Layar Terkembang

Oleh: Mira Rachmawatie

Seonggok bangunan yang dulu sangat berjubel oleh penonton yang memadati ruangan, kemudian menghilang, tergeser oleh perkembangan kota modern dan juga dialih fungsikan karena kalah tenar dengan bioskop masa kini. Itulah bioskop-bioskop Bandung yang nyaris terlupakan. Dari bioskop kelas atas di sepanjang Alun-alun Kota Bandung – mulai dari Elita, Aneka, Nusantara dan Dian – hingga bioskop-bioskop ternama di Jalan Braga – seperti Majestic, Braga Sky, Presiden dan Pop – tak satupun dari bangunan ini yang berkembang, bahkan cuma tersisa bioskop Dian (sekarang menjadi lapangan futsal) dan Majestic (yang berubah menjadi New Majestic) yang masih bertahan. Padahal pada masanya, salah satu dari bioskop-bioskop tempo dulu ini merupakan yang terbaik pada erannya

 menulis tentang Bandung tempo dulu, memang tak ada habisnya. mungkin kisah-kisah dari orang tua, nenek, bahkan buyut kita akan lebih seru jika kita campurkan dengan imajinasi kita tentang suasana Bandung tempo dulu. Bioskop bagi sebagian orang merupakan tempat hiburan, hirarkinya, kita sebagai manusia adalah makhluk yang haus akan hiburan, dan salah satu pelampiasan nya mungkin bioskop.

Bioskop adalah adaptasi bahasa Indonesia terhadap kata ‘bioscope’ dari Afrika Selatan (kemungkinan juga dari Belanda). Pada awalnya film di bioskop adalah rangkaian gambar bergerak yang berdurasi pendek, bisu, dan diputar di lapangan atau ruangan/hall. Genre yang diusung biasanya adalah seni drama, komedi slapstick (bodoh-bodohan, seperti Caplin), sulap, dan percintaan.

 Film-film pendek tersebut pada awalnya memang merupakan sarana hiburan bagi warga barat sebagai pengganti pertunjukan langsung. Pada pertunjukan langsung, durasi pertunjukan memang bisa lebih lama, namun frekuensinya terbatas. Dengan bantuan teknologi film, frekuensi pertunjukan dapat ditingkatkan puluhan kali lipat, kostum dan panggung dapat dihemat, untung bagi para pengusaha film dan bioskop pun meningkat pesat

 Atau bioskop mungkin sebut saja tempat nya sebuah layar yang terkmbang lalu dipantulkan-nya sebuah cahaya yang berisi permutaran memori yang direkam oleh suatu mesin, adalah tempat kenangan bagi banyak orang.

Tempat pertama yang dikunjungi lagi kencan sama mantan pacar, atau tempat kamu menyatakan perasaan kamu sama seseorang.

Flas back tentang fungsi bioskop pada era tahun 1900 an. dimana fungsi bioskop tidak hanya dijadikan “air segar” bagi “para peminum” yang haus akan hiburan, tetapi bioskop merupakan simbol dari kemajuan suatu bangsa atau suatu tempat pada masanya. Dimana bioskop era tahun 1900 hanya menampilkan gambar saja atau film bisu. Artis pada masa itu adalah Charli Caplin. Pemutaran film tersebut hanya dimulai pada jam 7 malam. pada era tersebut bioskop merupakan tempat pemisahan pemisahan kasta, dimana seperti  misal nya majestic hanya untuk kaum priyayi dan kaum belanda yang pada saat itu tangan-tangan pemerintahan belanda masih sangat mendominasi.

Kelas kelas penonton pun menentukan dimana mereka mendapatkan tempat duduk. mungkin kalo sekarang kelas 1, 2 atau VIP, VVIP. Bersyukur lah karena zaman nya “kelas kambing ” sudah tidak digunakan pada era perbioskopan sekarang. Kelas kambing dimana para penonton yang mendapatkan tiket kelas ini akan duduk paling depan dan meliahat layar dengan kepala tengadah melihat keatas, mungkin fungsi “kelas kambing” pada era sekarang telah berubah, dimana penonton yang mendapatkan tiket VIP akan duduk paling depan.

 Pada dekade tahu 1920-1930 film film dari Amerika atau biasa disebut HOLLYWOOD, Eropa, dan China masuk ke Hindia Belanda. Bahkan beberapa film  Hollywood lebih dulu diputarkan di Hindia Belanda sebelum di Belanda sendiri.

Orang kulit putih membawa sebuah roll yang berisi film yang dapat diputarkan pada suatu mesin, maka orang hindia Belanda dahulu menyebutnya “film idoep”.

 Film pertama yang di buat di perancis, film tersebut berjudul “kereta datang”. Sesuai dengan judunya, film tersebut hanya menampilkan sebuah kereta yang datang ke stasiun. Dan para penonton sangat kaget, mereka sangka kereta yang ada di film tersebut benar-benar datang pada mereka. sehingga mereka menghindari kereta tersebut.

