Cihapit, “Surga dan Masa Yang Kelam” Bandung

Oleh: Reza Ramadhan Kurniawan

Cihapit merupakan salah satu tempat dari beberapa bagian kawasan di kota Bandung yang menarik untuk di ceritakan. Jika di analogikan, Cihapit pada masa sekarang adalah surga,  berbagai makanan yang khas, buku-buku antik, kaset-kaset nuansa lalu, vinyl dan hal-hal unik yang khas lainya dapat kita temui dikawasan satu ini.

Di pasar Cihapit kita bisa menemukan ruang bak surga bagi para pecinta kuliner. Berbagai makanan khas Kota Bandung yang telah lama ada dengan cita rasa lama masih dapat kita temukan disini, beberapa diantaranya: Kupat Tahu Galunggung, Nasi Rames Emak Eha, Lotek Cihapit, Surabi Cihapit, Gorengan Cihapit dan Awug. Dengan berbagai sugguhan kuliner yang lezat lekat di lidah, menjadikan Cihapit magnet tersendiri bagi para pemburu makanan dari dalam ataupun luar daerah Kota Bandung. Ehmm.. lezaat.. aroma nuansa Cihapit begitu memikat, tak khayal seringkali kita temui para pelancong nongkrong sambil icip-icip sugguhan jajaran berbagai makanan yang di sajikan di sekeliling Pasar Cihapit.

 Salah satu yang terhipnotis lalu terjerat akan nikmatnya kuliner disekitaran Pasar Cihapit adalah Bondan Winarno, presenter Wisata Kuliner yang terkenal dengan ungkapan “Pokoe maknyus!” ini bahkan sampai tiga kali gagal menyantap suguhan warung Emak Eha yang legendaris itu, ini disebabkan karena Emak Eha yang selalu tutup lebih dahulu karena daganganya habis.

Kalau tidak datang pagi, jangan harap masih tersisa, itulah tagline warung Emak Eha yang tersirat di setiap benak para penikmat sajian siemak. Selain itu ada pula keluarga Simangunsong yang tidak lain adalah kakak-beradik Dewi Lestari dan Arina Mocca  yang menjadikan warung ini sebagai restoran favorite mereka untuk bersantap sambil mengenang masa kecilnya dulu.

Sepanjang mata memandang, Cihapit terlihat menarik, masih kita jumpai beberapa pepohonan yang rindang, bangunan gaya lama dan sebuah pasar, menjadikan sebuah petanda bahwa nuansa lama masih terasa hidup kentara. Jika kembali ke sejarah masa lalu, Belanda membangun daerah Cihapit dengan suatu konsep lingkungan yang sehat, komplek perumahan dilengkapi dengan pasar, pertokoan, taman dan lapangan terbuka (plein). Sehingga pada tahun 1920-an komplek perumahan Cihapit mendapatkan predikat sebagai contoh lingkungan pemukiman sehat di kota Bandung yang di huni oleh warga golongan menengah baik pribumi maupun Belanda. Beberapa sisa bangunan lama masih dapat disaksikan di Jalan Sabang.

 Selain itu kawasan Cihapit dikenal sebagai surga bagi kawasan pecinta barang-barang antik ataupun barang loak, harga yang relatif murah tidak serbanding lurus dengan kualitasnya yang murahan. Misalnya buku-buku loak tua yang di jual bukan berarti barang bekas tak berguna, keasikan tersendiri ketika berburu mencari buku dengan tema yang di inginkan. Tiga sampai empat buku yg kita temui bisa dihargai Rp.20.000 namun ada pula satu buku yang bisa jadi dihargai sampai Rp.100.000 semua tergantung dengan umur tua dan isi buku yang akan di cari,  semakin sulit di dapat semakin mahal.

Cetakan pertama pada penerbitan buku dapat menjadi faktor penentu sebuah harga buku. Artinya harga buku semua abu-abu, seorang penjual menjadi penentu sebuah harga yang dapat kita tawar dalam suatu transaksi jual beli.

Daya tarik kawasan Cihapit  lainya adalah pedagang kaset, CD dan vinyl yang hadir di sepanjang Jalan Cihapit bagian utara. Para penjual disana terkadang merangkap sebagai kolektor. Cihapit layaknya seperti surga penikmat musik,  kaset, CD dan Vinyl yang ditawarkan merupakan barang-barang langka yang tidak dapat kita temukan di toko-toko kaset baru, seperti kaset Dedy Stanzah, Dara Puspita ataupun musisi luar negri seperti Bob Dylan dan The Smiths  yang jarang ada di pasaran umum. Selain itu juga terdapat piringan hitam yang terkesan lama dan langka dari berbagai genre dan harga di tawarkan disana.

