Mencari Andir

Oleh: Candra Asmara Safaka (@candraasmoro)

Apa artinya malam minggu, itu artinya sabtu malam. Sabtu malam yang saya habiskan untuk menyibukkan diri dengan aktifitas mutakhir jaman ini, berseluncur di dunia maya ga pake luna. Dari sekian banyak jendela yang saya buka, selain jendela fb, twitah, dan youtube (jendela hati manaa..?hiks), jendela yang lainnya menampilkan lirik lagu ini.

Ik zou daar graag willen wonen

Liefst in de buurt van Andir..

Sepenggal lirik lagu jaman baheula yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia,

Kuingin tinggal di sana

Hidup di daerah Andir..

Tinggal di Andir?! Ga kebayang deh tinggal di Andir. Andir dalam benak saya adalah kawasan dekat rel kereta api, dekat pasar yang becek, Andir yang banyak sampah dengan beragam aroma bebauan yang lebih menusuk daripada pewangi dalam bis antar kota antar propinsi. Tapi, kenapa orang jaman baheula sampai memilih Andir sebagai tempat impian untuk ditinggali? Kenapa ga milih kota baru parahyangan, atau perumahan elit di Bandung utara yang bikin banjir (belum ada kalee..) ? Aneh deh..

Byurr! Alarm berupa segayung air membangunkan saya pada pagi harinya. Alhasil saya megap-megap, kaget, murka, hendak marah namun tak kuasa, karena yang mengguyurku adalah sang eksekusioner: Ibu. Saya lekas beranjak dari kasur, dibumbui umpatan dalam hati. Hari ini saya memang minta dibangunkan pagi, padahal hari ini hari Minggu.

Minggu pagi adalah waktunya memenuhi undangan sms dari sang pujaan hati, Reza Ramadhan. Yes. Minggu pagi adalah waktunya melarikan diri dari sepi, markileut! Mari kita ngaleut. Sebelum itu mari kita ngaleueut dulu bala-bala bikinan Ibu yang sudah tersaji di meja makan.

Cekiiitt…! Rem motor saya cekikikan, berbelok menuju meeting point ngaleut kali ini, stasiun Bandung. Beberapa pegiat Aleut sudah ada yang duduk-duduk disana, bercengkrama, mengisi formulir pendaftaran, dan beberapa pegiat sedang direcoki calo taksi yang tak kenal menyerah menawarkan jasa antar.

Setelah memarkirkan si gembor (nama motorku yang diambil dari nama kereta jaman baheula “Si Gombar”, yang diduga nama Si Gombar juga diambil dari nama tokoh film superhero jaman baheula “Zygomar”), saya menghampiri kawanan pegiat Aleut dengan tidak percaya diri karena ketek saya lupa digosok deodorant.

Rasa kurang percaya diri saya akhirnya luluh lantak, karena Ajay menyambut saya dengan kehangatan bagai perapian di musim dingin yang menyamankan, thanks Jay. Ada juga Hevi yang sedang sibuk terlibat proses pendaftaran, di sela-sela riweuhnya dia masih menawarkan cireng isi kepada saya, thanks Hep. Mas Nandar dengan rasa ingin tahu yang cukup besar seringkali melontarkan pertanyaan yang tak terpikirkan, thanks mas. Astaga! Saya lupa ini bukan sesi thanks to di acara award. Mari kembali ke fitrah..

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Ngaleut dimulai juga. Sekitar 25 pegiat melingkar di depan stasiun Bandung, mengenalkan dirinya masing-masing dalam sesi perkenalan, lalu ditutup dengan doa agar perjalanan hari ini dilancarkan, doa dipimpin oleh diri masing-masing dan dalam hati masing-masing. Berdoa mulai..

“Ya tuhan mengapa orang-orang jaman baheula ingin tinggal di Andir, padahal kan Andir ga banget gitu loh..”, dengan mata berlinang saya memanjatkan doa itu.

Setelah mengucapkan doa dalam hati, sayup-sayup terdengar penjelasan pertama tentang stasiun Bandung. Saya pun segera tersadar dari kekhusyukan doa, lalu mengalihkan perhatian kepada Bang Salman dan Bang Ridwan sebagai sang pencerita.

