Napak Tilas Bioskop Bandung Tempo Dulu

Oleh: Fan Fan F Darmawan

Bandung 1980 (atau mungkin setahun lebih awal)

Saat itu di Indonesia diputar sebuah film yg bercerita tentang manusia berkekuatan super yang berkostum pakaian dalamnya terbalik bernama Superman. Saya cukup beruntung, bisa menyaksikan pahlawan super idola anak anak di masa itu, di layar lebar. Saya lupa di bioskop mana mana tepatnya saya menonton itu, karena memory saya yg terbatas sebagai seorang balita. Tapi saya yakin itu berada di kawasan yg sekarang Alun Alun Bandung.

 32 tahun kemudian / 18 maret 2012

Saya mengikuti sebuah event perjalanan sejarah kota Bandung, dengan tema Bioskop di Kota Bandung Tempo Dulu. Saya berjalan bersama lebih dari 50an anak muda pencinta sejarah. Mereka berada dalam sebuah komunitas bernama Komunitas Aleut. Sebuah komunitas yang melestarikan sejarah dan budaya warisan sejarah Kota Bandung.

Ini kali pertama saya berinteraksi dengan mereka. Sudah cukup lama saya memantau twitter nya, berharap bisa suatu hari nanti ikut kegiatannya. Tema kali ini cukup kuat mendorong saya memaksakan diri bangun pagi di hari minggu, dan langsung menuju meeting point di kawasan BIP. Tema kali ini, Bioskop di Kota Bandung Tempo Dulu, sangat menarik minat saya. Saya tumbuh bersama dua hal di dunia ini, Film dan Komik (kelak hal ke 3 yg tumbuh bersama saya, adalah musik rock).

Kami memulai perjalanan dari kawasan jalan Merdeka, depan bekas bioskop Panti Karya (saat ini gedung bekas bioskop itu terletak tepat disamping gedung toko buku Gramedia Merdeka). Dulu ketika bioskop itu masih beroperasi, tepat di depan gedungnya, berdiri patung besar -mungkin- patung Jenderal Ahmad Yani, dengan posisi tangan menunjuk ke depan. Patung itu sudah lama sekali tidak ada di sana.

Kami berjalan menuju bunderan jalan antara Balai Kota Bandung dan Polwiltabes Bandung. Disana berdiri gedung baru Bank Indonesia.  Disana pernah berdiri bioskop yang cukup legendaris, terakhir bernama Vanda Theatre.

Saya ingat saat itu, sekitar tahun 1988 atau 89, saya ingin sekali menonton film yang dibintangi oleh Michael Jackson berjudul Moonwalker. Sebagai anak kecil, pastinya saya tidak punya otoritas penuh dalam masalah keuangan, bukan? Setiap kali saya lewat di depan Vanda, saya melihat poster film Moonwalker masih terpajang disana selama beberapa hari. Saya pikir, saya harus segera menontonnya disana. Seingat saya tempat itu paling nyaman dan murah dibanding Paramount (Jl.Sudirman) atau Dallas (Jl.Dalem Kaum). Hanya selang beberapa hari, ketika saya berhasil membujuk orang tua saya memberikan uang untuk nonton, ternyata bioskop Vanda telah dibongkar.. Saya sedih mendapati kenyataan bahwa saya tidak sempat menonton film tsb. Mungkin, jika ada yang ingat, film Moonwalker adalah film terakhir yg diputar di Vanda.

ALEUT di depan Gedung BI sekarang, dulunya Vanda Theatre

Lalu kami menuju kawasan Alun Alun Bandung, ke kawasan bioskop yang lebih dari 30 tahun lalu saya menonton Superman, dan sejumlah film box office lainnya pada zaman itu. Sepertinya saya menonton Star Wars disana.

Di Alun Alun Bandung, yang kini berdiri Gd.Palaguna, pernah berderet bioskop, Elita dan Oriental, yang telah berdiri sejak periode kolonialisme Belanda. Saat ini tidak tampak lagi sisa bangunannya. Bahkan Palaguna, yang sampai akhir dekade 90an masih memiliki gedung bioskop di salah satu lantainya, kini menjadi mall kosong tak terawat. Siapa sangka bahwa kawasan itu pernah sangat lekat di ingatan para penonton bioskop selama puluhan tahun silam. Puluhan tahun lalu saya yakin, saya dan ayah saya pernah menginjakan kaki di sana, di salah satu gedung bioskop itu. Saya masih ingat Elita masih beroperasi sampai awal 80-an, tapi entah dengan bioskop yang berada di sekitarnya.

Gd.Palaguna saat ini, di atasnya pernah berdiri gedung bioskop Elita dan Oriental yg legendaris sejak tahun 30-an.

Di depan Palaguna, masih berdiri bekas gedung bioskop Dian (saat ini digunakan sebagai gedung arena Futsal). Gedung ini masih lebih beruntung memiliki sisa bangunan nya yang kokoh, khas bangunan zaman dulu. Kami berkumpul disana untuk menikmati sisa kemegahan itu. Saya menikmati kenangan nya. Puluhan tahun lalu mungkin saya dan ayah saya pernah menginjakan kaki kesana. Beberapa dari kami bahkan berkesempatan naik ke lantai atas. Masih terdapat ruang bekas mengoperasikan proyektor, yang kini hanya berupa ruang kosong berdebu. Jendela utk memproyeksikan gambar masih ada disana.