Begitu luar biasanya Cihapit seperti surga berisi pernuh harta karun yang tersembunyi di balik tirai kemewahan gemerlapnya suasana kota Bandung dengan berbagai citra nama sebuah kota.

 Cihapit yang berhimpit

Seorang wanita manis dengan pakaian berwarna merah yang malu tapi tak angkuh bertanya, “Bagaimana keadaan Cihapit pada masa Jepang dahulu?” terhimpit-himpit pada umumnya jawabanya. Pada tahun 1942-1946 Komplek Perumahan Cihapit digunakan sebagai interniran, yaitu sebuah kamp konsentrasi tawanan bagi wanita dan anak-anak warga Belanda maupun Pribumi.

Kamp tawanan pada masa penjajahan Jepang dipisahkan kedalam tiga kelompok bagian yaitu: kamp konsentrasi untuk anak anak dan wanita, kamp konsentrasi pria berumur 18 tahun (remaja) dan kamp konsentrasi pria dewasa. Pemisahan wilayah pengkonsentrasian dengan berbagai kategori yang telah ditentukan memiliki tujuan terendiri. Pemisahan antara kamp wanita dan anak dengan kamp pria bertujuan untuk meminimalisir gejolak kekacauan yang kapan-kapan bisa terjadi, pihak jepang beranggapan jika kamp diasatukan lalu salah satu anggota keluarga teraniayaya, faktor tersebut bisa saja dapat memicu kemarahan dan kekacauan bagi kerabat anggota keluarga yang lainya, sehingga dengan itu pengelompokan kamp konsentrasi wilayah di buat oleh Jepang.

 Kamp  Interniran wanita dan anak- anak terbagi kedalam beberapa tempat wilayah di Kota Bandung, diantaranya adalah Bloemenkemp, kamp tersebut dibuat mengunakan beberapa bangunan yang terletak dalam komplek yang dibatasi Riouwstraat (Jln Riau, sekarang Jln L.L.R.E. Martadinata) Tjitaroemstraat (Jln Citarum), Houtmanweg (Jln. Tjioetjoeng, sekarang Jl.Supratman) Bengawanslaan (Jln Bengawan) sampai Grote Postweg (JalanRaya Timur, sekarang Jl Ahmad Yani).

Seluruh komplek yang menjadi sebuah kamp konsentrasi terlindung di balik pagar yang terbuat dari anyaman bambu dan kawat berduri yang sangat tinggi, dengan beberapa pengawas yang  bertugas menjaga gerbang pos penjagaan.

Ada hal yang menarik di kamp Interniran Cihapit, kamp dengan pengambaran garang tidak selalu terlihat menakutkan, konon di Kamp Cihapit selalu hadir pertunjukan kabaret yang dibintangi Corry Vonk artis kabaret terkenal asal Belanda yang ditawan disana, selain itu muncul pula berbagai kursus sebagai bentuk pengembangan kemampuan bagi tawanan yang tertawan disana, diantaranya: kursus balet, yoga, sekolah bagi anak-anak dan acara keagamaan. Ramal meramal dengan kartu Bridge atau tarot pun kerap dilakukan menggunakan lahan terbuka yang ada di taman segitiga Poeloelaoetweg (Jl Pulolaut) yang sekarang menjadi gedung pertemuan rukun warga.

Nasib tahanan wanita dan anak-anak masih terlihat lebih baik dari pada tahanan remaja pria dan laki laki dewasa, karena para wanita dan anak-anak tidak selalu diwajibkan harus bekerja sehingga masih bisa berinteraksi dengan baik antara sesama tahanan. Bila ingin mendapatkan jatah makanan lebih, para wanita dapat segera bekerja mengosongkan rumah yang di daulat sebagai kamp tahanan yang akan digunakan oleh tentara wanita Jepang untuk berupaya bekerja di dapur. Namun jika jatah makanan yang semula dapat dirasakan cukup (walaupun kurang bergizi atau bervitamin) semakin berkurang, para wanita menangulangi hal itu dengan menanam sayuran, buah-buahan dilahan perkarangan rumah tahanan mereka, hal ini berbeda jauh dengan keadaan yang ada di kamp konsentrasi pria, para tahanan pria harus bekerja seharian penuh tanpa adanya kebebasan menjalani berbagai aktivitas.