Ooh..ternyata Stasiun ini pun turut andil dalam semaraknya pembangunan hotel-hotel saat itu, pantas saja di sekitar stasiun banyak bangunan jadul, ternyata gara-gara stasiun kereta ini toh. Hotel-hotel, pasar, toko-toko, bahkan pelacuran berdiri di dekat stasiun kereta ini dalam rangka menyediakan segala kebutuhan para pengguna kereta yang sedang transit di kota Bandung. Para pelancong dari luar kota Bandung tak usah kerepotan mencari hotel untuk menginap, tempat ngopi untuk sekedar nongkrong atau tempat belanja oleh-oleh, semua bisa dijangkau dengan mudah di sekitar stasiun kereta. Keramaian di sekitar Stasiun saat itu menarik para pebisnis untuk mendirikan usahanya.

“Jaman dulu, perusahaan yang mengelola perkeretaapian namanya Staatsspoorwegen. Hingga kini, istilah Spoor masih akrab di telinga, orang-orang menyebutnya Sepur yang merujuk kepada kereta api. Padahal arti kata Spoor itu sendiri adalah Rel. Di pintu rel kereta di sekitar Braga, masih dapat ditemukan kata Sepur tertulis jelas di penampang rambu.” Jelas Bang Ridwan dan Bang Reza.

Pada zaman sebelum kemerdekaan, di belakang stasiun Bandung terdapat tugu triangulasi. Tugu  ini dibangun dalam rangka memperingati hari jadi Staats Spoorwegen yang ke-50. Tugu tersebut diterangi lampu dengan kekuatan 1000 lilin hasil rancangan Ir.E.H.De Roo. Kekuatan 1000 lilin itu seperti apa ya? Entahlah, tapi romantisnya dapet deh. Selain itu, tugu ini pun berfungsi sebagai titik triangulasi, yang artinya titik orientasi pengukuran dan pemetaan kota. Wow, berarti saat itu pendirian tugu juga memperhatikan dari segi fungsinya juga ya. Namun sayang, tugu tersebut kini digantikan oleh sebuah odong-odong lokomotif yang belum dikomersilkan.

Okeh, setelah penjelasan tentang stasiun Bandung, jalan kaki dimulai. Kawanan Aleut mulai menyusuri jalan Kebon Kawung yang dulunya banyak pohon Kawung (Aren), berbelok sedikit ke Jalan Pasirkaliki yang dulunya banyak pohon Kaliki, lalu belok lagi ke Jalan Ksatriaan yang banyak Ksatria?? Yang pasti, di jalan Ksatrian ada satu Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandung. Itulah titik berhenti kawanan Aleut yang kedua.

Ada apa nih di sekolah ini? Ternyata sejarahnya panjang juga, lebih panjang dari kisah Lord Of The Ring (maaf ga nyebut sinetron tersanjung). Alkisah bin almakba, pada tahun 1912 tersebutlah satu organisasi kebangsaan bernama Indische Partij. Tokoh-tokohnya antara lain Douwes Dekker (Setiabudhi Danudirdja), Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat a.k.a Ki Hajar Dewantara. Persahabatan ketiganya harus terpisahkan karena organisasinya dicurigai akan mengancam kelanggengan pemerintah kolonial Belanda. Lalu setahun kemudian diasingkanlah tokoh-tokoh ini ke negeri Belanda. Hingga pada tahun 1918 mereka kembali ke Hindia-Belanda.

Sekembalinya dari pengasingan, pada tanggal 12 November 1924, ketika musim hujan, Douwes Dekker mendirikan lembaga pendidikan yang bertujuan mendidik bangsa pribumi untuk mempunyai wawasan kebangsaan. Nama lembaga pendidikan ini adalah Ksatrian Instituut. Ohh, jangan-jangan nama jalan Ksatrian diambil dari nama lembaga pendidikan yang didirikan oleh Douwes Dekker ini. FYI, sebelumnya Jalan Ksatrian itu bernama Nieuwstraat.