Teman teman Aleut berkumpul di depan bekas Gedung Bioskop DIAN, yg kini menjadi arena Futsal

Sebenarnya, dikawasan Jl. Dalem Kaum, pernah berjaya sebuah bioskop bernama Dallas. Lokasinya berada sejajar dengan Gedung Parahyangan, saat ini baru dipugar menjadi sebuah trade centre produk pakaian. Sampai akhir dekade 80, bioskop itu masih sangat berwibawa.  Kami tak sempat kesana.

Sebelum ke kawasan Alun Alun, kami mengunjungi bekas Gd Bioskop Majestic. Lokasinya di samping Museum Konferensi Asia Afrika arah ke Jl.Braga. Bioskop ini menyimpan memori sejarah yang membentang sampai ke periode awal 1920an, di masa kolonialisme Belanda.

Bangunan yang memiliki disain arsitek khas Eropa ini, seakan akan memindahkan bangunan opera di Eropa ke tengah kota Bandung. Sebuah kota yang bisa jadi belum ada dalam peta internasional, dan tentu saja tidak seterkenal London atau Paris di masa itu.

Selain menjadi simbol warisan budaya yg dibawa para koloni Belanda -saya tak ingin menggunakan kata ‘penjajah’-, bioskop ini juga merekam memori tentang rasialisme bangsa Eropa dan pribumi. Bayangkan saja, untuk masuk ke bioskop itu, hanya boleh orang orang Belanda saja, dan sedikit keturunan menak (bangsawan) Sunda di masa itu. Meski ada orang pribumi yang menjadi penonton disana, saya tak yakin mereka diperlakukan sama.

Para pribumi nya saya yakin hanya menjadi pekerja di gedung itu, paling beruntung mungkin menjadi pemain musik disana. Hey, jaman itu diluar gedung bioskop dimainkan pertunjukan musik sebelum jam tayang film dimulai. Mungkin untuk memeriahkan suasana, karena menonton bioskop adalah hiburan berkelas bangsawan, dan juga hiburan kelasnya para koloni Belanda di Indonesia.

Salah satu teman di Komunitas Aleut bercerita tentang pemusik di dalam gedung bioskop. Ketika periode film bersuara belum ada, yang diputar di bioskop adalah film tanpa suara. Hanya gambar yang diputar, tanpa suara karena teknologi perekam dan pemutar film yang menggabungkan audio dan video belum ditemukan. Fungsi dari pemusik di dalam gedung bioskop adalah untuk memberikan efek suara, yang bersesuaian dengan adegan yang dipertontonkan di film. Para pemusik tadi, harus tepat memberikan irama ketika adegan romantis, ketika adegan penuh ketegangan, semuanya di sesuaikan dengan tempo lagu yang dimainkan.

Aleut di kawasan jalan Braga menuju bekas Bioskop Majestic.

Bioskop Majestic ini menjadi sangat penting dalam sejarah perfilman di Indonesia, karena ia merekam perjalanan panjang yang membentang selama puluhan tahun, bahkan hampir seabad.

Pada dekade 90an awal, bioskop ini sudah tidak memiliki wibawa lagi. Seiring dengan menurunnya kualitas film produksi Indonesia, membanjirnya film drama erotik dari hongkong, dan berjayanya cineplex (sebutan untuk satu gedung bioskop dengan lebih dari satu gedung pertunjukan). Bioskop ini mulai menjadi gedung bioskop kelas bawah, berbanding terbalik pada era puluhan tahun sebelumnya.

Diawal 90an, saya dan teman teman satu sekolah sangat ingin nonton di gedung itu. Sekadar mencari suasana baru, dibanding menonton di cineplex yang saat itu menjadi lokasi menonton bioskop favorit.  Selain itu, kami semua sangat penasaran dengan bentuk interior nya yg konon sangat megah. Hanya saja, bioskop Majestic, pada saat itu, hanya memutar film Indonesia dan atau film Hong Kong, dengan nuansa erotisme yg kental. (meminjam istilah Reza -koordinator Komunitas Aleut-, film yg diputar disana berjenis film ‘esek-esek Nusantara’). Tapi akhirnya kami menonton disana, hanya untuk menikmati interior teater yg sesungguhnya. Film yg kami tonton, semoga Tuhan mengampuni dosa kami, berjudul Girls From Beijing.

Tahun 2000an bioskop ini menjadi gedung pertunjukan hingga sekarang. Bayangkan, gedung bioskop ini menyimpan kenangan rasialisme di era koloni Belanda tahun 30an, sampai kenangan tentang hancurnya moral film di Indonesia akhir 80an, sampai pertunjukan konser music hardcore yang memakan jiwa beberapa penontonnya di era 2000an. Andai saja ia bisa berbicara…

Hey, saya baru tahu ada bekas gedung bioskop bernama Apollo, yang lokasi nya kini bersebrangan dengan komplek Ruko Banceuy. Kita masih bisa melihat pintu besi nya saat ini. Bangunan nya sudah tidak ada.