Keadaan menyeramkan dan kesengsaraan luar biasa terkadang tersiar di berbagai kamp interniran, hal tersebut dikarenakan para tahanan yang melanggar secara langsung ataupun tidak langsung peraturan yang dibuattentara Jepang. Kesalahan yang dapat mengundang berbagai penindasan, pukulan, pengikatan dan penjemuran di bawah terik matahari secara kejam terjadi jika bila: tidak membungkuk atau menghormati orang Jepang, tidak menunduk atau menatap langsung kemata orang Jepang, melawan tentara jepang, tidak melaksanakan perintah tentara Jepang, menyelundupkan barang terlarang di luar kamp, menyimpan barang berharga berupa uang, menyimpan barang- barang yang dapat diartikan sebagai lambang Raja dan kerajaan Belanda, tidak mematikan lampu tepat waktu ataupun keluar rumah tahanan diluar waktu yang ditentukan.

Namun terkadang juga terjadi penyiksaan tanpa alasan yang jelas, tahanan di pukuli sampai babak belur dan terkapar. Hanya karena perasaan kesal tentara Jepang tahanan bisa dijadikan bulan-bulanan pelampiasan kekesalan.

Para tahanan Kamp Cihapit mendapat dua kali kebaikan hati kaisar, yaitu diperbolehkan mengirimkan kartupos kepada suami dan anak di kamp lainya, Surat yang di dituliskan pada sebuah kartupos tidak lebih dari 25 kata, tidak boleh dituliskan tanggal dan ditulis dalam bahasa indonesia. Selain itu surat tidak boleh berisi berita mengenai nama kamp, nama penyakit, menurunya berat badan dan berita negatif lainya. Berita yang diperbolehkan untuk di ceritakan dalam kartupos adalah berita baik dan dan menggembirakan saja, namun hal ini pun tidak mudah karena sulitnya alat tulis, pena, kartupos dan waktu penulisan yang terbatas, menjadikan kesulitan tersendiri.

Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuni Kamp Interniran Cihapit sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang lalu dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini. Dengan kepadatan penghuni yang padat maka keadaan Kamp Cihapit dahulu saling berhimpit dalam satu rumah. Bisa jadi dalam satu rumah kecil bisa berisi 20 orang penghuni. Padat dan berhimpitan bukan.

Belajar dari Masa lalu yang berlalu

Sejarah merupakan sebuah gambaran masa lalu, hal ini dapat bermakna baik ataupun buruk pada kisahnya. Salah satu contohnya bagaimana kita dapat melihat kisah hiruk-pikuk keadaan kawasan Cihapit pada masa lalu hingga suasananya bertranformasi seperti sekarang ini. Kawasan Cihapit yang dulu mempunyai julukan sebagai kawasan percontohan pemukiman sehat di kota Bandung, patutlah untuk dihidupkan kembali konsepenya di berbagai pemukiman kota. Sebuah lingkungan komplek pemukiman dengan dilengkapi taman, lahan terbuka hijau dan pasar, menjadikan keunggukan di banding komplek pada saat ini yang berisi perumahan saja tanpa ruang terbuka publik yang makin lama samakin hilang keberadaanya.

Adanya sebuah lahan terbuka hijau pada suatu komplek perumahan diperlukan sebagai lahan interaksi antar penghuni rumah, atapun juga sebagai sarana rekreasi bagi penghuni komplek perumahan; piknik, bermain dan belajar. Keberadaan rumah yang sama tingginya seperti yang dapat kita lihat pada gambar suasana perumahan di Cihapit pada masa lalu, mengidentifikasikan bahwa, perumahan yang sehat patutlah menerima cahaya matahari yang sama, hal ini bertujuan untuk keberlangsungan hidup rumput dan berbagai tanaman yang ditanam di depan halaman rumah, sehingga tercipta lingkungan sehat bagi penghuni rumah.

Adapun pula konsep pasar yang berada di sebuah komplek pemukiman, pendirianya bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi para penghuni komplek. Pasar yang dapat diartikan sebagai sarana tempat bertemunya para penjual dan pembeli, memiliki keungulan di bandingkan konsep unit pertokoan yang hadir pada komplek  pemukiman saat ini, konsep toko serba ada hanya menguntungkan bagi kepentingan beberapa  kalangan orang saja di banding keberadaan pasar yang mensejahterakan berbagai penjual dan pembeli pada lingkungan sebuah pasar.