“Salah satu tokoh nasional yang pernah mengajar di sekolah ini adalah Soekarno..” tutur Bang Reza.

Ohh..semasa mudanya dulu presiden pertama Indonesia ini pernah mengajar ilmu pasti di Ksatrian Instituut. Setelah lulus dari Tehnische Hooge School (sekarang ITB), Soekarno mengajar setahun lamanya sebelum dia terjun ke dunia politik dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia. Wah, penasaran gimana ngajarnya ya..

Pada tahun 1941, berita heboh menyeruak. Nes (panggilan akrab Douwes Dekker) sang pendiri Ksatrian Instituut ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan diasingkan ke Suriname. Sehingga kelangsungan Ksatrian Instituut dipegang oleh istrinya, Yohanna Patronella Douwes Dekker.

Pada bulan November 1947, pemerintah membuka sebuah SMP di kota Bandung di gedung SR jalan Kopo, untuk menampung pelajar yang baru kembali dari daerah pengungsian. Karena tempatnya tidak mencukupi, pada akhir Desember 1947 sekolah tersebut dipindahkan ke Nieuwstraat (Jalan Ksatrian sekarang), mengisi gedung Ksatrian Instituut yang sudah lama tidak digunakan. Karena terletak di Nieuwstraat, maka sekolah tersebut dikenal dengan sebutan Sekolah Menengah 4 Tahun Nieuwstraat (SM 4 TH NIEUWSTRAAT). Kemudian pada tanggal 11 Oktober 1950 SM 4 TH NIEUWSTRAAT  statusnya berubah menjadi SMP Negeri 1 Bandung seperti yang kita kenal sekarang ini.

Dari SMP Negeri 1 Bandung perjalanan dilanjutkan. Menyusuri gang-gang sempit yang membingungkan seperti lingkar labirin panjang tanpa henti kalo kata lagu The Brandals. Sampai akhirnya kita menemukan jalan Samba di sekitar lapangan Kresna.

Di jalan Samba ternyata ada sebuah makam saudagar batik yang turut meramaikan perdagangan saat Bandung baheula. Kedatangan kawanan Aleut disambut dengan sepinya pemakaman keluarga ini. Seorang nenek tampak sedang sibuk dengan jemurannya, pakaian ia jemur seadanya di atas nisan-nisan. Nenek itu seorang janda baru, suaminya yang merupakan penunggu makam baru setahun yang lalu meninggal. Pada kunjungan Aleut sebelumnya, Bapak penunggu makam ini masih bisa bercerita tentang H.Syarif, pedagang batik yang kini menyisakan makam beserta riwayatnya.

Selama di makam, saya menjadi takut. Saya takut meninggal saat itu juga, meninggal dalam keadaan pertanyaan saya belum menemui jawaban. Pertanyaan saya dari awal mengapa orang-orang jaman dulu ingin tinggal di Andir, belum ada pencerahan. Saya takut menjadi hantu penasaran yang lebih penasaran dari Nancy, dan takut menjadi hantu jengkol yang lebih rendah kastanya dari hantu kentang.

Lamunan para hantu pun lenyap seketika, sesaat setelah kawanan Aleut beranjak keluar dari komplek makam H.Syarif, lalu berjalan mendekati satu perumahan sepi yang asri. Di kiri kanan jalan, rumah-rumah yang terbilang baheula berderet rapi. Di setiap halamannya ditumbuhi pepohonan teduh, diselingi bunga-bungaan penyegar mata bagi yang memandangnya.

Andaikan saya harus meninggal dan menjadi hantu-hantu selebritis kota, setidaknya saya ingin merasakan tinggal di kawasan seperti ini. Saya lagi-lagi melamun. Ini perumahan apa ya..? Eh ternyata, tak disangka tak dinyana tak diduga, perumahan bagi para pegawai PT.KAI ini termasuk dalam kawasan Andir yang dahulu banyak orang bermimpi untuk tinggal di sana. Perumahan Andir membentang dari Pajajaran termasuk jalan-jalan pewayangan hingga kawasan lapangan terbang PT.DI. Pantas saja namanya dulu Fokkerhuis. Fokker adalah salah satu jenis pesawat terbang yang eksis saat itu.

