Perjalanan Terakhir Bersama KRD Patas Bandung Raya

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Saya bukanlah pengguna kereta secara reguler ataupun fans berat kereta api, namun kereta api adalah salah satu moda transportasi favorit saya. Belum pernah saya tidak menikmati bepergian dengan kereta api. Bisa jadi salah satu alasannya adalah karena pemandangan selama perjalanan yang memanjakan mata. Sepanjang mata memandang, saya bisa melihat hamparan sawah, gunung, sungai, jalanan yang paralel dengan jalur kereta, dan juga interaksi masyarakat yang tinggal di bantaran rel. Pemandangan ini tak akan pernah bisa disaksikan jika bepergian menggunakan moda transportasi lain.

Sejenak saya terhenyak saat sedang membuka Twitter pada Rabu malam (14/01).

“Admin @KomunitasAleut Sekedar Info aja Mulai Lusa, Patas bakal di tiadakan. Entah dikemanakan nanti Patas berwarna Hijau itu. :’)” – Railway Fans Bandung (@ppkadaop2bd)

Twit tersebut membuat saya kaget sekaligus sedih, karena kereta yang bentuknya khas dan hanya satu-satunya kereta berpenggerak hidrolik yang beroperasi di Bandung ini akan menghilang dari peredaran. Belum lagi nasibnya yang masih belum jelas akan dikemanakan.

Ingatan akan KRD Patas Non-AC Bandung Raya mengantar saya pada kenangan di bulan Agustus 2014. Setelah sekian lama tidak naik KRD Ekonomi maupun Patas, saya berkesempatan untuk naik kereta api menuju Cimahi dalam rangka survey Ngaleut Kota Garnisun bersama seorang kawan. Saat itu kereta yang kami naiki adalah KRD Patas Non-AC. Berhubung saya tergolong awam akan kereta api, Kawan saya menjelaskan bahwa KRD Patas tidak melayani semua stasiun di Bandung Raya. Kereta ini hanya melayani 6 stasiun saja (Padalarang-Cimahi-Bandung-Kiaracondong-Rancaekek-Cicalengka). Berbeda dengan KRD Patas yang melayani 13 stasiun. Tak heran mengapa harga tiket KRD Patas bisa sampai 2 kali harga KRD Ekonomi.

Belum selesai saya terkagum akan cerita KRD Patas, kereta tiba di Stasiun Cimahi yang menjadi destinasi kami. Bandung-Cimahi ditempuh hanya dalam 10 menit saja. Bandingkan dengan menggunakan mobil ataupun motor yang bisa 3-6 kali lipatnya.

Lamunan ini pun berakhir saat akun Railway Fans Bandung melanjutkan kicauan mereka.

“Besok ada rekan-rekan RF Bandung yang mau Sadride naik Patas Non AC dari Bandung Jam 14.15 & 16.25”

Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk ikut sadride ini. Kapan lagi bisa mengapresiasi KRD Patas selain esok hari. Selain itu, momen ‘terakhir’ selalu menarik untuk saya.

______

Pukul 14.13 saya tiba di Stasiun Selatan Bandung. Sedikit telat dari rencana karena lambatnya pelayanan di bank yang membuat saya harus sedikit ngebut di jalan. Dengan kemampuan berlari saya yang pas-pasan, saya naik di gerbong KRD Patas Non-AC tepat satu menit sebelum kereta berangkat. Ah, hal ini mengingatkan saya saat joyride Ngaleut Spoorwegen In Bandoeng. Saat itu juga saya dan 49 pegiat lainnya tergesa-gesa untuk menaiki KRD Patas AC menuju Cicalengka karena kami mengabiskan waktu terlalu lama untuk menjelaskan daerah sekitar Stasiun Bandung.