Sejarah memberikan gambaran pada kita bagaimana hal yang baik dan yang buruk terjadi pada masa lalu. Patutlah menjadi bijak jika kita bisa belajar dari cerita sejarah masa lalu, hal ini kiranya bisa dijadikan sebuah referensi  untuk kebijakan yang lebih baik kedepanya. Biarkanlah berlalu untuk cerita kelam, tapi hendaklah tidak di lupakan dalam benak, dari sana kita bisa belajar banyak bukan malah makin terperosok ke dalaman sumur nestapa yang gelap.

Apresiasi adalah menghargai segala sesuatu yang ada, mengepresiasi sejarah berarti kita menghargai setiap kejadian cerita yang ada, bukan berarti  mengagung-agungkan romantisme pada masa lalu ataupun mengangkat kisah sejarah kelam yang ada, tetapi hendaklah menjadi sebuah acuan untuk kita bisa belajar. Toleransi adalah perekat perbedaan pendapat yang ada, untuk apa bersikut-sikutan, jika kita punya satu tujuan yang sama menjadikan kota lebih baik, bukankah sejarah bisa di jadikan pijakan pertama untuk bertindak yang bijak. Semoga para petinggi pemerintahan kota Bandung bisa belajar dari masa lalu yang berlalu. Amien.

Daftar pustaka:

Kartodowiro, Sudarsono Katam. 2006. Bandung, Kilas Peristiwa di Mata Filatelis. Sebuah Wisata Sejarah. Bandung : Kiblat Buku Utama.

Schomper, Pans. 1996. Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Voskuil, Robert P.G.A. 2007. Bandung Citra Sebuah Kota. Terjemahan Bandung: Jagadhita.

Asdhiana, I made. 2011. Warung Kenangan Pasar Cihapit. dimuat di http://travel.kompas.com/read/2011/01/26/08240089/Warung.Kenangan.Pasar.Cihapit. Diakses 26 Januari, 2011.

Winarno , Bondan. 2008. Mak Eha dan Mbah Karto. dimuat di http://nasional.kompas.com/read/2008/06/20/08510523/Mak%20Eha%20dan%20Mbah%20Karto. Diakses 20 Juni, 2008.

Wiryawan, Ryzki. 2011. Kamp Interniran Cihapit. dimuat di https://aleut.wordpress.com/2011/08/04/kamp-interniran-cihapit/. Diakses 4 Agustus, 2011.

Daftar Gambar:

 Cari Buku Langka? Mungkin Ada di Cihapit http://www.reportase.com/2011/09/cari-buku-langka-mungkin-ada-di-cihapit/. Diakses 15 September,2011.

Wiryawan, Ryzki. 2011. Kamp Interniran Cihapit. dimuat di https://aleut.wordpress.com/2011/08/04/kamp-interniran-cihapit/. Diakses 4 Agustus, 2011.

Asdhiana, I made. 2011. Warung Kenangan Pasar Cihapit. dimuat di http://travel.kompas.com/read/2011/01/26/08240089/Warung.Kenangan.Pasar.Cihapit. Diakses 26 Januari, 2011.

Iklan

2 pemikiran pada “Cihapit, “Surga dan Masa Yang Kelam” Bandung

  1. dulu rumah orang tua kami di jl. bengawan no. 69 sebelum jadi rumah tinggal, dulu dijadikan camp konsentrasi tawanan belanda jaman jepang…

    setelah tahun 60an dimana belanda dideportasi oleh soekarno lantas dibeli oleh ishak wiradibrata (abdi dalem kabupaten bandung, buyut saya).

    rumah tersebut sarat akan sejarah, tahun 90an banyak sekali bule2 belanda yang sudah tua2 datang ke rumah saya, mereka menangis dan mengenang dulunya pernah ditawan dan disiksa dirumah itu..

    namun sayang, saat ini rumah itu telah kami jual dan berubah menjadi 8 unit ruko 2012 kemarin…

    terlalu banyak kisah dan cerita yang terjadi dirumah itu..

    salam,
    keturunan Eduard Julius Kerkhoven
    Levy Aditya Wiradibrata ( http://www.facebook.com/lamno )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s