Andir merupakan perumahan elite pertama yang digandrungi untuk dijadikan pemukiman oleh bangsa Belanda.  Baru setelah daerah Andir, kemudian menyusul pemukiman modern dan elite lainnya di daerah Cikudapateuh dan daerah jalan Riau. Saat itu di daerah Andir, rumah pinggir jalan raya dapat berharga 10.000 Gulden ke atas, konon itu harga yang mahal pada saat itu. Untuk memilikinya, orang bisa mendapatkannya dengan cara mengangsur. Daerah pemukiman di Andir ini dirancang dan ditata dengan baik, dengan model rumah bergaya romantik yang lagi ngetrend pada saat itu.

Whew, pertanyaan saya terjawab juga. Pantas saja banyak yang ingin tinggal di Andir saat itu. Dapat dibayangkan keasriannya dan kenyamanan yang disuguhkannya. Tapi bagaimana dengan Andir sekarang? Sudah tidak ada lagi Andir yang dulu, keinginan orang-orang pun berubah seiring berubahnya Andir.

Yah, lain dulu lain sekarang, sepenggal lirik lagu di atas kini tak berlaku lagi. Mungkin liriknya harus diganti.

Ku ingin tinggal di sana

Hidup di dataran tinggi Bandung Utara

Tak pedulikan saudaraku di selatan terbanjiri sengsara

Lirik itu menemaniku pulang, pertanyaanku terjawab, rasa penasaranku hilang berganti keresahan.

Iklan

5 pemikiran pada “Mencari Andir

  1. Di atas disebut perumahan Cikudapateuh. Perumahan eks Jawatan KA di situ arsitekturnya khas Walanda dan terutama yang di Jl. Teratai rmah dan tanahnya luas sudah banyak yang berubah dan tak terlindungi dan berpindah tangan.

  2. Salut buat ALEUT, saya jadi seakan masuk ke mesin waktu, terlempar ke masa lalu, betapa Bandung jadi impian para kaum kolonial Belanda untuk bisa punya hunian yang prestige, walaupun notabene mereka tinggal bukan di tanah airnya alias penjajah. Jangan sampai lupa baraya ALEUT!!!!! dibalik indahnya, prestisiusnya Bandung baheula ada air mata ketertindasan orang kita, pribumi, DIMANA….JADI APAAA….SEPERTI APAAA saudara saudara kita kala Bandung jadi Paris van Java.

    Ada sedikit kisah baraya, istriku punya seorang nenek yang berusia kira kira 90 th lebih, semasa mudanya beliau berjualan nasi di sekitar dungus cariang, jl jend. sudirman, tapi kala itu kata nenekku jl. sudirman tiap dua hari sekali masih di sikat dan disemprot air (diembrat) dan yang lewat cuma sesekali kendaraan militer belanda kadang pribumi yang mencari rumput. Sekitar tahun ’48 neneku beserta keluarga harus mengungsi sambil membakar rumah dan apa saja yang tertinggal, berjalan kaki ngaleut ke pegunungan arah selatan Bandung lewat cijapati terus ke garut, istilah neneku PAKOASI ( EVAKUASI). Kita tahu sekarang bahwa itu adalah Bandung Lautan Api. Kala itu neneku dan pribumi lainnya mengungsi dengan kesedihan, hati yang hancur, karena harus meninggalkan lembur sorangan, tapi disisi lain kami tidak rela Bandung jadi milik Belanda / sekutu.

    Jadi jangan sampai kita lupa baraya, DIKALA BANDUNG JAYA JAYA NYA, INDAH INDAHNYA, ASRI ASRINYA, ITU SEMUA BUKAN MILIK KITA TAPI NUGADUH WALANDA, kita cuma jadi penonton yang hokcai sakapeung ditalapung, sakapeung dipaehan.

    Bandung yang sekarang ini baru punya kita, terima apa adanya, yuk kita bangun bersama, agar jadi Paris van Java kembali, tapi milik kita, kita BANGSA INDONESIA, MERDEKAAAAAAAAAAAAAA……..!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s