Ketika Bandung masih sepi, suara adzan dari Mesjid Agung terdengar sampai Dayeuh Kolot,. Sekarang suara kumandang adzannya seperti adzan di Madinah. Mesjid Agung terdiri atas beberapa pengurus yang merupakan tokoh masyarakat, pegawai Dinas, akademisi, dan lain-lain. Ada juga karyawan yang berjumlah 40 orang yang bekerja full time. Mesjid Agung merupakan salah satu mesjid yang termasuk ke dalam BPIC (Badan Pengelolaan Islamic Centre) Provinsi Jawa Barat.

DSCN3214

Kini Mesjid Agung sangat ramai bahkan jumlah jama’ahnya meningkat hal ini dikarenakan adanya shelter Bandros (Bandung Tour On Bus) di Alun-alun serta diresmikannya Alun-alun yang telah direnovasi pada akhir tahun 2014. Ketika siang hari atau hujan, masyarakat yang sedang berada di Alun-alun berteduh di Mesjid Agung. Terkadang ada juga yang sekedar istirahat.

Ketika menjelang lebaran, banyak warga yang menitipkan zakatnya di Mesjid Agung bahkan ada juga yang berasal dari luar kota. Begitu pula ketika menjelang Idul Adha, banyak yang menitipkan hewan kurbannya baik dari dalam maupun luar kota Bandung. Tak heran proses penyembelihan hewan kurban di sini terkadang menjadi lama karena banyaknya hewan kurban dan sedikitnya penyembelih.

Mesjid Agung membuat beberapa orang merasa nyaman dan tentram ketika beribadah di sini. Kondisi ini menyebabkan beberapa orang rutin melaksanakan solat Jum’at di Mesjid Agung meskipun dari luar Bandung seperti Padalarang. Selain kegiatan solat berjamaah, di Mesjid Agung sering diadakan berbagai kegiatan keagamaan. Dalam sebulan ada 40 Majelis Ta’lim dari berbagai golongan melaksanakan kegiatan seperti ceramah atau pengajian. Ada juga bimbingan Ibadah haji yang diselenggarakan disini yang dikelola oleh KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah haji), serta ada kegiatan lain yang diselenggarakan oleh remaja Mesjid Agung.

Kini Mesjid Agung tidak ramai lagi oleh para pedagang yang membanjiri halaman mesjid . Dulu, keberadaan pedagang kaki lima seringkali mengotori halaman mesjid dan mengganggu orang yang keluar masuk mesjid. Banyaknya jama’ah menyisakan berbagai masalah yang mesti diperbaiki agar jama’ah merasa nyaman ketika berada di mesjid. Masalah tersebut diantaranya peminjaman alat solat seperti mukena setiap harinya pasti ada yang hilang. Hal ini terjadi mungkin karena pada belakang mukena terdapat bordiran dengan tulisan Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat sehingga menarik untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Masalah lainnya adalah shaf ketika waktu solat berjama’ah tiba. Ketika waktunya solat jama’ah, seharusnya jama’ah mengisi shaf terdepan terlebih dahulu sehingga rapi. Karena jika tidak, jamaah yang mengisi shaf belakang terganggu oleh yang keluar masuk mesjid. Begitu pun dengan kaum wanita yang solat, seharusnya mengisi tempat yang telah disediakan yang mana tempatnya tertutup agar tidak terlihat auratnya.

Masyarakat yang menumpang istirahat pun terkadang mengganggu dan menimbulkan polusi udara dan suara, yang mana bau tubuh dan obolan atau teriakan anak kecil yang berisik. Ada juga anak-anak dan atau remaja yang lari-lari didalam mesjid dan ada juga yang berselfie ria sehingga hal ini mengganggu sekali untuk jama’ah yang beribadah.

Para Kontributor Tulisan (Foto: Arya Vidya Utama)

Masalah di bidang sarana pun menjadi permasalahan. Masjid Raya memiliki perpustakaan yang seharusnya menjadi taman bacaan untuk pengunjung tapi tidak ada buku dalam perpustakaan ini. Adanya toilet sungguh menolong masyarakat di Mesjid Agung maupun disekitarnya, akan tetapi di sekitaran toilet itu ada penunggu kotak amal sehingga masyarakat berasumsi bahwa harus membayar untuk menggunakan toilet. Padahal sebenarnya itu bersifat sukarela dan seikhlasnya.

Semoga Mesjid Agung lebih baik dan semakin baik dalam segala aspek sehingga jama’ah tetap atau bahkan meningkat karena merasa nyaman, tentram dan aman ketika beribadah. Untuk masyarakat, diharapkan agar lebih sadar bahwa mana yang hak dan mana yang bukan hak. Serta harus lebih tertib lagi ketika di mesjid karena ketertiban ada timbal baliknya untuk kita semua. Untuk pengurus dan atau karyawan pun lebih maksimal lagi dalam pengelolaan mesjid dan lebih tanggap apabila ada persoalan apapun.

Kontibutor:

Irfan Teguh Pribadi

Deris Reinaldi

Taufik N

Kukun Kusnandar

Syamsul Arifin

Sumber Foto:

Deris Reinaldi

Irfan Teguh Pribadi

Arya Vidya Utama

 

Tautan asli: https://derisreinaldi.wordpress.com/2015/02/03/mesjid-agung-oase-ditengah-keramaian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s