Catatan Perjalanan: Kebon Kawung

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

 

Ingat tanah. Ingat air. Ingat tanah air

Basa Bandung Halimunan, salah satu judul buku yang menjadi tema Komunitas Aleut minggu ini. Dengan mengambil judul tersebut, Komunitas Aleut menelusuri kenangan Us Tiarsa dan warga Bandung era 60-an di Bandung. Salah satu kenangan yang tersimpan dalam buku berada di Kebon Kawung.

Kebon Kawoeng tempo doeloe

Pohon Aren atau Kawung

Sebelum bernama Kebon Kawung, kawasan Kebon Kawung bernama Babakan Bogor. Kata Bogor berasal dari pohon Kawung atau Aren yang tak dapat lagi mengeluarkan air nira. Kemudian hari Babakan Bogor dikenal dengan nama Kebon Kawung.

Nama Kebon Kawung telah ada sejak era kolonial. Jika kita melihat peta Bandung tahun 1946, kawasan Kebon Kawung sekarang diberi nama Kebon Kawoeng. Kata Kebon Kawung berasal dari banyaknya pohon Kawung atau Aren di kawasan Kebon Kawung. Oleh karena itu, kawasan tersebut diberi nama Kebon Kawung.

Walaupun berada di tengah kota, hingga tahun 1960, kita masih menjumpai Kebon Kawung sebagai desa atau lembur. Hal ini terlihat dari tidak adanya listrik, rumah yang masih gegek, dan banyak pohon – pohon di lingkungan Kebon Kawung. Bahkan untuk menikmati siaran RRI di hari minggu, Us Tiarsa memasang pengeras suara yang tersambung dengan radio saudaranya di luar Kebon Kawung.

Dikarenakan masih berupa desa, kita masih bisa menemukan ciri khas desa di Bandung. Ciri khas tersebut adalah dingin dan sejuknya udara di pagi hari. Hingga tahun 1970, warga Kebon Kawung masih bisa menikmati kabut atau halimunan di Kebon Kawung. Selain berasal dari kondisi alam Bandung, pohon – pohon yang banyak menjadi penyebab sejuknya udara di Kebon Kawung dan Bandung.

Jika kita berjalan – jalan di sekitar Kebon Kawung, kita akan menemukan satu balong atau kolam air. Kolam air tersebut dikenal dengan nama Ciguriang atau sirah air (mata air). Dalam buku Basa Bandung Halimunan, anak yang akan disunat harus dimandikan di Ciguriang yang dingin. Jadi bisa terbayang tersiksanya anak kecil tersebut.

Selain memiliki Ciguriang, terdapat tegal atau lapang di kawasan Kebon Kawung. Lapang tersebut berada di Litsonlaan (sekarang Jln. M. Iskat). Pada tahun 1949, lapang tersebut menjadi tempat tinggalnya bangkai pesawat terbang dan mobil – mobil perang dunia II. Karena sudah tidak terpakai, pesawat terbang dan mobil tersebut dipakai oleh anak – anak Kebon Kawung sebagai lahan bermain perang – perangan.

Kebon Kawoeng tempo kini

Walaupun bernama Kebon Kawung, tempo kini, kita akan kesusahan mencari pohon Aren atau Kawung di Kebon Kawung. Jika kita ingin melihat sisa pohon Kawung, kita bisa melihat satu pohon Kawung atau Aren dekat Ciguriang di Jalan H. Mesri.

Ciguriang di Kebon Kawung

Kalau kita melihat Kebon Kawung tahun 1960-an, Ciguriang di Kebon Kawung masih besar dan luas. Tapi sekarang ini, Ciguriang telah mengecil dan kotor. Jadi kita hanya melihat kenangan Ciguriang yang jernih dan dingin dengan melalui buku saja.

Sebagai penutup tulisan, penelusuran Komunitas Aleut ke Kebon Kawung memiliki tujuan tersendiri. Tujuan tersebut bukan mengenang kenangan seseorang, melainkan upaya untuk menyadarkan bahwa Bandung harus selalu dirawat dan dipelihara. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, generasi dibawah kita hanya menikmatinya melalui buku saja.

Komunitas Aleut di depan Ciguriang

 

Sumber Bacaan :

Basa Bandung Halimunan karya Us Tiarsa

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wadja Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

@komunitasaleut

media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/28/catatan-perjalanan-kebon-kawung/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s