Berkembang nya jaman dan tekhnologi manusia untuk berfikir, maka film tak hanya dibuat hidup saja, tapi juga bersuara,

sekitar tahun 1920-an (kalo tidak salah) pemutaran “film idoep + boenyi” diputar pertama di hindia belanda, tepatnya di LUXOR teater. Saking antusiasnya para priyayi dan orang belanda saat itu, LUXOR theater temboknya sempat jebol karena berjubelnya para penonton yang penasaran seperti apa film yang akan diputarkan.

 Masa kejayan bioskop tak pernah usai walau sudah termakan usia 100 tahun. Bioskop menjadi tempat favorit untuk tempat berkumpulnya  keluarga, teman teman, atau bahkan kolega bisnis. 21 atau blittz megaplex merupakan penerus kepemilikan bioskop yang saat ini terkenal,

Inti dari ngAleut saya tentang bioskop tempo dulu, adalah suatu tempat berkumpulnya para sosialita pada era tersebut, dan menggunakan fasilitas bioskop sebagi tempat unjuk kasta dan ke- “HIGH CLASS” an para priyayi dan orang Hindia Belanda. Penonjolan sikap membeda- bedakan kasta sangat terlihat, dimana para priyayi dan kaum sosialita yang ELIT (berasa dari kata “ELITA” yang artinya Terdepan) harus mengenakan pakaian yang rapi, septu yang bagus. Tapi kalangan rakyat menengah kebawah hanya bisa mendapatkan tiket dengan title “KELAS KAMBING”

Pengelompokan kelas-kelas tersebut sangat kental sekali pada era tersebut. Mungkin untuk era sekarang kelas-kelas tersebut dikelompokan menurut fasilitas. Misalnya di 21 Ciwalk, dari kelas PREMIERE, 3D, dan biasa sudah tersedia. harga tiket untuk pertunjukan di Premiere sekitar Rp.75.000 –Rp.100.000,- fasilitas didalamnya yang sangat exclusive membuat para penonton sangat dimanja.

Ngaleut adalah sarana informasi, edukasi, dan refreshing bagi saya. Koordinator ALeut bagi saya adalah sebuah “Film idoep dan boenyi ” yang berjudul “BANDUNG TEMPO DULU”,, beliau dengan serius tapi santai (baca : SERSAN)  mengulas banyak tentang Bandung tempo dulu, Terimaksih buat ALEUT.

Tak ada masa sekarang jika tak ada masa lalu.

 Bioskop ELITA, bioskop yang sempat berjaya pada masa nya, dimana yang datang hanya kaum kaum elit atau kaum yang terdepan

Iklan

Satu pemikiran pada “Layar Terkembang

  1. saya terkesan sekali dengan komunitas ALEUT ini, karena dengan komunitas ini saya sebagai “urang Bandung asli” merasa bangga dengan sejarah kotanya yang begitu hebat dan sangat melegenda, namun sayang sekali, saya hanya bisa membaca seluruh perjalanan ALEUT tanpa bisa masuk dan hanyut dalam perjalanannya secara nyata di lapangan, termasuk sejarah bioskop ini, kalau boleh bercerita sedikit saya pun termasuk yang pernah rindu akan bioskop2 di kota kembang ini, keetulan tempat tinggal saya berada di kawasan Jl. Gatot Subroto, maka bioskop yang sering saya singgahi adalah bioskop2 yang temen2 ceritakan itu, dan ada beberapa bioskop lagi seperti Bandung Theatre yang berada di kawasan Jl.Ahmad Yani (Pasar Kosambi), jika kita lanjutkan ke arah timur, kitapun akan bertemu dengan bioskop ‘kelas kambing’ (meminjam istilah teh Mira Rachmawatie) yaitu bioskop Taman Hiburan dan bioskop Nirwana yang berada di sekitar Cicadas. wah kalau sudah bercerita sejarah saya termasuk yang sangat antusias, setiap ayah (Alm) saya bercerita tentang kehidupan ‘jaman baheula’ alias jaman ‘jaman bareto’ (dulu0 saya sangat serius mendengarkan dan selalu ingin melakukan ‘napak tilas’, karena itu saat ini ke’hausan’ sejarah ‘lembur kuring’ sedikit terobati dengan adanya komunitas ALEUT ini, kenapa sedikit?karena saya tidak turut serta di dalamnya, walau demikian saya sangat apresiasi sekali dengan komunitas ini. Selamat atas ide kreatifnya untuk melestarikan cagar budaya kita, dan saya berharap serta memohon kepada Sang Khaliq agar komunitas ini terus bertahan sampai akhir dunia menutup mata.HIDUP KOMUNITAS ALEUT,TERUSKAN PERJUANGANMU….!!!! Wasalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s