Penyintas Identitas

Oleh: Ariono Wahyu (@A13xtriple)

Europa Europa-1B

Solomon Parel (Solek)  adalah salah seorang penyitas genosida Perang Dunia Kedua. Dia berhasil selamat dengan cara menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Yahudi. Kisah Solek yang diperankan oleh Marco Hofschneider ini menjadi inti cerita film “Europa, Europa” (1990). Judul asli film ini adalah “Hitlerjunge Salomon” dan merupakan adaptasi dari autobiografi Solomon Parel yang berjudul “Ich war Hitlerjunge Salomon” (1989).

Menonton film ini sekarang mengingatkan pada sebuah film lain, “The Human Stain” (2003), yang berkisah tentang pentingnya identitas bagi seseorang. Dalam film “The Human Stain” si tokoh utama menyembunyikan identitas rasnya sebagai keturunan etnis Afrika-Amerika, sedangkan “Europa, Europa” mengisahkan bagaimana perjuangan seorang Yahudi menyembunyikan identitas dengan berpura-pura menjadi seorang keturunan ras Arya.

Bagaimana indentitas seseorang menjadi faktor pembeda sekaligus faktor yang mempersatukan, konflik dan arti indentitas  suku bangsa, agama, ras dan bahkan golongan, semuanya diceritakan dalam film ini. Seorang pemuda Yahudi berusaha menghilangkan identitas fisiknya dengan cara menarik kulup penisnya agar tak terlihat bahwa dia disunat. Solek memperoleh ide tersebut ketika melihat Leny (Julie Delpy), gadis Jerman yang dicintainya menarik sweaternya menutupi kepalanya.

Dalam film ini juga diceritakan betapa ukuran-ukuran fisik  yang diklaim merupakan ciri suatu ras yang paling unggul, ternyata bisa salah. Pada suatu adegan, Solek harus diukur oleh gurunya berdasarkan ukuran-ukuran bangsa Arya, ternyata fisik Solek memenuhi kriteria sebagai keturunan ras Arya, walaupun tidak murni (campuran). Sungguh menggelikan bahwa ada ukuran-ukuran fisik yang dapat menentukan identitas seseorang merupakan ras yang paling mulia. Tapi bukan hanya ukuran fisik seperti lingkar kepala, bentuk hidung saja, bahkan cara berjalan seseorang pun bisa menjadi ciri khas suatu bangsa. Sungguh pemujaan  berlebihan terhadap keunggulan identitas fisik suatu bangsa dapat membuat kekonyolan.

Bukan hanya tantangan ciri fisik yang harus dihadapi oleh Solek. Dia juga harus bergelut dengan masalah identitas kepercayaannya (agama). Saat tinggal di asrama yatim piatu di Grodno, Uni Soviet, Solek menjadi seorang ateis, padahal dia tumbuh dan dibesarkan sebagai Yahudi yang taat. Ketika berpura-pura menjadi seorang Jerman, dia pun harus menjadi seorang Kristen.

Namun identitas juga dapat menjadi faktor pemersatu, perasaan senasib yang mengikat kebersamaan. Saat pertama kali bergabung dengan pasukan Nazi Jerman, Solek yang berpura-pura sebagai seorang keturunan ras Arya dan memanfaatkan kemampuannya berbahasa Jerman, menjalin persahabatan dengan prajurit Nazi bernama Robert (André Wilms). Ternyata Robert adalah seorang gay, dan mengetahui jika Solek adalah seorang Yahudi. Karena baik Robert maupun Solek merasa memiliki identitas rahasia yang dapat mengancam nyawa mereka masing-masing, mereka kemudian menjadi sahabat yang dipersatukan oleh perasaan senasib. Baik Solek maupun Robert memiliki identitas yang sangat dibeci oleh Nazi, yaitu Yahudi dan gay.

Bahasa sebagai salah satu identitas suatu bangsa berperan besar sebagai penyelamat bagi Solek. Solek yang lahir dan dibesarkan di Jerman, dan kemudian tinggal dan mendapatkan pendidikan di asrama yatim piatu di Grodno, Uni Soviet, menguasai bahasa Jerman dan Rusia. Ketika Solek tertangkap oleh pasukan Nazi yang menginvasi Uni Soviet, kemampuan berbahasa itulah yang membebaskannya. Dengan kemampuan berbahasanya, Solek yang berpura-pura menjadi seorang keturunan Jerman, menjadi penerjemah bagi pasukan Nazi yang menangkapnya. Diikuti dengan nasibnya yang mujur, Solek diangkat anak oleh Kapten yang memimpin pasukan Jerman yang menangkapnya, dan kemudian dikirimkan untuk bersekolah di akademi militer yang melatih “Pemuda Hitler” (Hitler Youth/ Hitlerjunge) . Solek dianggap sebagai jimat keberuntungan pasukan Nazi karena berhasil menangkap anak Joseph Stalin, berkat kemampuannya sebagai penerjemah bahasa. Solek juga terlihat maju meyerbu pasukan Uni Soviet seorang diri, padahal sebenarnya dia ingin lari kembali ke Uni Soviet.

Walupun sudah relatif aman dengan menyamar sebagai seorang Jerman, Solek tak bisa mengingkari nuraninya sebagai Yahudi. Pertentangan identitas tersebut mencapai puncaknya pada saat Solek mencari keluarganya di ghetto Yahudi di Polandia. Dia melihat betapa mengengenaskannya kehidupan tahanan di kamp interniran Yahudi tersebut. Akhirnya Solek melarikan diri dari pasukannya saat dia menghadapi pasukan Uni Soviet. Dia pun dapat bertemu dengan kakaknya, Isaac, dan kembali menjadi Yahudi.

Identitas tergambarkan begitu penting di dalam film ini. Solek harus bergelut dengan identitas-identitas untuk dapat bertahan hidup. Perjuangannya untuk selamat dari episode mengerikan Perang Dunia Kedua, membuat Solek yang seorang Ibrani, harus menjadi ateis lalu menjadi fasis. Namun pada akhirnya dia tak dapat membohongi dirinya, dan kembali menjadi seorang Yahudi.

Jadi apa identitas dirimu?  Nasionalis, fasis, fundamentalis, zionis, ateis? Silahkan anda sendiri yang menentukan dan memberinya makna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s