Gedung bekas Bioskop Apollo (sekarang depan Ruko Banceuy) yg berdiri sejak awal 1900an*

Sebenarnya saya sangat ingin rombongan ini menuju ke kawasan Sudirman, tempat dulu ada bioskop bernama Capitol, Texas, dan tentu saja Paramount. Tentu saja kami tak mungkin berjalan sejauh itu dari kawasan Merdeka sampai Alun Alun saja sudah memakan waktu 3 jam lebih berjalan kaki.

Kawasan bioskop di pecinan Bandung itu penting untuk saya, karena dulu sejak kecil, saya sering diajak menonton film kungfu disana. Periode akhir 70an sampai awal 80an adalah periode membanjirnya film kungfu produksi Hong Kong. Saya ingat pernah menonton film periode awal Chen Lung (kini dikenal dengan nama Jackie Chen), berjudul Drunken Master dan beberapa judul lainnya. Lalu beberapa nama pemain film yg berhasil saya ingat sampai saat ini seperti Ti Lung, Fu Shen, dan Meng Fei. Saya berhasil mengingat, bahwa film tersebut produksi Shaw Brothers, dan saya ingat dari logo di setiap opening filmnya. Logonya mirip dengan logo Warner Bros, salah satu raksasa produsen film Holywood itu. Dulu saya heran, kenapa kemudian logo Shaw Brothers tidak pernah ada lagi tampak di layar bioskop.  Baru sekitar awal tahun 2000an, saya mendapati informasi bahwa sebenarnya Shaw telah bangkrut di tahun 1983. Mungkin saya suatu saat harus menyempatkan diri kesana. Oh ya, dari nama bioskop yg saya sebut diatas, hanya Paramount yg masih berdiri. Kini menjadi sebuah restoran yg cukup megah. Saya tak ingat jika kemudian mereka merenovasi bangunannya.

Perjalanan kami berakhir di belakang gedung PLN Cikapundung. Kami duduk duduk di pelataran gedung tersebut, lalu saling berbagi kesan selama perjalanan tadi. Beberapa dari kami juga saling berkenalan dalam sebuah suasana berbagi yang akrab.

Saya sempat memperlihatkan koleksi flyer bioskop asli dari cetakan tahun 70 an. Seluruhnya adalah flyer film kungfu, karena saya spesifik menggemari film kungfu di era 70an.

Perjalanan kali ini tidak hanya menyenangkan, dan menambah teman. Tentu saja saya bertambah teman, karena ini adalah interaksi pertama saya dengan Komunitas Aleut. Perjalanan ini juga menyadarkan saya bahwa banyak hal telah berubah, dan ternyata itu luput dari perhatian saya. Bahkan perubahan itu terjadi, di depan mata, di masa hidup saya, bukan perubahan yang terjadi di masa lalu. Banyak hal yang pernah bersinggungan dengan kehidupan saya, kini sudah tidak ada lagi, menghilang tanpa saya sadari.

Tentu saja menyenangkan bisa kembali menyaksikan Ti Lung dan Superman di layar bioskop. Bukan di DVD Player dengan keping bajakan.  Hal paling indah tentunya, kalau saja saya bisa kembali menyaksikan kembali apa yang saya alami ketika kecil, dalam tubuh dan pikiran saya sebagai orang dewasa. Tentu saja tidak mungkin, kecuali mesin pembalik waktu ternyata bisa ditemukan dimasa depan.

*Untuk referensi lebih lanjut tentang perkembangan bioskop di Bandung ditulis oleh teman kita Taufanny Nugraha – Penggiat Klab Aleut

http://www.sundanetwork.com/bandung-updates/seabad-bioskop-di-bandung.html

Iklan

2 pemikiran pada “Napak Tilas Bioskop Bandung Tempo Dulu

  1. ada bioskop yg legendaris satu lagi yaitu bioskop luxor, tapi sayang sekarang sudah menjadi ruko, kalau tidak salah itu ada di daerah jl. sudirman

  2. Di sebelah Luxor ada bioskop maaf kalau salah nuli Parek, Bioskop Luxor adalah bioskop yang di khususkan untuk memutar film-film kungfu, sedangkan bioskop Parek sering sekali atau khusus memutar film-film bernuasa dangdut. Pengunjung bioskop Parek ini kebanyakan dari golongan ekonomi bawah, atau para maaf kuli-kuli yang membutuhkan hiburan. Bangunan seadanya, kursi dari papan yang panjang. untuk bioskop luxor kondisi bioskopnya pada waktu itu terhitung standart. Saya ingin menambahkan sedikit tentang bangunan di alun-alun, dahulu jamanya film King Kong yang terkenal, sampai-sampai di depan restauran Milamar ada Patung Kingkong tinggi kurang lebih 5 mter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s