Saya bergegas menuju rangkaian gerbong terakhir untuk bertemu dengan teman-teman dari Railway Fans Bandung. Saya banyak berbincang dengan Erwan dan Adit mengenai KRD Patas. Menurut Erwan, KRD Patas mulai melayani daerah Bandung Raya pada sekitar tahun 1970-an. Sejak awal KRD beroperasi, ada 7 stasiun yang dilayani. Namun saat ini Stasiun Cikudapateuh tidak lagi dilayani KRD Patas.

Lalu bagaimana nasib KRD Patas yang akan berhenti beroperasi ini? Menurut Adit, Kereta KRD Patas AC akan dioperasikan menjadi KRD Ekonomi. Sedangkan KRD Patas Non-AC nasibnya belum diketahui, kemungkinan akan dijadikan cadangan bagi KRD Ekonomi.

Kereta terus melaju menuju Stasiun Rancaekek. Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada salah satu bapak yang rutin menggunakan KRD Patas. Sudah sekitar 6 tahun ia menggunakan layanan kereta ini, dan mau tidak mau kedepannya ia harus menggunakan KRD Ekonomi meskipun waktu tempuhnya lebih lama.

Kereta akhirnya tiba di Stasiun Rancaekek. Ingatan akan kehebohan di stasiun ini di Ngaleut Spooregen in Bandoeng kembali terngiang. Saat itu kami berniat untuk mengejar kembali ke Bandung menggunakan KRD Patas Non-AC. Seluruh peserta sudah duduk manis di dalam stasiun untuk menunggu kereta yang baru akan berangkat dari Stasiun Cicalengka. Saat saya dan dua orang kawan akan membeli tiket, ternyata tiket kereta yang kami akan gunakan sudah ludes di Stasiun Cicalengka. Dengan sangat tergesa-gesa, peserta diarahkan kembali menuju kereta yang sebelumnya dinaiki. Hampir saja kami harus menunggu kereta berikutnya.

Kereta kembali melaju menuju Stasiun Cicalengka. Stasiun ini adalah pemberhentian paling timur di rute Bandung Raya. Di sini pula saya berpisah dengan teman-teman Railway Fans Bandung yang baru akan kembali ke Bandung sekitar pukul 18.00 menggunakan KRD Patas terakhir, tak hanya di jadwal terakhir pada hari itu namun juga kereta yang terakhir beroperasi. Saya kembali membeli tiket menuju Bandung yang berangkat pada pukul 15.15.

Sepanjang perjalanan pulang, saya hanya menikmati perjalanan singkat ini. Duduk di pinggir jendela membuat saya mudah untuk melihat hamparan sawah, gunung di kejauhan, dan interaksi warga yang tinggal di bantaran rel. Saat kembali menengok keadaan di gerbong, rupanya saya bukan satu-satunya orang yang menikmati sadride ini. 2 baris kursi dari tempat saya duduk ada seorang pelajar SMA yang juga sedang menikmati perjalanan terakhir KRD Patas.

Kereta akhirnya tiba di Stasiun Bandung. Di pintu gerbong sudah terlihat kerumunan penumpang yang akan berangkat ke Stasiun Cimahi maupun Padalarang. Saat turun dari gerbong, salah satu penumpang berseru “Isuk mah moal aya deui euy.” (Besok mah (kereta ini) ga bakal ada lagi euy) kepada rekannya.

Segera saya menghampiri bagian depan kereta untuk sekedar mengabadikan gambar. Tampak pelajar SMA yang duduk satu gerbong dengan saya sedang memfoto kereta ini menggunakan kamera ponselnya. Berdiri tak jauh dari pelajar SMA tersebut saya melihat juga ada 2 orang mahasiswa sedang berfoto di depan kereta. Setelah mereka selesai befoto, giliran saya yang mengabadikan kereta ini melalui foto sembari tak lupa juga saya ber-selfie.

_______

Farewell, my friend. Thanks for the memories.

 

Tautan asli: http://aryawasho.wordpress.com/2015/01/16/perjalanan-terakhir-bersama-krd-patas-bandung-raya/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s